Konsep:Ayat 7 Surah Ibrahim
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Surah Ibrahim |
| Ayat | 7 |
| Juz | 13 |
| Informasi Konten | |
| Deskripsi | Dampak syukur nikmat dan kufur nikmat |
Ayat 7 Surah Ibrahim (bahasa Arab: آیة ۷ سورة الابراهیم) adalah ayat Al-Qur'an yang paling tegas dalam menjelaskan dampak syukur nikmat atau pengingkaran terhadapnya (kufur nikmat).[1] Ayat ini menganggap syukur nikmat sebagai penyebab berlanjutnya nikmat-nikmat[2] dan memperkenalkan kufur nikmat sebagai pembuka jalan bagi azab Ilahi yang pedih.[3]

Menurut Mughniyah, bertambahnya nikmat bermakna kelimpahan nikmat di akhirat.[4] Imam Shadiq as menganggap syukur sebagai menjauhi hal haram dan mengucapkan "Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin".[5] Dalam riwayat lain dinukil bahwa setiap nikmat yang Allah berikan kepada seorang hamba, lalu hamba tersebut mengenalinya dengan hatinya dan memuji Allah secara terang-terangan dengan lisannya, maka sebelum ucapannya selesai, Allah memerintahkan penambahan nikmat baginya.[6]
Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan "kufr" di sini adalah kufur nikmat (mengingkari nikmat), bukan tidak beragama (ateisme).[7] Kufur nikmat dapat terwujud dalam bentuk tidak bersyukur,[8] penggunaan nikmat yang tidak tepat, atau penggunaannya di jalan maksiat.[9] Akibat dari kufur nikmat adalah berkurangnya atau hilangnya nikmat-nikmat[10] di mana setelah kematian, balasan kekufuran ini akan lebih pedih.[11]
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."(QS. Ibrahim: 7)
Mereka bertanya tentang makna la'in syakartum la-azidannakum, ia berkata: Barang siapa yang mensyukuri nikmat Allah Ta'ala, nikmat-Nya akan bertambah, dan barang siapa yang mensyukuri Pemberi Nikmat (Mun'im), kecintaan dan makrifat-Nya akan bertambah.[12]

Mulla Sadra mengaitkan perbedaan ungkapan "La-azidannakum" (pasti Aku akan menambah pada kalian) alih-alih "La-u'adzdzibannakum" (pasti Aku akan mengazab kalian) dengan cara Allah yang Mahamulia, dan bahwa Allah dalam khitab-khitab-Nya menggunakan ungkapan-ungkapan yang baik dan menyenangkan.[13] Juga dikatakan bahwa penggunaan kiasan (kinayah) sebagai ganti ancaman langsung, menunjukkan adab ini dalam firman Allah.[14] Sayid Ali Khamenei sembari mendefinisikan Sunnah Ilahi sebagai hukum, menganggap ayat ini mengandung dua sunnah dari sunnah-sunnah Ilahi. Ia meyakini bahwa jika syukur nikmat dilakukan, hasilnya adalah "La-azidannakum" (pasti Aku akan menambah pada kalian), dan jika terjadi kufur nikmat dan nikmat tidak digunakan atau digunakan dengan buruk dan disalahgunakan, maka "Inna 'adzabi lasyadid" (sesungguhnya azab-Ku sangat pedih); akan berlaku atasnya.[15]
Mengenai khitab (lawan bicara) ayat ini, terdapat dua kemungkinan: Kemungkinan pertama adalah bahwa khitab ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia.[16] Berdasarkan kemungkinan kedua, ayat ini sebagaimana ayat-ayat sebelumnya, adalah kelanjutan dari ucapan Musa as kepada Bani Israil[17] yang mengingatkan firman Allah kepada mereka.[18] Menurut keyakinan para mufasir, jika ayat ini adalah ucapan Musa as pun, ini menunjukkan sebuah kaidah umum dan sunnah Ilahi[19] yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai prinsip yang membangun bagi manusia.[20]
Para mufasir menyebutkan berbagai tahapan untuk syukur: Pertama, perenungan dan kesadaran akan pemberi nikmat;[21] kemudian syukur lisan seperti mengucapkan "Alhamdulillah",[22] dan akhirnya syukur praktis yaitu penggunaan nikmat-nikmat di jalan ketaatan kepada Allah.[23]
Diriwayatkan dari Imam Ali as bahwa ketika permulaan nikmat sampai kepada kalian, janganlah kalian memutus kelanjutannya dengan ketidaksyukuran (kekufuran).[24] Terdapat syair yang dinisbatkan kepada Maulawi yang merupakan pemahaman dari ayat 7 Surah Ibrahim:
Bait syair ini telah mencapai ketenaran yang luar biasa dan saat ini digunakan sebagai peribahasa.[26]
Catatan Kaki
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 6, hlm. 263.
- ↑ Mughniyah, At-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 427.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 275.
- ↑ Mughniyah, At-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 427.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 95.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 95.
- ↑ Najafi Khomeini, Tafsir Asan, 1398 H, jld. 8, hlm. 322.
- ↑ Husseini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 268.
- ↑ Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 5, hlm. 280.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Balagh fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an, 1419 H, hlm. 256.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Balagh fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an, 1419 H, hlm. 256.
- ↑ Aththar, "Tazkirat al-Awliya, Dzikr-e Abul Qasim Nashr Abadi Rahmatullah", Situs Ganjoor.
- ↑ Mulla Sadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jld. 1, hlm. 144.
- ↑ Alusi, Tafsir Ruh al-Ma'ani, jld. 7, hlm. 181.
- ↑ "Bayanat dar Didar-e Ra'is va Mas'ulan-e Quvveh-ye Qaza'iyyeh" (Pidato dalam Pertemuan dengan Kepala dan Pejabat Yudikatif), Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Ayatullah al-Uzhma Khamenei.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 7, hlm. 363.
- ↑ Husseini Hamedani, Anwar-e Derakhsyan, 1404 H, jld. 9, hlm. 261.
- ↑ Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 5, hlm. 279.
- ↑ Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 5, hlm. 279.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 275.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 278.
- ↑ Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 6, hlm. 263.
- ↑ Fadhlullah, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 13, hlm. 83.
- ↑ Sayid Radhi, Nahj al-Balaghah, 1414 H, hlm. 470, Hikmah 14.
- ↑ "Syukur Nikmat Nikmatat Afzun Konad az Kist?" (Syukur Nikmat Menambah Nikmatmu, Karya Siapa?), Situs Mojbaz.
- ↑ "Syukur Nikmat Nikmatat Afzun Konad" (Syukur Nikmat Menambah Nikmatmu), Tahavol-e Fardi.
Daftar Pustaka
- Alusi, Syihabuddin. Tafsir Ruh al-Ma'ani. Tanpa tahun, Tanpa tempat, Tanpa penerbit.
- Amir Syahi. Divan-e Asy'ar, Ghazaliyat, No. 109 (Diwan Syair, Ghazal, No. 109). Situs Ganjoor, Tanggal kunjungan: 10 Aban 1402 HS.
- Aththar. Tazkirat al-Awliya, Dzikr-e Abul Qasim Nashr Abadi Rahmatullah. Situs Ganjoor, Tanggal kunjungan: 10 Aban 1402 HS.
- "Bayanat dar Didar-e Ra'is va Mas'ulan-e Quvveh-ye Qaza'iyyeh" (Pidato dalam Pertemuan dengan Kepala dan Pejabat Yudikatif). Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Ayatullah al-Uzhma Khamenei.
- Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir Min Wahyi al-Qur'an. Beirut, Dar al-Malak, cetakan kedua, 1419 H.
- Husseini Hamedani, Sayid Muhammad Husain. Anwar-e Derakhsyan. Tahkik: Muhammad Baqir Behbudi, Teheran, Kitabfarusyi Luthfi, cetakan pertama, 1404 H.
- Husseini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Tahkik dan koreksi: Ali Akbar Ghaffari, Muhammad Akhundi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Namuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. At-Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1424 H.
- Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Nasyr-e Bidar, cetakan kedua, 1366 HS.
- Najafi Khomeini, Muhammad Jawad. Tafsir Asan. Teheran, Intisharat-e Islamiyyah, cetakan pertama, 1398 H.
- Qara'ati, Mohsin. Tafsir Nur. Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Dars-haye az Qur'an, cetakan kesebelas, 1383 HS.
- Qurasyi, Sayid Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Teheran, Bonyad-e Be'tsat, cetakan ketiga, 1377 HS.
- Sana'i. Divan-e Asy'ar, Qashayid, Qashidah No. 2 (Diwan Syair, Kasidah, Kasidah No. 2). Situs Ganjoor, Tanggal kunjungan: 10 Aban 1402 HS.
- Sayid Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah. Tahkik: Shubhi Shalih, Qom, Hijrat, cetakan pertama, 1414 H.
- Shadiqi Tehrani, Muhammad. Al-Balagh fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an. Qom, cetakan pertama, 1419 H.
- "Syukur Nikmat Nikmatat Afzun Konad az Kist?" (Syukur Nikmat Menambah Nikmatmu, Karya Siapa?). Situs Mojbaz, Tanggal kunjungan: 10 Aban 1402 HS.
- "Syukur Nikmat Nikmatat Afzun Konad" (Syukur Nikmat Menambah Nikmatmu). Tahavol-e Fardi, Tanggal kunjungan: 10 Aban 1402 HS.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Qom, Dar ats-Tsaqafah, cetakan pertama, 1414 H.
- Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Intisharat-e Eslam, cetakan kedua, 1378 HS.