Lompat ke isi

Konsep:Fitnah

Dari wikishia

Fitnah (Bahasa Arab: فتنه) menurut sejumlah mufasir[1] dan ahli bahasa[2] bermakna ujian dan cobaan. Allamah Thabathabai menyatakan bahwa setiap tindakan yang dilakukan dengan tujuan menguji keadaan sesuatu disebut fitnah. Oleh karena itu, ujian itu sendiri beserta konsekuensinya, seperti kesulitan dan siksaan yang menimpa orang-orang yang gagal dalam ujian tersebut, juga disebut fitnah.[3] Kelompok lain berpendapat bahwa akar kata fitnah berasal dari fatan yang berarti memasukkan emas ke dalam api untuk menampakkan kadar kualitas baik atau buruknya serta untuk pemurniannya.[4] Menurut pandangan Hassan Mustafavi dalam kitab al-Tahqiq, makna asli fitnah adalah sesuatu yang menyebabkan kekacauan yang disertai dengan kecemasan. Ia menghitung harta, anak-anak, perbedaan pendapat, siksaan, kekafiran, ujian, dan segala sesuatu yang menyebabkan kekacauan disertai kecemasan sebagai bagian dari misdaq-misdaqnya.[5] Habibullah Khoei dalam syarah Hikmah 93 Nahjul Balaghah menganggap istilah urf fitnah sebagai kekacauan demi kepentingan politik seperti fitnah Hajjaj dan Ibnu Asy'ats, atau non-politik seperti fitnah yang muncul dari Teori Makhluknya Al-Qur'an pada masa Makmun.[6]

Kata fitnah disebutkan sebanyak 32 kali dan turunannya sebanyak 60 kali dalam Al-Qur'an.[7] Di antaranya dalam "Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah", harta dan anak-anak diperkenalkan sebagai fitnah.[8] Dalam salah satu bagian Nahjul Balaghah, fitnah dalam ayat ini ditafsirkan sebagai ujian Ilahi dan disebutkan bahwa Allah menguji manusia dengan harta dan anak-anak mereka.[9] Dalam ayat "Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan"[10] fitnah juga disifatkan lebih buruk daripada pembunuhan, dan dalam ayat "Fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan"[11] fitnah digambarkan lebih besar daripada pembunuhan. Menurut Ayatullah Makarim Syirazi dalam Tafsir Nemuneh, fitnah dalam Al-Qur'an muncul dengan banyak makna seperti ujian, penipuan, bala dan siksa, kesesatan, serta syirik dan penyembahan berhala.[12] Menurut pandangan Allamah Thabathabai, fitnah dalam Al-Qur'an digunakan dalam makna ujian dan konsekuensinya; namun menurut pandangan Ayatullah Makarim Syirazi, seluruh makna tersebut kembali pada makna asli fitnah (memasukkan emas ke dalam api untuk pemurnian atau memisahkan yang murni dari yang palsu).[13]

Beberapa peneliti menganggap penggunaan kata fitnah yang paling banyak dalam teks-teks agama adalah dalam tiga makna: ujian dan cobaan, percampuran antara hak dan batil, serta kekacauan dan huru-hara.[14] Menurut ungkapan Javad Muhadditsi, penulis dan peneliti agama, dalam Al-Qur'an terdapat sekitar dua puluh kasus fitnah yang digunakan dalam makna ujian.[15]

Dikatakan bahwa dalam Al-Qur'an Al-Karim dan Nahjul Balaghah, karakteristik positif dan negatif telah dijelaskan untuk fitnah.[16] Para peneliti meyakini bahwa Al-Qur'an Al-Karim dengan mencela fitnah negatif dan menganggapnya lebih besar daripada pembunuhan,[17] serta menyandarkan fitnah positif kepada Allah,[18] telah menegaskan keberadaan dua jenis ini.[19]

Menurut para peneliti, untuk selamat dari fitnah dalam Al-Qur'an[20] dan Nahjul Balaghah[21] telah dijelaskan langkah-langkah seperti Bashirah, Takwa, dan Yakin.[22] Dalam sebuah hadis terkenal dari Imam Ali as, seseorang yang terjebak dalam fitnah disarankan untuk menjadi seperti anak unta yang tidak memiliki kemampuan untuk ditunggangi orang lain dan tidak pula memiliki ambing untuk diperah susunya.[23] Menurut keyakinan beberapa pensyarah Nahjul Balaghah, hadis ini adalah kiasan untuk menghindari kerja sama dengan para penyeru fitnah, bukan menjauhkan diri dari kebenaran.[24] Beberapa orang juga mengatakan agar manusia berperilaku sedemikian rupa sehingga kekuatan fisik dan posisi sosialnya tidak dimanfaatkan demi keuntungan kebatilan.[25]

Catatan Kaki

  1. Sebagai contoh lihat: Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 61.
  2. Ibnu Faris, Mu'jam Maqayis al-Lughah, 1404 H, jld. 4, hal. 472; Ibnu Manzhur, Lisan al-'Arab, 1414 H, jld. 13, hal. 317; Azhari, Tahdzib al-Lughah, Beirut, jld. 14, hal. 211.
  3. Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 61.
  4. Ibnu Manzhur, Lisan al-'Arab, 1414 H, jld. 13, hal. 317; Raghib Isfahani, Mufradat Alfazh al-Qur'an, 1412 H, hal. 623; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hal. 21.
  5. Mustafavi, al-Tahqiq, 1368 HS, jld. 9, hal. 23-24.
  6. Khoei, Minhaj al-Bara'ah, Penerbit Maktabah al-Islamiyyah, jld. 21, hal. 8.
  7. "Risy-e-yabi-ye Maddeh-ye Fatan", Situs Tanzil.
  8. Surah Al-Anfal, ayat 28.
  9. Nahj al-Balaghah, Koreksi: Subhi Shalih, Hikmah 93, hal. 484.
  10. Surah Al-Baqarah, ayat 191.
  11. Surah Al-Baqarah, ayat 217.
  12. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hal. 21-22.
  13. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hal. 21-22.
  14. Muhadditsi, "Fitneh-syenasi", Situs Informasi Hauzah.
  15. Muhadditsi, "Fitneh-syenasi", Situs Informasi Hauzah.
  16. Akhavan-Moqaddam, "Barresi-ye Mafhum-e Fitneh dar Qur'an wa Nahj al-Balaghah ba Ta'kid bar Mafhum-e Fitneh-ye Mosbat wa Fitneh-ye Manfi", hal. 18.
  17. Ayat 191 Surah Al-Baqarah.
  18. Ayat 35 Surah Al-Anbiya.
  19. Akhavan-Moqaddam, "Barresi-ye Mafhum-e Fitneh dar Qur'an wa Nahj al-Balaghah ba Ta'kid bar Mafhum-e Fitneh-ye Mosbat wa Fitneh-ye Manfi", hal. 18.
  20. Lihat: Surah Al-An'am, ayat 104; Surah Al-Anfal, ayat 29.
  21. Lihat: Nahj al-Balaghah, Koreksi: Subhi Shalih, Khotbah 16, hal. 57 dan Khotbah 38, hal. 81.
  22. Haidari, "Fitneh-ha wa Rah-haye Goriz az An-ha"; Akhavan-Moqaddam, "Barresi-ye Mafhum-e Fitneh dar Qur'an wa Nahj al-Balaghah ba Ta'kid bar Mafhum-e Fitneh-ye Mosbat wa Fitneh-ye Manfi", hal. 18.
  23. Nahj al-Balaghah, Koreksi: Subhi Shalih, Hikmah pertama, hal. 469.
  24. Khoei, Minhaj al-Bara'ah, Penerbit Maktabah al-Islamiyyah, jld. 21, hal. 8; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 18, hal. 82.
  25. Muhadditsi, "Fitneh-syenasi", Situs Informasi Hauzah.

Daftar Pustaka

Akhavan-Moqaddam, Zohreh. "Barresi-ye Mafhum-e Fitneh dar Qur'an wa Nahj al-Balaghah ba Ta'kid bar Mafhum-e Fitneh-ye Mosbat wa Fitneh-ye Manfi" (Kajian Konsep Fitnah dalam Al-Qur'an dan Nahjul Balaghah dengan Penekanan pada Konsep Fitnah Positif dan Fitnah Negatif). Dalam majalah triwulanan Din-pazhuhesi wa Kar-amadi, periode 1, nomor 1, musim gugur 1400 HS. Azhari, Muhammad bin Ahmad. Tahdzib al-Lughah. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-Arabi, t.t. Haidari, Ali Reza. "Fitneh-ha wa Rah-haye Goriz az An-ha" (Fitnah-fitnah dan Jalan Selamat Darinya). Dalam majalah bulanan Ma'rifat, tahun ketujuh belas, nomor 7, berturut-turut 130, Oktober 2008. Ibnu Abi al-Hadid. Syarh Nahj al-Balaghah. Qom, Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi al-Najafi, 1404 H. Ibnu Faris, Ahmad bin Faris. Mu'jam Maqayis al-Lughah. Qom, Maktab al-I'lam al-Islami, 1404 H. Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-'Arab. Beirut, Dar al-Fikr Dar Shadir, 1414 H. Khoei, Habibullah. Minhaj al-Bara'ah fi Syarh Nahj al-Balaghah. Tahqiq: Ibrahim Miyanji. Teheran, Maktabah al-Islamiyyah, Cetakan Keempat, 1400 H. Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Kesepuluh, 1371 HS. Muhadditsi, Javad. "Fitneh-syenasi" (Studi Fitnah). Situs Informasi Hauzah, tanggal unggul: 12 Juli 2015. Mustafavi, Hassan. al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim. Teheran, Kementerian Irsyad, Cetakan Pertama, 1368 HS. Nahj al-Balaghah. Koreksi: Subhi Shalih. Qom, Hijrat, 1414 H. Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat Alfazh al-Qur'an. Beirut, Dar al-Syami'ah, 1412 H. Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kelima, 1417 H.