Lompat ke isi

Konsep:Ayat 67 Surah Az-Zukhruf

Dari wikishia

Templat:Kotak info Ayat

Ayat 67 Surah Az-Zukhruf menyatakan bahwa banyak persahabatan di hari Kiamat akan berubah menjadi permusuhan, kecuali persahabatan yang dijalin karena Allah dan di jalan Allah.[1] Banyak orang yang di dunia menjadi teman satu sama lain, di hari kiamat akan saling bermusuhan dan menganggap satu sama lain sebagai penyebab terjerumus ke dalam Jahanam, sementara orang-orang bertakwa akan sangat berterima kasih satu sama lain dan meyakini bahwa persahabatan mereka telah menjadi penyebab kebahagiaan dan keberuntungan mereka.[2]

Templat:Quran baru|Templat:Quran baru

Dua ayat sebelumnya (65 dan 66 Surah Az-Zukhruf) telah mengisyaratkan tentang "azab hari yang pedih" dan "Hari Kiamat". Para mufasir juga menganggap ayat 67 sebagai deskripsi dari peristiwa-peristiwa kiamat[3] dan penafsiran "yaumaidzin" dalam ayat tersebut merujuk pada hari kiamat.[4] "Al-Akhilla'" adalah bentuk jamak dari kata khalil yang berarti teman.[5] Istilah "aduwwun" ditafsirkan sebagai pemutusan hubungan yang terkadang disertai dengan kesedihan dan kutukan.[6]

Templat:Kotak kutipan

Beberapa mufasir di bawah penjelasan ayat 67 Az-Zukhruf merujuk pada ayat 28 Al-Furqan yang berdasarkan ayat tersebut, di hari kiamat sebagian orang akan berkata: "Aduhai celaka aku, sekiranya aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku, sesungguhnya dia telah menyesatkan aku".[7] Selain itu, dalam Surah Al-Ma'arij disebutkan: "Dan tidak ada teman akrab yang menanyakan temannya".[8]

Imam Ali as setelah membacakan ayat 67 Surah Az-Zukhruf menjelaskan bahwa persahabatan orang-orang mukmin di dunia menyebabkan doa dan permohonan rahmat satu sama lain di akhirat, sementara persahabatan orang-orang Kafir dan Fasik karena saling mendorong pada Dosa, menyebabkan permohonan azab bagi satu sama lain.[9] Sayyid Muhammad Taqi Mudarrisi, mufasir dan mujtahid Syiah, juga menekankan bahwa ayat ini menunjukkan pentingnya takwa dalam persahabatan dan menjadikan akhirat sebagai tolok ukur penilaian amal manusia, karena kesudahan hakiki dari setiap pemikiran dan amal akan menjadi nyata di sana.[10]

Catatan Kaki

  1. Huseini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 11, hlm. 493.
  2. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 12, hlm. 53.
  3. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 21, hlm. 110.
  4. Huseini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 507.
  5. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 18, hlm. 120.
  6. Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 6, hlm. 559.
  7. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 18, hlm. 120.
  8. Surah Al-Ma'arij, ayat 10.
  9. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 287.
  10. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 12, hlm. 515.

Daftar Pustaka

  • Huseini Syah Abdul Azhimi, Husain bin Ahmad. Tafsir Itsna Asyari. Teheran, Miqat, Cetakan Pertama, 1363 HS.
  • Huseini Syirazi, Sayyid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Dar al-'Ulum, Cetakan Kedua, 1423 H.
  • Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
  • Mudarrisi, Sayyid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Dar Muhibbi al-Husein, Cetakan Pertama, 1419 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1424 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Peneliti: Sayyid Thayyib Musawi Jaza'iri. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan Ketiga, 1404 H.
  • Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar-e Intisyarat-e Eslami, Cetakan Kelima, 1417 H.
  • Thayyib, Sayyid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Islam, Cetakan Kedua, 1378 HS.