Konsep:Ayat 6 Surah Al-Fatihah
Ayat 6 Surah Al-Fatihah dalam Khat Mu'alla | |
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Surah Al-Fatihah |
| Ayat | 6 |
| Juz | 1 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Mekah dan Madinah |
| Tentang | Hidayah menuju Shiratal Mustaqim |
| Deskripsi | Akidah |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 7 Surah Al-Fatihah |
Ayat 6 Surah Al-Fatihah adalah permohonan manusia kepada Allah agar ia dianugerahi nikmat hidayah menuju Shiratal Mustaqim (Jalan yang Lurus). Para mufasir mengemukakan beberapa makna untuk Shiratal Mustaqim, di antaranya adalah Kitabullah, Agama Islam, Nabi Muhammad saw, Para Imam as, dan ajaran tauhid. Menurut keyakinan para mufasir, Shiratal Mustaqim memiliki tingkatan dan derajat sehingga tidak semua orang berada pada posisi yang sama dalam menempuhnya. Dikatakan pula bahwa para penempuh jalan ini memiliki keutamaan di atas manusia lainnya.
Kata "Ihdina" dalam ayat ini ditafsirkan dengan berbagai makna seperti keteguhan dalam jalur kebenaran, pahala dan balasan kebaikan (Surga), serta Doa untuk keberlangsungan hidayah di masa depan. Selain itu, hidayah menuju Shiratal Mustaqim tidak hanya berarti pengetahuan, melainkan pengetahuan yang disertai dengan amal.
Para mufasir berpandangan bahwa karena selalu ada kemungkinan bagi seorang mukmin untuk tergelincir, dan menempuh tingkatan kesempurnaan tidaklah mungkin tanpa memohon kepada Allah, maka dalam setiap salat harus memohon hidayah menuju Shiratal Mustaqim kepada Allah.
Menempuh Shiratal Mustaqim
Ayat keenam Surah Al-Hamd dianggap sebagai permintaan pertama manusia kepada Allah setelah menyatakan ketundukan di hadapan Sang Pencipta dan mencapai derajat penghambaan serta memohon pertolongan dari Zat-Nya yang suci, ia memohon nikmat hidayah menuju Shiratal Mustaqim.[1]
| “ | ٱهدِنَا ٱلصِّرَاطَ ٱلمُستَقِيمَ
|
” |
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Permohonan hidayah menuju Shiratal Mustaqim adalah salah satu doa terpenting yang bahkan makhluk terbaik pun tidak merasa cukup dengannya.[2] Berdasarkan Tafsir Rahnama, jika ayat ini dikaitkan dengan "Iyyāka nasta'īn", hal itu menunjukkan bahwa tanpa pertolongan Allah, manusia tidak mampu menemukan Shiratal Mustaqim. Demikian pula jika dikaitkan dengan Al-Hamdu lillahi rabbil 'alamin, maka maknanya adalah tujuan manusia setelah mengenal Allah adalah menempuh jalan Shiratal Mustaqim.[3] Dalam Tafsir-e Nemuneh juga disebutkan bahwa seorang mukmin setiap saat dapat menyimpang dari Shiratal Mustaqim, maka dari itu ia harus senantiasa memohon kepada Allah agar menjaganya tetap di jalan ini dan membimbingnya ke tingkatan yang lebih tinggi.[4] Syekh Shaduq dalam kitab Man Lā Yahdhuruhu al-Faqīh menukil riwayat dari Imam al-Ridha as di bawah ayat 6 Surah Al-Fatihah bahwa Imam memaknai "Ihdina al-Shirāth al-Mustaqīm" sebagai permohonan hidayah dari Allah menuju agama-Nya, berpegang teguh pada Hablullah, dan memohon makrifat Tuhan yang lebih banyak lagi.[5]
Maksud dari Hidayah
Al-Syekh al-Thabrisi dalam Majma' al-Bayan memaparkan tiga makna untuk "Ihdina": Keteguhan dalam memegang agama; balasan dan pahala kebaikan; serta permohonan untuk keberlangsungan hidayah di masa depan.[6] Muhammad Jawad Mughniyah dalam Tafsir al-Kasyif menganggap hidayah sebagai kesadaran yang disertai dengan amal dan menyebutnya sebagai nikmat tertinggi.[7] Allamah Thabathaba'i juga menganggap hidayah sebagai pekerjaan dari Allah yang dianugerahkan kepada para hamba melalui perantara sebab-sebab.[8]
Apa itu Shiratal Mustaqim?
Para mufasir mengemukakan beberapa pandangan mengenai hakikat Shiratal Mustaqim dalam ayat 6 Surah Al-Fatihah:
Menurut penuturan Thabrasi, beberapa mufasir dengan bersandar pada riwayat dari Nabi Muhammad saw dan Imam Ali as serta Abdullah bin Mas'ud, menganggap Shiratal Mustaqim adalah Kitabullah (Al-Qur'an). Ia juga menukil dari Jabir bin Abdullah al-Anshari dan Abdullah bin Abbas bahwa Shiratal Mustaqim adalah agama Islam, dan dalam riwayat-riwayat Syiah, Shirath diterapkan kepada Nabi Muhammad saw dan para Imam as. Thabrasi pada akhirnya berkeyakinan bahwa Shiratal Mustaqim memiliki makna umum dan semua hal tersebut adalah bagian dari perwujudannya (mishdaq).[9]
Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa semua maujud di alam semesta memiliki jalur untuk bergerak menuju Allah, yang terkadang dekat dan terkadang jauh. Jalur-jalur ini dengan segala kesempurnaan atau kekurangannya merupakan cabang dari Shiratal Mustaqim. Namun Shiratal Mustaqim karena keistimewaan khususnya, membimbing manusia menuju Allah tanpa syarat dan ketentuan apa pun.[10]
Naser Makarem Syirazi menganggap Shiratal Mustaqim sebagai ajaran ketuhanan dan komitmen terhadap perintah-perintah Allah (keyakinan dan amal) serta meyakini bahwa jalan yang lurus itu hanya satu dan semua agama samawi mengajak kepada jalan yang satu ini.[11] Selain itu, dengan memperhatikan ayat-ayat sebelumnya dalam Surah Al-Fatihah, ia menganggap iman kepada Allah dan sifat-sifat-Nya sebagai Shiratal Mustaqim itu sendiri.[12]
Dalam beberapa riwayat, Shiratal Mustaqim disepadankan dengan perwujudan khusus. Dalam satu riwayat, Shiratal Mustaqim disebut sebagai jalan para nabi as.[13] Dalam riwayat lain, hal itu dinisbatkan kepada Imam Ali as[14] dan dalam riwayat lain di-takwil sebagai jalan dan pengenalan terhadap Imam as.[15]
Perbedaan Derajat Shiratal Mustaqim
Para mufasir meyakini bahwa Shiratal Mustaqim memiliki tingkatan dan derajat yang berbeda-beda, dan manusia harus memohon kepada Allah agar membimbingnya ke derajat yang lebih tinggi.[16] Allamah Thabathaba'i juga berkeyakinan bahwa Shiratal Mustaqim lebih utama dari jalan-jalan lainnya dan mereka yang berada di jalan ini lebih utama dari yang lain. Menurutnya, Allah sendiri yang mengambil alih urusan para pengikut Shiratal Mustaqim dan Allah telah menyerahkan hidayah orang-orang ke tangan mereka.[17]
Mengapa Selalu Berdoa Memohon Hidayah Menuju Shiratal Mustaqim?
Dalam beberapa tafsir, di bawah ayat 6 Surah Al-Fatihah, muncul pertanyaan mengapa meskipun orang-orang mukmin sudah beriman, mereka tetap secara konsisten memohon hidayah kepada Allah.[18] Sebagai jawaban atas pertanyaan ini disebutkan bahwa pertama, manusia selalu rentan untuk tergelincir dan harus senantiasa memasrahkan dirinya kepada Allah agar tetap teguh di jalur yang benar. Kedua, hidayah adalah sebuah proses evolusi di mana manusia harus maju di dalamnya secara bertahap dan senantiasa membutuhkan hidayah Ilahi. Mengenai Nabi Muhammad saw dan Para Imam as pun, karena kesempurnaan mutlak adalah milik Allah dan semua maujud berada dalam jalur kesempurnaan, mereka pun selalu memohon kepada Allah agar mencapai tingkatan kesempurnaan yang lebih tinggi.[19] Allamah Thabathaba'i juga mengisyaratkan bahwa Shiratal Mustaqim terdapat dalam berbagai tingkatan, dan permohonan hidayah berarti mencari jalan yang lebih tinggi dan iman yang lebih sempurna.[20]
Catatan Kaki
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld. 1, hlm. 45.
- ↑ Sadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jld. 1, hlm. 117; Hashemi Rafsanjani, Tafsir-e Rahnama, 1386 HS, jld. 1, hlm. 36.
- ↑ Hashemi Rafsanjani, Tafsir-e Rahnama, 1386 HS, jld. 1, hlm. 36-37.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hlm. 45.
- ↑ Shaduq, Man Lā Yahdhuruhu al-Faqīh, 1413 H, jld. 1, hlm. 310.
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hlm. 104.
- ↑ Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hlm. 35.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 1, hlm. 34.
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 1, hlm. 104.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 1, hlm. 28-33.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hlm. 48-51.
- ↑ Hashemi Rafsanjani, Tafsir-e Rahnama, 1386 HS, jld. 1, hlm. 36-37.
- ↑ Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 1, hlm. 22.
- ↑ Bahrani, Al-Burhan, 1374 HS, jld. 1, hlm. 114.
- ↑ Huwaizi, Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 1, hlm. 21.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hlm. 46; Hashemi Rafsanjani, Tafsir-e Rahnama, 1386 HS, jld. 1, hlm. 36-37.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 1, hlm. 34.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 1, hlm. 35; Makarem Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hlm. 46.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hlm. 46-47.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 1, hlm. 35.
Daftar Pustaka
- Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Muassasah al-Bi'tsah, 1415 H.
- Huwaizi, Abd Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Editor: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Qom: Penerbit Isma'iliyan, 1415 H.
- Sadiqi Tehrani, Mohammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah. Qom: Penerbit Budaya Islam, 1406 H.
- Shaduq, Muhammad bin Ali. Man Lā Yahdhuruhu al-Faqīh. Editor: Ali Akbar Ghaffari. Qom: Intisyarat-e Eslami, 1413 H.
- Thabathaba'i, Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Matbu'at, 1390 H.
- Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
- Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Editor: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Teheran: Al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, 1380 H.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Kasyif fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
- Hashemi Rafsanjani, Ali Akbar. Tafsir-e Rahnama. Qom: Bustan-e Ketab, 1386 HS.
- Makarem Syirazi, Naser. Tafsir-e Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.