Konsep:Pemerintahan Bani Hammud
| Nama Lain | Bani Hammud, Alu Hammud |
|---|---|
| Pendiri | Ali bin Hammud |
| Tahun Berdiri | 407/1016-17 |
| Wilayah Geografis | Andalusia |
| Mazhab | Syiah Zaidiyah |
| Ciri Khas | Pemerintahan Syiah pertama di Andalusia |
| Bentuk Pemerintahan | Lokal |
| Ibu Kota | Kordoba dan Malaga |
| Penyebab Runtuh | Serangan penguasa tetangga |
| Penguasa Terkenal | Ali bin Hammud, Qasim bin Hammud |
Pemerintahan Bani Hammud adalah sebuah pemerintahan Syiah yang berkuasa di sebagian wilayah Andalusia pada paruh pertama abad ke-5/11. Dinasti Hammudiyah merupakan sisa-sisa dari Syiah Zaidiyah Alu Idris (Idrisiyyah) dan silsilah mereka sampai kepada Imam Hasan al-Mujtaba as. Ali bin Hammud, yang sebelumnya merupakan salah satu gubernur dinasti Umayyah di Andalusia, mendirikan dinasti Bani Hammud setelah menggulingkan pemerintahan Umayyah di sana. Pemerintahan Hammudiyah memecah suasana penindasan agama yang selama itu berlaku terhadap kaum Syiah, sehingga mempermudah penyebaran pemikiran Syiah. Dikatakan bahwa puisi merupakan sarana terpenting untuk dakwah Syiah pada periode ini. Ibnu Darraj al-Qasthalli dan 'Ubadah bin Ma' al-Sama' adalah di antara penyair periode ini yang menggubah syair-syair pujian untuk Ahlulbait as dan Syiah. Bani Hammud tidak terlalu ketat dalam menjalankan kesyiahan mereka dan juga tidak terlalu menampakkan kecenderungan Syiah mereka secara mencolok. Pemerintahan Hammudiyah runtuh akibat serangan rival-rival asing setelah berkuasa selama kurang lebih 40 tahun, yang pada beberapa periodenya disertai dengan konflik internal keluarga dalam memperebutkan kekuasaan.
Silsilah dan Mazhab Hammudiyah
Dinasti Hammudiyah dinamakan demikian karena didirikan oleh Ali bin Hammud. Mereka adalah kelompok sisa-sisa dari dinasti Idrisiyyah (penguasa Syiah di Maroko pada abad ke-2/8 dan ke-3/9) yang bermigrasi dari Maroko ke Andalusia karena kezaliman dan penyiksaan terhadap para penentang, dan secara bertahap berhasil memegang kekuasaan di sana pada paruh pertama abad ke-5/11.[1] Dikarenakan silsilah dinasti Idrisiyyah sampai kepada Imam Hasan al-Mujtaba as, maka Hammudiyah juga terhitung sebagai keturunan para Imam Syiah.[2] Ibnu Hazm mengategorikan mereka di bawah keturunan Imam Ali as[3] dan Ibnu Atsir menukil silsilah mereka sampai kepada Imam Ali as dengan menyebutkan 12 perantara.[4] Mereka diingat dengan sebutan seperti dinasti Hasani[5], Alawi[6] dan juga sebagai pemerintahan Hasyimi pertama di Andalusia.[7] Bani Hammud meyakini pemikiran-pemikiran Syiah, menganggap mengenal Imam sebagai hal yang Wajib, dan meyakini bahwa agama tidak akan sempurna tanpa Imamah. Mereka menganggap hanya para Imam yang seperti Imam Ali as yang layak menyandang gelar imamah dan menganggap orang lain sebagai perampas gelar tersebut.[8] Tentu saja dikatakan bahwa mereka tidak terlalu akrab dengan prinsip-prinsip akidah Syiah karena jauh dari pusat-pusat keilmuan dan ulama Syiah, serta tidak memiliki pemikiran kalam dan Fikih yang terorganisir.[9] Selain itu, mereka tidak terlalu ketat dalam kesyiahannya[10] dan tidak terlalu mengumumkan kecenderungan Syiah mereka secara publik.[11]
Syiah pada Masa Hammudiyah
Berdasarkan laporan-laporan sejarah, kaum Syiah yang telah berperan dalam pembentukan pemerintahan Islam di Andalusia berupaya menciptakan posisi bagi diri mereka sendiri dalam struktur kekuasaan.[12] Meskipun demikian, para penguasa Umayyah di Andalusia senantiasa menekan dan membungkam kaum Syiah serta para pendukung keluarga Abbasiyah.[13] Dengan berkuasanya Hammudiyah, atmosfer tertutup dan anti-Syiah yang berlaku pada masa Umayyah Andalusia menjadi pecah dan mempermudah penyebaran ide serta pemikiran Syiah. Namun tampaknya kondisi untuk meresmikan mazhab Syiah maupun dakwah secara bebas tidaklah tersedia.[14] Dikatakan bahwa puisi dan sastra merupakan satu-satunya alat yang digunakan untuk dakwah Syiah pada periode ini. Ibnu Darraj al-Qasthalli (958-1030 M) yang disebut sebagai salah satu tokoh berpengaruh dalam peningkatan puisi Arab adalah di antara penyair Syiah yang sering mengunjungi istana Hammudiyah. Ia memiliki qasidah-qasidah mengagumkan dalam membela Syiah dan Hammudiyah yang dikenal dengan sebutan Hasyimiyat. Ibnu Ma' al-Sama', Ibnu Hannath, dan Ibnu Muqana al-Asybuni juga termasuk penyair Syiah periode ini yang berhubungan dengan Hammudiyah.[15]
Pasang Surut Pemerintahan Hammudiyah
Ali bin Hammud yang memegang kekuasaan di Ceuta (sebuah kota pelabuhan di Maroko) atas nama khalifah Umayyah Andalusia,[16] pada tahun 407/1016-17 bersama para Berber dan penduduk pedalaman Afrika Utara menyerang Kordoba, menggulingkan pemerintahan Umayyah Andalusia, dan mendirikan pemerintahan Hammudiyah.[17] Ia digambarkan sebagai sosok yang teguh, kuat, adil, baik, dan dermawan,[18] dan dikatakan bahwa pada masanya cahaya keadilan mulai bersinar.[19]
Bani Hammud memegang kekuasaan selama 40 tahun meskipun terjadi perselisihan internal dan serangan dari musuh luar termasuk Umayyah.[20] Pada tahun 446/1054-55, ibu kota mereka diserang oleh penguasa Granada dan struktur kekhalifahan mereka pun runtuh.[21]
Khalifah-khalifah Hammudiyah
Sebelas orang dari keluarga Bani Hammud naik takhta dalam kurun waktu 40 tahun pemerintahan mereka.[22] Pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Hammudiyah, situasi menjadi sangat kacau sedemikian rupa sehingga di wilayah seluas 30 farsakh, terdapat empat khalifah dari keluarga ini yang memerintah.[23] Khalifah-khalifah Hammudiyah sesuai urutan masa kekhalifahannya adalah:[24]
- Ali bin Hammud
- Qasim bin Hammud: ditangkap oleh anak-anak saudaranya yang menganggap kekhalifahan adalah warisan mereka, ia dipenjara dan dibunuh di sana.
- Yahya bin Ali: ia digambarkan sebagai orang yang suka hura-hura dan mabuk-mabukan[25] serta masa pemerintahannya digambarkan sebagai masa yang penuh fitnah.[26]
- Idris bin Ali
- Muhammad bin Idris
- Yahya bin Idris
- Hasan bin Yahya bin Ali
- Idris bin Yahya bin Ali
- Muhammad al-Mahdi
- Idris al-Muwaffaq
- Muhammad al-Musta'li
Wilayah Kekuasaan Hammudiyah
Hammudiyah mengklaim kekuasaan atas Andalusia dan seluruh bagian Arab di Semenanjung Iberia.[27] Meskipun demikian, mereka tidak pernah berhasil memerintah seluruh Andalusia.[28] Wilayah mereka terbatas di selatan Spanyol dan Afrika Utara[29] yang mencakup daerah-halong seperti Ceuta,[30] Kordoba, Algeciras, Granada, dan Malaga.[31] Kordoba[32] dan Malaga[33] merupakan ibu kota pemerintahan Hammudiyah.
Catatan Kaki
- ↑ Jafarian, Atlas-e Syiah, 1387 HS, hal. 551-552.
- ↑ Inan, Tarikh-e Daulat-e Eslami dar Andalusia, tanpa tahun, jld. 1, hal. 653.
- ↑ Ibnu Hazm, Jamharah Ansab al-'Arab, tanpa tahun, hal. 50.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 9, hal. 269.
- ↑ Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, 1417 H, hal. 618.
- ↑ Ibnu al-Abbar, al-Hullah al-Siyara, 1985 M, jld. 2, hal. 18.
- ↑ Ibnu Idzari, al-Bayan al-Maghrib fi Akhbar al-Andalus wa al-Maghrib, 1400 H, jld. 3, hal. 119.
- ↑ Khedri, "Hammudiyan wa Tasyayyu' dar Andalusia", Musim Dingin 1388 HS, hal. 68-69.
- ↑ Khedri, "Hammudiyan wa Tasyayyu' dar Andalusia", Musim Dingin 1388 HS, hal. 73.
- ↑ Khedri, "Hammudiyan wa Tasyayyu' dar Andalusia", Musim Dingin 1388 HS, hal. 68-69.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 9, hal. 274.
- ↑ Khedri, "Hammudiyan wa Tasyayyu' dar Andalusia", hal. 63.
- ↑ Khedri, "Hammudiyan wa Tasyayyu' dar Andalusia", hal. 63.
- ↑ Khedri, "Hammudiyan wa Tasyayyu' dar Andalusia", hal. 63.
- ↑ Khedri, "Hammudiyan wa Tasyayyu' dar Andalusia", hal. 63.
- ↑ Ibnu Idzari, al-Bayan al-Maghrib fi Akhbar al-Andalus wa al-Maghrib, 1400 H, jld. 3, hal. 113.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 9, hal. 270-272; Inan, Tarikh-e Daulat-e Eslami dar Andalusia, tanpa tahun, jld. 1, hal. 653-656.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, 1385 H, jld. 9, hal. 273; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, tanpa tahun, jld. 12, hal. 5.
- ↑ Tilmitsani, Nafkh al-Thib min Ghushn al-Andalus al-Rathib, tanpa tahun, jld. 1, hal. 482.
- ↑ Hassan Ibrahim, Tarikh Siyasi al-Islam, tanpa tahun, jld. 3, hal. 536.
- ↑ Inan, Tarikh-e Daulat-e Eslami dar Andalusia, jld. 1, hal. 672-673.
- ↑ Inan, Tarikh-e Daulat-e Eslami dar Andalusia, jld. 1, hal. 672-673.
- ↑ Khedri, "Hammudiyan wa Tasyayyu' dar Andalusia", Musim Dingin 1388 HS, hal. 68.
- ↑ Inan, Tarikh-e Daulat-e Eslami dar Andalusia, tanpa tahun, jld. 1, hal. 656-658; Hassan, Tarikh Siyasi al-Islam, tanpa tahun, jld. 3, hal. 535.
- ↑ Inan, Tarikh-e Daulat-e Eslami dar Andalusia, tanpa tahun, jld. 1, hal. 667.
- ↑ Khedri, "Hammudiyan wa Tasyayyu' dar Andalusia", hal. 67.
- ↑ Dozy, Histoire des Musulmans d'Espagne, 1861 M, jld. 4, hal. 3.
- ↑ Jafarian, Atlas-e Syiah, 1387 HS, hal. 551-552.
- ↑ Inan, Tarikh-e Daulat-e Eslami dar Andalusia, tanpa tahun, jld. 1, hal. 673.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, 1385 H, jld. 9, hal. 274-275.
- ↑ Inan, Tarikh-e Daulat-e Eslami dar Andalusia, tanpa tahun, jld. 1, hal. 667.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 9, hal. 273.
- ↑ Jafarian, Atlas-e Syiah, 1387 HS, hal. 551-552.
Daftar Pustaka
- Ibnu al-Abbar, Muhammad bin Abdullah, al-Hullah al-Siyara, Kairo, Dar al-Ma'arif, Cetakan Kedua, 1985 M.
- Ibnu Atsir, Izzuddin, al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Beirut, Cetakan Pertama, 1385 H.
- Ibnu Idzari, Muhammad bin Muhammad, al-Bayan al-Maghrib fi Akhbar al-Andalus wa al-Maghrib, Beirut, Dar al-Tsaqafah, 1400 H.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, al-Bidayah wa al-Nihayah, koreksi: Khalil Syahadah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Tilmitsani, Nafkh al-Thib min Ghushn al-Andalus al-Rathib, Dar al-Fikr li al-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi', tanpa tahun.
- Jafarian, Rasul, Atlas-e Syiah, Teheran, Organisasi Geografi Angkatan Bersenjata, Cetakan Pertama, 1387 HS.
- Hassan, Hassan Ibrahim, Tarikh Siyasi al-Islam, terjemahan Abolqasem Payandeh, Teheran, Javidan, tanpa tahun.
- Khedri, Seyed Ahmad, "Hammudiyan wa Tasyayyu' dar Andalusia", dalam majalah Mothale'at-e Tarikh-e Eslam, Tahun Pertama, Nomor 3, Musim Dingin 1388 HS.
- Dozy, Reinhart, Histoire des Musulmans d'Espagne : jusqu'à la conquête de l'Andalousie par les Almoravides, tanpa penerbit, 1861 M.
- Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar, Tarikh al-Khulafa, Beirut, Dar Sadir, 1417 H.
- Inan, Muhammad Abdullah, Tarikh-e Daulat-e Eslami dar Andalusia, terjemahan Abdul Mohammad Ayati, Teheran, tanpa tahun.
- Marrakusyi, Abdul Wahid bin Ali, al-Mu'jib fi Talkhish Akhbar al-Maghrib, Leiden, Brill, tanpa tahun.
- Wali, Fadhil Fathi, al-Fitan wa al-Nakabat al-Khashah wa Atsaruha fi al-Syi'r al-Andalusi, Hail, Dar al-Andalus, tanpa tahun.