Lompat ke isi

Konsep:Al-Akhras (Penyair)

Dari wikishia

|| || || - || || || || || editorial box Abdul Ghaffar bin Abdul Wahid bin Wahb (bahasa Arab: عبد الغفار بن عبد الواحد بن وهب) yang dikenal dengan nama Al-Akhras (1220-1290 H), adalah seorang penyair asal Irak yang dijuluki "Al-Akhras" (Si Bisu) karena memiliki gangguan bicara (gagap). Selain di Irak, ia juga sangat terkenal di seluruh negara berbahasa Arab.

Awal bait (matla') yang indah, susunan dan ungkapan yang menyenangkan, kehalusan dan kekokohan kosa kata, serta musikalitas yang merdu dan menggembirakan merupakan ciri khas dari puisinya. Ia menggunakan ayat-ayat dan riwayat dalam syairnya dan telah menggubah kasidah yang memuji Imam Kazhim as dan Imam al-Jawad as. Selain itu, dalam sebuah kasidah, ia menganggap Abu Hanifah sebagai Imam dan menyebut Syiah sebagai Rafidhah yang berdusta atas nama Nabi saw dan keluarga beliau.

Kelahiran

Terdapat perbedaan pendapat mengenai tahun kelahirannya, disebutkan tahun 1210, 1217, 1221, dan 1225 H.[1] Ia lahir di Mosul[2] dan menghabiskan masa kecilnya di sana.

Pendidikan

Pada masa kanak-kanak, ia belajar bahasa, sastra, dan Fikih dari para guru di Mosul[3], kemudian ia pergi ke Bagdad dan menetap di dekat Karkh.[4] Alasan kepindahannya dari Mosul ke Bagdad tidak jelas, namun tampaknya karena kesalahan yang dilakukannya, Abdurrahman Pasha Jalili (penguasa tahun 1243-1244 H) marah kepadanya, sehingga ia pindah ke Bagdad karena takut.[5] Di Bagdad, Al-Akhras bergabung dengan Abu al-Tsana al-Alusi dan melanjutkan pendidikannya di bidang bahasa dan sastra bersamanya.[6] Ia mempelajari kitab Al-Kitab karya Sibawaih darinya dan setelah itu ia mendapatkan izin untuk mengajar.[7]

Julukan Al-Akhras

Penyair ini dijuluki "Al-Akhras" karena gagap dalam bicaranya.[8] Kegagapan Al-Akhras menyebabkan masalah psikologis yang parah dalam dirinya, yang sangat mempengaruhi perilakunya dan membuatnya menjadi orang yang mudah tersinggung dan pemarah.[9]

Di masa mudanya, ia menggubah sebuah kasidah memuji Dawud Pasha, Gubernur Irak, dan memintanya untuk membantunya mengobati lidahnya. Dawud Pasha mengirimnya ke salah satu negara bagian di India, tetapi ia menolak pengobatan dan kembali tanpa hasil.[10]

Hubungan dengan Dawud Pasha dan Beberapa Tokoh

Al-Akhras sangat didukung oleh Dawud Pasha dan memiliki hubungan yang kuat dengan tokoh-tokoh besar seperti Muhammad Said Thabaqjali, Syekh Abdul Ghani Al Jamil, Abu al-Tsana al-Alusi, dan keluarga Al-Naqib.[11]

Pekerjaan

Al-Akhras tidak memiliki pekerjaan tetap dan menghabiskan sebagian besar waktunya di kedai kopi[12] atau bepergian ke berbagai kota di Irak.[13] Karena ia melihat kedermawanan dan keramahtamahan banyak penduduk Basrah, terutama para sastrawan kota itu, ia lebih sering pergi ke sana dan memuji banyak tokoh dan bangsawan di sana.

Ketenaran

Era Dawud Pasha dianggap sebagai awal kebangkitan sastra baru di Irak dan Al-Akhras adalah salah satu pelopor gerakan ini. Setelahnya, banyak penyair seperti Rushafi, Zahawi, Atsari, dan Syabibi mengikuti gaya puisinya, meskipun tidak ada yang menyamainya.[14] Ketenaran Al-Akhras segera melampaui perbatasan Irak dan menembus negara-negara Arab dan non-Arab tetangga, dan puisi-puisinya menghiasi lingkaran sastra.[15] Syakib Arslan[16] mengatakan: "Ada 3 atau 4 penyair Irak terkenal di tanah kami, salah satunya adalah Al-Akhras."

Karakteristik Puisi

Awal bait yang indah, susunan dan ungkapan yang menyenangkan, kehalusan dan kekokohan kosa kata, serta musikalitas yang merdu dan menggembirakan adalah ciri-ciri puisi Al-Akhras.[17] Dari mempelajari Diwan-nya, tampak bahwa ia memiliki kecerdasan dan kekuatan imajinasi yang luar biasa, serta terampil dalam menciptakan makna-makna yang indah.[18]

Seperti kebanyakan penyair pada zamannya, ia menjadikan puisi sebagai sarana untuk mencari nafkah dan memuji para penguasa waktu itu. Menurut beberapa orang sezaman, hal ini menyebabkan tidak banyak ruang tersisa bagi bakat puitisnya untuk berkembang.[19] Namun, dalam Diwan-nya, dari total 378 kasidah, hanya 26 kasidah yang didedikasikan untuk memuji hakim, penguasa, dan tokoh besar lainnya.[20] Ketenarannya lebih disebabkan oleh ghazal (puisi cinta), khamriyyat (puisi tentang anggur), dan muwashahhat-nya. Ia begitu terampil dalam menggubah ghazal dan mendeskripsikan anggur sehingga ia disebut sebagai Abu Nuwas abad ke-19. Tentu saja, masalah hidup, tidak adanya profesi tertentu, ketertinggalan dari rekan-rekannya[21], dan terutama penderitaan akibat gagap bicaranya menyebabkan sebagian besar puisinya didedikasikan untuk masalah pribadi dan privatnya.

Dalam sebagian besar kasidahnya, ia mengikuti format puisi kuno dan terkadang, dengan gaya penyair Jahiliyah, di awal puisinya ia mendeskripsikan tempat tinggal kekasih dan menangisi reruntuhan.[22] Penggunaan perangkat retorika dan sastra yang melimpah, terutama tibaq, jinas, tauriyah, taujih, dan lain-lain—tanpa menambah beban pada puisinya—adalah karakteristik menonjol dari gaya puisinya.[23]

Al-Akhras sangat dipengaruhi oleh puisi penyair terkemuka seperti Buhturi, Mutanabbi, Mihyar al-Dailami, dan Sayid Radhi.[24] Beberapa puisinya menceritakan tentang fanatisme kesukuan di antara para sastrawan masa itu, dan penyair sangat mengkritik kecenderungan rakyat Irak terhadap orang asing dan perpecahan mereka ke dalam kelompok dan partai yang bermusuhan.[25]

Salah satu fitur yang terlihat di seluruh Diwan Al-Akhras adalah penggunaan ayat-ayat dan tema-tema Al-Qur'an serta Hadis Nabi secara melimpah.[26] Ia telah menggubah sebuah kasidah yang memuji Imam Kazhim as dan Imam al-Jawad as.[27] Sebagian orang menganggapnya Syiah karena salah satu puisinya (di mana ia menyatakan "Saya pengikut keluarga Muhammad saw").[28] Namun, ia menggubah sebuah kasidah yang memuji Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit.[29] Selain itu, dalam sebuah kasidah yang dimulai dengan «لمن السوابق و الجیاد الضمر» "Liman al-Sawabiq wa al-Jiyad al-Dhummar", selain menganggap Abu Hanifah sebagai Imam, ia juga mencela Syiah dengan sebutan Rawafidh, menganggap mereka pendusta atas nama Keluarga Muhammad saw, serta menyebut Hisyam bin Hakam dan Hisyam bin Salim sebagai Zindiq.[30]

Karya Lain

Selain Diwan-nya, beberapa risalah Al-Akhras juga masih ada, yang ditulis sebagai jawaban atas keberatan seorang ilmuwan Kristen terhadap masalah-masalah kaum Muslimin.[31] Prosa risalah-risalah ini bersajak dan dibuat-buat, namun tetap menyenangkan.[32]

Penerbitan Diwan Setelah Kematiannya

Al-Akhras tidak terlalu memperhatikan pengumpulan puisi-puisinya.[33] Setelah kematiannya, penyair lain bernama Ahmad Izzat Pasha Faruqi mengumpulkannya dan menamainya Al-Tiraz al-Anfus fi Syi'r al-Akhras dan mencetaknya di Istanbul pada tahun 1304 H. Koleksi ini berisi 338 kasidah dan lebih dari 10 ribu bait.[34] Kemudian, kaligrafer Walid al-A'zami menambahkan 40 kasidah lagi ke dalamnya, sehingga jumlah kasidah menjadi 378, dan dicetak dengan judul Diwan al-Akhras.[35]

Tempat Wafat

Setahun sebelum kematiannya, Al-Akhras berniat menunaikan ibadah Haji, namun ia jatuh sakit di Basrah dan kembali ke Bagdad. Tahun berikutnya ia pergi lagi ke Basrah, namun penyakitnya semakin parah dan ia meninggal di sana.[36]

Catatan Kaki

  1. Lihat: Taimurbai, 330; A'zami, 11; Qadhi Mahmud, Mujaz al-Adab al-Arabi fi al-Ashr al-Hadits, hlm. 44.
  2. Alusi, Al-Misk al-Adzfar, jld. 1, hlm. 116.
  3. A'zami, ibid.
  4. Syaikhu, Al-Adab al-Arabiyah fi al-Qarn al-Tasi' Asyar, jld. 2, hlm. 8.
  5. A'zami, 11-12.
  6. Idem, 11.
  7. Alusi, jld. 1, hlm. 116.
  8. Zaidan, Tarajim Masyahir al-Syarq, jld. 2, hlm. 342.
  9. A'zami, 12.
  10. Alusi, Al-Misk al-Adzfar, jld. 1, hlm. 117; A'zami, ibid.
  11. Idem, 13.
  12. Idem, 14.
  13. Athaullah, Tarikh al-Adab al-Arabiyah, jld. 2, hlm. 324.
  14. Idem, 18; Khafaji, Al-Adab al-Arabi al-Hadits, 85; Wardi, Lamhat Ijtima'iyah min Tarikh al-Iraq al-Hadits, jld. 1, hlm. 253.
  15. Zaidan, Tarajim Masyahir al-Syarq, jld. 2, hlm. 341; Tarikh Adab al-Lughah al-Arabiyah, jld. 4, hlm. 216.
  16. Syakib Arslan, «Nahdhah al-Arab al-Ilmiyah fi al-Qarn al-Akhir», jld. 15, hlm. 438.
  17. A'zami, 15.
  18. Zaidan, Tarajim Masyahir al-Syarq, jld. 2, hlm. 343.
  19. Sha'igh, Tarikh al-Mousul, jld. 2, hlm. 238; Zaidan, Tarajim Masyahir al-Syarq, jld. 2, hlm. 343.
  20. A'zami, 17.
  21. Qadhi Mahmud, Mujaz al-Adab al-Arabi fi al-Ashr al-Hadits, hlm. 45.
  22. A'zami, 16.
  23. Idem, 15.
  24. Ibid.
  25. Nawar, Dawud Basha Wali Baghdad, hlm. 315.
  26. Lihat: 128-129, 291, 361, dst; A'zami, 17.
  27. hlm. 87-88.
  28. Da'irah al-Ma'arif Bozorg Eslami, entri Akhras.
  29. hlm. 271.
  30. hlm. 36-40.
  31. Alusi, Al-Misk al-Adzfar, jld. 1, hlm. 119.
  32. Lihat: Dujaili, Al-Band fi al-Adab al-Arabi, hlm. 94-96.
  33. Jawad, Makhthuthah Syi'r al-Akhras, jld. 10, hlm. 341.
  34. Zaidan, Tarajim Masyahir al-Syarq, jld. 2, hlm. 342; A'zami, hlm. 19.
  35. Ibid.
  36. Alusi, Al-Misk al-Adzfar, jld. 1, hlm. 117-120; A'zami, hlm. 12.

Daftar Pustaka

  • Alusi, Mahmud Syukri, Al-Misk al-Adzfar, Bagdad, 1348 H/1930 M.
  • Al-Akhras, Abdul Ghaffar, Diwan, disunting oleh Kaligrafer Walid al-A'zami, Beirut, 1406 H/1986 M.
  • A'zami, Walid, Pengantar Diwan Al-Akhras; juga Taimurbai, Ahmad, A'lam al-Fikr al-Islami, Kairo, 1387 H/1967 M.
  • Jawad, Mushthafa, Makhthuthah Syi'r al-Akhras, Majalah Al-Majma' al-Ilmi al-Iraqi, Bagdad, 1962 M, Vol. 10.
  • Khafaji, Muhammad Abdul Mun'im, Al-Adab al-Arabi al-Hadits, Kairo, 1405 H/1985 M.
  • Dujaili, Abdul Karim, Al-Band fi al-Adab al-Arabi, Bagdad, 1378 H/1959 M.
  • Zaidan, Jurji, Tarikh Adab al-Lughah al-Arabiyah, Kairo, 1957 M.
  • Idem, Tarajim Masyahir al-Syarq, Beirut: Dar Maktabah al-Hayat, Tanpa Tahun.
  • Syakib Arslan, Nahdhah al-Arab al-Ilmiyah fi al-Qarn al-Akhir, Majalah Al-Majma' al-Ilmi al-Arabi, Damaskus, 1937 M, Vol. 15.
  • Syaikhu, Luis, Al-Adab al-Arabiyah fi al-Qarn al-Tasi' Asyar, Beirut, 1910 M.
  • Sha'igh, Sulaiman, Tarikh al-Mousul, Beirut, 1928 M.
  • Athaullah, Rasyid Yusuf, Tarikh al-Adab al-Arabiyah, disunting oleh Ali Najib Athwi, Beirut, 1985 M.
  • Qadhi Mahmud, Mujaz al-Adab al-Arabi fi al-Ashr al-Hadits, Bagdad, 1945 M.
  • Nawar, Abdul Aziz Sulaiman, Dawud Basha Wali Baghdad, Kairo, 1968 M.
  • Wardi, Ali, Lamhat Ijtima'iyah min Tarikh al-Iraq al-Hadits, Bagdad, 1969 M.

Pranala Luar