Konsep:Al-Mu'tazz al-Abbasi
Templat:Kekhalifahan Bani Abbas
Al-Mu'tazz billah atau Al-Mu'tazz al-Abbasi (232 H - 255 H) adalah khalifah ke-13 Dinasti Abbasiyah yang pada masanya Imam al-Hadi as mencapai kesyahidan (Syahadah). Ia adalah putra dari Al-Mutawakkil al-Abbasi dan naik takhta pada tahun 252 H. Pemerintahan Al-Mu'tazz berlangsung sekitar tiga tahun bertepatan dengan masa keimaman Imam al-Hadi as dan satu tahun dengan masa keimaman Imam Hasan al-Askari as.
Ia memiliki kebencian dan dendam terhadap Ahlulbait as serta kaum Syiah, sehingga ia memenjarakan dan membunuh beberapa dari mereka. Menurut keyakinan mayoritas ulama Syiah, Imam al-Hadi as diracun dan mencapai syahadah atas perintah Al-Mu'tazz. Ia juga mengganggu Imam al-Askari as, memenjarakannya, bahkan disebutkan adanya rencana dan upayanya untuk membunuh Imam. Dalam berbagai sumber, disebutkan adanya beberapa Pemberontakan Syiah pada masanya, termasuk pemberontakan Ali bin Musa bin Ismail.
Al-Mu'tazz naik takhta pada masa puncak dominasi bangsa Turki atas perangkat kekhalifahan. Ia mencoba mengurangi kekuatan bangsa Turki dengan membunuh beberapa pemimpin mereka dan mendekatkan diri kepada orang-orang Berber serta Fergana; namun akhirnya ia terbunuh akibat konspirasi mereka.
Gambaran Umum
Muhammad bin Ja'far bin Muhammad bin Harun, yang dikenal dengan gelar Al-Mu'tazz billah, adalah khalifah ke-13 Bani Abbasiyah. Dalam beberapa sumber, disebutkan nama Zubair atau Ahmad untuk Al-Mu'tazz. Kunyah-nya adalah Abu Abdullah. Al-Mu'tazz naik takhta pada tahun 251 H atau 252 H menggantikan Al-Musta'in al-Abbasi. Al-Mu'tazz memegang kekuasaan ketika 32 tahun masa keimaman Imam al-Hadi as telah berlalu.
Al-Mu'tazz lahir di Samarra pada tahun 232 H. Al-Mutawakkil al-Abbasi, khalifah ke-10, adalah ayahnya. Saudaranya, Al-Mu'tamid al-Abbasi, juga merupakan khalifah ke-15. Ibnu Sikkit, yang dibunuh oleh Mutawakkil karena dukungannya terhadap Ahlulbait as, adalah salah satu guru Al-Mu'tazz.
Naik ke Tampuk Kekuasaan
Setelah konflik dengan sepupunya Al-Musta'in yang menjadi khalifah sebelumnya, Al-Musta'in mengundurkan diri demi keuntungan Al-Mu'tazz, dan Al-Mu'tazz pun memegang tampuk kekhalifahan. Saat itu ia berusia 19 tahun dan menjadi khalifah Abbasiyah termuda hingga masa itu.
Beberapa pihak menganggap Al-Mu'tazz sebagai pemuda yang tidak berpengalaman dan kurang memiliki kesadaran politik. Masa kekuasaannya disebut sebagai masa puncak dominasi bangsa Turki, dan khalifah dipandang sebagai tawanan serta alat permainan di tangan mereka. Pengaruh dan kekuatan bangsa Turki sedemikian besar sehingga Al-Mu'tazz membawa senjata siang dan malam. Al-Mu'tazz berkuasa selama tiga tahun enam bulan. Beberapa bait syair darinya di berbagai bidang telah dinukilkan.
Pada masa kekhalifahannya, Dinasti Thuluniyah di bawah kepemimpinan Ahmad bin Thulun mulai berkuasa di Mesir. Penaklukan Kerman oleh Ya'qub bin Laits al-Shaffar pada tahun 255 H juga termasuk salah satu peristiwa pada masa Al-Mu'tazz.
Pembunuhan di Tangan Bangsa Turki
Al-Mu'tazz dibunuh oleh para panglima Turki pada bulan Rajab atau Ramadhan tahun 255 H di usia 23 tahun dan dimakamkan di Samarra.
Al-Mu'tazz dipandang sebagai sosok yang lemah di hadapan bangsa Turki. Merasa terancam oleh mereka, ia mencoba mengurangi kekuatan mereka dengan mendekatkan orang-orang Maghribi dan Fergana kepada dirinya serta membunuh dua pemimpin Turki. Hal ini memicu pemberontakan bangsa Turki terhadapnya. Para panglima Turki memaksanya untuk menyerahkan Kekhalifahan kepada Al-Muhtadi al-Abbasi. Akhirnya, Al-Mu'tazz dipenjara dan dibunuh. Al-Mu'tazz adalah khalifah Abbasiyah ketiga yang dicopot dari jabatannya dan khalifah keempat yang terbunuh.
Menyahadahkan Imam al-Hadi as
Templat:Utama Imam al-Hadi as diracun dan mencapai Syahadah pada masa pemerintahan Al-Mu'tazz. Masa Keimaman Imam al-Hadi as sezaman dengan pemerintahan Al-Mu'tazz selama sekitar tiga tahun. Karena permusuhan, dendam, serta kebencian terhadap Ahlulbait as, serta posisi dan popularitas sosial Imam kesepuluh Syiah tersebut, Al-Mu'tazz berusaha untuk melenyapkannya. Akhirnya, Al-Mu'tazz menyahadahkan Imam pada 3 Rajab tahun 254 H. Meskipun beberapa pihak menyebutkan syahadah Imam terjadi pada masa Al-Mu'tamid al-Abbasi dan melalui konspirasinya, beberapa peneliti meyakini bahwa Imam al-Hadi as mencapai syahadah atas perintah Al-Mu'tazz dan melalui racun dari Mu'tamid.
Perlakuan terhadap Imam Hasan al-Askari as
Pemerintahan Al-Mu'tazz bertepatan dengan masa keimaman Imam Hasan al-Askari as selama sekitar satu tahun. Dikatakan bahwa ia juga menaruh dendam terhadap Imam al-Askari as. Menurut para peneliti, pemerintah mengganggu beliau guna mengasingkan dan mengawasi beliau serta menjebloskannya ke dalam penjara. Al-Mu'tazz meminta sipir penjaranya untuk bersikap keras dan menganiaya beliau. Alasan kekerasannya adalah ilmu, ketenaran, dan kedudukan sosial Imam, serta pengetahuannya bahwa beliau adalah ayah dari Imam yang dinanti-nantikan (Al-Muntazhar) yang ditunggu-tunggu kaum Syiah untuk meruntuhkan kekuasaan para tiran.
Menurut beberapa sumber, Al-Mu'tazz berencana menyahadahkan Imam al-Askari as melalui sebuah konspirasi. Ia memerintahkan Sa'id al-Hajib untuk membawa Imam ke Kufah dan memenggal lehernya jauh dari pandangan orang-orang; namun tiga hari setelah perintah ini, Al-Mu'tazz digulingkan dan dibunuh. Disebutkan bahwa sebelum kejadian itu, Imam as telah memberikan kabar tentang kematian Al-Mu'tazz kepada kaum Syiah; sebagaimana dalam jawaban surat salah seorang sahabatnya yang mengungkapkan kekhawatiran atas niat Al-Mu'tazz, beliau mengisyaratkan akan datangnya solusi (faraj) setelah tiga hari. Menurut beberapa sejarawan, Al-Mu'tazz didoakan buruk oleh Imam al-Askari as agar diselamatkan dari kejahatannya, dan setelah doa beliau, Al-Mu'tazz dicopot dari Kekhalifahan.
Perlakuan terhadap Kaum Syiah
Kondisi politik dan sosial kaum Syiah yang sempat mencapai ketenangan relatif sejak masa Al-Ma'mun al-Abbasi, menjadi sulit dan penuh tekanan setelah Al-Mutawakkil al-Abbasi berkuasa. Kebijakan ini berlanjut pada masa Al-Mu'tazz. Al-Mu'tazz al-Abbasi dikatakan sangat keras terhadap kaum Syiah. Selain Imam al-Hadi as, sejumlah tokoh Syiah seperti Abu Hasyim al-Ja'fari, Hasan bin Muhammad al-Aqiqi, Muhammad bin Ibrahim al-Umari, dan Muhammad bin Ali al-Attar juga dipenjarakan oleh pemerintah.
Dikatakan bahwa Ja'far bin Ismail dari keturunan Imam Musa al-Kadzim as yang merupakan dai Imamiyah di Maghrib (Maroko), dibunuh oleh Ibnu Aghlab, salah satu gubernur Al-Mu'tazz. Ahmad bin Abdullah dari keturunan Imam Hasan al-Mujtaba as juga dibunuh oleh kaki tangan khalifah, sementara Isa bin Ismail dari keturunan Abdullah bin Ja'far al-Thayyar meninggal di penjara pemerintah. Pembunuhan Ja'far bin Muhammad dari keturunan Imam al-Sajjad as di Rey dan Ibrahim bin Muhammad dari keturunan Abbas bin Ali as, serta wafatnya Ahmad bin Muhammad dari keturunan Imam Hasan as di penjara Madinah, termasuk dalam tindakan rezim Al-Mu'tazz terhadap kaum Syiah.
Pemberontakan Alawiyin pada Masa Al-Mu'tazz
Berbagai sumber menyebutkan adanya pemberontakan Alawiyin pada masa Al-Mu'tazz. Salah satunya adalah pemberontakan Ali bin Musa bin Ismail dari keturunan Imam al-Kadzim as yang merupakan dai Imamiyah di Mesir; ia akhirnya ditangkap oleh pemerintah dan meninggal di penjara. Pemberontakan lainnya adalah pemberontakan Ismail bin Yusuf dari keturunan Imam al-Mujtaba as yang dikalahkan dan dibunuh oleh rezim. Saudaranya, Hasan bin Yusuf, serta Ja'far bin Isa dari keturunan Abdullah bin Ja'far juga terbunuh dalam peristiwa tersebut. Dinasti Abbasiyah menganggap pemberontakan-pemberontakan ini berkaitan dengan aktivitas Imam al-Hadi as, sehingga mereka membebankan pembatasan yang sangat ketat terhadap Imam dan para pengikutnya.
Catatan Kaki
Daftar Pustaka
- Al-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Al-I'lam bi Wafayat al-A'lam. Beirut: Penerbit Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyah, 1413 H.
- Al-Khatib al-Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad. Beirut: Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1417 H.
- Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Tehran: Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
- Al-Mas'udi, Ali bin al-Husain. Muruuj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Riset: As'ad Daghir. Qom: Penerbit Dar al-Hijrah, 1409 H.
- Al-Shafadi, Khalil bin Aibak. Al-Wafi bi al-Wafayat. Beirut: Penerbit Dar al-Nasyr Franz Steiner, 1401 H.
- Al-Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Tarikh al-Khulafa. Damaskus: Penerbit Dar al-Basya'ir, 1417 H.
- Al-Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Penerbit Dar Shadir, t.th.
- Husain, Jassim. Tarikh-e Siyasi-ye Ghaibat-e Imam-e Davazdahom (Sejarah Politik Keghaiban Imam Kedua Belas). Terjemahan: Sayid Muhammad Taqi Ayatollahi. Tehran: Penerbit Amirkabir, 1385 HS.
- Ibnu al-Atsir al-Jazari, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut: Penerbit Dar Beirut, 1385 H.
- Ibnu Asakir, Ali bin al-Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut: Penerbit Dar al-Fikr, 1415 H.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Penerbit Dar al-Fikr, 1407 H.
- Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib. Qom: Penerbit Allamah, 1379 H.
- Qarsyi, Baqir Syarif. Zendegani-ye Imam Hasan Askari as (Kehidupan Imam Hasan al-Askari as). Terjemahan: Sayid Hasan Islami. Qom: Penerbit Jami'ah-ye Mudarrisin, 1375 HS.
- Syekh al-Thusi, Muhammad bin al-Hasan. Kitab al-Ghaibah. Qom: Penerbit Dar al-Ma'arif al-Islamiyah, 1411 H.
```