Lompat ke isi

Konsep:Ayat 286 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia

Templat:Kotak info Ayat Ayat 286 Surah Al-Baqarah adalah ayat terakhir dari surah ini dan bersama dengan ayat sebelumnya dikenal dengan nama Ayat Amanar Rasul. Kedua ayat ini dianggap sebagai ringkasan dan kesimpulan dari Surah Al-Baqarah dan dianjurkan untuk dibaca dalam rangkaian ta'qibat pada sebagian salat.

Ayat 286, setelah menegaskan sebuah Sunnatullah bahwa beban tugas (taklif) setiap orang sesuai dengan kemampuannya dan setiap orang akan melihat hasil dari perbuatannya sendiri, menukil beberapa Doa dari lisan orang-orang mukmin yang isinya berupa permohonan ampunan dan pemaafan atas dosa-dosa, kesalahan, dan kelalaian, penghapusan beban tugas serta azab yang berat, dan permohonan kemenangan atas kaum kafir.

Kedudukan Ayat

Ayat 286 Surah Al-Baqarah adalah ayat terakhir Surah Al-Baqarah dan isinya adalah menukil doa-doa orang-orang mukmin yang dalam ayat 285 berkata, "Wahai Tuhan kami, kami mendengar pesan para Nabi dan kami patuh." Allamah Thabathaba'i, dengan memperhatikan bahwa Surah Al-Baqarah adalah surah pertama yang turun setelah Hijrah ke Madinah dan bersandar pada kalimat terakhir ayat yang memohon kemenangan atas kaum kafir, menyimpulkan bahwa ayat ini turun pada tahun-tahun awal pembentukan Islam.[1]

Kedua ayat ini, dikarenakan dimulai dengan ungkapan "Āmana al-rasūl", dinamai sebagai ayat-ayat Amanar Rasul.[2] Menurut keyakinan Thabathaba'i, ayat-ayat ini merupakan semacam kesimpulan dari seluruh Surah Al-Baqarah dan penyampaian ringkasan pesan surah tersebut.[3]

Dalam ayat 286, setelah menyebutkan sebuah kalimat sisipan mengenai hubungan kemampuan dan taklif,[4] kelanjutan ucapan orang-orang mukmin dinukil dalam bentuk beberapa doa.

Templat:Quran baruTemplat:Quran baru

Menukil dari Tafsir Nemuneh, terdapat beberapa hadis yang mengundang kaum Muslim untuk membaca kedua ayat ini dan menyebutkan berbagai pahala baginya.[5] Seperti riwayat-riwayat yang dinukil dalam Bihar al-Anwar[6] dan Tafsir Qummi,[7] serta sebagaimana nukilan Sayyid Ibnu Thawus, disunnahkan untuk membacanya dalam sebagian Salat Sunnah.[8]

Rasio Taklif dan Kemampuan

Bagian pertama ayat 286 Surah Al-Baqarah menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya, dan setiap kebaikan serta keburukan akan kembali kepada manusia itu sendiri. Allamah Thabathaba'i menganggap prinsip ini sebagai bagian dari sunnah-sunnah Ilahi dan kaidah rasional,[9] dan Nasir Makarem Syirazi memperkenalkannya sebagai sebuah hakikat akal.[10] Kandungan ini juga terdapat dalam ayat-ayat lain seperti 233 Al-Baqarah, 152 Surah Al-An'am, dan 7 Surah Ath-Thalaq.[11] Dari situ dipahami adanya peniadaan taklif ma la yuthaq (pembebanan tugas di luar kemampuan).[12] Selain itu, Tafsir Nemuneh menekankan bahwa ayat tersebut menunjukkan tanggung jawab manusia dan batilnya pemikiran-pemikiran seperti determinisme (jabariyah) dan pembenaran serupa lainnya.[13]

Doa-doa Orang Mukmin

“WA'FU 'ANNA WAGHFIR LANA WARHAMNA” (ayat 286 surah Al-Baqarah), kaligrafi tsuluts jali, oleh Ahmad Ali Namazi, 1442 H.

Bagian kedua ayat 286 Al-Baqarah mengandung tujuh Doa dari lisan orang-orang mukmin yang merupakan semacam pengajaran tentang apa yang harus mereka minta dari Allah.[14] Orang-orang mukmin dalam doa-doa ini memohon agar Allah tidak menghukum mereka karena kelalaian dalam menjalankan tugas atau kesalahan, tidak membebankan tugas berat seperti yang dibebankan kepada orang-orang terdahulu, tidak memikulkan sesuatu yang di luar kesanggupan mereka, mengabaikan serta mengampuni dosa-dosa mereka, merahmati mereka, dan memenangkan mereka atas kaum kafir.[15]

Penghapusan Tugas-tugas Berat

Kalimat "WALĀ TUHAMMILNĀ MĀ LĀ THĀQATA LANĀ BIH" telah memicu sebuah pertanyaan. Dikatakan bahwa Taklif Mala Yuthaq adalah hal yang buruk dan bertentangan dengan akal, serta Allah pun tidak melakukan hal semacam itu; oleh karena itu, tidak masuk akal jika orang-orang mukmin memiliki permintaan seperti itu dari Allah. Dalam menjawabnya dikatakan bahwa mungkin yang dimaksud dengan tidak memiliki kesanggupan bukanlah makna akalnya, melainkan sesuatu yang memiliki kepayahan dan kesulitan, dan mungkin juga yang dimaksud adalah azab-azab yang melampaui kemampuan manusia.[16]

Beberapa mufasir menerapkan kata "Ishr" dalam ayat tersebut pada tugas-tugas berat kaum-kaum terdahulu,[17] namun menurut pandangan Mohammad Sadeqi Tehrani, kata ini dapat mencakup azab-azab masa lalu juga dan tidak khusus pada tugas-tugas berat saja.[18]

Perbedaan Afu, Ghufran, dan Rahmat

Thabathaba'i dan Mohammad Sadeqi Tehrani juga dalam sebuah analisis mengenai kata-kata Afu (pemaafan), Ghufran (pengampunan), dan Rahmat yang datang berurutan dalam ayat tersebut, menganggap 'afu' sebagai tingkatan rendah dari pemberian maaf di mana bentuk dosa masih tetap ada namun azabnya dihilangkan; sedangkan 'ghufran' adalah tingkatan yang lebih tinggi di mana bentuk dosa juga dihapuskan dari jiwa pendosa; dan terakhir 'rahmat' adalah di mana selain hal tersebut, Allah juga memberikan sesuatu dari karunia-Nya sendiri, seperti mengubah dosa menjadi kebaikan (hasanah). Orang-orang mukmin dalam doa ini memohon ketiga tingkatan tersebut dari Allah.[19]

Pengulangan Rabbana

Pengulangan berkali-kali kata "Rabb" dalam ayat ini, menurut Thabathaba'i, bertujuan برای menarik perhatian pada sifat rahmat Allah serta perhatian pada penghambaan dan ketaatan, karena kata Rububiyah juga memberikan kesan tentang lawan katanya, yaitu penghambaan ('ubudiyah), ke dalam pikiran audiens.[20]

Catatan Kaki

  1. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 2, hlm. 441.
  2. Pusat Budaya dan Ma'arif Qur'an, Da'irat al-Ma'arif Qur'an, 1382 HS, jld. 1, hlm. 418.
  3. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 2, hlm. 441.
  4. Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 5, hlm. 194.
  5. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1373 HS, hlm. 405.
  6. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 18, hlm. 239.
  7. Qummi, Tafsir al-Qummi, 1404 H, jld. 1, hlm. 95.
  8. Ibnu Thawus, Iqbal al-A'mal, 1409 H, jld. 2, hlm. 667, 668, 691, 722.
  9. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 2, hlm. 444.
  10. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1373 HS, hlm. 401.
  11. Sadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1408 H, jld. 4, hlm. 386.
  12. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1373 HS, hlm. 405.
  13. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1373 HS, hlm. 401.
  14. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1373 HS, hlm. 402.
  15. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 2, hlm. 441.
  16. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 2, hlm. 445; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 5, hlm. 191.
  17. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1373 HS, hlm. 403; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 5, hlm. 191.
  18. Sadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1408 H, jld. 4, hlm. 390.
  19. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 2, hlm. 445; Sadeqi Tehrani, Al-Furqan, 1408 H, jld. 4, hlm. 393.
  20. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 2, hlm. 446.

Daftar Pustaka

  • Fadhlullah, Sayyid Muhammad Husain. Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Dar al-Malak, 1419 H.
  • Ibnu Thawus, Ali bin Musa. Iqbal al-A'mal. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1409 H.
  • Makarem Syirazi, Nasir dkk. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1373 HS.
  • Pusat Budaya dan Ma'arif Qur'an. Da'irat al-Ma'arif Qur'an Karim. Qom, Bustan-e Kitab, 1382 HS.
  • Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Koreksi: Thayib Musawi Jaza'iri. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Sadeqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah. Qom, Farhang-e Eslami, 1406 H.
  • Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-A'lami lil-Matbu'at, 1393 H.