Lompat ke isi

Konsep:Ayat 52 Surah At-Taubah

Dari wikishia

Templat:Infobox Ayat Ayat 52 Surah At-Taubah yang dikenal dengan ayat Ihda al-Husnayain menganggap syahadah dan kemenangan atas musuh keduanya sebagai perkara yang baik dan memperkenalkannya sebagai penyebab kemuliaan dan kehormatan.[1] Ayat yang turun di Madinah ini,[2] dianggap sebagai jawaban bagi orang-orang munafik yang dalam ayat 50 surah ini bergembira atas kekalahan kaum muslimin.[3] Selain itu, ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang memperkenalkan Allah sebagai pelindung orang-orang mukmin; Tuhan yang tidak menginginkan kecuali kebaikan bagi hamba-hamba mukmin-Nya, bahkan jika syahadah di jalan kebenaran ditakdirkan.[4]

Templat:Al-Qur'anTemplat:SakhTemplat:Al-Qur'an

Berdasarkan Tafsir Nemuneh, ayat 52 At-Taubah menjelaskan rahasia utama kemajuan dan kemenangan kaum muslimin pada masa Nabi Muhammad saw; karena mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa dalam kondisi apa pun kalian adalah pemenang; baik kalian membunuh musuh atau kalian sendiri terbunuh; oleh karena itu seorang pejuang yang melangkah ke medan perang dengan semangat seperti ini, tidak akan pernah takut kepada musuh.[5]

Yang dimaksud dengan "Husnayain" (dua kebaikan), dianggap sebagai syahadah di jalan Allah atau kemenangan atas orang-orang kafir.[6] Muhammad Husain Thabathaba'i, dengan bersandar pada Ayat 50 Surah At-Taubah, menganggap musibah juga sebagai sejenis hasanah (kebaikan).[7] Karena kedua kesudahan (kemenangan atau kekalahan kaum muslimin) berada di jalan keridhaan Ilahi dan menyebabkan pahala ukhrawi.[8]

Dalam sebuah riwayat dari Imam Ali (as), ungkapan "Ihda al-Husnayain" juga digunakan selain dalam kasus perang. Beliau menganggap kesudahan seorang muslim yang tidak terkotori oleh pengkhianatan sebagai salah satu dari dua perkara baik ini: bertemu dengan Tuhan dan menikmati nikmat-nikmat-Nya, atau kelapangan rezeki dan keberkahan dalam kehidupan duniawi.[9] Menurut Sayid Ali Khamenei, pandangan Imam Khomeini tentang konsep "Ihda al-Husnayain" juga tidak terbatas pada medan pertempuran; melainkan beliau meyakini bahwa jika suatu pekerjaan dilakukan demi keridhaan Allah, tidak akan pernah membawa kerugian; karena manusia entah akan menang dalam pekerjaan itu, atau jika tidak mencapai kesuksesan, ia telah melaksanakan tugasnya dan akan bangga di hadapan Tuhan.[10]

Catatan Kaki

  1. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 53.
  2. Thabathaba'i, Tarjumeh-ye Tafsir-e Al-Mizan, 1378 HS, jld. 9, hlm. 193.
  3. Thabathaba'i, Tarjumeh-ye Tafsir-e Al-Mizan, 1378 HS, jld. 9, hlm. 412; Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 442.
  4. Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 5, hlm. 77.
  5. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld. 7, hlm. 444.
  6. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 53; Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 4, hlm. 194.
  7. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 9, hlm. 307.
  8. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 9, hlm. 307.
  9. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 57.
  10. Khamenei, Syakhsiyat-e Imam Khomeini "Quddisa Sirruh", 1398 HS, hlm. 154.

Daftar Pustaka

  • Ibnu A'tsam, Ahmad bin A'tsam. Kitab al-Futuh. Tahqiq: Ali Syiri. Beirut, Dar al-Adhwa', 1411 H.
  • Ibnu Thawus, Ali bin Musa. Al-Luhuf 'ala Qatla al-Thufuf. Terjemahan Sayid Ahmad Fahri Zanjani. Teheran, Nasyr-e Jahan, 1348 HS.
  • Khamenei, Sayid Ali. Syakhsiyat-e Imam Khomeini "Quddisa Sirruh" (Kepribadian Imam Khomeini qs). Teheran, Daftar-e Hifz wa Nasyr-e Atsar-e Hazrat-e Ayatullah Khamenei, Intisharat-e Enqelab-e Eslami, 1398 HS.
  • Kufi, Furat bin Ibrahim. Tafsir Furat al-Kufi. Teheran, Muassasah Thab' wa Nasyr, Cetakan pertama, 1410 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Peneliti dan Korektor: Ghaffari, Ali Akbar; Akhundi, Muhammad. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan keempat, 1407 H.
  • Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan pertama, 1374 HS.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, Cetakan pertama, 1419 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan pertama, 1424 H.
  • Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Darsha-i az Qur'an, 1388 HS.
  • Shadiqi Arzegani, Muhammad Amin. "'Ma Ra'aitu Illa Jamila' Sayidah Zainab sa Diambil dari 'Ihda al-Husnayain' Al-Qur'an", Kantor Berita IQNA, Tanggal publikasi 25 Mehr 1396 HS, Tanggal kunjungan: 2 Mordad 1404 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, Cetakan ketiga, 1352 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Tarjumeh-ye Tafsir-e Al-Mizan (Terjemahan Tafsir Al-Mizan). Penerjemah: Musavi, Muhammad Baqir. Jame'eh Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, Cetakan kesebelas, 1378 HS.