Lompat ke isi

Konsep:Ayat 2 Surah al-Hujurat

Dari wikishia
Ayat 2 Surah al-Hujurat
Informasi Ayat
NamaAyat 2 Surah al-Hujurat
Surahal-Hujurat
Ayat2
Juz26
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangMenjaga kehormatan dan kedudukan Nabi Muhammad saw


Ayat 2 Surah al-Hujurat merujuk pada etika berkomunikasi di hadapan Nabi saw.[1] Menurut Abdullah Javadi Amoli, mufasir Syiah, dalam ayat ini, Allah mengajarkan kepada umat Muslim agar tidak menganggap Nabi saw sebagai orang biasa dan berpesan agar tidak mengeraskan suara melebihi suara beliau,[2] karena perilaku semacam itu merupakan tanda kelancangan[3] dan dapat menyakiti perasaan beliau, sedangkan menyakiti beliau dihukumi sebagai kufur[4] yang berujung pada sirnanya amal perbuatan.[5] Oleh karena itu, etika agama mengharuskan orang-orang untuk tidak saling memanggil dengan suara keras di hadapan Nabi saw.[6] Mohammad Javad Mughniyah juga dalam tafsir Al-Kasyif mengisyaratkan bahwa berbicara dengan suara keras tanpa keperluan bukanlah perbuatan baik, terlebih lagi jika perilaku tersebut dilakukan di hadapan Nabi saw yang merupakan makhluk paling mulia.[7] Dalam tafsir Min Huda al-Qur'an, salah satu contoh nyata dari berbicara keras adalah mendebat Nabi saw mengenai perintah-perintah agama, karena perilaku tersebut dapat menyakiti hati beliau.[8]

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suara kamu lebih daripada suara Nabi, dan janganlah kamu menyaringkan suara (dengan lantang) semasa bercakap dengannya sebagaimana setengah kamu menyaringkan suaranya semasa bercakap dengan setengahnya yang lain. (Larangan yang demikian itu supaya) amal-amal kamu tidak hapus pahalanya, sedang kamu tidak menyedarinya.


Ayat 2 al-Hujurat pada dinding hujrah Nabi saw

Thabrasi dalam Tafsir Majma' al-Bayan mengenai asbabun nuzul ayat ini menuliskan bahwa sekelompok orang dari kabilah Bani Tamim memasuki Masjid Nabawi dan dari balik pintu rumah Nabi saw mereka berseru dengan suara keras: "Wahai Nabi Muhammad saw, keluarlah!" Perilaku ini menyebabkan ketidaksenangan Nabi saw.[9] Dikatakan juga bahwa kaum Munafik sering memanggil beliau dengan suara keras untuk menjatuhkan wibawa dan kedudukan Nabi saw di tengah masyarakat. Allah melarang mereka melakukan hal tersebut.[10]

Beberapa mufasir Syiah di bawah ayat ini menekankan bahwa umat Islam harus menyapa Nabi saw dengan ungkapan-ungkapan yang penuh hormat seperti "Ya Rasulullah saw",[11] "Ya Khiyaratallah", dan "Ya Shafiyyallah" agar penghormatan dan kedudukan beliau terjaga.[12] Oleh karena itu, penggunaan kata-kata yang kurang sopan seperti "Ya Ahmad"[13] dan "Ya Muhammad"[14] telah dicela.

Abdullah Javadi Amoli menulis bahwa larangan berbicara dengan suara keras tidak hanya dikhususkan pada masa hidup Nabi saw, melainkan tetap berlaku hingga saat ini; maka di حرم (area suci) Nabi saw seseorang tidak boleh berbicara dengan suara keras,[15] atau membaca ziarah beliau dengan suara lantang maupun saling memanggil satu sama lain dengan suara keras, karena hal itu bertentangan dengan etika kehadiran.[16]

Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Tsabit bin Qais yang memiliki pendengaran lemah dan biasa berbicara dengan suara keras serta terkadang membuat Nabi saw tidak nyaman, berkata: "Akulah contoh dari ayat ini, amalku telah sirna dan aku menjadi penghuni neraka." Namun Nabi saw memperkenalkannya sebagai penghuni surga.[17] Dalam beberapa riwayat di bawah ayat 2 Surah al-Hujurat disebutkan bahwa setelah turunnya ayat ini, terkadang beberapa orang secara tidak sengaja memanggil Nabi saw dengan suara keras. Nabi saw kemudian mengeraskan suara beliau melebihi suara mereka untuk mencegah amal perbuatan mereka menjadi batil.[18]

Catatan Kaki

  1. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 13, hlm. 365.
  2. Javadi Amoli, Tasnim, 1390 HS, jld. 6, hlm. 34.
  3. Javadi Amoli, Tasnim, 1390 HS, jld. 6, hlm. 34; Tabataba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 18, hlm. 308.
  4. Tabataba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 18, hlm. 309; lih: Javadi Amoli, Tasnim, 1390 HS, jld. 6, hlm. 34.
  5. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 196; Tabataba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 18, hlm. 309; lih: Javadi Amoli, Tasnim, 1390 HS, jld. 6, hlm. 34.
  6. Javadi Amoli, Sirah Rasul Akram (saw) dar Qur'an, 1376 HS, jld. 8, hlm. 310.
  7. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 107.
  8. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 13, hlm. 366; lih: Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 144.
  9. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 194; Qomi, Tafsir al-Qomi, 1363 HS, jld. 2, hlm. 318.
  10. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 13, hlm. 367.
  11. Makarem, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 137.
  12. Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 196.
  13. Thayyib, Athiyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 12, hlm. 222.
  14. Makarem, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 137.
  15. Javadi Amoli, Tasnim, 1390 HS, jld. 6, hlm. 35.
  16. Javadi Amoli, Sirah Rasul Akram (saw) dar Qur'an, 1376 HS, jld. 8, hlm. 310.
  17. Thabrasi, Jawami' al-Jami', 1377 HS, jld. 6, hlm. 85.
  18. Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 5, hlm. 48; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 9, hlm. 331.

Daftar Pustaka

  • Javadi Amoli, Abdullah. Tasnim. Qom: Isra. Cetakan kesembilan, 1390 HS.
  • Javadi Amoli, Abdullah. Sirah Rasul Akram (saw) dar Qur'an. Qom: Isra. Cetakan pertama, 1376 HS.
  • Tabataba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Daftar Entesharat-e Eslami Jami'ah Modarresin Hauzah Ilmiah Qom. Cetakan kelima, 1417 H.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Jawami' al-Jami'. Riset: Mohammad Wa'izh-zadeh Khorasani. Masyhad: Astan Quds Razavi, 1377 HS.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Mohammad Javad Balaghi. Tehran: Nasser Khosrow. Cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athiyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tehran: Islam. Cetakan kedua, 1378 HS.
  • Faidh Kasyani, Muhammad. Tafsir al-Shafi. Riset: Hossein A'lami. Tehran: Maktabah al-Sadr. Cetakan kedua, 1415 H.
  • Qomi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qomi. Riset: Thayyib Musawi Jaza'iri. Qom: Dar al-Kitab. Cetakan ketiga, 1363 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Riset: Kelompok Penulis. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi. Cetakan kedua, 1403 H.
  • Mudarrisi, Sayid Mohammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Tehran: Dar Muhibbi al-Husain. Cetakan pertama, 1419 H.
  • Mughniyah, Mohammad Javad. Al-Tafsir al-Kasyif. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah. Cetakan pertama, 1424 H.
  • Makarem Shirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah. Cetakan pertama, 1374 HS.