Lompat ke isi

Konsep:Gerak Substansial

Dari wikishia

Gerak Substansial (bahasa Arab: الحركة الجوهرية) adalah sebuah teori filsafat yang menyatakan bahwa gerak tidak hanya terbatas pada aksiden (aradh), melainkan juga mengalir dalam substansi (jauhar) dan esensi segala sesuatu. Mulla Shadra, filsuf Syiah Iran, merupakan orang pertama yang menolak pandangan para penentang dan membuktikan teori ini secara eksplisit dengan menyandarkan pada dalil akli dan dalil nakli. Mayoritas filsuf sebelumnya mengingkari gerak pada kategori substansi dan hanya meyakini adanya gerak pada empat kategori aksidental, yaitu kuantitas (kam), kualitas (kaif), tempat (ain), dan posisi (wadha).

Berbagai artikel dan buku telah ditulis mengenai teori "Gerak Substansial", di antaranya yang paling penting adalah buku Adellei bar Harakat-e Jawhari (Dalil-dalil atas Gerak Substansial) karya Hasan Hasanzadeh Amuli dan buku Nahad-e Na-aram-e Jahan (Sifat Dasar Alam Semesta yang Gelisah) karya Abdolkarim Soroush.

Terminologi

Gerak substansial adalah sebuah teori dalam filsafat Islam yang menyatakan bahwa gerak tidak terbatas pada aksidenTemplat:Yad, melainkan juga mengalir dalam substansiTemplat:Yad dan esensi benda-benda.[1] Dikatakan bahwa Mulla Shadra, filsuf Syiah Iran, adalah pencetus teori ini dan orang pertama yang secara eksplisit menganggap gerak mengalir dalam kategori substansi.[2] Berdasarkan teori ini, seluruh partikel alam materi berada dalam aliran dan gerak yang terus-menerus, hal ini dikarenakan adanya potensi dalam benda-benda yang senantiasa menuju aktualitas.[3]

Gerak substansial bukanlah masalah ilmiah atau empiris, melainkan masalah filosofis. Hal ini karena gerak substansial adalah pembaruan keberadaan "substansi" dari waktu ke waktu dan tidak berkaitan dengan gerak bintang, galaksi, atau gerak atom yang semuanya merupakan gerak dalam ruang dan dalam "aksiden".[4]

Latar Belakang Pembahasan

Menurut para peneliti, sejak masa Aristoteles hingga sebelum Mulla Shadra, para filsuf hanya menerima gerak dalam tiga kategori:

  1. Kuantitas (Kam) (sesuatu yang secara esensial dapat dibagi)
  2. Kualitas (Kaif) (sesuatu yang secara esensial tidak dapat dibagi)
  3. Tempat (Ain) (nisbah benda dengan ruang)[5]

Kemudian Ibnu Sina menambahkan jenis keempat yang disebut gerak posisi (wadha);[6] karena ia menunjukkan bahwa sebagian gerak yang sebelumnya dianggap sebagai gerak tempat, sebenarnya adalah jenis gerak posisi.[7] Oleh karena itu, hingga sebelum Mulla Shadra, gerak hanya diterima dalam empat kategori dari sepuluh kategori yang ada.[8] Namun Mulla Shadra adalah filsuf Muslim pertama yang selain membuktikan empat kategori tersebut, juga membuktikan gerak dalam substansi.[9]Templat:Yad Argumentasinya adalah karena aksiden merupakan tingkatan dari keberadaan substansi dan gerak terjadi pada aksiden, maka gerak juga harus ada dalam substansi. Ia hanya menerima lima kategori ini dan menolak gerak pada kategori-kategori lainnya.[10]

Sebaliknya, Allamah Thabathaba'i, dengan memperhatikan bahwa aksiden adalah tingkatan dari keberadaan substansi,[11] menganggap gerak mungkin terjadi pada semua kategori aksidental dan mengkritik pembatasan yang dilakukan oleh Mulla Shadra.[12]

Menurut Murtadha Muthahhari, Mulla Shadra dalam teori gerak substansial dipengaruhi oleh kaum urafa, khususnya Ibnu Arabi, dan ia mengemukakan argumen-argumen filosofis untuk membuktikan teorinya,[13] kemudian untuk menguatkannya, ia bersandar pada Surah An-Naml, Ayat 88[14] ("Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan") sebagai dalil.[15]

Dalil-dalil Gerak Substansial

Beberapa dalil gerak substansial adalah sebagai berikut:

  • Pada sebagian aksiden terjadi perubahan dan gerak, dan penyebab dari aksiden yang bergerak dan berubah ini adalah alam substansial (tabi'at jawhariyyah) mereka sendiri. Penyebab dari sebuah fenomena yang berubah dan bergerak haruslah memiliki gerak dan perubahan itu sendiri. Maka substansi yang merupakan penyebab bagi aksiden yang bergerak, memiliki gerak.[16]
  • Keberadaan aksiden bukanlah keberadaan yang mandiri di samping substansi, melainkan dianggap sebagai bagian dari tingkatan keberadaan substansi. Segala bentuk perubahan dan gerak yang terjadi pada salah satu aspek atau tingkatan dari suatu maujud merupakan tanda adanya perubahan dan gerak internal pada maujud tersebut. Oleh karena itu, setiap gerak yang terjadi pada aksiden suatu fisik sebenarnya adalah manifestasi dari gerak pada substansi fisik tersebut.[17]
  • Setiap maujud materi bersifat temporal dan memiliki dimensi waktu. Setiap maujud yang memiliki dimensi waktu akan mewujud secara bertahap. Hasilnya: keberadaan substansi materi bersifat bertahap, yang berarti memiliki gerak.[18]

Mulla Shadra dan Gerak Umum Dunia: Mulla Shadra meyakini bahwa segala sesuatu yang kita anggap statis di alam semesta, sebenarnya bersifat dinamis; sesuatu tidak dapat berada dalam alam waktu dan benar-benar statis meskipun kita melihatnya dalam bentuk yang statis... Di alam semesta tidak ada sesuatu yang statis sehingga kemudian gerak menjadi aksiden baginya; aspek yang kita bayangkan statis itu pun sebenarnya dinamis. Banyak hal yang tampak statis bagi kita padahal sebenarnya dinamis; misalnya ketika kita melihat jarum jam, kita melihatnya sebagai sesuatu yang benar-benar statis, namun ketika kita melihatnya satu jam kemudian, kita melihatnya telah berpindah dari angka 3 ke angka 4; jarum ini tidak melompat tiba-tiba ke sini, melainkan terus-menerus dalam perubahan dan gerak, hanya saja mata kita tidak mampu merasakan gerakannya. Mata kita hanya melihat sebagian gerak pada batas dan level tertentu saja. Bahwa kita melihat sesuatu itu statis bukan berarti hal itu statis, sementara dalil-dalil lain menghukumi kita bahwa apa yang ada di alam semesta ini dinamis dan bergerak, serta gerak merambah ke seluruh aspek alam semesta. (Sumber: Mutahhari, Tauhid, hlm. 152-153)

Dalil-dalil Penentang Gerak Substansial

Argumen utama yang digunakan oleh para penentang gerak substansial adalah bahwa gerak terjadi jika ada subjek yang tetap yang bertahan selama proses gerak tersebut. Jika dalam gerak aksiden, substansi yang merupakan subjek bagi aksiden-aksiden ini juga bergerak, maka tidak ada subjek tetap yang tersisa bagi gerak tersebut. Maka gerak tidak terjadi pada substansi.[19] Menurut pandangan Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, keberatan ini muncul dari konsepsi tentang "gerak" yang menganggap gerak sebagai aksiden eksternal yang memerlukan subjek mandiri yang harus tetap selama gerak; padahal gerak bukanlah aksiden di samping aksiden lainnya, melainkan gerak itu sendiri adalah substansi dan aksiden.[20]

Bibliografi

Berbagai artikel dan buku telah ditulis mengenai teori "Gerak Substansial". Buku-buku terpenting yang ditulis dalam bahasa Persia mengenai bidang ini adalah:

  • Adellei bar Harakat-e Jawhari (Dalil-dalil atas Gerak Substansial) karya Hasan Hasanzadeh Amuli. Penulis dalam buku ini menyajikan dan menjelaskan dua puluh satu dalil untuk membuktikan gerak substansial.[21]
  • Nahad-e Na-aram-e Jahan (Sifat Dasar Alam Semesta yang Gelisah) karya Abdolkarim Soroush. Penulis dalam buku ini menjelaskan teori "Gerak Substansial" dan dalam kata pengantar buku menyatakan: "Harus diakui bahwa keagungan dan pentingnya penemuan serta inisiatif teori gerak substansial beserta pengaruhnya yang mendalam dan luas terhadap filsafat dan budaya Islam sama sekali tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan dua penemuan ilmiah besar yaitu gravitasi umum Newton dan teori relativitas umum Einstein. Namun sayang sekali, permata pemikiran manusia yang tinggi ini tidak pernah mendapatkan kesempatan dan ruang untuk muncul seperti kedua penemuan ilmiah tersebut."[22]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Sajjadi, Farhang-e Isthilahat-e Falsafah-ye Mulla Sadra, 1379 HS, hlm. 198.
  2. Thabathaba'i, Nihayah al-Hikmah, 1386 HS, jld. 3, hlm. 803; Mutahhari, Majmu'eh Atsar, 1390 HS, jld. 4, hlm. 147.
  3. Hujjat, "Imkan-e Taqarrub-e Ara-ye Heraclitus wa Sadr al-Muta'allihin dar Bab-e Sayrurat", hlm. 30.
  4. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 395.
  5. Sabzawari, Syarh al-Manzhumah, 1379 HS, jld. 4, hlm. 284.
  6. Mutahhari, Majmu'eh Atsar, 1390 HS, jld. 11, hlm. 332-333.
  7. Thabathaba'i, Nihayah al-Hikmah, 1386 HS, jld. 3, hlm. 795.
  8. Mutahhari, Majmu'eh Atsar, 1390 HS, jld. 11, hlm. 332-333.
  9. Sabzawari, Syarh al-Manzhumah, 1379 HS, jld. 4, hlm. 287.
  10. Thabathaba'i, Bidayah al-Hikmah, 1392 HS, hlm. 128.
  11. Shirwani, Tarjamah wa Syarh-e Bidayah al-Hikmah, 1375 HS, jld. 3, hlm. 155.
  12. Shirwani, Tarjamah wa Syarh-e Bidayah al-Hikmah, 1375 HS, jld. 3, hlm. 155.
  13. Mutahhari, Majmu'eh Atsar, 1390 HS, jld. 13, hlm. 216.
  14. Surah An-Naml, Ayat 88.
  15. Mulla Shadra, al-Asfar, 1981 M, jld. 3, hlm. 110.
  16. Mulla Shadra, al-Asfar, 1981 M, jld. 3, hlm. 61-64; Shirwani, Tarjamah wa Syarh-e Bidayah al-Hikmah, 1375 HS, jld. 3, hlm. 162.
  17. Thabathaba'i, Nihayah al-Hikmah, 1386 HS, jld. 3, hlm. 809.
  18. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 388.
  19. Thabathaba'i, Nihayah al-Hikmah, 1386 HS, jld. 3, hlm. 801.
  20. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafah, 1392 HS, jld. 2, hlm. 384.
  21. Hasanzadeh Amuli, Adellei bar Harakat-e Jawhari, 1380 HS, hlm. 11-13.
  22. Soroush, Nahad-e Na-aram-e Jahan, 1386 HS, hlm. 9.

Catatan

Templat:Catatan

Daftar Pustaka

  • Hasanzadeh Amuli, Hasan. Adellei bar Harakat-e Jawhari (Dalil-dalil atas Gerak Substansial). Qom, Penerbit Alif Lam Mim, 1380 HS.
  • Hujjat, Minu. "Imkan-e Taqarrub-e Ara-ye Heraclitus wa Sadr al-Muta'allihin dar Bab-e Sayrurat" (Kemungkinan Kedekatan Pandangan Heraklitus dan Mulla Shadra mengenai Menjadi). dalam Ayineh-ye Ma'rifat, nomor 9, Musim Gugur dan Musim Dingin 1385 HS.
  • Khwansari, Muhammad. Farhang-e Isthilahat-e Manthiqi (Kamus Istilah Logika). Tehran, Pusat Penelitian Ilmu Budaya dan Studi Budaya, cetakan kedua, 1376 HS.
  • Mishbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzesh-e Falsafah (Pembelajaran Filsafat). Qom, Pusat Publikasi Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, 1392 HS.
  • Mulla Shadra. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyyah al-Arba'ah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1981 M.
  • Mutahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya). Qom, Penerbit Sadra, 1390 HS.
  • Samaneh Jami'e Ostad Syahid Mutahhari (Sistem Terintegrasi Guru Syahid Mutahhari).
  • Sabzawari, Mulla Hadi. Syarh al-Manzhumah. Tehran, Penerbit Nab, 1379 HS.
  • Sajjadi, Ja'far. Farhang-e Isthilahat-e Falsafah-ye Mulla Sadra (Kamus Istilah Filsafat Mulla Shadra). Tehran, Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, 1379 HS.
  • Shirwani, Ali. Tarjamah wa Syarh-e Bidayah al-Hikmah (Terjemahan dan Syarah Bidayah al-Hikmah). Qom, Kantor Dakwah Islam Hauzah Ilmiah Qom, cetakan ketiga, 1375 HS.
  • Soroush, Abdolkarim. Nahad-e Na-aram-e Jahan (Sifat Dasar Alam Semesta yang Gelisah). Tehran, Penerbit Serat, 1386 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Bidayah al-Hikmah. Qom, Muassasah an-Nasyr al-Islami, 1392 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Nihayah al-Hikmah. Qom, Pusat Publikasi Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, cetakan keempat, 1386 HS.