Lompat ke isi

Konsep:Ayat 64 Surah An-Nisa

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayatAyat 64 Surah An-Nisa menekankan ketaatan kepada para nabi[1] dan menyatakan bahwa ketaatan kepada para nabi, yang merupakan tujuan pengutusan rasul, sangat penting untuk memberi petunjuk kepada masyarakat.[2] Ayat ini turun sebagai jawaban kepada orang-orang yang secara zahir adalah muslim, namun tidak rida dengan keputusan Nabi saw atau melakukan perbuatan munafik;[3] Allah menurunkan ayat ini untuk menunjukkan bahwa beriman kepada para nabi saja tidaklah cukup dan demi takwa dan keadilan harus menaati para nabi.[4] Pada kelanjutan ayat disebutkan bahwa jika orang-orang yang berdosa kembali kepada Nabi saw, memohon ampun kepada Allah dan Nabi memohonkan ampun untuk mereka, niscaya Allah Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang.[5] Oleh karena itu, menentang Nabi adalah menentang Allah dan menaatinya adalah menaati Allah.[6] Ayat ini juga digunakan untuk membuktikan tawasul dan syafaat.[7]

Templat:Quran jadidTemplat:Quran jadid

Menurut perkataan para mufasir, dalam tafsir ayat 64 Surah An-Nisa, ketaatan kepada para nabi tidak dianggap sebagai ketaatan yang terpisah dari ketaatan kepada Allah.[8] Ungkapan "bi idznillah" menunjukkan bahwa Nabi saw tidak ditaati secara independen dari Allah, melainkan ketaatan kepada Nabi hanyalah atas perintah Allah[9] dan tidak ada perbedaan di antara keduanya.[10]

Ketaatan kepada para nabi disyaratkan dengan izin Allah agar tidak berujung pada kesyirikan.[11] Berdasarkan Tafsir al-Mizan, ketaatan kepada Nabi pada kenyataannya adalah ketaatan kepada Allah, karena Allah telah memerintahkan agar Nabi ditaati. Ayat 80 Surah An-Nisa juga menyatakan bahwa barang siapa yang menaati Nabi, pada hakikatnya ia telah menaati Allah. Oleh karena itu, ketaatan kepada Nabi bukanlah sebuah kesyirikan.[12]

Menurut para mufasir, ayat 64 Surah An-Nisa mengisyaratkan pada permohonan ampun Nabi saw untuk orang-orang mukmin, yang juga ditekankan dalam ayat-ayat Al-Qur'an lainnya.[13] Berdasarkan ayat ini, memohonkan ampun untuk orang lain adalah sah, seperti permohonan ampun Ibrahim as untuk ayahnya dan permohonan ampun para malaikat untuk orang-orang mukmin.[14] Ayat ini juga menjadi landasan keabsahan bertawasul kepada Nabi saw untuk memohon ampunan atas dosa-dosa, yang bermakna bahwa meminta syafaat dari Nabi sangat berpengaruh dalam diterimanya tobat dan rahmat Allah.[15] Nabi saw bukanlah pemberi ampunan dosa, melainkan ia dapat memohonkan ampun kepada Allah untuk orang-orang mukmin[16] dan menjadi perantara bagi ampunan Ilahi.[17] Permohonan ampun Nabi saw dalam kasus-kasus ini dianggap sebagai doa yang dikabulkan.[18]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 450; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 104.
  2. Qira'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 2, hlm. 97.
  3. Baidhawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil, 1418 H, jld. 2, hlm. 81.
  4. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 4, hlm. 404; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 104.
  5. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 105; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 451.
  6. Qurasyi Bunabi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1375 HS, jld. 2, hlm. 395.
  7. Mudarrisi, Iman Zirbanay-e Syari'at, 1383 HS, hlm. 565.
  8. Subhani, Mansyur-e Jawid, Qom, jld. 4, hlm. 312.
  9. Subhani, Mansyur-e Jawid, Qom, jld. 4, hlm. 312.
  10. Subhani, Mansyur-e Jawid, Qom, jld. 4, hlm. 312.
  11. Qira'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 2, hlm. 97.
  12. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 4, hlm. 404.
  13. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 452.
  14. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 452.
  15. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 451.
  16. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 3, hlm. 451.
  17. Qira'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 2, hlm. 98.
  18. Mudarrisi, Iman Zirbanay-e Syari'at, 1383 HS, hlm. 565.

Daftar Pustaka

  • Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Iman Zirbanay-e Syari'at. Qom, Entisyarat-e Muhibbin, 1383 HS.
  • Qira'ati, Muhsin. Tafsir Nur (Tafsir Nur). Taheran, Markaz-e Farhangi-e Dars-hayi az Quran, 1388 HS.
  • Qurasyi Bunabi, Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Taheran, Bonyad-e Bi'tsat, 1375 HS.
  • Subhani, Ja'far. Mansyur-e Jawid. Qom, Mu'assasah Imam Shadiq (alaihis salam), t.t.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, 1372 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1390 H.

Templat:Ayat-ayat Akidah Al-Qur'an