Lompat ke isi

Konsep:Sariyyah Abdullah bin Jahsy

Dari wikishia

Templat:Kotak info perang Sariyyah Abdullah bin Jahsy yang juga dikenal dengan nama Sariyyah Nakhlah, terjadi pada tahun kedua Hijriah di bawah komando Abdullah bin Jahsy. Pada bulan Rajab atau Jumadil Akhir tahun tersebut, Nabi Muhammad saw mengutus Abdullah bersama sekelompok sahabatnya ke wilayah Nakhlah untuk mengumpulkan informasi mengenai kaum Quraisy. Beliau memberikan sebuah surat kepadanya dan memerintahkan agar surat itu baru dibuka setelah dua hari perjalanan agar musuh tidak mengetahui isinya. Dalam instruksinya, Nabi memerintahkan Abdullah untuk pergi ke Nakhlah, mengawasi pergerakan kaum Quraisy, mengumpulkan berita tentang mereka, dan melaporkannya kepada Nabi.

Di Nakhlah, Abdullah dan para sahabatnya berpapasan dengan sebuah kafilah Quraisy. Meskipun saat itu adalah bulan Rajab, mereka memutuskan untuk menyerang, yang mengakibatkan salah seorang kaum musyrik tewas, dua orang menjadi tawanan, dan harta benda mereka diambil sebagai rampasan perang. Beberapa sejarawan menganggap peristiwa ini sebagai rampasan perang, kematian, dan penawanan pertama dalam Islam. Mayoritas sejarawan mencatat bentrokan ini terjadi pada bulan Rajab, namun sebagian menempatkannya di awal atau di akhir bulan tersebut.

Menurut para sejarawan, ketika Abdullah dan para sahabatnya kembali menemui Nabi saw, beliau menegaskan bahwa beliau tidak memerintahkan peperangan di bulan haram, sehingga beliau menolak untuk menerima bagian dari rampasan tersebut. Setelah kaum Muslim bertanya-tanya mengenai hukum berperang di bulan haram, turunlah Ayat 217 Surah Al-Baqarah yang menyatakan bahwa berperang di bulan haram adalah dosa besar, namun perbuatan kufur dan pengusiran kaum Muslim dari Makkah adalah dosa yang lebih besar lagi. Setelah turunnya ayat ini, Nabi saw menerima rampasan tersebut dan membebaskan kedua tawanan dengan imbalan fidyah.

Pengiriman Abdullah dan Sahabatnya

Sariyyah Abdullah bin Jahsy terjadi pada bulan Rajab[1] atau Jumadil Akhir[2] tahun kedua setelah Hijrah.[3] Nabi Islam mengutus beberapa orang di bawah komando Abdullah bin Jahsy untuk menjalankan sebuah misi.[4]

Buku-buku sejarah mencatat jumlah sahabat Abdullah sebanyak delapan orang[5] atau sebelas orang,[6] yang mana semuanya berasal dari kalangan Muhajirin.[7] Sariyyah ini juga disebut dengan Sariyyah Nakhlah.[8]

Nabi memberikan instruksinya dalam sebuah surat kepada Abdullah saat pengiriman tersebut dan memerintahkannya untuk berangkat bersama rombongannya dan baru membuka surat itu setelah dua hari.[9] Para peneliti memberikan kemungkinan bahwa perintah untuk membuka surat setelah dua hari bertujuan agar musuh tidak mengetahui isi surat tersebut.[10]

Setelah dua hari, Abdullah dan para sahabatnya membaca surat tersebut. Sesuai perintah Nabi, dikarenakan adanya bahaya, Abdullah memberikan pilihan kepada anak buahnya untuk tidak ikut serta dalam misi dan kembali pulang; namun mereka semua tetap ikut dalam misi tersebut dan tidak ada satu pun yang kembali.[11]

Berdasarkan sumber-sejarah, Nabi memerintahkan Abdullah dan para sahabatnya untuk pergi ke daerah Nakhlah Templat:Catatan. Di sana mereka harus mengawasi kaum Quraisy, mengumpulkan berita tentang mereka, dan menyampaikannya kepada Nabi.[12]

Perang di Bulan Haram

Di wilayah Nakhlah, Abdullah dan para sahabatnya berpapasan dengan sebuah kafilah kecil Quraisy yang membawa harta benda milik Quraisy.[13] Terjadi perbedaan pendapat di antara anak buah Abdullah mengenai apakah akan menyerang kafilah tersebut atau tidak; sebab serangan ini terjadi pada bulan haram dan jika mereka menunggu hingga bulan haram berakhir, mereka akan kehilangan akses ke kafilah tersebut.[14]

Pada akhirnya diputuskan untuk melakukan serangan. Dalam serangan ini, salah seorang kaum musyrik tewas,[15] dua orang tertawan, dan harta benda mereka diambil sebagai rampasan.[16] Beberapa sejarawan meyakini bahwa rampasan ini adalah rampasan pertama dalam Islam, korban tewas tersebut adalah orang pertama yang dibunuh oleh Muslim, dan kedua tawanan itu adalah tawanan pertama di tangan Muslim.[17]

Kebanyakan sejarawan mencatat serangan dan bentrokan ini terjadi pada bulan Rajab yang merupakan bulan haram.[18] Sebagian meyakini peristiwa ini terjadi di awal bulan Rajab[19] dan sebagian lagi meyakini terjadi pada hari terakhir bulan Rajab.[20] Tentu saja, sebagian pihak menganggap peristiwa ini terjadi di luar bulan haram.[21]

Kekecewaan Nabi dan Turunnya Ayat Al-Qur'an

Termasuk tradisi Arab pra-Islam adalah menghormati empat bulan: Rajab, Dzulkaidah, Dzulhijjah, dan Muharam, di mana pada bulan-bulan ini mereka tidak melakukan peperangan maupun pembunuhan.[22] Islam pun mengonfirmasi tradisi ini.[23]

Bentrokan antara Abdullah beserta anak buahnya dengan kaum musyrik Makkah di bulan haram mengundang protes dan ejekan dari kaum musyrik.[24] Kaum musyrik berkata bahwa Muhammad saw mengira dirinya patuh kepada Allah, padahal dialah orang pertama yang tidak menjaga kehormatan bulan haram dan telah membunuh orang dari kalangan kami.[25] Tentu saja, kaum Muslim yang masih berada di Makkah menjawab kaum musyrik dengan menyatakan bahwa bentrokan tersebut terjadi pada bulan Syakban.[26]

Ketika Abdullah dan para sahabatnya membawa dua tawanan dan harta rampasan kepada Nabi saw, Nabi bersabda kepada mereka bahwa demi Allah, aku tidak memerintahkan berperang di bulan haram. Nabi tidak mempedulikan harta rampasan serta tawanan tersebut dan tidak mengambil apa pun.[27]

Kaum Muslim bertanya kepada Nabi apakah berperang di bulan haram itu halal? Allah lalu menurunkan Ayat 217 Surah Al-Baqarah.[28] Allah dalam ayat ini menyebut berperang di bulan haram sebagai dosa besar; namun demikian, Dia menyatakan bahwa kufur kepada Allah dan pengusiran kaum Muslim dari Makkah adalah dosa yang lebih besar, dan Fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan.[29] Setelah turunnya ayat ini, Nabi menerima harta rampasan tersebut dan membebaskan kedua tawanan dengan menerima fidyah.[30]

Catatan Kaki

  1. Ibnu Jauzi, Al-Muntazham, 1412 H, jld. 3, hlm. 91.
  2. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 2, hlm. 113.
  3. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 412.
  4. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 2, hlm. 113.
  5. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 3, hlm. 249.
  6. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1385 H, jld. 2, hlm. 113.
  7. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 3, hlm. 249.
  8. Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 13.
  9. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 1, hlm. 601.
  10. Murtadha Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1385 HS, jld. 5, hlm. 227.
  11. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 3, hlm. 249.
  12. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 1, hlm. 602; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 3, hlm. 249.
  13. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 411.
  14. Baihaqi, Dala'il al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 3, hlm. 17.
  15. Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 1, hlm. 43.
  16. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 412.
  17. Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, Port Said, jld. 4, hlm. 183.
  18. Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 1, hlm. 43.
  19. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 3, hlm. 251.
  20. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 411.
  21. Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 1, hlm. 43.
  22. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 1, hlm. 341.
  23. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hlm. 31.
  24. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 414.
  25. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 3, hlm. 251.
  26. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 1, hlm. 604.
  27. Baihaqi, Dala'il al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 3, hlm. 19.
  28. Wahidi, Asbab Nuzul al-Qur'an, 1411 H, hlm. 70.
  29. Surah Al-Baqarah, ayat 217.
  30. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 1, hlm. 604.

Catatan

Daftar Pustaka

  • Baihaqi, Ahmad bin Husain. Dala'il al-Nubuwwah. Riset: Abdul Mu'thi Qal'aji. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cetakan Pertama, 1405 H.
  • Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashhab. Riset: Ali Muhammad al-Bijjawi. Beirut, Dar al-Jil, Cetakan Pertama, 1412 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Asad al-Ghabah fi Ma'rifah al-Shahabah. Beirut, Dar al-Fikr, 1409 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut, Dar Sadir, 1385 H.
  • Ibnu Hisyam, Abdul Malik. Al-Sirah al-Nabawiyyah. Riset: Ibrahim Syalabi, Abdul Hafizh. Beirut, Dar al-Ma'rifah, Cetakan Pertama, Tanpa Tahun.
  • Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Al-Muntazham. Riset: Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cetakan Pertama, 1412 H.
  • Ibnu Katsir Dimasyqi, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Sa'ad. Al-Thabaqat al-Kubra. Riset: Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1410 H.
  • Maqdisi, Mutahhar bin Thahir. Al-Bad' wa al-Tarikh. Port Said, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, Tanpa Tahun.
  • Maqrizi, Taqiuddin. Imta' al-Asma'. Riset: Muhammad Abdul Hamid Namisi. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cetakan Pertama, 1420 H.
  • Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Murtadha Amili, Ja'far. Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham. Qom, Dar al-Hadits, 1385 HS.
  • Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Darshaye az Quran, 1383 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Thabari. Riset: Muhammad Abul Fadhl, Ibrahim. Beirut, Dar al-Turats, Cetakan Kedua, 1387 H.
  • Wahidi Nisyaburi, Ali bin Ahmad. Asbab al-Nuzul. Beirut, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1411 H.
  • Waqidi. Al-Maghazi. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1409 H.

Templat:Sariyyah-Sariyyah Nabi saw```