tanpa prioritas, kualitas: c

Mir Findiriski

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Mir Findiriski
تندیس میر.jpg
Nama Abu al-Qasim Findiriski
Panggilan Mir Findiriski
Posisi Filosof, Matematikawan, Ahli Geometri
Tahun Lahir 970 H/1562
Tempat Lahir Findirisk, Isfahan, Iran
Tahun Wafat 1050 H/1640
Tempat Dikuburkan Pekuburan Takht-i Fulad, Isfahan
Guru-guru Allamah Chalbi Bek, Afdhaluddin Muhammad Ibnu Turkah Isfahani
Murid-murid Mulla Sadiq Ardistani,Muhammad Baqir Sabziwari,Aqa Husayn Khwansari, Mirza Rafi'a Na'ini, and Mulla Rajab Ali Tabrizi, dll.
Mazhab Syiah
Karya-karya Sana'iyya, Risala fi l-haraka,

Abul Qasim Findiriski (bahasa Arab:ابوالقاسم فندرسکی) terkenal dengan Mir Findiriski (970-1050 H) adalah seorang filosof, cendekiawan pada masa Shafawi. Ia termasuk seorang guru dari Mazhab Isfahan dan satu zaman dengan Mirdamad serta Syaikh Bahai. Mir Findiriski adalah seorang pakar dalam bidang Geometri, Matematika dan Kimia.

Nasab

Nenek moyangnya adalah para pembesar Sayid Astar Abadi dan kakeknya adalah Mir Shadruddin di daerah Findirisik, bagian kota Ester Abad, adalah pemilik properti dan setelah Syah Abas I duduk di tahta (966) ia bergabung dengan pihak istana. Ayahnya, Mirza Bayk juga merupakan pegawai Syah Abas dan mendapatkan penghargaan. [1]

Hari Kelahiran dan Pendidikan

Abul Qasim lahir di sebuah kota kecil bernama Findirisik. [2] Nampaknya ilmu-ilmu dasar ia pelajari di tempat kelahirannya, namun pada masa setelahnya, ia melanjutkan pelajarannya di Isfahan untuk mempelajari hikmah dan ilmu-ilmu dibawah bimbingan Allmah Chalabi Bayk Tabrizi (w. 1041) dimana ia sendiri merupakan murid Afdhaluddin Muhammad Turkah Isfahani. [3] Pada masa kemudian ia sibuk mengajar di sana.

Di India

Nampaknya lingkungan intelektual dan keilmuan pada masa itu tidak sejalan dengan semangat kebebasannya dan ia seperti gurunya, Chalabi Bayk Tabrizi dan sangat banyak dari para intelektual sastra, irfan dan kesenian pindah ke India. [4] India pada masa itu, karena buah dari metode Akbar Syah dan politik (Perdamaian Menyeluruh) yang ia jalankan, menjadikan orang-orang dari berbagai tempat tertarik untuk pergi ke India, hal ini disebabkan karena adanya pertumbuhan ekonomi dan terjaminnya keamanan masyarakat juga adanya berbagai agama yang tidak saling fanatik dan menjadi tempat yang aman bagi orang-orang yang ingin memeluk agama dan madzhab-madzhab tertentu. Nampaknya, safar pertama kali Mir Findiriski ke India terjadi pada tahun 1015 H bersama dangan Auhadi Baliyani, pengarang Tadzkirah Arafāt al-‘Āsyiqin. [5]

Kembali ke Iran

Menurut perkataan Auhadi, ketika Mir Findiriski sampai di India ia menemui pejabat Mirza Ja’far Ashif Khan (958-1021 H) dimana ia merupakan penyair dan sastrawan Iran. Kemudian ia pindah ke India dan sibuk di kantor konselir dan kementrian. Ashif Khan dengan memanfaatkan posisinya, menyiapkan Mir Findirisiski untuk kembali ke Iran.

Safar ke dua ke India

Tidak lama setelah itu, Mir Findiriski kembali mengadakan safar ke India dan pada awalnya ia pergi ke Gujarat dan kemudian ke Deccan. Auhadi ketika ia sibuk menulis Arafāt al-‘Āsyiqin, yaitu antara tahun 1021 – 1024 menulis: Mir Findiriski setelah tahun itu hingga akhir umurnya selalu melakukan safar ke India, sekali pada tahun 1046 H dan pada kali yang lain pada tahun 1046 H. Ia mengenalkan Abul Hasan Isfahani, salah seorang Menteri Syah Jahan dengan Raja itu dan mengadakan pertemuan dengannya. [6]

Di Iran

Mir Findiriski juga mendapat penghormatan dari kalangan istana. Menurut Nashr Abadi, ketika ia kembali ke Isfahan, Syah Shafi menemuinya. [7]

Wafat

Ia wafat pada tahun 1050 H di Isfahan. [8] Dan juga dimakamkan disana, di pekuburan Baba Ruknuddin, sebuah tempat yang pada masa sekarang disebut dengan Takhte Fulad dan terkenal dengan Tekiye Mir.

Makam Mir Findiriski menjadi tempat yang dihormati secara khusus di Isfahan dan menjadi tempat ziarah bagi masyarakat umum. Berdasarkan wasiatnya, kitab-kitabnya diwakafkan ke Perpustakaan Istana Syah Shafi. [9]

Para Cucu

Tidak diketahui tentang kehidupan pribadinya dan tidak diketahui siapakah cucu-cucunya. Cucu-cucunya yang terkenal hanya Mir Abu Thalib bin Mirza Bayk yang merupakan murid Allamah Majlisi dan seorang fadhil dan penyair yang memiliki karya yang banyak. [10] Anak cucu keluarga ini hingga pada masa sekarang merupakan sadat (sayid) yang terhormat dan hidup di Ester Abad. [11]

Orang-orang yang sezaman dan para Murid

Mir Findiriski satu zaman dengan Mir Damad, Syaikh Bahai dan beberapa pengajar ilmu-ilmu hukama pada masa itu seperti Mula Shadiq Ardestani, Muhammad Baqir Sabzawari, Agha Husain Khansari, Mirza Rafi’a Naini dan Mula Rajab Ali Tabrizi yang merupakan murid-muridnya. [12]

Sebagian para pengarang, Shadruddin Shirazi, hakim besar pada masa Shafawi juga termasuk murid-muridnya. [13] Namun Shadruddin Shirazi tidak menampilkan salah satu karya Mir Findiriski, padahal dalam mukadimah syarah atah Ushul Kafi ia memuji dua gurunya yang lain, Mir Damad dan Syaikh Bahai. [14]

Pengaruh Budaya India

Sebagian orang percaya bahwa tidak menutup kemungkinan pemikiran Mir Findiriski terpengaruh oleh kebudayaan India. Tampaknya, sebagian refleksi Filsafatnya terbentuk dan terpengaruhi saat ia berada di India. Menurut penulis kitab Dabistān Madzāhib, Mir Findiriski bersahabat dengan Adzar Keivan (lahir 914 S/942 H di Faris meninggal pada tahun 947 S/1027 H di India) dan belajar darinya untuk tidak menyakiti makhluk lain. [15] Pada kitab ini, juga dituliskan beberapa pendukung Adzar Keivan sebagai teman dari Mir Findiriski. [16] Namun hubungan ini, dapat ditolak dari dua sisi:

  • Dalam kitabnya tidak ada satu pun pengaruh yang terlihat dari Adzar Keivan dan juga tidak ada istilah-istilah khusus dari kelompok itu.
  • Tidak ada satu pun karya dan tulisan lain dari kelompok ini yang mengisyaratkan akan nama Mir Findiriski.

Karakter

Meskipun tidak banyak meninggalkan karya-karyanya, namun tulisan yang ada pada batu nisan makamnya menjadi bukti bahwa ia adalah seseorang yang cukup dihormati baik oleh golongan ulama maupun kalangan awam, dan tidak hanya memiliki kemampuan dalam bidang filsafat, namun juga memiliki kedudukan yang tinggi dalam bidang irfan. Dalil lain yang menyebabkan ia terkenal adalah cerita bahwa ia memiliki karamah yang bermacam-macam. [17]

Hikayat mengenai kecerdasan, harga diri, keberanian dalam menjawab pertanyaan terhadap para penguasa menunjukkan akan ketelitian dalam mengungakapkan pendapat, keberanian, ketinggian akhlak dan kemerdekaan berpikir yang ia miliki. [18] Dikatakan bahwa pada suatu hari dalam majelisnya dijelaskan mengenai masalah ilmu Geometri berdasarkan pendapat Khajah Nashiruddin Thusi. Mir Findiriski membawakan argumen dalam pembahasan itu dan bertanya bahwa apakah Khajah menyebutkan argumen ini juga? Mereka menjawab: Tidak. Kemudian ia mengatakan beberapa argumen lagi dalam pembahasan itu dan dalam setiap argumen yang ia paparkan, ia mengulangi pertanyaan itu dan jawabannya seperti jawaban yang ia dengar pada pertama kalinya. [19] Dari informasi singkat yang disebutkan dalam kitab Rijal mengenai Mir Findiriski dapat diketahui bahwa ia disamping memiliki kesempurnaan keilmuan dan irfani dan oleh karenanya ia menjadi dihormati, ia juga memiliki model hidup sederhana. Ia menghindari ketenaran dan posisi resmi, mengabaikan urusan duniawi dan hidup bersama dengan masyarakat di gang-gang dan di pasar-pasat bahkan juga tidak menghindari bermasyarakat dengan para preman. [20]

Ahli dalam Berbagai Disiplin

Mir Findiriski adalah seorang ahli dalam berbagai disiplin waktu, terutama dalam geometri, matematika dan kimia. Terdapat beberapa karya yang diyakini sebagai karya Mir Findiriski. Karya-karya Mir Findiriski yang dapat kita jumpai pada masa kini adalah pandangan dan karya murid-muridnya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang guru besar Hikmah Masya (filsafat Islam Peripatetik) dan mengajarkan kitab Ibnu Sina. [21] Namun, ia kadang-kadang keberatan dengan pandangan Ibnu Sina dan Khajah Nashiruddin Tusi, dua filosof Peripatetik yang menonjol. [22]

Risalah Shina'iyyah karya Mir Findiriski

Karya-karya

Terdapat peninggalan karya-karya Mir Findiriski yaitu beberapa risalah singkat dalam tema-tema keilmuan dan filsafat, beberapa syarah dan penjelasan atas terjemahan “Jug Basasyt Hindui” dan beberapa syair dan kumpulan syair.

  • Karya terpenting Mir Findiriski adalah Risalah berbahasa Persia yang dikenal dengan nama “Shana’iyah” yang dikenal dengan nama sebagai Khaqāyiq al-Shanāyi’. Cakupan dalam risalah ini sangat luas dan mencakupi makna dari segala sesuatu dari yang dihasilkan oleh hal-hal rasional dan amali manusia. Dalam kitab yang terdiri dari 24 bab dan satu penutup dijelaskan mengenai batasan dan jenis-jenis shana’at (manufaktur), kaitan berbagai shana’at yang memberi manfaat, tujuan setiap derajat keuntungannya, kontribusi masing-masing bagi manusia, pemanfaatan manufaktur dan tujuan akhir manufaktur yang merupakan tujuan akhir itu sendiri, dan meraih tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. [23]
  • Risalah fi al-Harakat sebuah tulisan singkat dalam bahasa Arab dan terdiri dari 5 bab berisi pengertian gerakan dan macam-macamnya. Ia menjelaskan bahwa setiap gerakan memerlukan penggerak dan seluruh gerakan-gerakan secara keseluruhan harus bergerak dari sumber yang satu yang merupakan penggerak primer dan ia sendiri tidak memiliki penggerak. Ia menulis pendapat ini berdasarkan gaya Peripatetik dan ia menolak teori Platonis. Pilihan-pilihan dari karya ini dengan penjelasan penting dilakukan oleh Jalaluddin Asytiyani dan dicetak dalam Muntakhabati az Atsar Hukamai Ilahi Iran. [24]
  • ”Risalah fi al-Tasykik” adalah surat Mir Findiriski dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Agha Mudhaffar Kasyani tentang permasalahan gradasi dalam dzatnya. Mir Findiriski dalam surat tersebut berbicara dengan gaya Paripatetik dan menentang pandangan Isyraqiyat (Iluminationist) bahwa ada gradasi dalam hal-hal yang dzati. Mir berkeyakinan bahwa hal-hal yang dzati tidak bergradasi. Surat-surat ini juga disusun oleh Jalaluddin Asytiyani dalam kitab Muntakhabati az Atsar Hukamai Ilahi Iran. [25]
  • Risalah dalam tema Kimia. Nampaknya dalam bahasa Persia terhimpun dengan nama Arba’ah Risalah: Zibaq, Kibrit, dan bab Al-Asghar yang semuanya ada di perpustakaan berupa naskah-naskah atau tulisan dari risalah ini. Terdapat pula kumpulan puisi dalam bahasa Arab yang diyakini merupakan karya Mir Findiriski. [26]
  • Komentar mengenai “Jug Basisyt”, pembahasan mengenai Irfan dan Hikmah Hindu yang diterjemahan ke dalam bahasa Persia pada zaman Akbar Syah. Buku ini awalnya disebut dengan “Laghu Yoga Vasishta.” Buku ini merupakan ringkasan dari kumpulan puisi yang dikenal dengan nama “Maha Ramayana dan Wasishta Ramayana”. Kumpulan puisi ini sejatinya merupakan dialog antara Vasishta, penguasa mitos India kuno dengan Raja yang dikenal dengan sebutan “Rama” atau “Rama Candra” yang menjelaskan tentang epik agama besar di India. Ramayana digambarkan dalam peperangan. Dalam kitab itu, Mir Findiriski disamping menjelaskan cerita yang mengandung nasehat dan pengajaran akhlak serta filsafat kepada para muridnya. Dalam kitab ini, tema-tema mengenai falsafah juga mengemuka dan semua pembahasannya mengenai tafakur tauhid wujud mutlak yang merupakan bagian dari aliran penting filsafat dan irfan di India. Perwakilan dari mereka yang menonjol adalah Shankara. Mir Findiriski juga telah menulis kamus untuk “Jug Basisyt” dengan nama “Kasyf al-Lughat Jug “ dimana naskah itu tersedia dalam dua bentuk: terlampir dengan kitab Jug dan satunya terpisah darinya. [27]

Karya-karya Lain

Dalam sebagian kitab “Tadzkirah” dan kitab “Tarajim” karya-karya lain seperti Tarikh Shafawiyah, Tahqiq al-Muzalah dan sebagian risalah-risalah yang lainnya [28] dicatat dengan nama Mir Findiriski namun pada masa sekarang tidak ada karya yang sampai kepada kita.

Catatan Kaki

  1. Efendi, Riyadh al-Ulama, jld. 5, hlm. 500; Qumi, al-Kuna wa al-Alqāb, jld. 3, hlm. 35-36.
  2. Silahkan lihat: Auhadi, 151; Efendi, jld. 5, hlm. 501-502.
  3. Silahkan lihat: Auhadi, Arafāt al-Āsyiqin, hlm. 151, 168, 282
  4. Silahkan lihat: Auhadi, Arafāt al-Āsyiqin, hlm. 151, Nashr Abadi, 153.
  5. Auhadi, Arafāt Āsyiqin, hlm. 12, 151.
  6. Rayu, II, hlm. 815.
  7. Rayu, II, hlm. 815.
  8. Khatun Abadi, Waqāyi’ al-Sinin wa al-A’wām, hlm. 514.
  9. Qumi, al-Kuna wa al-Alqāb, jld. 3, hlm. 35, Mudarris, Raihānah al- Adab , jld. 4, hlm. 359.
  10. Silahkan lihat: Efendi, Riyādh al-Ulama, jld. 5, hlm. 500-501, Qumi, al-Kuna wal- al-Alqāb, jld. 3, hlm. 36, Mudarris, Raihānah al-Adab, jld. 4, hlm. 360.
  11. Silahkan lihat: Hidayah, Raudhah al-Shafa, jld. 9, hlm. 112, 489.
  12. Silahkan lihat: Khansari, Raudhah al-Jannah, jld. 2, hlm. 354; Khatun Abadi, Waqāyi’ al-Sinin wa al-A’wām, hlm. 514, Hidayah, Raudha al-Shafa, jld. 8, hlm. 584; Asytiyani, Muqadimah bar Syawāhid al-Rububiyyah, hlm. 85.
  13. Mudaris, Raihānah al-Adab, jld. 3, hlm. 418, Baravan, IV, 435.
  14. Silahkan lihat: Asytiyani, Muqadimah bar Syawāhid al-Rububiyyah, hlm. 87-88.
  15. Ridha Zade Malak, Dabistān Madzāhib, jld. 1, hlm. 47.
  16. Ridha Zade Malak, Dabistān Madzāhib, jld. 1, hlm. 337-338.
  17. Silahkan lihat: Riyadh al-Jannah, 4, hlm. 521; Naraqi, Thaqadis, hlm. 195-202; Tankabumi, Qishash al-Ulama, hlm. 236-237; Maksum Ali Syah, Tharāiq al-Khaqāiq, jld. 3, hlm. 158; Shaba, Tadzkirah Ruz Rusyan, hlm. 25.
  18. Silahkan lihat: Efendi, Riyadh al-Ulama, jld. 5, hlm. 499, 501, Walah, Riyadh al-Syu’ara, Zanuzi, Riyadh al-Jannah, 4 (1) 520-521, Dabistan Madzāhib, Rahim Ridha Zade Malak, jld. 1, hlm. 47, Khansari, Riyadh al-Ulama, jld. 1, hlm. 246, Hidayah, Riyadh al-Arifin, hlm. 267-268, Qummi, Al-Kuna wa al-Alqāb, jld. 3, hlm. 35; Mudaris, Raihanah al-Adab, jld. 4, hlm. 357-358.
  19. Silahkan lihat: Efendi, Riyadh al-Ulama, jld. 1, hlm. 501.
  20. Silahkan lihat: Efendi, Riyadh al-Ulama, jld. 1, hlm. 501.
  21. Silahkan lihat: Asytiyani, Muqadimah bar Syawāhid al-Rububiyyah, hlm. 86-88.
  22. Silahkan lihat: Khansari, Raudhah al-Jannah, jld. 3, hlm. 185.
  23. Silahkan lihat: Corbin, hlm. 32-44, Nashr, Maktab Isfahan, Tarih Falsafah dar Islam, hlm. 459-460.
  24. Asytiyani, Muntakhabati az Atsar Hukamai Ilahi Iran, hlm. 81-90.
  25. Asytiyani, Muntakhabati az Atsar Hukamai Ilahi Iran, hlm. 81-90.
  26. Markazi, jld. 2, hlm. 96.
  27. Silahkan lihat: Manzawi, Khathi, jld. 3, hlm. 2015.
  28. Silahkan lihat: Mudaris, Raihanah al-Adab, jld. 4, hlm. 358; Amin, A’yān al-Syiah, jld. 2, hlm. 403.

Daftar Pustaka

  • Asytiyani, Jalaluddin. Mukadimah bar Syawāhid al-Rububiyyah. Teheran: 1360 HS.
  • Abul Qasim Findiriski. Risalah dar Tasykik, Muntakhabi az Risalah Harakat, Muntakhabi az Risalah Shana’iyah.
  • Efendi Isfahani, Abdullah. Riyadh al-Ulama. Riset: Ahmad Husaini. Qom: 1410 H.
  • Amin, Muhsin. A’yān al-Syiah. Beirut: 1403 H/1983.
  • Auhadi, Balyani, Muhammad. Arafāt al-'Āsyiqin. Tulisan Tangan Perpustakaan Malak, 5324.
  • Tankabuni, Muhammad. Qashas Ulama. Teheran: 1362 HS.
  • Khuquq Hathi.
  • Khatun Abadi, Abdul Husain. Waqāyi’ al-Sinin wa al-A’wām. Riset: Muhammad Baqir Behbudi. Teheran: 1352 HS.
  • Khansari, Muhammad Baqir. Raudhah al-Jannah. Teheran: 1390 HS.
  • Dabistan Madzahib. Riset: Rahim Ridha Zade Malik. Teheran: 1362 HS.
  • Zanuzi, Muhammad Hasan. Riyadh al-Jannah. Riset: Ali Rafii. Qom: 1370 HS.
  • Qumi, Abas. Al-Kuna wa al-Alqāb. Teheran: 1397 H. Gulchin Ma’āni. Ahmad, Tadzkirah Peimaneh. Masyhad: 1359 HS.
  • Mujtabai, Fathullah. Biruni dar Hind (penelitian-penelitian tentang Abu Raihan Biruni). Teheran: 1352 HS.
  • Mudaris, Muhammad Ali. Raihanah al-Adab. Tabriz: 1346 HS.
  • Markazi, Khathi.
  • Ma’shum Ali Syah, Muhammad Ma’shum. Tharāiq al-Haqāiq. Riset: Muhammad Ja’far Mahjub. Teheran: 1318 HS.
  • Muntakhabati az Atsar Hukamai Ilahi Iran. Riset: Jalaluddin Asytiyani. Masyhad: 1351 HS.
  • Naraqi, Mula Ahmad. Thaqdis. Riset: Husin Naraqi. Teheran: 1362.
  • Nashr, Husain. Maktab Isfahan, Tarikh Falsafah dar Islam. M M Syarif. Teheran: 1362 HS.
  • Muhammad Thahir. Tadzkirah. Riset: Wakhid Dastgardi. Teheran: 1317 HS.
  • Nafisi, Sa’id. Ahwāl wa Asy'ār Farsi Syaikh Bahai. Teheran: 1316 HS.
  • Walah Daghestani. Riyadh Syu'ara, Foto-foto dalam Perpustakaan Nasional Iran.
  • Hidayat, Ridha Qali. Raudha al-Shafa. Teheran: 1339 HS.
  • Hidayat, Ridha Qali. Riyadh al-Arifin. Riset: Muhammad Ali Gurgani. Teheran: 1344 HS.
  • Browne, E.G., A Literary History of Persia. London: 1969
  • Corbin, H., Introd. Anthologie des Philosophes Iraniens (vide: PB, Montaxabati…).
  • Mujtaba, I,f. Aspects of Hindu Muslim Cultural Relations. New Delhi: 1978.
  • Id, Mir Fendiriski in India, Maqalat va Barrasiha.Teheran,1983, No. 1983 , No. 38-39.
  • Rieu, Ch., Catalogue of the persian Manuscripts in the BritishMuseum. Oxford: 1881.

Pranala Luar