Konsep:Da'i
|| ||
|| ||
|| ||
|| ||
Da'i (bahasa Arab: داعی) dalam istilah Islam, merujuk pada mubaligh agama-politik yang memiliki misi untuk mengajak (mendakwahkan) ajaran agama. Gelar ini awalnya digunakan oleh Mu'tazilah dan Bani Abbasiyah untuk para mubaligh di Khurasan, dan kemudian menyebar di kalangan Syiah, khususnya Zaidiyah dan Ismailiyah. Dalam Zaidiyah, Da'i berperan sebagai pemimpin kebangkitan dan penyeru kepada Imamah Alawi, sedangkan dalam Ismailiyah, Da'i adalah wakil yang diizinkan untuk mengajarkan prinsip-prinsip akidah dan menyeru kepada ajaran lahiriah dan batiniah. Organisasi dakwah Ismailiyah berkembang pada masa Fatimiyah dan terbentuklah berbagai tingkatan seperti Natiq, Da'i al-Du'at, dan Da'i Mutlaq di dalamnya. Dalam Imamiyah, dakwah semata-mata bermakna seruan untuk menerima Imamah para Maksum dan tidak memiliki aspek politik.
Makna Leksikal dan Istilah Da'i
Da'i (jamak: Du'at) secara bahasa berarti penyeru atau pengundang, dan dalam istilah berbagai kelompok Islam, khususnya dalam teologi Ismailiyah, merujuk pada mubaligh agama-politik.[1] Dalam Al-Qur'an juga digunakan kata yang berasal dari akar kata Da'wah dalam kaitannya dengan Allah Swt atau tuhan-tuhan palsu, serta merujuk pada kinerja para nabi; yang menunjukkan aspek seruan kepada kebenaran atau kebatilan.[2]
Sekte-sekte Syiah dan Kedudukan Da'i
Salah satu penggunaan awal kata Da'i adalah di kalangan Mu'tazilah awal dan Bani Abbasiyah, yang menyebut mubaligh mereka di wilayah Khurasan sebagai Da'i. Setelah itu, gelar ini menyebar di kalangan kelompok Syiah seperti Zaidiyah, sebagian Ghulat, dan secara luas di kalangan Ismailiyah[3] dan mencapai puncaknya pada masa Fatimiyah.[4]
Zaidiyah: Da'i sebagai Pemimpin Kebangkitan dan Penyeru Imamah Alawi
Berdasarkan laporan sejarah, Zaid bin Ali, putra Imam Sajjad as dan pendiri aliran Zaidiyah, memiliki para Da'i yang menyeru orang-orang untuk berbaiat kepadanya.[5] Pada masa para imam Zaidiyah selanjutnya, konsep Dakwah dan peran Para Da'i juga dikemukakan sebagai program keagamaan-politik; karena dalam pemikiran Zaidiyah, menyeru (dakwah) kepada diri sendiri dianggap sebagai syarat terwujudnya Imamah, namun tujuan akhir dari dakwah ini adalah seruan kepada Allah dan jalan kebenaran yang berakar pada ajaran Al-Qur'an.[6] Oleh karena itu, Hasan bin Zaid, pendiri dinasti Alawiyin Thabaristan (250 H), dikenal dengan gelar Al-Da'i ila al-Haq, Da'i, atau Da'i Kabir, dan para penerusnya juga menggunakan gelar Al-Da'i ila al-Haq ini.[7] Di antaranya adalah Hasan bin Qasim bin Hasan (W. 316 H), yang dikenal sebagai Da'i Shaghir.[8]
Ismailiyah dan Fatimiyah: Organisasi Dakwah dan Munculnya Da'i Mutlaq
Dalam tradisi Ismailiyah, Da'i bermakna wakil yang sah dan memiliki izin untuk berdakwah, yang juga bertugas mengajarkan prinsip-prinsip akidah.[9] Maksud dari Dakwah juga adalah menyeru masyarakat untuk menerima ajaran lahiriah dan batiniah mazhab ini.[10] Dakwah dalam Ismailiyah memiliki metode khusus[11] dan untuk itu disebutkan adanya tujuh tingkatan[12] atau sepuluh tingkatan.[13]
Dengan berdirinya Kekhalifahan Fatimiyah, khususnya sejak tahun 362 H dan dengan pemindahan ibu kota ke Kairo, aktivitas para Da'i Ismailiyah mengalami transformasi dan perluasan.[14] Dalam organisasi dakwah Fatimiyah, terbentuklah hierarki khusus yang dalam tujuh tingkatan mencakup dari tingkat Natiq hingga Da'i al-Du'at atau Bab,[15] dan bahkan perempuan pun mendapatkan posisi khusus.[16] Setelah perpecahan Ismailiyah menjadi dua cabang Musta'liyah dan Nizariyah, dalam kelompok Thayyibi dari cabang Musta'liyah, tingkatan Da'i Mutlaq diajukan sebagai wakil tertinggi Imam yang gaib dan Wajib al-Tha'ah (wajib ditaati), yang ditentukan oleh Da'i sebelumnya.[17]
Imamiyah: Peran Ulama dan Fukaha sebagai Da'i Keyakinan Imamiyah
Para Imam mazhab Imamiyah, sejak terbentuknya kebangkitan-kebangkitan Zaidiyah pada masa Imam Shadiq as, tidak memiliki pandangan positif terhadap kebangkitan dan dakwah (politik) semacam ini.[18] Sepanjang abad, konsep Dakwah dalam Syiah Imamiyah bermakna menyeru masyarakat untuk menerima akidah bahwa para Imam Maksum Syiah adalah Muftaradh al-Tha'ah (Wajib Ditaati), dan tidak disertai dengan pemberontakan politik.[19] Beberapa tokoh Imamiyah yang dalam sumber-sumber Ahlusunah diperkenalkan dengan gelar Da'i kepada Mazhab, mereka tidak memiliki program politik dan berdakwah semata-mata terbatas pada penyebaran keyakinan akidah Imamiyah.[20]
Catatan Kaki
- ↑ Daftari, «Da'i», Daneshnameh Jahan-e Eslam, jld. 16, hlm. 862.
- ↑ Pakatchi, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Bozorg Eslami, jld. 23, hlm. 711.
- ↑ Daftari, «Da'i», Daneshnameh Jahan-e Eslam, jld. 16, hlm. 862.
- ↑ Daftari, «Da'i», Daneshnameh Jahan-e Eslam, jld. 16, hlm. 865.
- ↑ Pakatchi, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Bozorg Eslami, jld. 23, hlm. 715.
- ↑ Pakatchi, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Bozorg Eslami, jld. 23, hlm. 715.
- ↑ Pakatchi, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Bozorg Eslami, jld. 23, hlm. 715.
- ↑ Anousheh, «Da'i Shaghir», Da'irat al-Ma'arif Tasyayyu', jld. 7, hlm. 419.
- ↑ Daftari, «Da'i», Daneshnameh Jahan-e Eslam, jld. 16, hlm. 862.
- ↑ Dadbeh, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Tasyayyu', Teheran, jld. 7, hlm. 544.
- ↑ Syarifi, «Barresi Tathbiqi Ahdaf va Ushul Sazman Da'wat Abbasiyan va Ismailiyan», hlm. 152.
- ↑ Dadbeh, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Tasyayyu', Teheran, jld. 7, hlm. 544.
- ↑ Dadbeh, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Tasyayyu', Teheran, jld. 7, hlm. 546.
- ↑ Daftari, «Da'i», Daneshnameh Jahan-e Eslam, jld. 16, hlm. 864.
- ↑ Daftari, «Da'i», Daneshnameh Jahan-e Eslam, jld. 16, hlm. 865.
- ↑ Chelongar, «Jaygah Zanan dar Tasykilat Fatimiyan», hlm. 108.
- ↑ Daftari, «Da'i», Daneshnameh Jahan-e Eslam, jld. 16, hlm. 865.
- ↑ Pakatchi, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Bozorg Eslami, jld. 23, hlm. 716.
- ↑ Pakatchi, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Bozorg Eslami, jld. 23, hlm. 716.
- ↑ Pakatchi, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Bozorg Eslami, jld. 23, hlm. 716.
Daftar Pustaka
- Anousheh, Hasan, «Da'i Shaghir», Da'irat al-Ma'arif Tasyayyu', Teheran, Cetakan kedua, 1380 HS, jld. 7.
- Pakatchi, Ahmad, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Bozorg Eslami, Teheran, Markaz Da'irat al-Ma'arif Bozorg Eslami, Cetakan pertama, 1396 HS, jld. 23.
- Chelongar, Muhammad Ali, «Jaygah Zanan dar Tasykilat Fatimiyan», Pazhuhesh-haye Tarikhi Iran va Eslam, No. 15, Musim Gugur dan Dingin 1393 HS.
- Dadbeh, Asghar, «Da'wat», Da'irat al-Ma'arif Tasyayyu', Teheran, Cetakan kedua, jld. 7.
- Daftari, Farhad, «Da'i», Daneshnameh Jahan-e Eslam, Teheran, Bonyad Da'irat al-Ma'arif Eslami, 1390 HS, jld. 16.
- Syarifi, Ja'far dkk, «Barresi Tathbiqi Ahdaf va Ushul Sazman Da'wat Abbasiyan va Ismailiyan», Tarikh Eslam, No. 62, Musim Panas 1394 HS.