Lompat ke isi

Konsep:Ayat 37 Surah At-Taubah

Dari wikishia

Templat:Infobox Ayat

Ayat 37 Surah At-Taubah melarang pemindahan kehormatan Bulan-bulan Haram ke bulan-bulan lainnya dikarenakan dampak penyimpangannya di tengah masyarakat Islam. Menurut para mufasir, kehormatan bulan-bulan haram telah disyariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim as, namun kaum musyrik Mekkah pada era jahiliah melakukan perubahan pada bulan-bulan ini karena semangat peperangan dan penjarahan.

Dikarenakan perbuatan ini termasuk mencampuri hukum-hukum Ilahi dan merupakan bid'ah dalam agama, Al-Qur'an memperkenalkannya sebagai "penambahan dalam kekafiran".

Sebab Turun dan Teks Ayat

Berdasarkan laporan mayoritas mufasir, pada musim haji seseorang dari kabilah Kinanah mengumumkan bahwa darah sejumlah orang dari kabilah Thayyi' dan Khats'am telah menjadi halal, kehormatan salah satu bulan haram telah diangkat dan dipindahkan ke Bulan Safar. Pada tahun berikutnya, ia membalikkan pemindahan ini. Ayat pun turun dan melarang perbuatan ini.[1]

Templat:Quran New|Templat:Quran New

Keharaman Mengubah Bulan-bulan Haram

! Artikel terkait untuk kategori ini adalah Nasi'.

Menurut Allamah Thabathabai dalam Tafsir al-Mizan, ayat 36 dan 37 Surah At-Taubah menetapkan kehormatan bulan-bulan haram dan membatalkan hukum nasi' (pengubahan kehormatan bulan-haram ke bulan lain) jahiliah.[2] Mayoritas mufasir mengembalikan akar kehormatan ini ke zaman Nabi Ibrahim as,[3] yang mana hal ini juga dihormati pada era jahiliah.[4] Sebagian juga menganggap pemindahan ini sebagai langkah sementara[5] untuk menjaga tradisi para pendahulu.[6]

Mengenai cara pelaksanaan nasi' dan para pelakunya, terdapat perbedaan pendapat di antara mufasir dan sejarawan. Mayoritas dari mereka menganggap peperangan sebagai alasan utama tindakan ini.[7] Menurut mereka, dikarenakan bangsa Arab jahiliah cenderung pada penjarahan dan peperangan,[8] menanggung tiga bulan haram berturut-turut (Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram) terasa sulit bagi mereka,[9] dan mereka menganggapnya sebagai penghalang semangat juang.[10] Oleh karena itu, dalam upacara haji dengan pengumuman salah satu pemimpin Bani Kinanah, kehormatan bulan-bulan tersebut dipindahkan. Sebagian mufasir juga memperkenalkan pelaku tindakan ini berasal dari kabilah-kabilah seperti Hawazin, Ghathafan, dan Bani Sulaim.[11] Dinukil dari Ibnu Abbas bahwa orang pertama yang membangun tradisi ini adalah 'Amr bin Luhayyi.[12]

Beberapa mufasir lainnya menganggap motivasi nasi' adalah untuk mengatur waktu haji.[13] Karena haji berdasarkan bulan-bulan Qomariyah terkadang jatuh di musim dingin dan terkadang di musim panas sehingga berdampak pada perdagangan, mereka mengubah waktu haji dengan memindahkan bulan-bulan tersebut.[14]

Al-Qur'an memperkenalkan nasi' sebagai penambahan dalam kekafiran.[15] Dalam menjelaskan ungkapan ini dikatakan bahwa nasi' adalah Bid'ah[16] dan campur tangan dalam hukum-hukum Ilahi.[17] Menurut Nashir Makarim Syirazi, bangsa Arab jahiliah dengan perbuatan ini selain melakukan kekafiran akidah, juga melakukan kekafiran praktis; karena mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya.[18]

Dalam menafsirkan ungkapan "zuyyina lahum su'u a'malihim" (dijadikan terasa indah bagi mereka keburukan amal-amal mereka) terdapat perbedaan pendapat. Thabarsi menganggap yang memperindah adalah Nafsu Ammarah.[19] Allamah Thabathabai memperkenalkannya sebagai setan.[20] Dan sebagian lainnya menganggap para pemimpin Yahudi sebagai misdaqnya.[21]

Filosofi Keharaman Perang di Bulan-bulan Haram

Menurut Nashir Makarim Syirazi, pengharaman perang di bulan-bulan haram adalah cara untuk mengendalikan peperangan yang panjang dan menyediakan sarana sulh serta ketenangan sosial.[22] Allamah Thabathabai juga meyakini bahwa hukum ini menyebabkan tegaknya keamanan umum agar masyarakat dapat mengatur kehidupan mereka dan melakukan taqarrub Ilahi.[23]

Catatan Kaki

  1. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1363 HS, jld. 1, hal. 290; Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 2, hal. 217; Jurjani, Darj al-Durar fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, 1430 H, jld. 1, hal. 765; Ibnu Arabi, Ahkam al-Qur'an, 1408 H, jld. 2, hal. 943.
  2. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1421 H, jld. 9, hal. 266.
  3. Kasyani, Manhaj al-Shadiqin, Teheran, jld. 4, hal. 267; Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1421 H, jld. 9, hal. 271; Ibnu Arabi, Ahkam al-Qur'an, 1408 H, jld. 2, hal. 943; Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, Dar al-Fikr, jld. 4, hal. 188.
  4. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 8, hal. 218.
  5. Jurjani, Darj al-Durar fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, 1430 H, jld. 1, hal. 765; Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1421 H, jld. 9, hal. 271.
  6. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1421 H, jld. 9, hal. 271.
  7. Sebagai contoh lihat: Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an, 1408 H, jld. 9, hal. 243; Kasyani, Manhaj al-Shadiqin, Teheran, jld. 4, hal. 267; Ibnu Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, 1984 M, jld. 10, hal. 189; Thabarsi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1412 H, jld. 2, hal. 54.
  8. Zamakhsyari, al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 2, hal. 270; Makarim, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 7, hal. 409.
  9. Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an, 1408 H, jld. 9, hal. 243; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1431 H, jld. 5, hal. 70.
  10. Makarim, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 7, hal. 409.
  11. Ibnu Sa'ad, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1431 H, jld. 2, hal. 67.
  12. Tsa'labi, al-Kasyaf wa al-Bayan al-Ma'ruf Tafsir al-Tsa'labi, 1422 H, jld. 5, hal. 45.
  13. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 10, hal. 93; Fakhr Razi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hal. 45; Ibnu Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, 1984 M, jld. 10, hal. 190.
  14. Fakhr Razi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hal. 45.
  15. Thusi, al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, jld. 5, hal. 216.
  16. Nahavandi, Nafahat al-Rahman, 1386 HS, jld. 3, hal. 151; Husseini, Anwar-e Derakhsyan, 1380 H, jld. 8, hal. 11.
  17. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1421 H, jld. 9, hal. 271.
  18. Makarim, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 7, hal. 410.
  19. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1431 H, jld. 5, hal. 72.
  20. Thabathabai, al-Mizan, 1421 H, jld. 9, hal. 272.
  21. Syah-Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 HS, jld. 5, hal. 88.
  22. Makarim, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 7, hal. 408.
  23. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1421 H, jld. 9, hal. 268; al-Durr al-Mantsur, Dar al-Fikr, jld. 4, hal. 185.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Arabi, Muhammad bin Abdullah. Ahkam al-Qur'an. Riset: Ali Muhammad Bijawi. Beirut, Penerbit Dar al-Jil, Cetakan Pertama, 1408 H.
  • Ibnu Asyur, Muhammad al-Thahir. al-Tahrir wa al-Tanwir. Tunisia, al-Dar al-Tunisiyyah lil-Nasyr, 1984 M.
  • Ibnu Sa'ad, Atiyyah bin Sa'ad. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Dalil-e Ma, Cetakan Pertama, 1431 H.
  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Muhammad Mahdi Naseh dan Muhammad Jafar Yahaghi. Masyhad, Astan Qods Razavi, Cetakan Pertama, 1408 H.
  • Tsa'labi, Ahmad bin Muhammad. al-Kasyaf wa al-Bayan al-Ma'ruf Tafsir al-Tsa'labi. Riset: Abi Muhammad bin Asyur. Beirut, Penerbit Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Cetakan Pertama, 1422 H.
  • Jurjani, Abdul Qahir. Darj al-Durar fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Koreksi: Muhammad Adib Syakur. Amman, Penerbit Dar al-Fikr, Cetakan Pertama, 1430 H.
  • Husseini, Muhammad. Anwar-e Derakhsyan dar Tafsir-e Qur'an. Teheran, Lutfi, 1380 H.
  • Huwaizi, Abd Ali. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Koreksi: Hashem Rasuli. Qom, Isma'iliyan, Cetakan Keempat, 1415 H.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an. Riset dan koreksi: Safwan Dawudi. Beirut, Penerbit Dar al-Qalam, Cetakan Pertama, 1412 H.
  • Zamakhsyari, Mahmoud. al-Kasysyaf. Beirut, Penerbit Dar al-Kitab al-Arabi, Cetakan Ketiga, 1407 H.
  • Suyuthi, Abdurrahman. al-Durr al-Mantsur. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, t.t.
  • Syah-Abdul Azhimi, Husain. Tafsir Itsna 'Asyari. Teheran, Penerbit Miqat, Cetakan Pertama, 1363 HS.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Cetakan Keenam, 1421 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Koreksi: Abul Qasim Gorji. Qom, Hauzah Ilmiah Qom, Cetakan Pertama, 1412 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an (Tafsir al-Thabari). Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah, Cetakan Pertama, 1412 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Cetakan Pertama, t.t.
  • Thayyib, Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Islam, Cetakan Kedua, 1369 HS.
  • Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. At-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Penerbit Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Cetakan Ketiga, 1420 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Qom, Penerbit Dar al-Kitab, Cetakan Ketiga, 1363 HS.
  • Kasyani, Fathullah. Manhaj al-Shadiqin fi Ilzam al-Mukhalifin. Teheran, Toko Buku Islami, Cetakan Pertama, t.t.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Ke-19, 1377 HS.
  • Nahavandi, Muhammad. Nafahat al-Rahman fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Muassasah al-Bi'tsah, Cetakan Pertama, 1386 HS.

Templat:Ayat-ayat Fikih Al-Qur'an