Lompat ke isi

Konsep:Sir dan Suluk

Dari wikishia

Sir dan Suluk adalah sebuah istilah irfani yang bermakna gerakan batiniah menuju kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah. Imam Khomeini mendefinisikannya sebagai gerakan menuju alam gaib dan migrasi kalbu dari keinginan-keinginan nafsu untuk mencapai Allah. Para arif Islam menganggap sir dan suluk sebagai dasar dari irfan amali (praktis) dan meyakini bahwa pencapaian kedudukan spiritual memerlukan hal tersebut. Menurut Makarim Syirazi, Al-Qur'an juga telah menjelaskan tahapan-tahapan sir dan suluk secara sempurna, termasuk di dalam Surah Al-Furqan dan Surah Al-Mukminun, di mana disebutkan dua belas tahapan dan tujuh persinggahan (manzil) untuk mencapai derajat Ibadurrahman.

Para arif membagi sir dan suluk ke dalam empat tahapan yang disebut asfar arba'ah: Sair ilallah (dari nafsu menuju kalbu), Sair fillah (di dalam sifat-sifat ilahi), Sair ma'allah (maqam ahadiyat dan qaba qausain), dan Sair billah (baqa' setelah fana'). Sebagian membagi sair (perjalanan) menjadi tiga jenis: Sair ilallah, Sair fillah, dan Sair ma'allah. Selain itu, para salik (pejalan spiritual) terbagi menjadi dua kelompok: Salik halik (terjebak dalam urusan majasi) dan Salik washil (fana' dalam tauhid).

Dikatakan bahwa sir dan suluk memerlukan syarat-syarat seperti meninggalkan keterikatan pada harta dan kedudukan, meninggalkan akhlak buruk, uzlah (menyendiri), diam, serta mengikuti bimbingan seorang guru. Syariat, tarekat, dan hakikat dikenal sebagai tahapan-tahapan suluk. Hambatan-hambatan dalam perjalanan ini terbagi menjadi dua jenis: Hijab Zulmani (kerendahan akhlak, dosa-dosa) dan Hijab Nurani (asma dan sifat ilahi). Imam Khomeini meyakini bahwa beberapa hambatan, seperti kerendahan akhlak, termasuk dalam kategori Hijab Zulmani, dan perjalanan yang bertujuan untuk mencapai kedudukan-kedudukan irfani bisa jadi merupakan tipu daya setan.

Konsep dan Kedudukan Sir dan Suluk

Sir dan suluk adalah istilah irfani yang bermakna gerakan batiniah menuju kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah[1] yang diibaratkan sebagai perjalanan lahiriah, di mana konsep-konsep seperti titik awal (mabda'), titik akhir (munta-ha), persinggahan (manzil), pemandu, dan teman seperjalanan juga dikemukakan di dalamnya.[2] Allamah Thabathaba'i mendefinisikan suluk sebagai perjalanan ruhani dan sair sebagai pengamatan atas bekas-bekas perjalanan tersebut.[3] Imam Khomeini mendefinisikan sair sebagai gerakan menuju alam gaib[4] dan suluk sebagai migrasi kalbu dari keinginan-keinginan nafsu untuk sampai kepada Allah.[5] Para arif Islam terkadang menggunakan istilah-istilah seperti "Safar ilallah" dan "Asfar Arba'ah" untuk merujuk pada sir dan suluk.[6]

Para arif Islam menganggap sir dan suluk sebagai dasar dari irfan amali.[7] Imam Khomeini meyakini bahwa untuk mencapai kedudukan spiritual diperlukan sir dan suluk,[8] dan Allamah Thabathaba'i menganggapnya sebagai sarana untuk mencapai kedekatan (qurb) ilahi.[9] Sebagian peneliti berpendapat bahwa urgensi sir dan suluk dapat dipahami dari konsep-konsep Al-Qur'an dan riwayatTemplat:Yad.[10] Makarim Syirazi juga meyakini bahwa Al-Qur'an telah menjelaskan tahapan-tahapan sir dan suluk secara lengkap; termasuk dua belas tahapan dalam Surah Al-Furqan dan tujuh persinggahan dalam Surah Al-Mukminun untuk mencapai kedudukan Ibadurrahman dan pewarisan Surga.[11]

Sejarah Sir dan Suluk

Para arif Muslim menjadikan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai dasar utama dalam mengemukakan masalah sir dan suluk. Allamah Thabathaba'i dalam banyak kasus menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an untuk menetapkan prinsip gerakan batiniah dan suluk irfani.[12] Sebagian meyakini bahwa para arif seperti Syaqiq Balkhi, Muhasibi, Dzun Nun al-Mishri, dan Kharraz telah menjelaskan pengalaman suluk mereka dalam bentuk ahwal (keadaan batin) dan maqamat (kedudukan spiritual) yang berbeda-beda. Tren ini kemudian meluas dan menjadi lebih sistematis dengan munculnya para arif seperti Sarraj, Kalabadzi, Qusyairi, dan khususnya Khwaja Abdullah Anshari.[13] Sayid Yadullah Yazdanpanah juga meyakini bahwa kemunculan Irfan Nazhari (teoretis) pada abad ketujuh membawa penjelasan baru untuk menerangkan kedudukan-kedudukan sir dan suluk dalam irfan amali.[14]

Hakikat Sir dan Suluk

Para arif Islam mendefinisikan hakikat sir dan suluk sebagai gerakan batiniah dan bagaimana menempuh berbagai persinggahan (manzil) untuk mencapai kesempurnaan manusia.[15] Sebagian menganggapnya sebagai sebuah gerakan keilmuan di mana salik berpindah dari ilmu tentang makhluk menuju ilmu ilahi,[16] dan sebagian lainnya menganggapnya sebagai keluarnya ruh dari jasad dan masuk ke alam ruhani dengan menghilangkan sifat-sifat keakuan (nafsu).[17] Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa Sair ilallah adalah perubahan manusia dari kekurangan menuju kesempurnaan tanpa batas yang tidak hanya mengubah batin tetapi juga jasad material manusia.[18]

Akhir Perjalanan dalam Sir dan Suluk

Para arif Muslim menganggap tujuan akhir dari sir dan suluk adalah Liqa'ullah (bertemu Allah) yang dinyatakan dengan istilah-istilah seperti Fana' fillah dan mikraj ruhani.[19] Syamsuddin Muhammad Lahiji menganggap sir dan suluk bertujuan untuk Fana' fillah dan memahami kefakiran zat di hadapan Allah.[20] Azizuddin Nasafi menganggap hakikat melihat segala sesuatu sebagaimana adanya sebagai akhir dari perjalanan.[21] Abdurrazzaq Kasyani memperkenalkan penyatuan lahir dan batin sebagai puncak dari sir dan suluk.[22] Imam Khomeini juga menganggap salah satu tujuan suluk adalah mencapai Maqam Inba'Templat:Yad dan maqam wilayah[23] serta menganggap puncak cita-cita para arif adalah syuhud (penyaksian) atas ayat 3 Surah Al-HadidTemplat:Yad, yang menurut istilah para urafa merupakan penjelasan terbaik tentang hakikat tauhid.[24]

Tahapan Sir dan Suluk

Para arif Islam membagi sir dan suluk ke dalam empat tahapan yang disebut asfar arba'ah:

  1. Sair ilallah: Gerakan dari persinggahan nafsu hingga sampai ke kalbu, yang merupakan tempat awal tajali ilahi, dan dalam perjalanan ini, salik memperoleh makrifat kepada Allah.
  2. Sair fillah: Perjalanan di dalam sifat dan asma Allah hingga mencapai kedudukan wahidiyat.
  3. Sair ma'allah: Kenaikan menuju kedudukan ahadiyat dan qaba qausain; di mana dualitas masih ada dan ketika dualitas itu sirna, ia mencapai maqam wilayah.
  4. Sair billah: Kedudukan baqa' setelah fana' dan penyempurnaan para hamba.[25]

Juga sebagian membagi sir dan suluk berdasarkan objek perjalanannya menjadi tiga bagian: 1) Sair ilallah: Usaha hamba untuk menyingkap hijab-hijab antara dirinya dan Allah. 2) Sair fillah: Perjalanan di dalam sifat-sifat Allah. 3) Sair ma'allah: Penyertaan bersama Allah, laksana setetes air yang melebur di dalam lautan.[26]

Jenis-Jenis Salik

Para arif Muslim membagi salik berdasarkan tercapai atau tidaknya hakikat menjadi dua jenis:

  1. Salik Halik: Seseorang yang terhenti dari hakikat dan terjebak dalam urusan majasi (metaforis).
  2. Salik Washil: Seseorang yang telah menyucikan hatinya dari selain Allah dan telah fana' dalam tauhid.[27]

Juga membagi salik berdasarkan cara menempuh suluk menjadi empat jenis:

  1. Majdzub: Seseorang yang telah menyerahkan hatinya kepada Allah dan lalai dari selain Allah.
  2. Majdzub Salik: Seseorang yang telah menyadari keadaannya dan sibuk menempuh suluk.
  3. Salik Majdzub: Seseorang yang setelah menempuh tahapan suluk, memperoleh jadzbah (tarikan spiritual) dan cinta Allah.
  4. Salik: Seseorang yang belum memperoleh jadzbah dan cinta al-Haq.[28]

Langkah-Langkah Praktis dalam Sir dan Suluk

Para arif Islam menyebutkan tahapan-tahapan untuk sir dan suluk yang dimulai dari "Yaqzhah" (bermakna bangun dari kelalaian)[29] dan pada akhirnya mencapai Maqam Fana dan Baqa.[30]

Sebagian arif Muslim menganggap tahapan ini terdiri dari empat puluh manzil (persinggahan)[31] dan sebagian menganggapnya terdiri dari tujuh puluh ribu manzil.[32] Khwaja Abdullah Anshari, dalam kitab Manazil al-Sa'irin, menganggap sir dan suluk memiliki seratus langkah yang dimulai dari yaqzhah dan berakhir pada tauhid.[33] Ia merangkum seratus tahapan ini ke dalam sepuluh kategori umum yaitu: Bidayat, Abwab, Mu'amalat, Akhlak, Ushul, Audiyah, Ahwal, Wilayat, Haqa'iq, dan Nihayat.[34]

Sarana dan Hambatan Sir dan Suluk

Para arif Muslim menyebutkan syarat dan sarana khusus untuk sir dan suluk yang mencakup meninggalkan keterikatan pada harta dan kedudukan, meninggalkan akhlak buruk, bermuka manis, uzlah, diam, lapar, bangun malam, zikir, dan mengikuti guru yang sempurna.[35] Mereka juga menempatkan sir dan suluk setelah syariat dan meyakini bahwa salik harus berpegang teguh pada syariat ilahi kemudian menempuh tarekat dan hakikat.[36] Azizuddin Nasafi menganggap syariat sebagai jalan nafsu, tarekat sebagai jalan hati, dan hakikat sebagai jalan ruh; ia berkeyakinan bahwa syariat adalah perkataan Nabi saw, tarekat adalah perbuatan beliau, dan hakikat adalah basyirah (penglihatan batin) beliau.[37] Ali Amini Nejad, seorang ulama dan peneliti irfan Syiah, meyakini bahwa dalam perjalanan yang asli, tarekat adalah batin dari syariat dan memerlukannya.[38]

Hambatan-hambatan sir dan suluk terbagi menjadi dua jenis:

  • Hijab Zulmani (seperti dosa-dosa dan keterikatan nafsu),[39] Imam Khomeini juga meyakini bahwa beberapa hambatan, seperti kerendahan akhlak, merupakan contoh dari Hijab Zulmani[40] dan menganggap asma serta sifat ilahi dan hijab-hijab akal serta ruh sebagai bagian dari Hijab Nurani.[41] Ia berkeyakinan bahwa perjalanan yang bertujuan untuk mencapai kedudukan irfani bisa jadi merupakan tipu daya Setan. [42]
  • Hijab Nurani (seperti asma dan sifat ilahi). [43]
Gambar cetakan keempat belas buku Mabani Nazhari Tazkiyah

Bibliografi

Para arif telah menulis banyak buku dan risalah tentang sir dan suluk, di antaranya adalah risalah Adab al-Ibadat karya Syaqiq Balkhi, Maqamat al-Qulub karya Abul Husain Nouri, dan Manazil al-Sa'irin karya Khwaja Abdullah Anshari.[44]

Ibnu Arabi juga dalam karya-karyanya membahas tentang perjalanan (asfar), pengenalan, dan rahasia-rahasianya.[45] Kemudian ditulis pula risalah-risalah di bidang ini seperti risalah Sir dan Suluk karya Aqa Muhammad Bidabadi dan Tuhfat al-Muluk fi al-Sair va al-Suluk yang dinisbatkan kepada Sayid Muhammad Mahdi Bahrul Ulum.

Bano Mojtahedeh Amin juga dalam buku Sir dan Suluk dar Ravesy-e Oliya'ullah yang diterbitkan pada tahun 1392 HS, menjelaskan secara rinci pembahasan terkait sir dan suluk serta cara menempuh jalan kebenaran. Selain itu, di bidang ini dapat merujuk pada buku kumpulan artikel Mohammad Shojaei yang dalam seri 3 jilid membahas cara praktis penyucian jiwa (tazkiyah) serta sir dan suluk.

Catatan Kaki

  1. Kasyani, Latha'if al-A'lam, 1426 H, jld. 2, hlm. 435; Fanari, Mishbah al-Uns, 1416 H, hlm. 631.
  2. Faidh Kasyani, Risalah Zad al-Salik, 1433 H, hlm. 1.
  3. Thabathaba'i, Risalah Lubb al-Lubab, 1429 H, hlm. 25–27.
  4. Imam Khomeini, Adab al-Shalah, 1388 HS, hlm. 322; Imam Khomeini, Taqrirat, 1385 HS, jld. 2, hlm. 245.
  5. Imam Khomeini, Adab al-Shalah, 1388 HS, hlm. 162.
  6. Ibnu Arabi, Ishthilahat al-Shufiyyah, 1421 H, hlm. 5.
  7. Lihat Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyah, tanpa tahun, jld. 2, hlm. 382; Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 1, hlm. 1–13; Imam Khomeini, Chehel Hadits, 1388 HS, hlm. 589 dan 174.
  8. Imam Khomeini, Sirr al-Shalah, 1388 HS, hlm. 5.
  9. Tawakuli, Gangguan Perilaku pada Anak dan Remaja, 1393 HS, hlm. 74.
  10. Rezaei Tehrani, Sir dan Suluk, 1392 HS, hlm. 110.
  11. Makarim Syirazi, Irfan Islami, 1395 HS, hlm. 77.
  12. Lihat Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 5, hlm. 245; jld. 19, hlm. 69; jld. 20, hlm. 122; dan jld. 21, hlm. 211.
  13. Bidarfar, Muqaddimah Syarh Manazil al-Sa'irin, 1385 HS, hlm. 7–17.
  14. Yazdanpanah, Mabani va Ushul-e Irfan-e Nazhari, 1388 HS, hlm. 71–72.
  15. Aqa Nouri, Arifan-e Mosalman va Syariat-e Islam, 1387 HS, hlm. 24.
  16. Sarhindi, Al-Maktubat, tanpa tahun, jld. 1, hlm. 180.
  17. Haqqi Burusawi, Tafsir Ruh al-Bayan, tanpa tahun, jld. 7, hlm. 25.
  18. Ahmadi, Studi Komparatif Konsep dan Hakikat Muraqabah dalam Irfan Islam dan Irfan Budha, 1395 HS, hlm. 99.
  19. Ibnu Arabi, Tafsir, 1422 H, jld. 1, hlm. 222; Qunawi, Al-Nushush, 1371 HS, hlm. 18.
  20. Lihat Lahiji, Mafatih al-I'jaz fi Syarh Golsyan-e Raz, 1381 HS, hlm. 86.
  21. Nasafi, Zubdah al-Haqa'iq, 1381 HS, hlm. 103.
  22. Kasyani, Latha'if al-A'lam, 1379 HS, hlm. 330.
  23. Imam Khomeini, Chehel Hadits, 1388 HS, hlm. 192.
  24. Nasafi, Kasyf al-Haqa'iq, 1386 HS, hlm. 132–133.
  25. Anshari, Nata'ij al-Afkar al-Qudsiyyah, 1428 H, jld. 1, hlm. 124.
  26. Ibnu Bazzaz, Shafwah al-Shafa, 1376 HS, hlm. 482–483.
  27. Goharin, Syarh Ishthilahat al-Tashawwuf, 1368 HS, jld. 6, hlm. 195.
  28. Tahanawi, Mausu'ah Kasysyaf Ishthilahat al-Funun va al-Ulum, 1996 M, jld. 1, hlm. 969–970.
  29. Imam Khomeini, Shahifah, 1389 HS, jld. 10, hlm. 243 dan jld. 12, hlm. 382.
  30. Sarhindi, Al-Maktubat, tanpa tahun, jld. 1, hlm. 429; Bidarfar, Muqaddimah Syarh Manazil al-Sa'irin, 1385 HS, hlm. 21–22.
  31. Bidarfar, Muqaddimah Syarh Manazil al-Sa'irin, 1385 HS, hlm. 8–14.
  32. Bahrul Ulum, Risalah Sir dan Suluk, 1415 H, hlm. 135.
  33. Anshari, Manazil al-Sa'irin, 1417 H.
  34. Anshari, Manazil al-Sa'irin, 1417 H, hlm. 27–34; Kasyani, Syarh Manazil, 1385 HS, hlm. 120.
  35. Nasafi, Al-Insan al-Kamil, 1386 HS, hlm. 144; Jandi, Syarh Fushush al-Hikam, 1423 H, hlm. 99; Bahrul Ulum, Risalah Sir dan Suluk, 1415 H, hlm. 166; Qumsyei, Majmu'ah Atsar, 1378 HS, hlm. 77; Lahiji, Mafatih al-I'jaz, 1381 HS, hlm. 253.
  36. Thabathaba'i Sotoudeh, Gohar-e Din va Vahdat-e Adyan-e Asemani az Manzhar-e Allamah Thabathaba'i, 1394 HS, hlm. 72.
  37. Rifat, Ma'rifat-syenasi az Didgah-e Allamah Thabathaba'i va Syahid Motahari, 1395 HS, hlm. 62.
  38. Amini Nejad, Asyna-yi ba Majmu'ah Irfan Islami, 1390 HS, hlm. 85.
  39. Qaisari, Rasa'il, 1381 HS, hlm. 28.
  40. Imam Khomeini, Chehel Hadits, 1388 HS, hlm. 124.
  41. Imam Khomeini, Ta'liqat Fushush, 1410 H, hlm. 68–69; Imam Khomeini, Mishbah al-Hidayah, 1386 HS, hlm. 28–29 dan hlm. 87; Imam Khomeini, Chehel Hadits, 1388 HS, hlm. 45, 454 dan hlm. 589–590.
  42. Imam Khomeini, Adab al-Shalah, 1388 HS, hlm. 76.
  43. Qaisari, Rasa'il, 1381 HS, hlm. 28.
  44. Bidarfar, Muqaddimah Syarh Manazil al-Sa'irin, 1385 HS, hlm. 8–18.
  45. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyah, jld. 2, hlm. 382–383.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Arabi, Muhyiddin. Al-Futuhat al-Makkiyah. Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun.
  • Ibnu Arabi, Muhyiddin. Tafsir Ibnu Arabi. Peneliti: Samir Musthafa Rabab. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan pertama, 1422 H.
  • Ibnu Arabi, Muhammad bin Ali. Ishthilahat al-Shufiyyah. Beirut, Dar al-Mahajjat al-Baidha', cetakan pertama, 1421 H.
  • Ibnu Bazzaz Ardabili, Ishaq. Shafwah al-Shafa. Peneliti: Gholamreza Thabathaba'i Majd. Teheran, Zaryab, cetakan kedua, 1376 HS.
  • Ahmadi, Ja'far. Studi Komparatif Konsep dan Hakikat Muraqabah dalam Irfan Islam dan Irfan Budha, Ma'rifat-e Adyan, tahun 6, no. 3, 1395 HS.
  • Aqa Nouri, Ali. Arifan-e Mosalman va Syariat-e Islam. Qom, Universitas Adyan dan Madzahib, cetakan pertama, 1387 HS.
  • Amini Nejad, Ali. Asyna-yi ba Majmu'ah Irfan Islami. Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, 1390 HS.
  • Anshari, Khwaja Abdullah. Manazil al-Sa'irin. Peneliti: Ali Shirwani. Teheran, Darul Ilm, cetakan pertama, 1417 H.
  • Anshari, Zakaria. Nata'ij al-Afkar al-Qudsiyyah fi Bayan Ma'ani Syarh al-Risalah al-Qusyairiyyah. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Mansyurat Muhammad Ali Baidun, 1428 H.
  • Bahrul Ulum, Sayid Muhammad Mahdi. Risalah Sir dan Suluk (Tuhfat al-Muluk). Peneliti: Sayid Muhammad Husain Tehrani. Masyhad, Allamah Thabathaba'i, cetakan keempat, 1415 H.
  • Baqli Syirazi, Ruzbahan. Al-Mishbah fi Mukasyafah Ba'ts al-Arwah. Peneliti: Ashim Ibrahim al-Kayyali. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan pertama, 1428 H.
  • Bidarfar, Mohsen. Muqaddimah Syarh Manazil al-Sa'irin. Karya Abdurrazzaq Kasyani. Qom, Bidar, cetakan ketiga, 1385 HS.
  • Fanari, Muhammad bin Hamzah. Mishbah al-Uns. Teheran, Penerbit Moula, 1416 H.
  • Faidh Kasyani, Mohsen. Risalah Zad al-Salik. Beirut, Jam'iyyah al-Ma'arif al-Islamiyyah al-Tsaqafiyyah, 1433 H.
  • Goharin, Sayid Shadiq. Syarh Ishthilahat al-Tashawwuf. Teheran, Zavar, cetakan pertama, 1368 HS.
  • Haqqi Burusawi, Ismail. Tafsir Ruh al-Bayan. Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Adab al-Shalah. Teheran, Lembaga Pengaturan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, cetakan keenam belas, 1388 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Al-Ta'liqah 'ala al-Fawa'id al-Radhawiyah. Teheran, Lembaga Pengaturan..., cetakan kedua, 1378 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Mishbah al-Hidayah ila al-Khilafah va al-Wilayah. Teheran, Lembaga Pengaturan..., cetakan keenam, 1386 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Sirr al-Shalah (Mi'raj al-Salikin va Shalah al-'Arifin). Teheran, Lembaga Pengaturan..., cetakan ketiga belas, 1388 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Syrah Chehel Hadits. Teheran, Lembaga Pengaturan..., cetakan keempat, 1388 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Syrah Hadits Junud Aql va Jahl. Teheran, Lembaga Pengaturan..., cetakan kedua belas, 1387 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Syrah Du'a al-Sahar. Teheran, Lembaga Pengaturan..., cetakan keempat, 1386 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Ta'liqat 'ala Syarh Fushush al-Hikam va Mishbah al-Uns. Qom, Pasdar-e Islam, cetakan kedua, 1410 H.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Taqrirat Falsafah Imam Khomeini. Dikte dari Sayid Abdul Ghani Ardabili. Teheran, Lembaga Pengaturan..., cetakan kedua, 1385 HS.
  • Jandi, Muayyiduddin. Syarh Fushush al-Hikam. Peneliti: Sayid Jalaluddin Ashtiani. Qom, Bustan-e Ketab, cetakan kedua, 1423 H.
  • Kasyani, Abdurrazzaq. Latha'if al-A'lam fi Isyarat Ahl al-Ilham. Kairo, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, 1426 H.
  • Kasyani, Abdurrazzaq. Latha'if al-A'lam fi Isyarat Ahl al-Ilham. Koreksi: Majid Hadizadeh. Teheran, Miras-e Maktub, cetakan pertama, 1379 HS.
  • Kasyani, Abdurrazzaq. Syarh Manazil al-Sa'irin. Koreksi: Mohsen Bidarfar. Qom, Bidar, cetakan ketiga, 1385 HS.
  • Lahiji, Muhammad Asiri. Mafatih al-I'jaz fi Syarh Golsyan-e Raz. Koreksi: Aligholi Mahmoudi. Teheran, Ilm, cetakan kedua, 1381 HS.
  • Makarim Syirazi, Nasir. Irfan Islami: Syarh-e Jame' bar Shahifah Sajjadiyyah. Qom, Penerbit Imam Ali bin Abi Thalib as, 1395 HS.
  • Mulla Sadra, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyah al-Arba'ah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1981 M.
  • Nasafi, Azizuddin. Al-Insan al-Kamil. Koreksi: Marijan Mole. Teheran, Tahouri, cetakan kedelapan, 1386 HS.
  • Nasafi, Azizuddin. Kasyf al-Haqa'iq. Atas usaha Ahmad Mahdavi Damghani. Teheran, Ilmi va Farhangi, cetakan keempat, 1386 HS.
  • Nasafi, Azizuddin. Zubdah al-Haqa'iq. Koreksi: Haqqverdi Nasiri. Teheran, Tahouri, cetakan kedua, 1381 HS.
  • Qaisari, Dawud bin Mahmoud. Rasa'il Qaisari. Koreksi: Sayid Jalaluddin Ashtiani. Teheran, Lembaga Hikmah dan Filsafat Iran, cetakan kedua, 1381 HS.
  • Qumsyei, Muhammad Reza. Majmu'ah Atsar Aqa Muhammad Reza Qumsyei, Hakim Shahba. Peneliti: Hamed Naji Isfahani dan Khalil Bahrami. Isfahan, Kanun Pazhouhesy, cetakan pertama, 1378 HS.
  • Qunawi, Sadruddin. Al-Nushush. Koreksi: Sayid Jalaluddin Ashtiani. Teheran, Markaz-e Nasyr-e Danesy-gahi, cetakan pertama, 1371 HS.
  • Rezaei Tehrani, Ali. Sir dan Suluk: Tharhi Nou dar Irfan-e Amali-ye Syi'i. Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, 1392 HS.
  • Sarhindi, Ahmad al-Faruqi. Al-Maktubat. Kairo, Maktabah al-Nail, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Tahanawi, Muhammad Ali. Mausu'ah Kasysyaf Ishthilahat al-Funun va al-Ulum. Peneliti: Ali Dahrouj. Lebanon, Nasyirun, cetakan pertama, 1996 M.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan. Cetakan kelima. Qom, Maktabah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Risalah Lubb al-Lubab. Masyhad, Universitas Masyhad, 1429 H.
  • Thabathaba'i Sotoudeh, Sayid Ahmad. Gohar-e Din va Vahdat-e Adyan-e Asemani az Manzhar-e Allamah Thabathaba'i, Ma'rifat, tahun 24, no. 211, 1394 HS.
  • Yazdanpanah, Sayid Yadullah. Mabani va Ushul-e Irfan-e Nazhari. Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, cetakan pertama, 1388 HS.

Templat:Irfan Islam