Konsep:Ayat 28 Surah Fathir
Templat:Kotak info ayat Ayat 28 Surah Fathir menarik perhatian orang-orang mukmin pada keberagaman warna pada umat manusia, makhluk bergerak dan hewan-hewan agar mereka berpikir tentang Tauhid. Dari ayat ini, semacam korelasi antara pengetahuan dan tanggung jawab disimpulkan dan berdasarkan sebuah hadis dikatakan bahwa jika perkataan dan perbuatan seseorang tidak selaras, ia tidak dianggap sebagai seorang ilmuwan. Khasyyah (rasa takut) dalam ayat ini bermakna ketakutan dari tanggung jawab disertai dengan pemahaman keagungan kedudukan Tuhan.
Selain itu dari ayat ini, pesan akhlak diambil bahwa orang-orang mukmin harus selalu berada di antara khauf (rasa takut) dan raja' (harapan). Salah satu fungsi sosial ilmu para ilmuwan juga adalah penyebaran tawaduk dan keluhuran akhlak di masyarakat.
Pengenalan, Teks dan Terjemahan Ayat
Ayat 28 Surah Fathir mengisyaratkan pada keberagaman warna pada manusia dan makhluk hidup sebagai tanda-tanda Tauhid. Selain itu, dalam ayat ini disebutkan bahwa hanya para ulama yang merasa bertanggung jawab di hadapan Allah[1] dan di bagian akhir, membahas tentang kemuliaan dan kekuasaan Allah yang menaklukkan di hadapan para musuh dan kecintaan-Nya yang tak terbatas kepada para sahabat (kekasih-Nya).[2]
Templat:Quran jadidTemplat:SakhTemplat:Quran jadid
Siapa yang Disebut Ilmuwan?
Templat:Kotak kutipan Menurut perkataan Allamah Thabathaba'i, yang dimaksud dengan ulama dalam ayat 28 Surah Fathir, adalah ulama billah; yakni orang-orang yang memiliki makrifat sempurna terhadap asma, sifat dan perbuatan Allah dan melalui jalan ini, memiliki hati yang tenang dan jiwa yang bebas dari keraguan serta kegelisahan, dan perkataan serta perbuatan mereka selaras.[3] Sebagian lain juga menggunakan konsep "alim amil" dan yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini, adalah orang-orang yang merasa bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya dan mengamalkan ilmunya.[4]
Khasyyah Para Ulama kepada Allah

Berdasarkan kalimat "innama yakhsya Allaha min 'ibadihi al-'ulama" dikatakan bahwa kekhusyukan dan ketundukan para ulama menular kepada teman duduk dan orang-orang di sekitarnya serta melalui jalan ini tersebar di masyarakat.[5] Para penceramah dan mubalig juga menggunakan kalimat "innama yakhsya Allaha min 'ibadihi al-'ulama", untuk menjelaskan hubungan pengetahuan dengan tawaduk.[6]
Menurut perkataan para mufasir, khasyyah para ilmuwan terhadap Allah dalam ayat ini, memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar ketakutan.[7] Menurut keyakinan Allamah Thabathaba'i, maksud dari khasyyah, adalah kekhusyukan di batin dan ketundukan secara zahir.[8] Makarim Syirazi juga dalam tafsir ayat ini menyebutkan bahwa di antara seluruh hamba, para ilmuwan telah mencapai kedudukan luhur khasyyah; yakni ketakutan yang disertai dengan pemahaman terhadap keagungan kedudukan Tuhan dan mereka memahami tanggung jawab berat tersebut.[9]
Beradanya Orang-orang Mukmin di Antara Khauf dan Raja'
Salah satu fungsi akhlak ayat 28 Surah Fathir, diperkenalkan sebagai meletakkan orang-orang mukmin di antara khauf (rasa takut) dan raja' (harapan).[10] Konsep khauf dan raja' diekstraksi dari kalimat penutup ayat ini (إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ).[11] Kemuliaan dan kekuasaan Allah yang tak terbatas di mana kata "aziz" merujuk padanya, dianggap sebagai sumber khauf dan khasyyah para ilmuwan. Sebagaimana kedermawanan dan rahmat Ilahi yang tak terhingga yang dipahami dari kata "ghafur", dinilai sebagai sumber raja' dan harapan orang-orang mukmin.[12] Allamah Thabathaba'i juga menganggap kalimat (إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ) sebagai alasan bagi khasyyah para ulama dengan penjelasan bahwa karena Allah selalu menaklukkan dan mendominasi; Dia Maha Perkasa (Aziz) dan oleh karena itu para arif memiliki khasyyah kepada-Nya, dan karena Dia Maha Pengampun (Ghafur) dan sangat mengampuni terhadap dosa-dosa serta kesalahan-kesalahan, para arif beriman kepada-Nya, mencari kedekatan ke haribaan-Nya, dan merindukan perjumpaan dengan-Nya.[13]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1380 HS, jld. 18, hlm. 248.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 8, hlm. 636.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 17, hlm. 43.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1380 HS, jld. 18, hlm. 248.
- ↑ Shalihi dan Thahiri, "Karkard-haye Akhlaqi, Ijtima'i wa Tarbiyati-e 'Ilm az Didgah-e Hadhdharat Ali alaihis salam wa Rahkar-haye Karburdi-e Amuzesy-e 'Ulum dar Iran", hlm. 142.
- ↑ Shalihi, Thahiri Abduwand, "Karkard-haye Akhlaqi, Ijtima'i wa Tarbiyati-e 'Ilm az Didgah-e Hadhdharat Ali (a) wa Rahkar-haye Karburdi-e Amuzesy-e 'Ulum dar Iran", Situs Pazhuhesyhay-e Ma'nawi.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1380 HS, jld. 18, hlm. 247.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 17, hlm. 43.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1380 HS, jld. 18, hlm. 247.
- ↑ Musthafawi, "Tafsir Innama Yakhsya Allaha min 'Ibadihi al-'Ulama", Situs Ulum-e Quran wa Hadits.
- ↑ Musthafawi, "Tafsir Innama Yakhsya Allaha min 'Ibadihi al-'Ulama", Situs Ulum-e Quran wa Hadits.
- ↑ Musthafawi, "Tafsir Innama Yakhsya Allaha min 'Ibadihi al-'Ulama", Situs Ulum-e Quran wa Hadits.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, Mansyurat Isma'iliyan, jld. 17, hlm. 43.
Daftar Pustaka
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat puluh satu, 1380 HS.
- Musthafawi, Sayid Mahdi. "Tafsir Innama Yakhsya Allaha min 'Ibadihi al-'Ulama". Situs Ulum-e Quran wa Hadits, tanggal dimuat: 27 Ordibehyesyt 1396 HS, tanggal diakses: 23 Aban 1402 HS.
- Shalihi, Akbar, dan Isfandiyar Thahiri. "Karkard-haye Akhlaqi, Ijtima'i wa Tarbiyati-e 'Ilm az Didgah-e Hadhdharat Ali alaihis salam wa Rahkar-haye Karburdi-e Amuzesy-e 'Ulum dar Iran" (Fungsi Akhlak, Sosial dan Pendidikan Ilmu dari Sudut Pandang Hazrat Ali (as) dan Solusi Praktis Pendidikan Sains di Iran). Dalam Majalah Pazhuhesynameh-e Tarbiyat-e Tablighi, nomor 3 dan 4, musim semi dan musim panas 1393 HS.
- Thabathaba'i, Muhammad Husain. Al-Mizan. Tanpa tempat, Penerbit Mansyurat Isma'iliyan, t.t.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan ketiga, 1393 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, cetakan kedua, 1408 H.