Lompat ke isi

Konsep:Sebab Efisien

Dari wikishia

Sebab Efisien (bahasa Arab: العلة الفاعلة) adalah salah satu dari empat sebab (selain Sebab Final, sebab material, dan sebab formal) yang darinya sebuah akibat (ma'lul) muncul. Makna yang dikemukakan Aristoteles tentang sebab efisien hanya mencakup faktor perubahan dan gerak, namun para filsuf Muslim menganggap sebab efisien yang hakiki adalah sebab pemberi eksistensi (hasti-bakhsh) dan mengistilahkan faktor dalam perubahan dan gerak sebagai sebab preparator (mual atau pembuka jalan). Konsep sebab efisien berkaitan erat dengan keyakinan agama seperti penciptaan Tuhan, Tauhid Af'ali, jabr wa ikhtiyar, dan keyakinan Syiah tentang wilayah takwini para Imam(as).

Para filsuf Muslim telah memberikan pembagian untuk sebab efisien di mana agen (fa'il) dibagi menjadi berbagai jenis berdasarkan pengetahuan dan kehendak agen tersebut serta kemandiriannya dalam agensitasnya. Jika sebab efisien tidak mandiri dan berada dalam rangkaian longitudinal sebab efisien lainnya, maka disebut sebagai Fa'il bi al-Taskhir (agen penundukan), yang menurut pandangan para filsuf, semua agen selain Tuhan termasuk dalam kategori ini. Tauhid Af'ali merupakan salah satu konsekuensi dari pembagian ini.

Kedudukan dan Urgensi

Masalah tertua dalam filsafat dianggap sebagai masalah sebab dan akibat.[1] Kausalitas berarti ketergantungan eksistensial akibat kepada sebab.[2] Sebab dibagi menjadi empat jenis:

  • Sebab Efisien: Pencipta akibat.
  • Sebab Final: Motivasi dan faktor yang menyebabkan agen menciptakan akibat.
  • Sebab Material: Materi dan sesuatu di mana agen menciptakan akibat di dalamnya.
  • Sebab Formal: Aktualitas yang membentuk materi tersebut. Sebab material dan sebab formal terdapat pada akibat-akibat yang bersifat material.[3]

Di antara empat sebab tersebut, sebab efisienlah yang keberadaan akibat bergantung kepadanya.[4] Perenungan mendalam para filsuf Muslim dalam memaparkan dan membagi sebab efisien menyebabkan jenis agensitas Tuhan terhadap keberadaan dan Tauhid Af'ali mendapatkan penjelasan yang lebih akurat.[5]

Definisi dan Sejarah

Para filsuf Muslim memiliki ungkapan yang berbeda dalam mendefinisikan sebab efisien; Muhammad Taqi Misbah Yazdi menyebutnya sebagai wujud yang darinya wujud lain —yang disebut akibat— muncul.[6] Murtadha Muthahhari menganggap sebab efisien sebagai sesuatu yang keberadaan akibat disebabkan olehnya.[7]

Dengan pembedaan antara wujud (eksistensi) dan esensi (mahiyah) yang terbentuk dalam filsafat Islam, agensitas yang hakiki dianggap sebagai pemberi wujud, yang karena alasan tertentu tidak dapat ditemukan di antara benda-benda material.[8] Dengan demikian, sebab efisien dalam filsafat Islam adalah agen pemberi eksistensi, bukan hanya sebab perubahan dan gerak.[9] Agen pemberi eksistensi disebut sebagai agen pencipta (fa'il ijadi) dan agen gerak serta perubahan disebut sebagai agen alami (fa'il thabi'i).[10] Sebab efisien memiliki makna umum dan khusus, di mana makna umumnya juga mencakup agen-agen alami.[11] Berdasarkan hal ini, dalam pandangan material, agen berarti pengaruh dalam perubahan suatu wujud, dan dalam pandangan filosofis berarti pengaruh dalam keberadaan atau pemberi eksistensi.[12] Agen-agen alami, karena keberadaan akibat tidak bergantung secara eksistensial kepada mereka, disebut juga sebagai sebab preparator (mu'idd) atau pembuka jalan.[13] Sebab preparator pada hakikatnya tidak berpengaruh pada eksistensi akibat, melainkan pengaruhnya adalah karena akibat dapat muncul setelah keberadaannya.[14] Misalnya, seseorang yang melempar batu ke arah kaca adalah sebab preparator bagi pecahnya kaca.[15]

Aristoteles menganggap dirinya sebagai orang pertama yang secara luas meneliti jenis-jenis sebab.[16] Dari pandangannya, sikap-sikap sebelumnya terhadap kausalitas bersifat kurang lengkap dan terbatas.[17] Penelitian luas mengenai sebab efisien juga termasuk di antara pekerjaan yang dilakukan Aristoteles dan belum pernah ada sebelumnya.[18] Berbeda dengan para filsuf Muslim yang menyebut sebab efisien sebagai pencipta pemberi eksistensi, Aristoteles menganggapnya sebagai agen gerak.[19] Ia meringkas agensitas Tuhan pada sifat Tuhan sebagai penggerak.[20] Pandangan ini dianggap bertentangan dengan ajaran wahyu dan argumen rasional.[21]

Pembagian Sebab Efisien

Pembagian dari Segi Pengetahuan dan Kehendak Agen

Dalam pembagian ini, klasifikasi dilakukan dengan memperhatikan pengetahuan dan kehendak agen terhadap perbuatannya.[22]

1. Agen tidak memiliki pengetahuan dan kesadaran terhadap perbuatannya, yang dapat dibayangkan dalam dua bentuk:

  • Fa'il bi al-Thab' (Agen Alami): Perbuatannya sesuai dengan wataknya, seperti kekuatan fisik jiwa dalam kondisi normal.[23]
  • Fa'il bi al-Qasr (Agen Paksaan): Perbuatannya tidak sesuai dengan kodratnya, seperti kekuatan fisik jiwa dalam kondisi sakit.[24]

2. Agen memiliki pengetahuan dan kesadaran terhadap perbuatannya, yang memiliki dua keadaan:

  • Fa'il bi al-Jabr (Agen Terpaksa): Perbuatannya bukan atas kehendak dan keinginannya, seperti manusia yang dipaksa melakukan suatu pekerjaan.[25]
  • Fa'il Mukhtar (Agen Bebas): Perbuatan agen didasarkan pada kehendaknya. Dalam hal ini, dua asumsi dapat dibuat:[26]
    • Fa'il bi al-Ridha (Agen Keridaan): Pengetahuan agen terhadap perbuatan adalah identik dengan perbuatan itu sendiri dan tidak terpisah darinya, dan agen sebelum melakukan perbuatan hanya memiliki pengetahuan global (ijmali) terhadapnya. Seperti manusia yang mengkhayalkan sesuatu; sebelum khayalan ini, ia tidak memiliki pengetahuan tentang semua detail yang ingin ia khayalkan, dan pengetahuan rincinya (tafshili) terhadap perbuatan ini adalah khayalan itu sendiri.[27]
    • Atau ia memiliki pengetahuan rinci terhadap perbuatan sebelum melakukannya, dan dalam hal itu:
      • Fa'il bi al-Qasdh (Agen Kesengajaan): Agen memiliki motivasi di luar zatnya sendiri, seperti kebanyakan perbuatan ikhtiari manusia.[28]
      • Atau tidak ada motivasi tambahan pada zatnya, di mana dalam kondisi ini:
        • Fa'il bi al-'Inayah (Agen Inayah): Pengetahuan rinci agen sebelum perbuatannya merupakan tambahan atas zatnya dan pengetahuan itu sendiri menjadi sumber keluarnya perbuatan dari agen.[29] Seperti manusia yang berada di tepian yang sempit dan tinggi; begitu ia membayangkan jatuh, maka ia jatuh ke tanah.[30]
        • Fa'il bi al-Tajalli (Agen Manifestasi): Pengetahuan rinci agen sebelum perbuatannya adalah identik dengan pengetahuan globalnya yang dimiliki agen terhadap zatnya sendiri, dan bukan pengetahuan tambahan atas pengetahuan terhadap zat.[31] Seperti jiwa manusia yang abstrak; ketika memiliki pengetahuan hudhuri terhadap dirinya sendiri, ia memiliki pengetahuan terhadap semua kekuatan dan kesempurnaan dirinya.[32]

Pembagian dari Segi Kemandirian atau Ketidakmandirian Agen dalam Agensitas

Terkadang seorang agen melakukan suatu perbuatan melalui wujud lain, dalam hal ini dua agen berada dalam rangkaian longitudinal satu sama lain.[33] Para filsuf Muslim menyebut jenis agensitas ini sebagai "Agensitas bi al-Taskhir" (Agensitas Penundukan), yang dapat digabungkan dengan berbagai jenis agensitas lainnya.[34] Pada hakikatnya, dalam agensitas penundukan, agen itu sendiri adalah perbuatan dari yang lain, dan dirinya serta perbuatannya dinisbatkan kepada agen tersebut.[35] Misalnya, pencernaan makanan dilakukan oleh kekuatan fisik, namun kekuatan ini berada di bawah kendali dan pengelolaan jiwa.[36] Perbuatan ini disebut perbuatan penundukan (fi'l taskhiri) dan kekuatan fisik disebut sebagai agen penundukan (fa'il bi al-taskhir).[37]

Dalam Filsafat Islam, Tuhan dianggap sebagai satu-satunya agen mandiri dalam eksistensi dan semua agen lainnya adalah agen penundukan.[38] Dalam hal ini, setiap perbuatan di dunia adalah perbuatan Tuhan dan semua makhluk dalam perbuatan mereka bergantung pada perbuatan Tuhan dan kehendak-Nya, di mana hal ini disebut sebagai Tauhid Af'ali.[39] Dalam perkataan para filsuf, kalimat "La Mu'atstshira fil Wujud illallah" (Tiada pemberi pengaruh dalam eksistensi kecuali Allah) merujuk pada poin ini.[40]

Misbah Yazdi meyakini bahwa dengan penjelasan yang lebih baik mengenai manusia sebagai agen penundukan dalam Hikmah Muta'aliyah, nisbah perbuatan ikhtiari manusia kepada dirinya sendiri dan kepada Allah swt mendapatkan interpretasi filosofis yang lebih kokoh.[41] Beberapa peneliti berdasarkan penjelasan ini merumuskan kedudukan wilayah takwini Ahlulbait(as) sebagai sebab efisien bagi para makhluk.[42]

Catatan Kaki

  1. Muthahhari, Majmu'eh Asar-e Ostad Syahid Motahhari, 1384 HS, jil. 5, hlm. 176.
  2. Muthahhari, Majmu'eh Asar-e Ostad Syahid Motahhari, 1384 HS, jil. 5, hlm. 176.
  3. Misbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafeh, 1398 HS, jil. 2, hlm. 115.
  4. Muthahhari, Majmu'eh Asar-e Ostad Syahid Motahhari, 1384 HS, jil. 5, hlm. 402.
  5. Misbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafeh, 1398 HS, jil. 2, hlm. 116-117.
  6. Misbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafeh, 1398 HS, jil. 2, hlm. 115.
  7. Muthahhari, Majmu'eh Asar-e Ostad Syahid Motahhari, 1384 HS, jil. 5, hlm. 402.
  8. Kabir dan Hujjat-khwah, "Fa'iliyate Ijadi az Didgahe Mulla Sadra va Ibn Sina", hlm. 4.
  9. Kabir dan Hujjat-khwah, "Fa'iliyate Ijadi az Didgahe Mulla Sadra va Ibn Sina", hlm. 4.
  10. Rezaei, "Moqayeseh-ye Fa'il-e Hasti-bakhsh va Fa'il-e Thabi'i dar Andisheh-ye Sadralmuta'allihin", hlm. 95.
  11. Misbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafeh, 1398 HS, jil. 2, hlm. 115.
  12. Shadruddin Syirazi, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jil. 3, hlm. 457; Shadruddin Syirazi, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jil. 2, hlm. 167.
  13. Rezaei, "Moqayeseh-ye Fa'il-e Hasti-bakhsh va Fa'il-e Thabi'i dar Andisheh-ye Sadralmuta'allihin", hlm. 95.
  14. Ubudiyyat, Misbah, Khodasyinasi, 1399 HS, hlm. 87.
  15. Ubudiyyat, Misbah, Khodasyinasi, 1399 HS, hlm. 83.
  16. Aristoteles, Metafisika, terjemahan Muhammad Hasan Luthfi, 1385 HS, hlm. 68.
  17. Aristoteles, Metafisika, terjemahan Muhammad Hasan Luthfi, 1385 HS, hlm. 47.
  18. Kabir dan Hujjat-khwah, "Fa'iliyate Ijadi az Didgahe Mulla Sadra va Ibn Sina", hlm. 3.
  19. Aristoteles, Metafisika, terjemahan Muhammad Hasan Luthfi, 1385 HS, hlm. 29; Kabir dan Hujjat-khwah, "Fa'iliyate Ijadi az Didgahe Mulla Sadra va Ibn Sina", hlm. 4.
  20. Kabir dan Hujjat-khwah, "Fa'iliyate Ijadi az Didgahe Mulla Sadra va Ibn Sina", hlm. 3.
  21. Bahar-nezhad, "Khoda dar Andisheh-ye Arastoo", hlm. 145.
  22. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172.
  23. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172.
  24. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172.
  25. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172.
  26. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172.
  27. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172-173.
  28. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172-173.
  29. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172-173.
  30. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172-173.
  31. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172-173.
  32. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172-173.
  33. Misbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafeh, 1398 HS, jil. 2, hlm. 117.
  34. Misbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafeh, 1398 HS, jil. 2, hlm. 117.
  35. Tabataba'i, Nihayah al-Hikmah, 1416 H, hlm. 172.
  36. Misbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafeh, 1398 HS, jil. 2, hlm. 117.
  37. Misbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafeh, 1398 HS, jil. 2, hlm. 117.
  38. Kabir dan Hujjat-khwah, "Fa'iliyate Ijadi az Didgahe Mulla Sadra va Ibn Sina", hlm. 11.
  39. Muthahhari, Majmu'eh Asar, 1377 HS, jil. 2, hlm. 103.
  40. Shadruddin Syirazi, Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah, 1368 HS, jil. 6, hlm. 387.
  41. Misbah Yazdi, Amuzesh-e Falsafeh, 1398 HS, jil. 2, hlm. 117.
  42. Rabbani Golpayegani, "Naqsye Fa'ili-ye Emam dar Nezham-e Afarinesy", hlm. 7-30.

Daftar Pustaka

  • Aristoteles. Metafisika. Terjemahan: Muhammad Hasan Luthfi. Tehran, Tharhe Now, 1385 HS.
  • Azizkhani, Ali dkk. "Mizane Hamkhwani-ye Aray-e Ahle Sonnat dar Bareh-ye Fa'iliyate Ensan ba Mas'aleh-ye Amre Baina al-Amrain". Jurnal Tahqiqat-e Kalami, Tahun 6, Nomor 26, No. 21, September 2018.
  • Bahar-nezhad, Zakaria. "Khoda dar Andisyeh-ye Arastoo" (Tuhan dalam Pemikiran Aristoteles). Jurnal Ayeneh Ma'refat, Nomor 1, Musim Dingin 1382 HS.
  • Kabir, Yahya dan Husain Hujjat-khwah. "Fa'iliyate Ijadi az Didgahe Mulla Sadra va Ibn Sina" (Agensitas Penciptaan dari Sudut Pandang Mulla Sadra dan Ibnu Sina). 1393 HS.
  • Misbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzesh-e Falsafeh (Pembelajaran Filsafat). Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, 1398 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Asar-e Ostad Syahid Motahhari (Kumpulan Karya Guru Syahid Muthahhari). Jil. 2. Tehran, Sadra, 1377 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Asar-e Ostad Syahid Motahhari (Kumpulan Karya Guru Syahid Muthahhari). Jil. 5. Tehran, Sadra, 1384 HS.
  • Rabbani Golpayegani, Ali. "Naqsye Fa'ili-ye Emam dar Nezham-e Afarinesy" (Peran Agensitas Imam dalam Sistem Penciptaan). Jurnal Enthezar-e Mow'ud, Nomor 29, Agustus 2009.
  • Rezaei, Morteza. "Moqayeseh-ye Fa'il-e Hasti-bakhsh va Fa'il-e Thabi'i dar Andisheh-ye Sadralmuta'allihin" (Perbandingan antara Agen Pemberi Eksistensi dan Agen Alami dalam Pemikiran Sadr al-Muta'allihin). Jurnal Hikmat Islami, Nomor 1, No. 24, Juni 2020.
  • Sepahvand, Azar dkk. "Nahve-ye Fa'iliyate Khodavand dar Alam az Nazar-e Ibn Sina". Jurnal Ayeneh Ma'refat, Tahun 20, Nomor 4, No. 65, Maret 2021.
  • Shadruddin Syirazi, Muhammad bin Ibrahim (Mulla Sadra). Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah. Tanpa Kota, Maktabah al-Mushthafawi, 1368 HS.
  • Shadruddin Syirazi, Muhammad bin Ibrahim (Mulla Sadra). Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Bidar, 1366 HS.
  • Tabataba'i, Sayid Muhammad Husain. Nihayah al-Hikmah. Qom, Jama'ah al-Mudarrisin fi al-Hauzah al-Ilmiyyah bi Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1416 H.
  • Tabataba'i, Sayid Muhammad Husain. Ushul-e Falsafeh va Ravesy-e Realism (Prinsip-prinsip Filsafat dan Metode Realisme). Catatan: Murtadha Muthahhari. Tehran, Sadra, 1368 HS.