Lompat ke isi

Konsep:Ayat 258 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia
Ayat 258 Surah Al-Baqarah
Informasi Ayat
SurahAl-Baqarah
Ayat258
Juz3
Informasi Konten
TentangArgumentasi Ibrahim as dengan Namrud tentang Allah


Ayat 258 Surah Al-Baqarah membahas tentang debat Ibrahim as mengenai Allah dengan seseorang yang disebutkan oleh Al-Qur'an dengan ungkapan "orang yang telah diberikan kekuasaan kepadanya".[1] Para mufasir menganggap sosok ini adalah Namrud, raja Babilonia[2] yang mengklaim ketuhanan.[3]

Berdasarkan ayat tersebut, Ibrahim as memperkenalkan Allah sebagai Dzat yang menghidupkan dan mematikan.[4] Namrud menjawab dengan sebuah mufasalah/mufalatah[5] bahwa ia pun dapat melakukannya[6] dan menunjukkan klaimnya dengan membebaskan seseorang yang dihukum mati serta membunuh orang lainnya.[7] Dalam beberapa nukilan disebutkan bahwa Ibrahim as setelah itu berkata jika engkau mampu, hidupkanlah orang yang telah engkau bunuh.[8] Kemudian Ibrahim as mengajukan argumen lain dan berkata bahwa Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.[9] Namrud pun tidak mampu menjawab.[10] Al-Qur'an menggambarkan situasi ini dengan ungkapan "fa buhita alladzi kafara; maka terdiamlah orang yang kafir itu" (tercengang).[11] Di akhir ayat disebutkan bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim;[12] artinya mereka yang secara sadar dan atas pilihannya sendiri berpaling dari kebenaran, tidak akan mendapatkan manfaat dari petunjuk Ilahi.[13] Debat ini diyakini terjadi setelah peristiwa dilemparkannya Ibrahim as ke dalam api.[14]

Tidakkah engkau (pelik) memikirkan (wahai Muhammad) tentang orang yang berhujah membantah Nabi Ibrahim (dengan sombongnya) mengenai Tuhannya, kerana Allah memberikan orang itu kuasa pemerintahan? Ketika Nabi Ibrahim berkata: "Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan". Ia menjawab: "Aku juga boleh menghidupkan dan mematikan". Nabi Ibrahim berkata lagi: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, oleh itu terbitkanlah dia dari barat?" Maka tercenganglah orang yang kafir itu (lalu diam membisu). Dan (ingatlah), Allah tidak akan memberikan petunjuk hidayah kepada kaum yang zalim.


Allamah Thabathabai meyakini bahwa dalam ayat 257 Surah Al-Baqarah dibicarakan mengenai petunjuk Ilahi dan pada ayat-ayat selanjutnya dijelaskan cara-caranya; oleh karena itu dalam ayat 258 Al-Baqarah, argumentasi rasional diperkenalkan sebagai salah satu jalan petunjuk Ilahi, sedangkan Ayat 259 menjelaskan contoh dari petunjuk yang bersifat indrawi dan nyata.[15] Abdullah Jawadi Amuli juga menganggap keterkaitan ayat-ayat ini dalam menjelaskan wilayah Ilahi dan memperkenalkan ayat 258 hingga 260 Al-Baqarah sebagai contoh-contoh darinya.[16] Muhammad Jawad Mughniyah pun menganggap ayat ini sebagai contoh seorang kafir yang menjadikan thaghut sebagai pelindungnya (wali) alih-alih Allah, sehingga ia keluar dari cahaya menuju kegelapan.[17]

Catatan Kaki

  1. Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 1, hal. 297.
  2. Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 1, hal. 286.
  3. Husseini Hamadani, Anwar-e Derakhsyan, 1404 H, jld. 2, hal. 316.
  4. Surah Al-Baqarah, ayat 258.
  5. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 H, jld. 1, hal. 417.
  6. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 288.
  7. Husseini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hal. 54.
  8. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hal. 86.
  9. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 3, hal. 25; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 287.
  10. Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 5, hal. 65.
  11. Surah Al-Baqarah, ayat 258.
  12. Surah Al-Baqarah, ayat 258.
  13. Thaleqani, Partovi az Qur'an, 1362 HS, jld. 2, hal. 214.
  14. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 290.
  15. Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 359.
  16. Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1389 HS, jld. 12, hal. 263.
  17. Mughniyah, al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hal. 406.

Daftar Pustaka

  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Dar al-Malak lil-Thiba'ah wa al-Nasyr, Cetakan Kedua, 1419 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Shafi. Riset: A'lami, Husain. Teheran, Penerbit al-Sadr, Cetakan Kedua, 1415 H.
  • Husseini Hamadani, Sayid Muhammad Husain. Anwar-e Derakhsyan. Riset: Behbudi, Muhammad Baqir. Teheran, Toko Buku Lutfi, Cetakan Pertama, 1404 H.
  • Husseini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Dar al-'Ulum, Cetakan Kedua, 1423 H.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Esra, 1389 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. al-Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1424 H.
  • Mirzah Khosravani, Ali Reza. Tafsir-e Khosravi. Riset: Behbudi, Muhammad Baqir. Teheran, Penerbit Islamiyyah, Cetakan Pertama, 1390 H.
  • Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Teheran, Markaze Farhangi Dars-ha-i az Qur'an, Cetakan Kesebelas, 1383 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Riset dan koreksi: Musawi Jaza'iri, Sayid Thayyib. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan Ketiga, 1404 H.
  • Sayyid Quthb, Ibrahim Husain Syadzali. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut, Kairo, Dar al-Syuruq, Cetakan Ketujuh Belas, 1412 H.
  • Thaleqani, Sayid Mahmoud. Partovi az Qur'an. Teheran, Syirkat-e Sahami-ye Entesyar, Cetakan Keempat, 1362 HS.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, 1417 H.
  • Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Eslam, Cetakan Kedua, 1378 HS.