Abu Lahab: Perbedaan antara revisi
imported>M.hazer |
imported>M.hazer |
||
Baris 64: | Baris 64: | ||
Setelah wafatnya [[Abu Thalib]] dan [[Khadijah al-Kubra Sa|Khadijah]], Abu Lahablah yang kemudian menjadi pemimpin Bani Hasyim. Keputusan pertama yang dikeluarkannya secara lahiriah menampakkan pembelaannya kepada Nabi Muhammad saw dari permusuhan suku Qurays, namun kemudian ia beralih dan kembali memusuhi Nabi Muhammad saw <ref>Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 211; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 121. </ref> dan melanjutkan ketidak percayaannya pada dakwah Rasulullah saw yang disebutkan kedustaan. <ref>Ibnu Ishaq, al-Sair wa al-Maghāzi, hlm. 232; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 261; Ya'qubi, Tārikh, jld. 2, hlm. 24. </ref> | Setelah wafatnya [[Abu Thalib]] dan [[Khadijah al-Kubra Sa|Khadijah]], Abu Lahablah yang kemudian menjadi pemimpin Bani Hasyim. Keputusan pertama yang dikeluarkannya secara lahiriah menampakkan pembelaannya kepada Nabi Muhammad saw dari permusuhan suku Qurays, namun kemudian ia beralih dan kembali memusuhi Nabi Muhammad saw <ref>Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 211; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 121. </ref> dan melanjutkan ketidak percayaannya pada dakwah Rasulullah saw yang disebutkan kedustaan. <ref>Ibnu Ishaq, al-Sair wa al-Maghāzi, hlm. 232; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 261; Ya'qubi, Tārikh, jld. 2, hlm. 24. </ref> | ||
==Setelah Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah== | |||
Setelah Nabi Muhammad saw [[hijrah]] ke [[Madinah]], Abu Lahab jatuh sakit. Karena didera rasa sakit itulah, ia tidak dapat ikut serta dalam perang Badar.<ref>Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 292 | Setelah Nabi Muhammad saw [[hijrah]] ke [[Madinah]], Abu Lahab jatuh sakit. Karena didera rasa sakit itulah, ia tidak dapat ikut serta dalam perang Badar.<ref>Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 292</ref>Dalam sumber lain disebutkan bahwa ketidakikut sertaannya dalam perang karena mimpi Atikah binti Abdul Muththalib soal prediksi kekalahan penduduk [[Mekah]].<ref>Ibnu Saad, ''al-Thabaqat al-Kubra'', jld.8, hlm.43</ref> Ia mengirim orang yang menggantikan posisinya, yaitu ‘Ash bin Hisyam bin Mughirah dengan balasan bahwa ia memiliki hutang dan dengan cara ini Abu Lahab memaafkan hutangnya.<ref>Waqidi, al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 33. </ref> | ||
Ketika Abu Sufyan bin Harits memberi tahu kepada Abu Lahab dan orang-orang Mekah bahwa kaum muslimin disetai para malaikat, Abu Rafi' (budak Abbas bin Abdul Muththalib) yang sudah muslim mengekpresikan kesenangannya. Abu Lahab menjatuhkan dia ke tanah dan memukulinya. Saat itu Ummul Fadhl, istri Abbas, memukulkan kayu ke Abu Lahab sebagai pembelaan terhadap Abu Rafi'. Hal ini menyebabkan luka parah di kepada Abu Lahab.<ref>Ibnu Hisyam, ''al-Sirah al-Nabawiyah'', jld.2, hlm.647</ref> | |||
==Wafat== | ==Wafat== |
Revisi per 10 November 2017 10.34
Abdul ‘Uzza bin Abdul Muththalib (Bahasa Arab: عبدالعُزّی بن عبدالمُطَّلب ) yang terkenal dengan Abu Lahab adalah paman Rasulullah saw. Hubungan antara Nabi Muhammad saw dengan Abu Lahab sebelum Bi'tsah normal dan baik sebagaimana hubungan kekerabatan pada umumnya, nammun setelah Nabi Muhammad saw mendapatkan perintah dari Allah swt untuk mendakwahkan Islam di tengah-tengah keluarganya secara terang-terangan, Abu Lahab menjadi salah satu yang menentang keras dan melancarkan permusuhan pada dakwah Islam. Disebutkan karena kebenciannya kepada Islam dan Nabi Muhammad saw, ia dan istrinya, Ummu Jamil mendapatkan laknat dari Allah swt sebagaimana yang digambarkan dalam surah al-Lahab.
Setelah Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah, Abu Lahab karena sakit tidak mampu bergabung dengan pasukan Quraisy di perang Badar, namun ia mengirimkan seseorang untuk menggantikannya. Abu Lahab kemudian meninggal karena sakit keras 7 hari setelah terjadinya perang Badar.
Gelar dan Nasab
Abu Lahab aslinya memiliki kuniyah Abu ‘Utbah namun oleh ayahnya Abdul Muththalib disebabkan ia memiliki wajah yang tampan dengan kulit kemerah-merahan ia dipanggil Abu Lahab oleh ayahnya. [1] Ibunya bernama Lubna binti Hajir bin Abdul Manaf dari kabilah Khaza'i.[2]
Sebelum Bi'tsah
Terdapat catatan sedikit mengenai kehidupan Abu Lahab sebelum periode Islam namun sebagaimana pada umumnya suku Quraisy, diperkirakan pekerjaannya adalah pedagang. Demikian pula yang digambarkan dalam surah al-Lahab ayat 2, مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan) menunjukkan pekerjaannya sebagai pengusaha atau pedagang.
Abu Lahab bersama dengan beberapa orang pernah mencuri tali emas yang dihadiahkan oleh Abdul Muththalib ke Ka'bah. Setelah mereka ditangkap, tangan sebagian mereka dipotong, namun paman-paman Abu Lahab dari pihak ibunya yang berasal dari kabilah Khuza'ah mencegah penerapan hukuman potong tangan atasnya.[3]
Tsaubiyah, budak perempuan Abu Lahab beberapa waktu sebelum Halimah Sa'diyah menyusui Nabi saw di masa bayi. Nabi berniat membeli Tsaubiyah dari Abu Lahab untuk dibebaskan, tapi Abu Lahab tidak sudi menjualnya. Setelah Nabi saw hijrah ke Madinah, Abu Lahab membebaskan sendiri Tsaubiyah.[4]
Ketika Abdul Muththalib hendak meninggal dunia, ia mengumpulkan anak-anaknya dan berwasiat kepada mereka untuk mengasuh Nabi saw. Ketika Abu Lahab mengusulkan diri untuk menjadi pengasuhnya, Abdul Muththalib menjawab: "Jauhkan kejahatanmu darinya" dan menyerahkan pengasuhan Nabi saw kepada Abu Thalib.[5]
Dari Bi'tsah Hingga Hijrah
Setelah Bi'tsah dengan diangkatnya Nabi Muhammad saw sebagai nabi untuk mendakwahkan Islam, Abu Lahab kemudian menjadi diantara musuhnya yang paling keras. Ketenaran dia dalam sejarah awal Islam muncul karena sebab ini. Ia mengabdi kepada berhala Uzza. dilaporkan bahwa ia pernah berkata: "Jika Uzza menang maka saya akan menjadi pelayannya, dan jika Muhammad menang -dan ini tidak akan terjadi-maka putra saudaraku yang menjadi".[6]
Menggangu Nabi saw dan Menghalangi Tablig Islam
Dengan turunnya ayat Indzar, Nabi saw diperintahkan untuk memulai dakwahnya secara terang-terangan dari keluarganya. Kemudian ia mengundang anak-anak Abdul Muththalib ke rumahnya sebagai tamu dengan jamuan sedikit tapi membuat mereka kenyang semua. Abu Lahab meyakini keberkahan ini sebagai pengaruh dari sihir Nabi saw. Nabi saw memilih diam dan menunda dakwah kepada Islam pada hari berikutnya.[7]
Nabi saw berkata bahwa rumahnya terletak diantara tetangga-tetangga yang terburuk; Aqabah bin Ubai, Mu'aith dan Abu Lahab, dimana mereka melemparkan kotoran-kotoran ke rumah beliau.[8]
Terkadang ketikan Nabi saw mengajak sekelompok orang kepada Islam, Abu Lahab dan Abbas maju ke depan dan berkata: "Keponakan kami ini bohong, jangan sampai ia menyesatkan kalian dari agama kalian".[9] Pada musm haji, Nabi saw menemui para rombongan yang datang ke Mekah dan menyeru mereka kepada Islam. Namun, kaum Quraisy datang ke tengah-tengah mereka dan mengata-ngatai Nabi saw. Dalam hal ini, Abu Lahab lah yang peling gigih.[10] Ia mengikuti Nabi saw dari belakang dan melemparinya dengan bantu sehingga kaki beliau bercucuran darah. Ia juga mengatakan Nabi saw sebagai pembohong.[11] Pada suatu waktu ketika Nabi saw sedang dalam sujud, Abu Lahab mengangkat batu hendak melemparkannya ke kepala beliau, namun tangannya tidak dapat bergerak. Setelah ia memohon kepada Nabi supaya keadaan itu dihilangkan dan beliau pun melakukannya, ia mengatakan bahwa ini termasuk sihir Nabi.[12]
Membela Nabi saw
Sekali ketika Quraisy memprotes Abu Thalib karena membela salah seorang dari kaum muslimin, Abu Lahab membelanya dan mengancam bahwa ia akan bersama Abu Thalib. Sikap dan ucapan ini membuat Abu Thalib senang dan dengan mendendangkan syair-syairnya ia bersuaha mengajak Abu Lahab untuk membela Islam.[13]Para pembesar kaum musrikin berniat membunuh Nabi saw dan karena mereka takut akan penentangan Abu Lahab, mereka tidak memberi tahu kepadanya. Pada suatu hari dimana niat jahat itu hendak dilakukan, Abu Thalib mengutus Ali as kepada Abu Lahab untuk memberi tahu kepadanya aksi pembunuhan Nabi saw yang akan mereka lakukan. Abu Lahab dengan marah mendatangi para pembesar musyrikin dan melarang mereka dari perbuatan ini serta bersumpah kepada Lata dan Uzza bahwa ia akan masuk Islam. Akhirnya, para pembesar kaum musyrikin meminta maaf dan meninggalakn pekerjaan ini.[14]
Di dalam sumber-sumber Ahlusunnah dimuat, pasca kewafatan Abu Thalib dan Khadijah, Quraisy secara mendadak mengganggu dan menyakiti Nabi saw. Ketika kabar ini sampai ke telinga Abu Lahab, ia mengumumkan bahwa dirinya tidak keluar dari agama Abdul Muththalib akan tetapi tetap membela anak saudaranya. Namun, ketika ia tahu bahwa menurut Muhammad saw Abdul Muththalib dan orang-orang yang seagama dengannya berada dalam api neraka, ia pun bersikap lebih keras lagi kepada Nabi.[15] Namun, dengan memperhatikan keyakinan Syiah bahwa nenek moyang Nabi tidak musyrik, maka ulama Syiah tidak menerima riwayat ini.[16]
Konspirasi Pembunuhan Nabi saw
Pasca kewafatan Abu Thalib, Abu Lahab termasuk diantara mereka yang hendak membunuh Nabi saw di malam hari.[17] Ketika mereka hendak memilih orang-orang diantara kabilah-kabilah Quraisy yang akan turut serta dalam pembunuhan Nabi saw, dari Bani Hasyim Abu Lahab yang mengusulkan diri.[18] Kala mereka hendak menyerang rumah Nabi saw, Abu Lahab mencegah mereka menyerang di waktu malam dan berkata: "Jika pada kegelapan malam para wanita dan anak-anak kecil terkena bahaya, maka kemalangan/kehinaan ini tidak akan lenyap selamnya di tengah-tengah Arab", akhirnya penyerangan itu ditunda ke pagi hari.[19]
Sebelum Hijrah
Abu Lahab adalah tetangga Nabi Muhammad saw. Dengan istrinya yang bernama Ummu Jamil, ia sering mengusik dan menganggu Nabi Muhammad saw diantaranya menaruh duri dan belukar dijalan yang biasa dilalui Nabi Muhammad saw.[20]Sebagian riwayat menyebutkan, hal tersebut dilakukan Abu Lahab lantaran rasa dengkinya pada Nabi Muhammad saw dan Abu Thalib. [21] Sewaktu Nabi Muhammad saw melakukan dakwah Islam secara terang-terangan yang dimulainya dari keluarganya, Abu Lahab menampilkan dirinya sebagai pihak yang menentang dakwah tersebut. Ia berdalih, hal itu dilakukan untuk menjaga kepercayaan dan tradisi keluarga yang diwarisi dari nenek moyang. Kerana sikap permusuhannya tersebut, namanya disebut dalam Al-Qur'an pada surah al-Lahab sebagai orang yang dilaknat Allah swt demikian pula istrinya yang membantu dan mendukungnya. [22]
Abu Lahab mematuhi saran istrinya yang memaksa agar puteranya menceraikan puteri Nabi Muhammad saw.[23]
Sewaktu kaum kafir Quraisy mengembargo Nabi Muhammad saw beserta kaum muslimin dan Bani Hasyim, sehingga tidak punya pilihan lain selain menetap Syuaib Abu Thalib, Abu Lahab yang meskipun termasuk Bani Hasyim namun memberikan dukungannya pada Quraisy.[24] Disebutkan, Abu Lahab pula yang mengusulkan agar masing-masing kabilah mengutus delegasinya untuk membunuh Nabi Muhammad saw di malam hari disaat tertidur di pembaringannya. [25]
Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, Abu Lahablah yang kemudian menjadi pemimpin Bani Hasyim. Keputusan pertama yang dikeluarkannya secara lahiriah menampakkan pembelaannya kepada Nabi Muhammad saw dari permusuhan suku Qurays, namun kemudian ia beralih dan kembali memusuhi Nabi Muhammad saw [26] dan melanjutkan ketidak percayaannya pada dakwah Rasulullah saw yang disebutkan kedustaan. [27]
Setelah Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah
Setelah Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah, Abu Lahab jatuh sakit. Karena didera rasa sakit itulah, ia tidak dapat ikut serta dalam perang Badar.[28]Dalam sumber lain disebutkan bahwa ketidakikut sertaannya dalam perang karena mimpi Atikah binti Abdul Muththalib soal prediksi kekalahan penduduk Mekah.[29] Ia mengirim orang yang menggantikan posisinya, yaitu ‘Ash bin Hisyam bin Mughirah dengan balasan bahwa ia memiliki hutang dan dengan cara ini Abu Lahab memaafkan hutangnya.[30] Ketika Abu Sufyan bin Harits memberi tahu kepada Abu Lahab dan orang-orang Mekah bahwa kaum muslimin disetai para malaikat, Abu Rafi' (budak Abbas bin Abdul Muththalib) yang sudah muslim mengekpresikan kesenangannya. Abu Lahab menjatuhkan dia ke tanah dan memukulinya. Saat itu Ummul Fadhl, istri Abbas, memukulkan kayu ke Abu Lahab sebagai pembelaan terhadap Abu Rafi'. Hal ini menyebabkan luka parah di kepada Abu Lahab.[31]
Wafat
Hanya berselang 7 hari setelah peristiwa perang Badar usai, Abu Lahab meninggal dunia. [32]Dikarenakan khawatir penyakit Abu Lahab menular, oleh kaum Quraisy jasad Abu Lahab dibawa keluar kota Mekah dan dikuburkan diantara tumpukan batu. [33]Ibnu Batutah [34]menyebutkan pernah melihat kuburan yang dinisbatkan sebagai kuburan Abu Jahal. Nama Abu Lahab disebutkan dalam Al-Qur'an dengan mendapatkan laknat dari Allah swt karena permusuhannya kepada Rasulullah saw.[35]
Keturunan Abu Lahab
Putera-putera Abu Lahab masuk Islam setelah pembebasan kota Mekah[36]dan turut berperang dalam perang Thaif dan Hunain.[37] Keturunan Abu Lahab terus berlanjut melalui putera-puterannya.[38]
Catatan Kaki
- ↑ Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 93.
- ↑ Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiah, jld. 1, hlm. 115 dan 118.
- ↑ Ibnu Duraid, al-Isytiqāq, hlm. 121; Ibnu Habaib, hlm. 60-64, Ibnu Qutaibah, al-Ma'arif, hlm. 125; Thabari, Tārikh, jld. 1, hlm. 1134-1135.
- ↑ Ibnu Saad, al-Thabaqat al-Kubra, jld. 1, hlm. 108; Baldzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 96; Ya'kubi, Tarikh, jld. 2, hlm. 9
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.1, hlm.35
- ↑ Waqidi, al-Maghazi, jld.3, hlm. 874; Baldzuri,Ansab al-Asyraf, jld.1, hlm. 478
- ↑ Khushaibi, al-Hidayah al-Kubra, hlm. 46
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm.131>
- ↑ Al-Majlisi, Biharul Anwar, jld.18, hlm. 203
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh, jld. 3, hlm. 11
- ↑ Al-Majlisi, Biharul Anwar, jld.18, hlm. 202
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld. 1, hlm. 78
- ↑ Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld. 1, hlm. 371
- ↑ Al-Kulaini, al-Kafi, jld.8, hlm. 277
- ↑ Ibnu Saad al-Thabaqat al-Kubra, hlm.210; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld.1, hlm.121
- ↑ Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.19, 22
- ↑ Ibnu Saad,al-Thabaqat al-Kubra, jld.1, hlm.228
- ↑ Thabarsi, I'lam al-Wara, jld.1, hlm.145
- ↑ Quthbuddin al-Rawandi, al-Kharaij wa al-Jaraih, jld.1, hlm. 143
- ↑ Ibnu Ishaq, al-Sair wa al-Maghāzi, hlm. 144; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 200; Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiah, jld. 1, hlm. 380; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 131.
- ↑ Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiah, jld. 1, hlm. 10.
- ↑ Ahmad bin Hanbal, Musnad, jld. 1, hlm. 307; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 74; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 119-120; lih; Qurtubi, al-Jami' li Ahkām al-Qur'an, jld. 20, hlm. 234-235.
- ↑ Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 36-37; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 122-123 dan 401.
- ↑ Ibnu Ishaq, al-Sirah wa al-Maghāzi, hlm. 156; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 209.
- ↑ Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 228.
- ↑ Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 211; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 121.
- ↑ Ibnu Ishaq, al-Sair wa al-Maghāzi, hlm. 232; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 261; Ya'qubi, Tārikh, jld. 2, hlm. 24.
- ↑ Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 292
- ↑ Ibnu Saad, al-Thabaqat al-Kubra, jld.8, hlm.43
- ↑ Waqidi, al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 33.
- ↑ Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.2, hlm.647
- ↑ Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiah, jld. 2, hlm. 302; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 4, hlm. 74; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 131; Qas Mas'udi, al-Tanbih wa al-Asyrāf, 206.
- ↑ Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 478; Abu al-Faraj, al-Aghāni, jld. 4, hlm. 206.
- ↑ Ibnu Batutah, Rihlah Beirut, hlm. 143.
- ↑ Lih: Kasyi, Ma'rifah al-Rijāl, hlm. 290; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balāghah, jld. 2, hlm. 172.
- ↑ Tabari, Tārikh, jld. 1, hlm. 2343.
- ↑ Ibnu Qudamah, al-Tabyiin fi Ansāb al-Qarasyiin, hlm. 143.
- ↑ Ibnu Hazm, Jamharatu Ansāb al-‘Arab, hlm. 72; Sama'āni, al-Ansāb, jld. 11, hlm. 236.
Daftar Pustaka
- Al-Qur'an al-Majid.
- Ibnu Abi al-Hadid, Abdul Hamid bin Habbatullah, Syarh Nahjul Balaghāh, riset: Muhammad Abu al-Fadhl, Ibrahim, Kairo, 1378 H/1959.
- Ibnu Ishaq, Muhammad, al-Sair wa al-Maghāzi, riset: Sahil Zajar, Damaskus, 1398 H/1978.
- Ibnu Batutah, Muhammad bin Abdullah, Rihlatu Beirut, 1384 H/1964.
- Ibnu Habaib, Muhammad, al-Manamaq fi Akhbār Quraisy, riset: Khurshid Ahmad Faruq, Beirut, 1405 H/1985.
- Ibnu Hazm, Ali bin Ahmad, Jamharatu Ansāb al-‘Arab, Beirut, 1403 H/1983.
- Ibnu Duraid, Muhammad bin Hasan, al-Isytiqāq, riset: Abdu al-Salam Muhammad Harun, Kairo, 1378 H/1958.
- Ibnu Sa'ad, Muhammad al-Thabaqāt al-Kubra, Beirut, Dar Shadr.
- Ibnu Qutaibah, Abdullah bin Muslim, a-Ma'ārif, riset: Tsarwat Akaseh, Kairo, 1960.
- Ibnu Qudamah, Abdullah bin Ahmad, al-Tabyiin fi Ansāb al-Qurasyiin, riset: Muhammad Naif Dailami, Beirut, 1908 H/1988.
- Ibnu Hisyam, Abdul Mulk, al-Sirah al-Nabawiah, riset: Ibrahim Abyari dkk, Kairo, 1355 H/1936.
- Abu Al-Farj Isfahani, al-Aghāni, Kairo, Dar al-Kutub, al-Mashriah.
- Ahmad bin Hanbal, Musnad, Kairo, 1313 H.
- Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansāb al-Asyrāf, riset: Muhammad Hamidullah, Kairo, 1959.
- Sama'ani, Abdul Karim bin Muhammad, al-Ansāb, Haidar Abad Dakkan, 1400 H/1980.
- Tabari, Tārikh, riset: Dakhwiah, Leiden, 1879-1881.
- Qurtubi, Muhammad bin Ahmad, al-Jami' li Ahkām al-Qur'an, Kairo, 1386 H/1967.
- Kasyi, Muhammad, Ma'rifah al-Rijāl, Ikhtiyār Thusi, riset: Hasan Mustafawi, Masyhad, 1348 S.
- Kalabi, Hisyam bin Muhammad, Jamharatu al-Nasab, riset: Naji Hasan, Beirut, 1407 H/1986.
- Mas'udi, Ali bin Husain, al-Tanbih wa al-Asyrāf, riset: Abdullah Ismail Shawi, Kairo, 1938.
- Waqidi, Muhammad bin Umar, al-Maghazi, riset: Marseden Jones, London, 1966.
- Ya'qubi, Ahmad bin Ishaq, Tārikh, Beirut, 1379 H/1960.