Konsep:Ayat 54 Surah An-Nisa
Ayat 54 Surah An-Nisa mengisyaratkan celaan terhadap orang-orang Yahudi[1] karena sifat dengki kepada Nabi Akram saw dan orang-orang mukmin.[2] Karena kedengkian ini, mereka lebih mengutamakan penyembahan berhala daripada Islam.[3] Dalam ayat 51 Surah An-Nisa disebutkan bahwa sebagian orang Yahudi untuk menarik perhatian para penyembah berhala Makkah, bersaksi bahwa penyembahan berhala Quraisy lebih baik dari penyembahan Tuhan umat muslim. Pada ayat 54, penilaian mereka dianggap tidak berharga, karena pandangan mereka berasal dari kedengkian terhadap Nabi Akram saw.[4]
Templat:Quran jadidTemplat:SakhTemplat:Quran jadid
Para mufasir meyakini khitab (sasaran seruan) ayat 54 Surah An-Nisa adalah orang-orang Yahudi dan maksud dari "An-Nas (manusia)" adalah Nabi Akram saw dan orang-orang mukmin yang menjadi sasaran kedengkian karena agama yang hak dan kekuasaan yang dianugerahkan Allah kepada mereka.[5] Berdasarkan berbagai riwayat, Ahlulbait as adalah orang-orang yang didengki karena kedudukan imamah (kepemimpinan).[6] Ungkapan Ali Ibrahim (keluarga Ibrahim) dalam ayat ini dianggap sebagai bukti (qarinah) bahwa Nabi Akram saw dan keluarganya menjadi sasaran kedengkian.[7] Sebagian orang mengemukakan bahwa diperbolehkannya pernikahan yang banyak bagi Nabi Akram saw merupakan salah satu penyebab kedengkian mereka.[8]
Untuk menghilangkan kedengkian orang-orang Yahudi, ayat ini menyebutkan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada keluarga Ibrahim[9] dan bahwa orang-orang Yahudi telah menerimanya mengenai keluarga Ibrahim, lalu mengapa mereka tidak menerimanya mengenai orang-orang ini (Nabi saw dan umatnya).[10] Berdasarkan ayat ini, kitab, hikmah dan kerajaan yang besar telah diberikan kepada keluarga Ibrahim. Maksud dari kitab dianggap sebagai kitab-kitab samawi (suci)[11] dan kenabian[12] serta hikmah diartikan sebagai ilmu syariat,[13] pemahaman dan penjurian.[14]
Terdapat berbagai pandangan mengenai maksud dari "Mulk 'Azhim" (kerajaan yang besar), yang diberikan kepada keluarga Ibrahim:
- Ditempatkannya para pemimpin di tengah-tengah mereka yang mana ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah dan pembangkangan terhadap mereka adalah pembangkangan terhadap Allah.[15]
- Memiliki kekuasaan atas masyarakat baik dari segi agama maupun dunia.[16]
- Kerajaan maknawi yaitu kenabian dan wilayah hakiki untuk memberikan petunjuk dan arahan kepada masyarakat.[17]
- Sebagian mengartikannya sebagai ketaatan.[18]
Catatan Kaki
- ↑ Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1404 H, jld. 4, hlm. 80.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 2, hlm. 351.
- ↑ Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 2, hlm. 383.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hlm. 421.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 2, hlm. 351.
- ↑ Faidh Kasyani, Tafsir al-Syafi, 1415 H, jld. 1, hlm. 460.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hlm. 422.
- ↑ Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 3, hlm. 228.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hlm. 421.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 206.
- ↑ Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 98.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 206.
- ↑ Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 98
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 206.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 206.
- ↑ Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 98
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 4, hlm. 377.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 206
Daftar Pustaka
- Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-'Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
- Husaini Hamadani, Sayid Muhammad Husain. Anwar-e Derakhsyan. Penelitian: Muhammad Baqir Behbudi. Taheran, Toko Buku Luthfi, cetakan pertama, 1404 H.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan pengantar: Syekh Agha Buzurg Tehrani, penelitian: Ahmad Qashir Amili. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, t.t.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Entisyarat Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
- Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Syafi. Penelitian: Husain A'lami. Taheran, Penerbit al-Shadr, cetakan kedua, 1415 H.
- Qurasyi, Sayid Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Taheran, Bonyad-e Bi'tsat, cetakan ketiga, 1377 HS.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Peneliti dan pengoreksi: Ali Akbar Ghaffari, Muhammad Akhundi. Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1424 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.