Konsep:Ayat 43 Surah Al-A'raf
Ayat 43 Surah Al-A'raf adalah penjelasan bahwa Allah telah mengeluarkan hasad, dendam, dan permusuhan dari hati para penghuni Surga.[1] Meskipun sebagian penghuni surga memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan sebagian lainnya,[2] namun tidak ada hasad dan permusuhan di antara mereka.[3] Para mufasir mengartikan ghill sebagai permusuhan,[4] dendam,[5] dan hasad.[6]
| “ | وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
|
” |
Dan Kami cabutkan segala dendam dan hasad dengki dari hati mereka, (di dalam Syurga) yang mengalir beberapa sungai di bawah (tempat) masing-masing, dan mereka pula mengucapkan: "Segala puji tertentu bagi Allah yang telah memberi hidayah petunjuk untuk (mendapat nikmat-nikmat) ini, padahal kami tidak sekali-kali akan memperoleh petunjuk kalau Allah tidak memimpin kami (dengan taufiqNya); sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan kami dengan membawa kebenaran". Dan mereka diseru: "Itulah Syurga yang diberikan kamu mewarisinya dengan sebab apa yang kamu telah kerjakan".
Bagian dari ayat 43 Al-A'raf mencerminkan kepuasan dan keridaan penuh penghuni surga.[7] Penghuni surga bersyukur kepada Allah yang telah menunjukkan jalan untuk sampai ke surga kepada mereka.[8] Mereka berkata "Sekiranya Allah tidak menunjukkan kami, kami tidak akan mendapat hidayah".[9] Ungkapan ini menunjukkan bahwa hidayah dikhususkan bagi Allah[10] dan jika tidak ada hidayah Ilahi, manusia tidak akan sampai ke surga.[11] Hidayah dianggap sebagai nikmat besar yang manusia tidak memiliki kemampuan untuk mencapainya sendirian.[12]
Beberapa peneliti meyakini bahwa Allah adalah penyebab dari segala penyebab dan telah memberikan pilihan kepada manusia agar melakukan pekerjaan dengan kehendaknya sendiri.[13] Juga dalam penjelasan bagian ayat ini disebutkan bahwa terdapat dua jenis hidayah: pertama, hidayah dzati di mana Allah menciptakan manusia dengan kemampuan kemajuan spiritual dan mengutus para nabi untuk menyuburkan kemampuan ini. Kedua, hidayah setelah menjalankan kewajiban dan meninggalkan keharaman, di mana Allah memberikan makrifat khusus kepada manusia dan untuk memperolehnya diperlukan inayah khusus dari Allah.[14]
Sebuah riwayat dari Imam Shadiq as dinukilkan bahwa ketika hari kiamat tiba, Nabi Muhammad saw, Imam Ali as, dan para imam dari putra-putranya dipanggil. Ketika kaum Syiah melihat mereka, mereka berkata: Alhamdu lillahilladzi hadana lihadza... Artinya: Allah telah memberi kita hidayah kepada wilayah Amirul Mukminin dan para imam dari putra-putranya.[15]
Para mufasir memiliki pendapat berbeda tentang bagaimana surga diwariskan. Mughniyah meyakini bahwa surga adalah balasan atas amal, bukan luthf dan karunia semata.[16] Allamah Thabathaba'i juga berpandangan bahwa surga diciptakan untuk kedua kelompok Mukmin dan Kafir, namun orang kafir kehilangannya karena Syirik dan dosa-dosanya, sementara orang mukmin mendapatkannya dengan amal saleh mereka.[17]
Catatan Kaki
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 648.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 648.
- ↑ Khosrawani, Tafsir Khosrawi, 1390 H, jld. 3, hlm. 239.
- ↑ Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 8, hlm. 133; Husaini Shirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 167.
- ↑ Najafi Khomeini, Tafsir Asan, 1398 H, jld. 5, hlm. 206.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 175.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 176.
- ↑ Husaini Shirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 167.
- ↑ Surah Al-A'raf, ayat 43.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hlm. 116.
- ↑ Husaini Shirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 167.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 3, hlm. 320.
- ↑ Mostafavi, Tafsir Ayat 43 Surah Al-A'raf tentang Wilayah Amirul Mukminin dan Ahlulbait, Madrasah Faqahat.
- ↑ Dastgheib, Surah Al-A'raf Ayat 43, Sesi 23, Pusat Penerbitan Karya dan Pemikiran Sayyid Muhammad Dastgheib.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 418.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 329.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hlm. 117.
Daftar Pustaka
- Dastgheib, Sayyid Ali Muhammad. Surah Al-A'raf Ayat 43, Sesi 23. Pusat Penerbitan Karya dan Pemikiran Sayyid Muhammad Dastgheib, tanggal unggul: 17 Esfand 1393 HS, tanggal akses: 11 Syahriwar 1403 HS.
- Husaini Shirazi, Sayyid Muhammad. Tabyin al-Qur'an (Penjelasan Al-Qur'an). Beirut, Dar al-'Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
- Khosrawani, Ali Ridha. Tafsir Khosrawi. Riset: Muhammad Baqir Behbudi. Teheran, Penerbit Islamiyah, cetakan pertama, 1390 H.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Riset dan Koreksi: Ali Akbar Ghaffari, Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1407 H.
- Makarem Shirazi, Naser. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1374 HS.
- Mostafavi, Kazim. Tafsir Ayat 43 Surah Al-A'raf tentang Wilayah Amirul Mukminin dan Ahlulbait. Madrasah Faqahat, tanggal unggah: 24 Azar 1395 HS, tanggal akses: 11 Syahriwar 1403 HS.
- Mudarrisi, Sayyid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an (Dari Hidayah Al-Qur'an). Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1424 H.
- Najafi Khomeini, Muhammad Jawad. Tafsir Asan (Tafsir Mudah). Teheran, Penerbit Islamiyah, cetakan pertama, 1398 H.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, cetakan pertama, 1412 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi. Teheran, Nashr Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabathabai, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Kantor Penerbitan Islami, cetakan kelima, 1417 H.