Konsep:Ayat 34 Surah Shad
Ayat 34 Surah Shad mengisyaratkan pada ujian terhadap Sulaiman as melalui diletakkannya sesosok tubuh (jasad) di atas singgasananya. Berbagai tafsir mengenai ujian Ilahi ini telah dikemukakan. Sebagian mufasir meyakini bahwa ujian Sulaiman as adalah demikian bahwa ia jatuh sakit, sedemikian rupa sehingga tubuhnya tidak dapat bergerak dan sejumlah orang mengira Sulaiman telah meninggal dunia. Sejumlah mufasir menganggap ujian Sulaiman sebagai sikapnya dalam menghadapi jasad putranya di atas singgasana.
Sebagian lain meyakini Sulaiman berharap memiliki anak-anak yang pemberani yang akan membantunya dalam pemerintahan dan jihad. Oleh karena itu ia menggauli istri-istrinya; namun ia lengah (lalai) dalam menyatakan harapannya dan tidak mengucapkan kata "Insya Allah". Oleh karena itu, lahirlah darinya seorang anak cacat yang mereka letakkan seperti tubuh tak bernyawa di atas singgasana. Setelah itu, Sulaiman menyadari kesalahannya dan bertobat.
Penjelasan Singkat Mengenai Ujian Sulaiman as
Ayat 34 dalam Surah Shad menjelaskan suatu peristiwa di mana Sulaiman as melaluinya mendapatkan ujian Ilahi.[1] Kata "fatanna" diartikan sebagai "Kami telah menguji".[2] Dari ayat ini disimpulkan bahwa Sulaiman diuji sedemikian rupa sehingga sebuah jasad dan tubuh tanpa ruh[3] diletakkan di atas singgasananya, sesuatu yang tidak ia sangka-sangka.[4] Ayat ini tidak memiliki penjelasan lebih lanjut mengenai masalah ini.[5]
Hadis-hadis, telah memberikan berbagai penggambaran dalam menjelaskan ujian Sulaiman.[6] Para mufasir juga mengikuti riwayat-riwayat tersebut, memiliki berbagai perkataan (pendapat) yang berbeda-beda.[7] Sebagian riwayat dan pandangan mufasir, dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan akidah;[8] dalam Tafsir Ali bin Ibrahim Qumi dinukil sebuah riwayat mengenai kisah ujian ini seputar Cincin Sulaiman yang di dalamnya tersembunyi kekuatan besar dan jatuh ke tangan setan.[9] Sebagian mufasir Syiah[10] dan Ahlusunah[11] telah mengajukan bantahan-bantahan atas penukilan ini.
Sayid Muhammad Husain Fadhlullah, seorang ulama dan mufasir Syiah, menganggap banyak riwayat di bawah ayat ini tidak sejalan dengan akhlak para nabi dan orang-orang mukmin serta menganggapnya termasuk dari bagian israiliyat. Mufasir ini hanya menerima kandungan dari ayat itu sendiri.[12]
Templat:Quran jadid|Templat:Quran jadid
Tafsir Ujian Sulaiman sebagai Penyakit Parah
Sebagian mufasir meyakini bahwa ujian Sulaiman adalah demikian bahwa ia jatuh sakit, tubuhnya tidak dapat bergerak dan sebagian orang mengira Sulaiman telah meninggal dunia.[13] Dikatakan bahwa Sulaiman diuji seperti para nabi lainnya; namun ayat ini tidak mengatakan apa pun mengenai penyakit ini sebagai balasan dari perbuatan Sulaiman yang mana.[14] Muhammad Jawad Mughniyah, seorang mufasir Syiah, meyakini bahwa tidak ada dalil atas apa yang telah dikatakan oleh para mufasir dalam menjelaskan kesalahan Sulaiman.[15]
Tafsir Ujian sebagai Terbunuhnya Putra
Sebagian mufasir menganggap ujian Sulaiman sebagai sikapnya dalam menghadapi jasad putranya di atas singgasana.[16] Allamah Thabathaba'i, seorang ulama dan mufasir Syiah, menganggap ujian Sulaiman adalah demikian bahwa tiba-tiba ia melihat jasad putranya di atas singgasananya; putra yang ia harapkan masa depannya.[17] Makarim Syirazi, seorang mufasir Syiah, menganggap pandangan yang masuk akal dan lebih baik adalah bahwa Sulaiman berharap dikaruniai anak-anak yang pemberani agar membantunya dalam pemerintahan dan jihad. Oleh karena itu ia menggauli istri-istrinya; namun ia lengah (lalai) dalam menyatakan harapannya dan tidak mengucapkan kata "Insya Allah". Darinya hanya lahir seorang anak cacat yang mereka letakkan seperti tubuh tak bernyawa di atas kursi Sulaiman. Sulaiman menyadari kesalahannya dan bertobat.[18] Riwayat-riwayat telah dinukil untuk membenarkan pendapat ini.[19]
Kisah terbunuhnya sang putra juga telah dinukil dalam bentuk-bentuk lain. Di antara kemungkinan yang disebutkan adalah bahwa setan-setan berniat mencelakai putra Sulaiman. Ia mengirim putranya ke awan-awan agar aman dari kejahatan setan-setan; namun putranya terbunuh dan jenazahnya dibawa kepada Sulaiman.[20] Dalam Tafsir Ali bin Ibrahim Qumi riwayat serupa ini juga dinukil dengan perbedaan bahwa Sulaiman mengirim putranya ke awan-awan agar terlindungi dari Izrail.[21]
Catatan Kaki
- ↑ Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1404 H, jld. 14, hlm. 125.
- ↑ Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 467.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 17, hlm. 204.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 280.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 280.
- ↑ Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 19, hlm. 263.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 17, hlm. 204.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 281 dan 282.
- ↑ Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 237.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 282; Najafi Khumaini, Tafsir Asan, 1397 H, jld. 17, hlm. 40.
- ↑ Fakhrurrazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 26, hlm. 393.
- ↑ Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 19, hlm. 263.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 11, hlm. 244.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 6, hlm. 379.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 6, hlm. 379.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 17, hlm. 204; Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 467.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 17, hlm. 204.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 280.
- ↑ Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1404 H, jld. 14, hlm. 126.
- ↑ Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 236; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 742 - 743; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 14, hlm. 107.
- ↑ Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 236.
Daftar Pustaka
- Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
- Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Malak li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, cetakan kedua, 1419 H.
- Husaini Hamadani, Sayid Muhammad Husain. Anwar-e Derakhsyan. Penelitian: Muhammad Baqir Behbudi. Taheran, Toko Buku Luthfi, cetakan pertama, 1404 H.
- Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-'Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1424 H.
- Najafi Khumaini, Muhammad Jawad. Tafsir Asan (Tafsir Mudah). Taheran, Entisyarat-e Islamiyyah, cetakan pertama, 1398 H.
- Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Peneliti dan pengoreksi: Sayid Thayyib Musawi Jaza'iri. Qom, Penerbit Dar al-Kitab, cetakan ketiga, 1404 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Entisyarat Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
- Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Taheran, Penerbit Islam, cetakan kedua, 1378 HS.