Konsep:Dendam
Dendam atau Hiqd bermakna perasaan berat di dalam hati terhadap orang lain dan memelihara kebencian terhadapnya yang berlangsung secara terus-menerus.[1] Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab menganggapnya sebagai semacam permusuhan hati di mana seseorang menunggu kesempatan untuk menampakkan permusuhan ini.[2] Dendam dianggap sebagai salah satu dari akhlak tercela[3] yang mana beberapa sifat buruk moral lainnya seperti hasad, gibah, dusta, dan tuduhan terlahir darinya.[4] Mulla Ahmad Naraqi, salah seorang ulama akhlak, menganggap dendam seperti penyakit ruhani yang menjauhkan manusia dari kedekatan ilahi dan melemahkan imannya.[5]
Imam Ali as dalam beberapa riwayat memperkenalkan dendam sebagai sifat yang paling hina[6] dan menganggapnya sebagai ciri orang-orang jahat, pendengki, dan pendendam.[7] Dalam agama Islam, dendam jika berujung pada perbuatan seperti gibah, fitnah, penganiayaan, dan kebohongan, maka dianggap haram.[8]
Menurut para ulama ilmu akhlak, dendam bisa berasal dari kemarahan yang disembunyikan, terutama ketika seseorang menahan kemarahannya di dalam hati karena ketidakmampuannya untuk membalas dendam.[9] Dalam kondisi ini, kemarahan berubah menjadi dendam.[10] Dalam riwayat, merendahkan orang lain diperkenalkan sebagai penyebab dendam.[11] Imam Ali as dalam beberapa riwayat menganggap celaan yang berlebihan dan merendahkan orang lain sebagai penyebab munculnya dendam.[12] Murtadha Muthahhari juga menegaskan bahwa celaan yang terus-menerus tidak hanya tidak memperbaiki, tetapi justru menyebabkan keras kepala dan kebencian.[13]
Mereka telah menyebutkan beberapa dampak untuk dendam[14] di antaranya: permusuhan, pemukulan dan penganiayaan, umpatan, kemarahan[15] Laknat dan cacian[16] yang mana hal-hal tersebut tercela dalam agama Islam.[17] Untuk menghilangkan dendam, perbuatan seperti wajah yang ceria dan kebaikan terhadap orang yang didendami, dianggap berpengaruh.[18]
Nabi Islam saw menyarankan bahwa memberi hadiah dapat mengeluarkan dendam dan kedengkian dari dalam hati.[19] Selain itu, memperhatikan dampak negatif dari dendam di dunia dan akhirat serta melakukan perbuatan-perbuatan baik[20] seperti memuji sifat-sifat baik dari orang yang didendami,[21] akan membantu menghilangkan sifat ini.[22]
Catatan Kaki
- ↑ Faidh Kasyani, Al-Haqa'iq fi Mahasin al-Akhlaq, 1423 H, hlm. 79.
- ↑ Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 1414 H, jld. 3, hlm. 154.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1392 HS, hlm. 260.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1392 HS, hlm. 259–260.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1392 HS, hlm. 260.
- ↑ Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1416 H, jld. 1, hlm. 648.
- ↑ Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1416 H, jld. 1, hlm. 648.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1392 HS, hlm. 261; Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1416 H, jld. 3, hlm. 2337 dan jld. 2, hlm. 992.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1392 HS, hlm. 259–260.
- ↑ Faidh Kasyani, Al-Haqa'iq fi Mahasin al-Akhlaq, 1387 HS, hlm. 165.
- ↑ Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1416 H, jld. 1, hlm. 652; Ibnu Abi Firas, Majmu'ah Warram, 1410 H, jld. 2, hlm. 122; Hurr al-Amili, Wasa'il al-Syi'ah, 1412 H, jld. 8, hlm. 590-591.
- ↑ Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1416 H, jld. 1, hlm. 45; Tamimi Amidi, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, 1410 H, hlm. 764.
- ↑ Muthahhari, Majmu'ah Atsar Syahid Muthahhari (Kumpulan Karya Syahid Muthahhari), 1389 HS, jld. 16, hlm. 160.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1392 HS, hlm. 261.
- ↑ Muttaqi, Kanz al-'Ummal, 1409 H, jld. 1, hlm. 146; Faidh Kasyani, Al-Mahajjah al-Baidha', 1417 H, jld. 5, hlm. 216.
- ↑ Muttaqi, Kanz al-'Ummal, 1409 H, jld. 1, hlm. 146 dan jld. 16, hlm. 71.
- ↑ Muttaqi, Kanz al-'Ummal, 1409 H, jld. 1, hlm. 146 dan jld. 3, hlm. 598 dan jld. 16, hlm. 71.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1392 HS, hlm. 261; Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1416 H, jld. 1, hlm. 649.
- ↑ Muhammadi Rey Syahri, Mizan al-Hikmah, 1416 H, jld. 1, hlm. 649; Ibnu Syu'bah al-Harrani, Tuhaf al-'Uqul, jld. 1, hlm. 45.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1392 HS, hlm. 261.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1392 HS, hlm. 261.
- ↑ Naraqi, Mi'raj al-Sa'adah, 1392 HS, hlm. 261.
Daftar Pustaka
- Al-Qur'an.
- Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Al-Haqa'iq fi Mahasin al-Akhlaq. Qom: Dar al-Kitab al-Islami, 1423 H.
- Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Al-Haqa'iq fi Mahasin al-Akhlaq. Teheran: Madrasah 'Ali Syahid Muthahhari, 1387 HS.
- Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Al-Mahajjah al-Baidha'. Qom: Jami' Mudarrisin Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.
- Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Wasa'il al-Syi'ah. Mirza Abdurrahim Rabbani. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1412 H.
- Ibnu Abi Firas, Warram. Majmu'ah Warram Tanbih al-Khawatir wa Nuzhah al-Nawazir. Cetakan pertama. Qom: Maktab Fiqhiyyah, 1410 H.
- Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-Arab. Cetakan ketiga. Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H.
- Ibnu Syu'bah al-Harrani, Husain. Tuhaf al-'Uqul. Ali Akbar Ghaffari. Qom: Jami' Mudarrisin Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1363 HS.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Cetakan keempat. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
- Muhammadi Rey Syahri, Muhammad. Mizan al-Hikmah. Riset: Dar al-Hadits. Qom: Dar al-Hadits, 1416 H.
- Muthahhari, Murtadha. Majmu'ah Atsar Syahid Muthahhari (Kumpulan Karya Syahid Muthahhari). Qom: Sadra, 1389 HS.
- Muttaqi, Ali bin Husamuddin. Kanz al-'Ummal fi Sunan Aqwal wa Af'al. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1409 H.
- Naraqi, Ahmad bin Muhammad Mahdi. Mi'raj al-Sa'adah. Masyhad: Astan Quds Razavi, 1392 HS.
- Tamimi Amidi, Abdul Wahid bin Muhammad. Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim. Sayid Muhammad Rajaei. Qom: Dar al-Kitab al-Islami, 1410 H.