Lompat ke isi

Konsep:Abbad bin Al-Awwam

Dari wikishia
Abbad bin al-Awwam
Ulama dan zahid Syiah
Nama lengkapAbbad bin al-Awwam bin Umar bin Abdullah bin al-Mundzir
KunyahAbu Sahl al-Wasithi
GelarAl-Kilabi
Kelahiran118/736
Tempat lahirWasit
Tempat tinggalKarkh, Baghdad
Wafat185/801
Tempat dikuburkanBaghdad
MazhabSyiah
Para perawi darinyaAhmad bin Hanbal
KredibilitasTsiqah


Abbad bin al-Awwam (l. 118/736 - w. 185/801) adalah seorang ulama dan zahid Syiah terkemuka pada abad ke-2/8 yang dikenal luas sebagai salah satu pakar muhaddits (ahli hadis) besar. Integritas dan kepakarannya sangat dihormati sehingga para cendekiawan Ahlussunnah pun mengakuinya sebagai perawi yang tsiqah dan tepercaya.

Bersama jajaran tokoh dan cendekiawan pada masanya, Abbad mendukung penuh Kebangkitan Ibrahim bin Abdullah serta secara aktif memobilisasi massa untuk bergabung dalam perlawanan tersebut. Menyusul kegagalan gerakan pemberontakan itu, ia terpaksa melarikan diri dan hidup dalam klandestin (persembunyian). Kendati demikian, pada era kekhalifahan al-Mahdi al-Abbasi, ia menerima grasi politik dan kembali diizinkan untuk meriwayatkan hadis.

Nahasnya, pada era Harun al-Abbasi, ia kembali menghadapi gelombang persekusi; kediamannya dibumihanguskan dan ia dijebloskan ke dalam penjara. Setelah melewati masa penahanan beberapa waktu lamanya, ia akhirnya dibebaskan dan dapat kembali berdedikasi dalam keilmuan hadis. Sepanjang hayatnya, ia menerima riwayat dari banyak ulama besar, dan di sisi lain, tokoh-tokoh sekaliber Ahmad bin Hanbal, al-Fadhl bin Dukain, dan Imran bin Maisarah turut menimba ilmu serta meriwayatkan hadis darinya.

Kedudukan dan Keutamaan

Abbad bin al-Awwam bin Umar bin Abdullah, yang masyhur dengan sebutan Abbad bin al-Awwam al-Kilabi, merupakan salah satu ulama sekaligus zahid kenamaan[1] di kalangan Syiah.[2] Ia memiliki kunyah Abu Sahl[3] al-Wasithi[4], serta menyandang julukan al-Kula'i[5] maupun al-Kilabi.[6]

Sebagian sejarawan mengklasifikasikan Abbad bin al-Awwam ke dalam generasi Tabiin.[7] Ia juga dikukuhkan sebagai seorang fakih[8] dan muhaddits besar,[9] serta pakar dalam disiplin ilmu hadis,[10] yang mana imam besar Ahmad bin Hanbal tercatat sebagai salah satu muridnya.[11]

Abbad dikenang sebagai salah satu figur paling mulia dan tepercaya pada zamannya dalam berbagai aspek kehidupan,[12] dan putranya, Awwam bin Abbad, turut meneruskan legasinya sebagai seorang perawi.[13]

Afiliasi Mazhab

Berbagai catatan dan literatur historis mengidentifikasi Abbad bin al-Awwam sebagai penganut Syiah.[14] Walaupun demikian, otoritas akademisnya diakui secara aklamasi oleh para ulama Ahlussunnah;[15] hal ini terbukti ketika Khathib al-Baghdadi—seorang fakih dan sejarawan Sunni abad ke-5 Hijriah—mengutip kesaksian sejumlah ulama yang menilainya sebagai sosok berintegritas tinggi yang tsiqah dan jujur (shaduq).[16] Di lain pihak, penulis kitab Qamus al-Rijal mengategorikan Abbad sebagai pengikut Syiah Zaidiyah, dengan merujuk pada rekam jejak historis keterlibatannya dalam menopang pergerakan Ibrahim bin Abdullah.[17]

Guru dan Murid dalam Periwayatan

Dalam sanad riwayatnya, Abbad bin al-Awwam menimba ilmu dari sejumlah tokoh besar, di antaranya: Abu Ishaq asy-Syaibani, Yahya bin Abi Ishaq, Ismail bin Abi Khalid,[18] Hushain bin Abdurrahman, Harun bin Antarah, Said al-Jariri, Said bin Abi Arubah, Hilal bin Khabbab,[19] Humaid ath-Thawil, serta Abu Malik al-Asyja'i.[20]

Dedikasi ilmiahnya lantas membuahkan banyak perawi ternama yang memetik hadis darinya. Beberapa murid utamanya meliputi: Ahmad bin Hanbal, al-Fadhl bin Dukain, Said bin Sulaiman al-Wasithi, Abul Rabi' az-Zahrani, al-Hasan bin Arafah,[21] Imran bin Maisarah, Abu Bakar bin Abi Syaibah,[22] Ziyad bin Ayyub, dan Ali bin Muslim ath-Thusi.[23]

Biografi

Abbad bin al-Awwam bin Umar bin Abdullah bin al-Mundzir bin Mush'ab bin Jandal[24] dilahirkan pada tahun 118/736.[25] Ia merupakan penduduk asli kota Wasit di wilayah Irak. Di penghujung hayatnya, ia menghembuskan napas terakhir di kota Baghdad[26] dan dikebumikan di pusat intelektual kekhalifahan tersebut.[27]

Terdapat ragam pandangan di kalangan sejarawan terkait waktu persis kewafatannya;[28] dengan rujukan tahun yang bervariasi antara 183/799, 184/800, 185/801, hingga 186/802.[29] Meski demikian, sekelompok cendekiawan Ahlussunnah, termasuk sejarawan klasik Ibnu Sa'ad, cenderung bersepakat bahwa Abbad bin al-Awwam meninggal dunia pada tahun 185/801, di era kepemimpinan Khalifah Harun al-Abbasi.[30]

Keterlibatan dalam Kebangkitan Ibrahim bin Abdullah

Secara politis, Abbad bin al-Awwam menyuarakan dukungan tegas terhadap revolusi atau kebangkitan Ibrahim bin Abdullah al-Hasani.[31] Ia tak sekadar beretorika, melainkan terjun langsung ke palagan pertempuran,[32] sembari gencar memobilisasi dukungan di akar rumput demi memperkuat basis perlawanan tersebut.[33] Ketokohan dan keberaniannya ini berhasil memantik antusiasme sebagian kelompok massa untuk turut berjuang dalam agenda kebangkitan itu.[34]

Setelah kandasnya pergerakan Ibrahim, Abbad terdesak untuk menyingkir dan bersembunyi demi menghindari pengejaran, bertahan dalam pelarian hingga tumbangnya kekhalifahan al-Manshur al-Abbasi.[35]

Tekanan Pemerintah terhadap Abbad

Usai memutus masa persembunyiannya yang kelam pada zaman al-Manshur, ia akhirnya direhabilitasi dan mendapat pemaafan kenegaraan tatkala roda kekuasaan beralih ke tangan al-Mahdi al-Abbasi. Tak hanya diampuni, ia kembali memegang hak yurisdiksi untuk meriwayatkan hadis.[36] Abbad kemudian berdomisili di distrik Karkh, Baghdad,[37] dan memancarkan spektrum keilmuannya kepada pelbagai penjuru majelis ulama di Baghdad[38] maupun keseluruhan Irak[39] yang berbondong-bondong mengambil riwayat darinya.

Namun, pasang surut kehidupan kembali menerpanya di era kepemimpinan Harun al-Abbasi. Ia mengalami persekusi birokratis; propertinya luluh lantak dibongkar paksa, dan dirinya mendekam sebagai pesakitan di balik terali besi. Sang Khalifah kala itu memberlakukan larangan keras baginya untuk menyebarluaskan hadis.[40] Situasi tersebut berubah setelah beberapa waktu, tatkala kebijakan represif ini melunak. Harun kemudian memberinya pembebasan bersyarat serta merestorasi posisinya sebagai pengampu ilmu agar dapat kembali membagikan khazanah sunnah dan hadis.[41]

Catatan Kaki

  1. Bandaniji Qadiri, Jami' al-Anwar, 1422 H, hlm. 191.
  2. Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 5, hlm. 652.
  3. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 7, hlm. 238; Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 11, hlm. 107; Bandaniji Qadiri, Jami' al-Anwar, 1422 H, hlm. 191.
  4. Al-Muzhaffar, Al-Ifshah, 1426 H, jld. 2, hlm. 371; Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 5, hlm. 652; Husaini, Al-Tadzkirah bi Ma'rifah Rijal al-Kutub al-'Asyrah, 1418 H, jld. 2, hlm. 803; Abu Makhramah, Qiladah al-Nahr, 1428 H, jld. 2, hlm. 292; Bandaniji Qadiri, Jami' al-Anwar, 1422 H, hlm. 191.
  5. Sam'ani, Al-Ansab, 1382 H, jld. 11, hlm. 187.
  6. Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 614; Husaini, Al-Tadzkirah bi Ma'rifah Rijal al-Kutub al-'Asyrah, 1418 H, jld. 2, hlm. 803.
  7. Bandaniji Qadiri, Jami' al-Anwar, 1422 H, hlm. 191.
  8. Abul Faraj al-Ishfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 315.
  9. Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 7, hlm. 410.
  10. Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 3, hlm. 257.
  11. Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 7, hlm. 410.
  12. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 11, hlm. 107; Al-Muzhaffar, Al-Ifshah, 1426 H, jld. 2, hlm. 372.
  13. Husaini, Al-Tadzkirah bi Ma'rifah Rijal al-Kutub al-'Asyrah, 1418 H, jld. 2, hlm. 1310; Ibnu Hajar al-'Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, 1325 H, jld. 8, hlm. 164.
  14. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 7, hlm. 238; Al-Muzhaffar, Al-Ifshah, 1426 H, jld. 2, hlm. 372; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 614.
  15. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 7, hlm. 238; Ibnu Jauzi, Al-Muntazham, 1412 H, jld. 9, hlm. 108; Ibnu Hanbal, Fadhail al-Shahabah, 1430 H, jld. 1, hlm. 360.
  16. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 11, hlm. 105.
  17. Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 5, hlm. 653.
  18. Abu Makhramah, Qiladah al-Nahr, 1428 H, jld. 2, hlm. 292.
  19. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 11, hlm. 105.
  20. Husaini, Al-Tadzkirah bi Ma'rifah Rijal al-Kutub al-'Asyrah, 1418 H, jld. 2, hlm. 803; Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 7, hlm. 410.
  21. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 11, hlm. 105.
  22. Abu Makhramah, Qiladah al-Nahr, 1428 H, jld. 2, hlm. 292.
  23. Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 7, hlm. 410; Husaini, Al-Tadzkirah bi Ma'rifah Rijal al-Kutub al-'Asyrah, 1418 H, jld. 2, hlm. 803.
  24. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 11, hlm. 105.
  25. Al-Muzhaffar, Al-Ifshah, 1426 H, jld. 2, hlm. 372.
  26. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 11, hlm. 107.
  27. Bandaniji Qadiri, Jami' al-Anwar, 1422 H, hlm. 191.
  28. Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 16, hlm. 614.
  29. Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 11, hlm. 107; Amin, A'yan al-Syi'ah, 1403 H, jld. 7, hlm. 410; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 12, hlm. 202.
  30. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 7, hlm. 238; Ibnu Jauzi, Al-Muntazham, 1412 H, jld. 9, hlm. 108; Ibnu Hanbal, Fadhail al-Shahabah, 1430 H, jld. 1, hlm. 360; Bandaniji Qadiri, Jami' al-Anwar, 1422 H, hlm. 191.
  31. Abul Faraj al-Ishfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 311; Ibnu Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 2, hlm. 203; Bal'ami, Tarikh-nameh Thabari, 1373 HS, jld. 4, hlm. 1125.
  32. Abul Faraj al-Ishfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 315, 323.
  33. Ibnu Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 2, hlm. 203.
  34. Abul Faraj al-Ishfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 315.
  35. Abul Faraj al-Ishfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 315.
  36. Abul Faraj al-Ishfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 315.
  37. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 7, hlm. 238.
  38. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 7, hlm. 238.
  39. Sam'ani, Al-Ansab, 1382 H, jld. 11, hlm. 187.
  40. Abul Faraj al-Ishfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 311; Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 5, hlm. 653.
  41. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 7, hlm. 238; Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 5, hlm. 652.

Daftar Pustaka

  • Abu Makhramah, Abdullah Thayib bin Abdullah. Qiladah al-Nahr fi Wafayat A'yan al-Dahr. Beirut, Penerbit Dar al-Minhaj, 1428 H.
  • Abul Faraj al-Ishfahani, Ali bin al-Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Riset: Sayid Ahmad Shaqr. Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Al-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Riset: Umar Abdussalam Tadmuri. Beirut, Penerbit Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1413 H.
  • Al-Muzhaffar, Muhammad Hasan. Al-Ifshah 'an Ahwal Ruwah al-Shihah. Qom, Penerbit Muassasah Aal al-Bait as, 1426 H.
  • Amin, Muhsin. A'yan al-Syi'ah. Beirut, Penerbit Dar al-Ta'aruf, 1403 H.
  • Bal'ami, Muhammad bin Muhammad. Tarikh-nameh Thabari. Riset: Muhammad Rusyan. Teheran, Penerbit Alborz, cetakan ketiga, 1373 HS.
  • Bandaniji Qadiri, Isa Shafaudin. Jami' al-Anwar fi Manaqib al-Akhyar. Beirut, Penerbit al-Dar al-Arabiyyah lil Mausu'at, 1422 H.
  • Husaini, Muhammad bin Ali. Al-Tadzkirah bi Ma'rifah Rijal al-Kutub al-'Asyrah. Kairo, Maktabah al-Khanji, 1418 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut, Penerbit Dar Shadir, 1385 H.
  • Ibnu Hajar al-'Asqalani, Ahmad bin Ali. Tahdzib al-Tahdzib. Beirut, Penerbit Dar Shadir, 1325 H.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad bin Muhammad. Fadhail al-Shahabah. Kairo, Penerbit Dar Ibnu al-Jauzi, cetakan keempat, 1430 H.
  • Ibnu Imad al-Hanbali, Abdul Hay bin Ahmad al-'Akri. Syadzarat al-Dzahab fi Akhbar Man Dzahab. Riset: Al-Arnauth. Beirut, Penerbit Dar Ibnu Katsir, 1406 H.
  • Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Al-Muntazham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abdul Qadir Atha dan Mushthafa Abdul Qadir Atha. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1412 H.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad. Al-Thabaqat al-Kubra. Riset: Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
  • Khathib al-Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1417 H.
  • Sam'ani, Abdul Karim bin Muhammad. Al-Ansab. Hyderabad, Penerbit Dairah al-Ma'arif al-Utsmaniyyah, 1382 H.
  • Shafadi, Khalil bin Aibak. Al-Wafi bi al-Wafayat. Beirut, Penerbit Dar al-Nasyr, cetakan kedua, 1401 H.
  • Syusytari, Muhammad Taqi. Qamus al-Rijal. Qom, Penerbit Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
  • Zirikli, Khairuddin. Al-A'lam. Beirut, Penerbit Dar al-Ilm lil Malayin, cetakan kedelapan, 1989 M.