Konsep:Filsafat Masya'
Templat:Kotak info mazhab Filsafat Masya' bermakna mengikuti filsafat Aristotle, merupakan salah satu mazhab filsafat Islam yang berbeda dengan mazhab lainnya seperti Filsafat Isyraq dan Hikmah Muta'aliyah, karena hanya didasarkan pada akal dan argumentasi rasional. Filsafat Masya' didirikan oleh Aristotle sebelum Islam, dan kemudian masuk ke dalam budaya dan lingkungan kaum Muslimin melalui gerakan penerjemahan, lalu disempurnakan serta diperluas oleh para filsuf seperti Abu Nashr al-Farabi dan Ibnu Sina, yang merupakan para filsuf Muslim peripatetik (Masya'i) pertama. Ibnu Sina disebut sebagai perwakilan dan pemimpin para filsuf Muslim peripatetik, sementara Khwajah Nashiruddin al-Tusi disebut sebagai penghidup kembali filsafat Masya'.
Filsafat Masya' dianggap sebagai filsafat Islam karena tumbuh dalam budaya Islam dan mengambil manfaat dari pengetahuan Al-Qur'an serta sunnah Islam. Dikatakan bahwa filsafat Masya' pasca-Islam berbeda dengan filsafat Masya' pra-Islam dalam hal volume dan kualitas masalahnya; hal ini dikarenakan dengan masuknya filsafat Masya' ke lingkungan Islam, para filsuf Muslim berusaha menyelaraskannya dengan prinsip-prinsip Islam dan memanfaatkannya untuk memperluas filsafat tersebut.
Beberapa prinsip filosofis filsafat Masya' meliputi: keyakinan pada Prinsipalitas Wujud, Aqal 'Asyarah, pembagian maujud menjadi Wajib dan Mumkin, serta jiwa yang bersifat Ruhaniyyah al-Huduts wa al-Baqa'. Selain itu, masalah-masalah seperti pemisahan wujud dan esensi (mahiyyah), masalah keniscayaan (wujub), kemungkinan (imkan), dan kemustahilan (imtina'), penjelasan serta pembuktian eksistensi Tuhan dan Sifat-sifat-Nya, bagaimana penciptaan dan sistem vertikal alam semesta, serta pembahasan terkait Sebab Efisien (Illah Fa'iliyah) dan sebab final (ghaiyyah) termasuk di antara inovasi filsafat Masya'.
Perbedaan utama antara filsafat Masya', Isyraq, dan Hikmah Muta'aliyah terletak pada metodenya; dalam filsafat Masya', hanya akal dan argumentasi rasional yang digunakan; namun dalam filsafat Isyraq, selain argumentasi rasional, syuhud dan isyraq juga digunakan untuk menyingkap hakikat. Dalam Hikmah Muta'aliyah, di samping akal dan isyraq, sumber-sumber irfani dan wahyu juga digunakan.
Filsafat Masya' menghadapi para pengkritik dari kalangan filsuf dan teolog seperti Abu Hamid al-Ghazali, Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahraztani, Abu al-Barakat al-Baghdadi, Fakhr ar-Razi, dan Syekh Isyraq. Al-Ghazali menulis buku Tahafut al-Falasifah sebagai kritik terhadap hikmah Masya' dan di dalamnya ia melakukan pengkafiran terhadap para filsuf Masya' seperti al-Farabi dan Ibnu Sina dalam tiga masalah: keabadian alam (qidam al-alam), pengingkaran ilmu Tuhan terhadap rincian (partikular), dan pengingkaran Kebangkitan Jasmani.
Konsep dan Kedudukan
Filsafat Masya' dianggap sebagai salah satu dari tiga mazhab terpenting dan terkenal dalam Filsafat Islam[1] dan bermakna mengikuti filsafat Aristotle.[2] Dikatakan bahwa pada Abad Pertengahan, filsafat-filsafat yang muncul di Eropa memiliki corak peripatetik dan terpengaruh oleh buku-buku Ibnu Sina, seperti filsafat Thomas Aquinas, filsuf dan teolog Kristen abad ke-13 M.[3]
Menurut sebagian pendapat, peripatetik (Masya'i) merujuk kepada para pengikut Aristotle yang seluruh filsafatnya disusun berdasarkan prinsip filsafat Aristotle.[4] Menurut sebagian peneliti filsafat, Masya' atau kaum peripatetik dalam literatur filsafat Iran dan Dunia Islam merujuk kepada Aristotle, para pengikut Yunaninya, Ibnu Sina, dan para pengikut Ibnu Sina, serta kurang lebih digunakan juga untuk Farabi dan Kindi.[5] Beberapa peneliti filsafat meyakini bahwa di dunia Islam tidak ada peripatetik dalam artian rasionalis murni; karena karya-karya para pengikut peripatetik seperti al-Farabi dan Ibnu Sina tidak kosong dari isyraq serta penyandaran pada Kitab dan Sunnah. Oleh karena itu, peripatetik di dunia Islam dimaknai sebagai orang yang dalam pemikiran Islam sandaran terbesarnya adalah pada akal dan pemikiran teoretis.[6]
Alasan Penamaan
Dikatakan bahwa penamaan filsafat Aristotle sebagai Masya'Templat:Y dikarenakan Aristotle mengajarkan ajarannya kepada para muridnya sambil berjalan. Oleh karena itu, para pengikutnya disebut peripatetik (Masya'i).[7] Menurut Gholamhossein Ebrahimi Dinani, filsuf Muslim Iran, karena Aristotle berjalan di taman dan berbicara sendiri, maka filsafat Aristotle disebut filsafat Masya'.[8] Oleh karena itu, dikatakan bahwa penyebutan Masya' bagi filsafat Aristotle dan para Aristotelian tidak berkaitan dengan metodenya;[9] melainkan merujuk pada gaya penyampaian pelajaran Aristotle atau tempat belajarnya.[10] Tentu saja, menurut sebagian peneliti, istilah peripatetik di kalangan pemikir Muslim lebih banyak digunakan dalam artian argumentatif dan ahli diskusi (sebagai lawan dari syuhud dan isyraq).[11] Peripatetik juga diartikan sebagai metode dan pandangan para pengikut Baitul Hikmah.Templat:Y[12] Menurut Murtadha Muthahhari, kata "istidlali" (argumentatif) dapat menjelaskan metode para filsuf Masya'. Oleh karena itu, filsafat Masya' seharusnya dinamakan filsafat argumentatif dan para pengikutnya disebut istidlaliyyun (sebagai lawan dari isyraqiyyun).[13]
Sejarah
Menurut Ali Abedi Shahroudi, filsuf Syiah, sejarah filsafat Masya' merujuk pada masa sebelum Islam dan pendirian sekolah filsafat Aristotle.[14] Filsafat ini yang didirikan oleh Aristotle (wafat 322 SM), telah melewati berbagai tahapan; termasuk masuk ke sekolah Iskandariyah di Mesir dan bercampur dengan filsafat Plato serta terkadang dengan filsafat Khosravani dan Pahlavi Iran.[15] Filsafat Masya' melalui gerakan penerjemahanTemplat:Y masuk ke dalam budaya dan lingkungan kaum Muslimin serta untuk pertama kalinya dimunculkan dan diresmikan sebagai filsafat peripatetik Islam oleh Abu Nashr al-Farabi (wafat 339 H) dan kemudian Ibnu Sina (wafat 428 H).[16] Sebagian orang menganggap Ya'qub bin Ishaq al-Kindi (wafat 252 H) sebagai pendiri filsafat peripatetik dalam budaya Islam.[17] Filsafat Masya' dianggap sebagai titik awal Filsafat Islam.[18]
Dikatakan bahwa setelah munculnya filsafat Islam dan lahirnya Filsafat Isyraq serta Hikmah Muta'aliyah, kecenderungan filsafat para hukama sebelumnya (dari al-Kindi hingga Suhrawardi) dinamakan Masya'.[19]
Aristotle, Theophrastus, dan Alexander dari Aphrodisias, dianggap sebagai tokoh peripatetik terpenting sebelum Islam.[20]
Filsafat Masya' dan Islam
Filsafat Masya' dianggap sebagai filsafat Islami karena adanya arahan dari Al-Qur'an dan sunnah Ahlulbait as terhadapnya; dalam artian bahwa ia tumbuh dalam budaya Islam dan mengambil manfaat dari pengetahuan Al-Qur'an serta sunnah Islam.[21]
Menurut pandangan Abedi Shahroudi, filsafat Masya' pasca-Islam berbeda dengan filsafat Masya' pra-Islam dari sisi kuantitas (volume materi dan masalah) dan kualitas; karena dengan masuknya ia ke lingkungan Islam, dilakukan upaya agar ia selaras dengan prinsip-prinsip Islam atau setidaknya tidak bertentangan. Oleh karena itu, prinsip-prinsip yang diambil dari ajaran Islam ditambahkan ke dalamnya.[22] Para filsuf peripatetik Muslim mengubah filsafat Masya' melalui dua jalur: satu melalui jalur tidak menentang prinsip-prinsip Islam dan yang lainnya melalui jalur pemanfaatan prinsip-prinsip Islam untuk memperluas dan menyuburkan filsafat. Kedua jalur ini disempurnakan oleh Ibnu Sina.[23]
Menurut Abedi Shahroudi, filsafat Islam kaum peripatetik bukanlah filsafat yang lahir dari teks-teks agama dan Islam; melainkan filsafat yang dikemukakan serta dikaji dan diteliti oleh para filsuf Muslim.[24]
Beberapa filsuf peripatetik seperti Farabi,[25] Ibnu Sina,[26] Khwajah Nashiruddin al-Tusi[27] dan Mir Damad[28] adalah penganut Syiah.
Para Filsuf Terkemuka
Para pemimpin dan filsuf terkemuka filsafat Masya' adalah Aristotle, Ya'qub bin Ishaq al-Kindi, Abu Nashr al-Farabi, Ibnu Sina, Khwajah Nashiruddin al-Tusi, Mir Damad, Ibnu Rusyd al-Andalusi (wafat 595 H), dan Ibnu Bajah al-Andalusi.[29] Aristotle disebut sebagai pemimpin awal,[30] Ibnu Sina sebagai perwakilan dan pemimpin para filsuf Muslim peripatetik,[31] dan Khwajah Nashir al-Tusi disebut sebagai penghidup kembali filsafat Masya'.[32]
Gholamhossein Ebrahimi Dinani meyakini bahwa Ibnu Sina bukanlah filsuf peripatetik dan penisbatan peripatetik kepadanya adalah salah; karena ia menghindari filsafat Aristotle.[33] Beberapa peneliti filsafat kontemporer berkeyakinan bahwa di antara filsuf Muslim, kita tidak memiliki filsuf peripatetik murni; bahkan al-Farabi dan Ibnu Sina yang dikenal sebagai peripatetik, sebenarnya bukan peripatetik; karena Filsafat Islam adalah kombinasi dari filsafat Aristotle, Neoplatonisme, dan pemikiran Islam, sementara peripatetik merujuk pada para pengikut filsafat Aristotle yang seluruh filsafatnya disusun berdasarkan prinsip filsafat Aristotle.[34]
Karakteristik dan Metode
Filsafat Masya' dalam isinya dianggap terpengaruh oleh Aristotle, Plato, dan ajaran Islam; meskipun beberapa masalahnya seperti substansi (jawhar) dan aksiden (aradh), sepuluh kategori (maqulat 'asyar), serta pembahasan gerak lebih banyak terpengaruh oleh Aristotle.[35]
Metode filsafat Masya' adalah rasional dan argumentatif, dan para filsuf peripatetik berusaha membuktikan semua klaim mereka dengan burhan (demonstrasi) akal serta tidak menggunakan dalil tekstual (naql) maupun kasyf dan syuhud dalam pembahasan filsafat.[36]
Prinsip dan Keyakinan Filosofis
Beberapa prinsip dan keyakinan filosofis filsafat Masya' adalah sebagai berikut:
- Wujud dan Esensi: Meskipun dalam filsafat Masya' terlihat ungkapan-ungkapan yang kontradiktif mengenai hubungan wujud dan esensi (mahiyyah); namun dikatakan bahwa kata akhir para filsuf Masya' adalah Prinsipalitas Wujud dan sifat esensi sebagai hal yang aksidental (i'tibari).[37]
- Sepuluh Akal (Aqal 'Asyarah): Para filsuf Masya' meyakini adanya sepuluh akal vertikal dan tingkatan vertikal; namun mereka menafikan dan mengkritik akal horizontal serta ide-ide Plato (Mutstul Aflatuni).[38] Menurut pandangan mereka, makhluk pertama (shadir awwal) adalah Akal Pertama dan merupakan maujud yang paling menyerupai Tuhan, dan kemudian secara berurutan akal kedua hingga kesepuluh (Akal Aktif) dan pada tingkatan terendah adalah alam jasmani. Oleh karena itu, berdasarkan pandangan para filsuf Masya', tatanan keberadaan adalah sebagai berikut: Allah Swt, alam akal (sepuluh akal), jiwa, dan alam jasmani.[39]
Dikatakan bahwa pluralitas akal vertikal dikarenakan Kaidah al-Wahid ("al-Wahid la yashduru minhu illa al-Wahid" - dari yang satu tidak keluar kecuali yang satu) dan juga status jumlahnya yang sepuluh dikarenakan pengaruh dari astronomi kuno (dan dengan batalnya astronomi kuno maka status sepuluh akal ini pun menjadi batal).[40] Sepuluh akal tersebut dianggap bersifat mujarrad (non-materi).[41] Al-Farabi menyelaraskan sepuluh akal tersebut dengan para Malaikat.[42]
- Pembagian Maujud menjadi Wajib dan Mumkin: Dalam filsafat Masya', maujud dibagi menjadi Wajib dan Mumkin, di mana eksistensi Wajib adalah niscaya; namun Mumkin al-Wujud bisa ada atau tidak ada. Kaum peripatetik membuktikan eksistensi Tuhan melalui jalur ini.[43]
- Substansi dan Aksiden: Pembagian Mumkin al-Wujud menjadi substansi (jawhar) dan aksiden (aradh) serta sepuluh kategori dalam filsafat Masya' diterima dengan mengikuti Aristotle.[44] Menurut pandangan para filsuf Masya', akal, jiwa, jasad, rupa (shurah), dan hyle (materi pertama) merupakan jenis-jenis substansi.[45]
- Masalah Gerak: Dalam hikmah Masya', gerak hanya diterima dalam kategori tempat (ayn/posisi), situasi (vadh'), kuantitas, dan kualitas, sedangkan Gerak Substansial serta gerak dalam kategori lainnya dianggap mustahil.[46]
- Ilmu Tuhan: Dalam filsafat Masya', ilmu terperinci (tafshili) Tuhan terhadap makhluk diterima; namun identitasnya dengan zat belum terbukti.[47] Dikatakan bahwa al-Farabi adalah filsuf Muslim pertama yang membahas mengenai bagaimana ilmu terdahulu (pre-knowledge) Tuhan terhadap segala sesuatu.[48]
- Jiwa yang bersifat Ruhaniyyah al-Huduts wa al-Baqa': Kaum peripatetik menganggap jiwa manusia bersifat non-materi baik dalam kemunculannya (huduts) maupun kelestariannya (baqa').[49] Menurut pandangan mereka, jiwa manusia diciptakan ketika tubuhnya telah tercipta secara sempurna dan siap untuk menerima jiwa tersebut.[50]
- Prinsip Kausalitas: Aristotle mengemukakan Prinsip Kausalitas dan empat jenis sebab (sebab efisien, final, formal, dan material) serta keniscayaan kausal, lalu Farabi dan Ibnu Sina memperluas dan menyempurnakannya.[51] Para filsuf Masya' menganggap kriteria kebutuhan akibat kepada sebab adalah kemungkinan esensial (imkan mahuwi).[52]
Pembahasan seperti pemisahan wujud dan esensi serta pengkajian karakteristik keduanya, masalah keniscayaan, kemungkinan, dan kemustahilan, penjelasan serta pembuktian eksistensi Tuhan dan sifat-sifat-Nya, bagaimana penciptaan dan sistem vertikal alam semesta, pembahasan sebab efisien dan final, serta masalah mengenai gerak dan jiwa dianggap sebagai inovasi filsafat Masya'.[53]
Perbedaan Filsafat Masya', Isyraq, dan Hikmah Muta'aliyah
Perbedaan utama antara filsafat Masya' dan Isyraq dianggap terletak pada metodenya; dalam filsafat Masya' hanya akal dan argumentasi rasional yang digunakan; namun dalam filsafat Isyraq, selain argumentasi rasional, syuhud dan isyraq juga digunakan untuk menyingkap hakikat.[54]Templat:Y Menurut Abdurrasul Obudiyyat, peneliti filsafat kontemporer Iran, para filsuf isyraqi menganggap kasyf dan syuhud sebagai pendukung akal yang membantu membimbing akal agar lebih sedikit melakukan kesalahan; namun filsuf peripatetik tidak mengakui peran semacam itu bagi kasyf dan syuhud.[55] Dalam Hikmah Muta'aliyah juga, di samping metode rasional murni dan filosofis isyraqi, metode irfani dan teologis (kalam) juga digunakan.[56] Dalam satu ungkapan, dalam Hikmah Muta'aliyah di samping akal, digunakan juga isyraq dan sumber-sumber wahyu.[57] Menurut pandangan Abdurrasul Obudiyyat, Mulla Sadra adalah filsuf yang berhaluan isyraqi; namun sistem filsafatnya dengan bertumpu pada Prinsipalitas Wujud berbeda dengan sistem filsafat isyraqi.[58]
Di antara masalah filosofis yang diperselisihkan antara filsafat Masya', Isyraq, dan Hikmah Muta'aliyah antara lain: Prinsipalitas Wujud dan esensi, kesatuan dan pluralitas wujud, masalah ja'l (penciptaan/penentuan), masalah komposisi atau non-komposisi jasad dari hyle dan rupa, Ide (mutstul) dan arketipe (arbab an-vua'), serta Kaidah Imkan Asyraf.[59] Sebagai contoh, filsuf peripatetik dan pengikut Hikmah Muta'aliyah dikenal dengan prinsipalitas wujud (ashalah al-wujud) sedangkan kaum isyraqiyyun dikenal dengan prinsipalitas esensi (ashalah al-mahiyyah),[60] dan Ibnu Sina menentang ide-ide Plato sedangkan Syekh Isyraq dan Mulla Sadra menyetujuinya.[61]
Ali Abedi Shahroudi menjelaskan perbedaan dan kesamaan antara filsafat Masya' dan Isyraq sebagai berikut:
| No. | Perbedaan dan Kesamaan | Penjelasan |
|---|---|---|
| 1 | Perbedaan dalam tujuan | Tujuan filsafat Masya' adalah mencapai ilmu husyuli dan rasional terhadap tatanan dunia; namun tujuan filsafat Isyraq selain ilmu husyuli, adalah memperoleh ilmu isyraqi dan syuhudi terhadap tatanan dunia. |
| 2 | Perbedaan dalam dasar | Dasar filsafat Masya' hanya bertumpu pada ilmu rasional dan filosofis; namun dalam filsafat Isyraq, kasyf dan syuhud juga termasuk di antara dasarnya. |
| 3 | Perbedaan dalam prinsip filosofis | Beberapa prinsip filosofis dari kedua sistem filsafat ini juga berbeda. Sebagai contoh materi pertama (hyle) dianggap sebagai salah satu prinsip filosofis Masya'; namun tidak diterima dalam filsafat Isyraq. |
| 4 | Kesamaan | Dua sistem filsafat Masya' dan Isyraq memiliki kesamaan dalam banyak prinsip filosofis seperti prinsip non-kontradiksi, Prinsip Kausalitas, serta batalnya tasalsul (regresi tanpa akhir) dan daur (siklus). Penerimaan logika formal dan ketergantungan keduanya pada logika juga dianggap sebagai kesamaan lainnya antara keduanya.[62] |
Para Pengkritik
Filsafat Masya' menghadapi para pengkritik dari kalangan filsuf dan teolog, khususnya pada abad kelima dan keenam Hijriah.[63] Abu Raihan al-Biruni, Abu Hamid al-Ghazali, Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahraztani dalam Masari' al-Falasifah, Abu al-Barakat al-Baghdadi, Fakhr ar-Razi dalam karya-karya seperti al-Mabahits al-Masyriqiyyah, Syekh Isyraq dalam kitab Hikmah al-Isyraq, Ibnu Arabi, dan Ibnu TaimiyyahTemplat:Y dianggap sebagai para pengkritik hikmah Masya' yang paling penting.[64]
Menurut sebagian peneliti kontemporer, kritik pertama terhadap filsafat Masya' adalah kritik Ya'qub bin Ishaq al-Kindi, filsuf Muslim abad kedua dan ketiga Hijriah yang semasa dengan Imam Hasan al-Askari as, terkait ketidakselarasan masalah filsafat dengan ajaran Islam.[65] Para teolog Muslim dan pengkritik filsafat Masya' juga memprotes serta mengkritik bentuk keselarasan filsafat Masya' dengan prinsip-prinsip Islam.[66] Sebagai contoh al-Ghazali (450-505 H), salah seorang pengkritik keras filsafat Masya' yang menulis kitab Tahafut al-Falasifah sebagai kritik atas filsafat Masya', menganggap sebagian besar pandangan para filsuf Masya' dalam teologi adalah salah.[67] Ia, dalam Tahafut al-Falasifah, mengajukan dua puluh keberatan terhadap filsafat Masya' di mana tiga di antaranya dianggap menyebabkan kufur dan tujuh belas lainnya dianggap sebagai Bid'ah. Tiga masalah yang menyebabkan pengkafiran para filsuf adalah: masalah keabadian alam (qidam al-alam) yang tidak selaras dengan keyakinan agama mengenai khalaq min al-adam, pengingkaran Ilmu Tuhan terhadap rincian (partikular), dan pengingkaran Kebangkitan Jasmani.[68] Kritik-kritik al-Ghazali menghadapi berbagai reaksi dan sebagian orang seperti Ibnu Rusyd dengan menulis kitab Tahafut al-Tahafut berusaha menjawab kritik al-Ghazali dan sebagian lainnya seperti Quthbuddin ar-Rawandi juga menulis buku untuk membela al-Ghazali.[69]
Ibnu Rusyd (520-595 H) meskipun dianggap filsuf peripatetik dari Barat dunia Islam, ia telah mengkritik pandangan al-Farabi dan Ibnu Sina melalui syarah atas karya Aristotle serta membelanya. Ia dalam kitab Tahafut al-Tahafut, di samping mengkritik kitab Tahafut al-Falasifah dan membela Aristotle, menganggap keberatan al-Ghazali terhadap al-Farabi dan Ibnu Sina sebagai hal yang tepat.[70]
Abu al-Barakat al-Baghdadi (480-560 H), meskipun ia sendiri terhitung sebagai filsuf peripatetik; namun ia adalah pengkritik Ibnu Sina dan filsafat Masya'. Karya filsafatnya al-Mu'tabar dianggap sebagai laporan kritis terhadap filsafat Masya' yang digunakan oleh filsuf seperti Syekh Isyraq dan Fakhr ar-Razi.[71] Kritik-kritik Abu al-Barakat bersifat filosofis dan bertujuan untuk memurnikan filsafat, bukan untuk meruntuhkan dan mengalahkan filsafat seperti yang dilakukan al-Ghazali.[72]
Syekh Isyraq juga mengkritik bagian-bagian dari filsafat Masya' baik dalam metode maupun isinya.[73]
Karya-karya Masya'
Seluruh buku filsafat Ibnu Sina seperti Al-Syifa, Al-Isyarat wa al-Tanbihat, al-Najat, Uyun al-Hikmah, dan Danesh-name-ye Ala'i,[74] buku-buku al-Farabi seperti Ara' Ahl al-Madinah al-Fadhilah, al-Fushul al-Muntaza'ah, al-Ta'liqat, buku al-Tahshil karya Bahmanyar, buku al-Mu'tabar karya Abu al-Barakat al-Baghdadi, dan al-Mabahits al-Masyriqiyyah tulisan Fakhr ar-Razi yang merupakan laporan kritis terhadap hikmah Masya', serta Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat karya Khwajah Nashiruddin al-Tusi merupakan sumber dan karya terpenting filsafat Masya'.[75]
Bibliografi
Berbagai buku mengenai filsafat Masya' telah ditulis dan diterbitkan seperti Hikmat-e Masya', Yar-Ali Kord Firozjaei, Qom, Penerbit Hikmat-e Islami. Buku ini yang ditulis atas pesanan Majma' Ali Hikmat-e Islami dan di bawah pengawasan Gholamreza Fayyazi, melaporkan serta mengkaji pemikiran terpenting para filsuf Masya' khususnya Ibnu Sina dalam subjek seperti metafisika, teologi, antropologi, filsafat akhlak, dan filsafat politik.[76]
Catatan Kaki
- ↑ "Mezgerd-e Falsafah-syenasi (4): Makateb-e Falsafah-ye Islami", hlm. 11-12.
- ↑ "Falsafah-ye Masya' Raha-vard-e Mutala'at-e Arasto Ast / Ibnu Sina Filusufe Masya'i Nist", Kantor Berita Mehr; "Falsafah-ye Yunani ba Farabi Islami Syod / Syakhose-haye Ma'rifat-syenasi-ye Farabi", Kantor Berita Mehr.
- ↑ "Mezgerd-e Falsafah-syenasi (4): Makateb-e Falsafah-ye Islami", hlm. 11.
- ↑ "Falsafah-ye Yunani ba Farabi Islami Syod / Syakhose-haye Ma'rifat-syenasi-ye Farabi", Kantor Berita Mehr.
- ↑ Dibaji, "Nesbat-e Ibnu Sina va Falsafah-ye Masya'", hlm. 12.
- ↑ Kumpulan Penulis, Daramadi bar Tarikh-e Falsafah-ye Islami, 1390 HS, jld. 1, hlm. 75.
- ↑ Foroughi, Seir-e Hikmat dar Orupa, Penerbit Kitabforousyi Zovvar, hlm. 28; Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 115.
- ↑ "Falsafah-ye Masya' Raha-vard-e Mutala'at-e Arasto Ast / Ibnu Sina Filusufe Masya'i Nist", Kantor Berita Mehr.
- ↑ Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 115; Kord Firozjaei, Hikmat-e Masya', 1393 HS, hlm. 25-26.
- ↑ Kord Firozjaei, Hikmat-e Masya', 1393 HS, hlm. 25-26.
- ↑ Dibaji, "Nesbat-e Ibnu Sina va Falsafah-ye Masya'", hlm. 14.
- ↑ Dibaji, "Nesbat-e Ibnu Sina va Falsafah-ye Masya'", hlm. 13 dan 20.
- ↑ Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 115.
- ↑ Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 4.
- ↑ Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 6.
- ↑ Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 4.
- ↑ Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 26.
- ↑ Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 21.
- ↑ Kord Firozjaei, Hikmat-e Masya', 1393 HS, hlm. 26.
- ↑ Kord Firozjaei, Hikmat-e Masya', 1393 HS, hlm. 26.
- ↑ Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 34.
- ↑ Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 4.
- ↑ Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 4-5.
- ↑ Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 5.
- ↑ Ne'mah, Falasifah asy-Syiah; Hayatuhum va Ara'uhum, Dar al-Fikr, hlm. 576-579.
- ↑ Ne'mah, Falasifah asy-Syiah; Hayatuhum va Ara'uhum, Dar al-Fikr, hlm. 297-301.
- ↑ Ne'mah, Falasifah asy-Syiah; Hayatuhum va Ara'uhum, Dar al-Fikr, hlm. 534-535.
- ↑ Mir Khandan, "Biografi Mendiang Mir Damad", Situs Informasi Hawzah.
- ↑ Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 123; Obudiyyat, Daramadi be Nizam-e Hikmat-e Sadrai, 1390 HS, jld. 1, hlm. 68.
- ↑ Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 122.
- ↑ Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 115 dan 123; Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 30; Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 8.
- ↑ Kord Firozjaei, Hikmat-e Masya', 1393 HS, hlm. 30-31.
- ↑ "Falsafah-ye Masya' Raha-vard-e Mutala'at-e Arasto Ast / Ibnu Sina Filusufe Masya'i Nist", Kantor Berita Mehr.
- ↑ "Falsafah-ye Yunani ba Farabi Islami Syod / Syakhose-haye Ma'rifat-syenasi-ye Farabi", Kantor Berita Mehr.
- ↑ Lihat Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 33.
- ↑ Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 25 dan 33.
- ↑ Lihat Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 24.
- ↑ Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 24-25.
- ↑ Lihat al-Farabi, al-Siyasah al-Madaniyyah, 1996 M, hlm. 21; Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 210-216.
- ↑ Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 209.
- ↑ al-Farabi, al-Siyasah al-Madaniyyah, 1996 M, hlm. 21.
- ↑ al-Farabi, al-Siyasah al-Madaniyyah, 1996 M, hlm. 22-23.
- ↑ Lihat al-Tusi, Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat, 1375 HS, jld. 3, hlm. 18-28.
- ↑ Lihat Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 106 dan 124.
- ↑ Lihat Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 118.
- ↑ Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 143-146.
- ↑ Lihat Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 25.
- ↑ Hajiha dan lainnya, "Elm-e Pisyin-e Elahi az Didgah-e Hikmat-e Sadrai va Sinavi va Tathbiq-e an ba Ayat va Ravayat", hlm. 49.
- ↑ Fayyazi, Elm al-Nafs-e Falsafi, 1393 HS, hlm. 186.
- ↑ Fayyazi, Elm al-Nafs-e Falsafi, 1393 HS, hlm. 186 dan 295.
- ↑ Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 160-168.
- ↑ Lihat Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 25.
- ↑ Lihat Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 35-36.
- ↑ Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 115; Kumpulan Penulis, Daramadi bar Tarikh-e Falsafah-ye Islami, 1390 HS, jld. 1, hlm. 74.
- ↑ Obudiyyat, Daramadi be Nizam-e Hikmat-e Sadrai, 1390 HS, jld. 1, hlm. 69.
- ↑ Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 126.
- ↑ Kumpulan Penulis, Daramadi bar Tarikh-e Falsafah-ye Islami, 1390 HS, jld. 1, hlm. 75; Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 33-34.
- ↑ Obudiyyat, Daramadi be Nizam-e Hikmat-e Sadrai, 1390 HS, jld. 1, hlm. 69.
- ↑ Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 116.
- ↑ Obudiyyat, Daramadi be Nizam-e Hikmat-e Sadrai, 1390 HS, jld. 1, hlm. 77.
- ↑ Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 119.
- ↑ Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 14-17.
- ↑ Kord Firozjaei, Hikmat-e Masya', 1393 HS, hlm. 31.
- ↑ Kumpulan Penulis, Daramadi bar Tarikh-e Falsafah-ye Islami, 1390 HS, jld. 1, hlm. 399; Kord Firozjaei, Hikmat-e Masya', 1393 HS, hlm. 29-31.
- ↑ Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 6-7.
- ↑ Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 7.
- ↑ Lihat Kumpulan Penulis, Daramadi bar Tarikh-e Falsafah-ye Islami, 1390 HS, jld. 1, hlm. 418-419.
- ↑ Lihat Kumpulan Penulis, Daramadi bar Tarikh-e Falsafah-ye Islami, 1390 HS, jld. 1, hlm. 417-441.
- ↑ Lihat Kumpulan Penulis, Daramadi bar Tarikh-e Falsafah-ye Islami, 1390 HS, jld. 1, hlm. 442-443.
- ↑ Kord Firozjaei, Hikmat-e Masya', 1393 HS, hlm. 30.
- ↑ Kord Firozjaei, Hikmat-e Masya', 1393 HS, hlm. 29.
- ↑ Kumpulan Penulis, Daramadi bar Tarikh-e Falsafah-ye Islami, 1390 HS, jld. 1, hlm. 446-447.
- ↑ Lihat Abedi Shahroudi, "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'", hlm. 22-23; Mo'allemi, Hikmat-e Masya', 1389 HS, hlm. 21.
- ↑ Muthahhari, Kolliyat-e Ulum-e Islami, 1388 HS, hlm. 123.
- ↑ Lihat Kord Firozjaei, Hikmat-e Masya', 1393 HS, hlm. 26-31.
- ↑ "Ketab-e Hikmat-e Masya' Muntasyer Syod", Situs Informasi Majma' Ali Hikmat-e Islami.
Catatan
Daftar Pustaka
- Abedi Shahroudi, Ali (Narasumber). "Advar va Ushul-e Falsafah-ye Masya'". Kayhan-e Andisheh, No. 59, Farvardin dan Ordibehesht 1374 HS.
- Center for Islamic Wisdom. "Ketab-e Hikmat-e Masya' Muntasyer Syod". Situs Informasi Majma' Ali Hikmat-e Islami, tanggal pemuatan: 23 Esfand 1393 HS, tanggal kunjungan: 11 Mehr 1400 HS.
- Dibaji, Sayyid Muhammad Ali. "Nesbat-e Ibnu Sina va Falsafah-ye Masya' (Ma'na-syenakht-e Tarikhi-ye Istilah-e Masya'i)". Faslnamah Tarikh-e Falsafah, tahun keenam, nomor ketiga, musim dingin 1394 HS.
- Farabi, Muhammad bin Muhammad. al-Siyasah al-Madaniyyah. Beirut, Dar va Maktab al-Hilal, cetakan pertama, 1996 M.
- Fayyazi, Gholamreza. Elm al-Nafs-e Falsafi (Pelajaran Profesor Gholamreza Fayyazi). Riset dan penyusunan: Muhammad Taqi Yousefi. Qom, Muassasah Amuzesyi va Pajuhisyi Imam Khomeini, cetakan ketiga, 1393 HS.
- Foroughi, Mohammad Ali. Seir-e Hikmat dar Orupa. Teheran, Penerbit Zovvar, tanpa tahun.
- "Falsafah-ye Masya' Raha-vard-e Mutala'at-e Arasto Ast / Ibnu Sina Filusufe Masya'i Nist" (Wawancara dengan Gholamhossein Ebrahimi Dinani). Kantor Berita Mehr, tanggal pemuatan: 1 Mordad 1392 HS, 19 Mehr 1400 HS.
- "Falsafah-ye Yunani ba Farabi Islami Syod / Syakhose-haye Ma'rifat-syenasi-ye Farabi" (Wawancara dengan Mehdi Abbas-zadeh). Kantor Berita Mehr, tanggal pemuatan: 21 Mehr 1397 HS, tanggal kunjungan: 19 Mehr 1400 HS.
- Hajiha dkk. "Elm-e Pisyin-e Elahi az Didgah-e Hikmat-e Sadrai va Sinavi va Tathbiq-e an ba Ayat va Ravayat". hlm. 49.
- Jami'i az Nevisandegan. Daramadi bar Tarikh-e Falsafah-ye Islami (Pengantar Sejarah Filsafat Islam). Di bawah pengawasan: Mohammad Fanaei Eshkevari. Teheran, Samt; Qom, Muassasah Amuzesyi va Pajuhisyi Imam Khomeini, cetakan pertama, 1390 HS.
- Kord Firozjaei, Yar-Ali. Hikmat-e Masya'. Qom, Hikmat-e Islami, cetakan pertama, 1393 HS.
- Mir Khandan, Hamid. "Biografi Mendiang Mir Damad". Situs Informasi Hawzah, tanggal pemuatan: 30 Mehr 1388 HS, tanggal kunjungan: 31 Ordibehesht 1401 HS.
- "Mezgerd-e Falsafah-syenasi (4): Makateb-e Falsafah-ye Islami". Dalam jurnal Ma'rifat-e Falsafi, No. 4, musim panas 1383 HS.
- Mo'allemi, Hasan. Hikmat-e Masya'. Qom, Markaz-e Modiriyat-e Hauze-haye Elmiye Khaharan; Penerbit Hajar, cetakan pertama, 1389 HS.
- Muthahhari, Murtadha. Kolliyat-e Ulum-e Islami. Teheran, Sadra, 1388 HS.
- Ne'mah, Abdullah. Falasifah asy-Syiah; Hayatuhum va Ara'uhum. Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Tusi, Khwajah Nashiruddin. Syarh al-Isyarat wa al-Tanbihat. Qom, Penerbit al-Balaghah, cetakan pertama, 1375 HS.