Lompat ke isi

Konsep:Pembunuhan Semi Sengaja

Dari wikishia

Pembunuhan semi-sengaja adalah suatu jenis pembunuhan di mana pelaku tidak bermaksud membunuh dan tindakan yang dilakukan biasanya juga tidak mematikan, namun pelaku dengan sengaja melakukan tindakan tersebut; seperti tindakan medis yang tanpa disengaja menyebabkan kematian pasien. Pembunuhan semi-sengaja merupakan kebalikan dari pembunuhan sengaja dan pembunuhan tidak sengaja, dimana pada jenis pertama, pelaku bermaksud membunuh, sedangkan pada jenis kedua, pelaku tidak bermaksud membunuh dan juga tidak dengan sengaja melakukan tindakan yang mengakibatkan kematian terhadap korban.

Menurut para ahli fikih, pembunuhan semi-sengaja tidak dikenakan kisas; namun pelaku harus membayar diyat penuh dan membayar kafarah. Kafarahnya adalah berpuasa selama dua bulan berturut-turut dan jika tidak memungkinkan, maka memberi makan kepada enam puluh orang miskin.

Hukum Pidana Islam Iran telah menyebutkan beberapa contoh dari pembunuhan semi-sengaja dan menganggap pembunuhan yang dilakukan atas dasar ketidaktahuan sebagai salah satu contoh dari pembunuhan semi-sengaja.

Kedudukan

Pembunuhan semi-sengaja adalah salah satu jenis pembunuhan.[1] Para ahli fikih membahas topik ini dalam bagian-bagian seperti kisas dan diyat serta menjelaskan hukum-hukum yang terkait dengannya.[2] Dalam beberapa sumber hadis juga terdapat bab dengan judul ini.[3] Dalam ayat 92 Surah An-Nisa' disebutkan tentang pembunuhan tidak sengaja dan kewajiban membayar diyat untuknya, dan para mufasir Al-Qur'an telah menerapkannya pada pembunuhan semi-sengaja.[4]

Konsep

Pembunuhan semi-sengaja adalah membunuh seorang manusia, tanpa si pelaku bermaksud membunuh dan perbuatan yang dilakukannya biasanya juga tidak mematikan, namun perbuatan itu dilakukannya dengan sengaja;[5] seperti tindakan medis yang tanpa disengaja menyebabkan kematian pasien[6] serta hukuman biasa terhadap anak yang tanpa disengaja menyebabkan kematiannya.[7] Dalam sumber-sumber fikih dan hukum, pembunuhan semi-sengaja dibagi sebagai kebalikan dari dua jenis, yaitu pembunuhan sengaja dan pembunuhan kesalahan murni atau pembunuhan tidak sengaja.[8]

Kriteria pembunuhan sengaja adalah bahwa perbuatan dan niat pelaku dalam membunuh adalah disengaja. Kriteria pembunuhan tidak sengaja adalah bahwa baik perbuatan maupun niat pelaku adalah karena kelalaian; seperti menembak seekor binatang dan peluru tersebut secara keliru mengenai seorang manusia.[9] Adapun kriteria pembunuhan semi-sengaja adalah bahwa perbuatan pelaku adalah disengaja, tetapi niatnya bukan untuk membunuh.[10]

Pembunuhan semi-sengaja terkadang menghadapi keambiguan dan penentuannya menjadi tempat perbedaan pendapat; karena ia merupakan gabungan dari dua jenis, yaitu sengaja dan kesalahan murni;[11] artinya, dari sisi pelaku memiliki niat untuk melakukan perbuatan, ia mirip dengan pembunuhan sengaja, dan dari sisi ia tidak berniat membunuh, ia mirip dengan kesalahan murni.[12] Misalnya, jika seseorang melukai orang lain yang hanya menyebabkan sakitnya orang tersebut, namun di kemudian hari sakit ini justru menyebabkan kematiannya, maka di antara para ahli fikih terdapat perbedaan pendapat apakah pembunuhan ini termasuk sengaja atau semi-sengaja.[13]

Hukum Pembunuhan Semi-Sengaja

Berdasarkan fatwa para ahli fikih, pembunuhan semi-sengaja tidak menyebabkan pelaku dikisas; melainkan ia harus membayar diyat.[14] Jangka waktu pembayaran diyat dalam pembunuhan semi-sengaja adalah dua tahun dan dibayar dari harta pelaku sendiri.[15] Dalam sumber-sumber fikih disebutkan bahwa terkadang kewajiban membayar diyat dapat gugur dengan ibra' dzimmah (pemilik diyat melepaskan haknya) dan juga dengan penghapusan tanggung jawab; misalnya, jika seorang dokter, sebelum mengobati pasien, tidak menerima tanggung jawab untuk membayar diyat apabila pasien meninggal, dan pasien atau walinya pun menyetujuinya, serta dokter tersebut tidak lalai dalam pengobatan namun pasien tetap meninggal, maka menurut pendapat yang masyhur, membayar diyat tidak wajib bagi dokter.[16]

Menurut para ahli fikih, dalam pembunuhan semi-sengaja, selain diyat, kafarah juga harus dibayar.[17] Menurut pendapat yang masyhur,[18] pembayaran kafarah adalah sebagai berikut: Memerdekakan seorang budak; jika tidak memungkinkan, maka berpuasa dua bulan berturut-turut; jika tidak satu pun dari ini yang mungkin, maka memberi makan enam puluh orang miskin.[19]

Pembunuhan Semi-Sengaja dalam Hukum Iran dan Beberapa Negara

Di Iran, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Umum yang disahkan pada tahun 1304 HS dan amendemennya pada tahun 1352 HS, menggambarkan jenis-jenis pembunuhan hanya sebagai pembunuhan sengaja dan pembunuhan tidak sengaja; namun dalam undang-undang pidana yang disahkan setelah Revolusi Islam tahun 1357 HS, seperti Undang-Undang Hukum Pidana Islam tahun 1370 HS dan Undang-Undang Diyat dan Hukum Pidana Islam tahun 1392 HS, jenis-jenis pembunuhan dijelaskan dalam tiga judul utama, yaitu pembunuhan sengaja, pembunuhan semi-sengaja, dan pembunuhan kesalahan murni.[20]

Pasal 291 Undang-Undang Hukum Pidana Islam, menyebutkan contoh-contoh pembunuhan semi-sengaja dan menganggap pembunuhan yang dilakukan atas dasar ketidaktahuan sebagai salah satu contoh pembunuhan semi-sengaja; misalnya, seorang pemburu menembak seorang manusia karena mengiranya sebagai binatang buruan sehingga membunuhnya.[21] Dalam beberapa sistem hukum non-Islam seperti Prancis, pembunuhan hanya dibagi menjadi sengaja dan tidak sengaja, dan tidak disebutkan tentang pembunuhan semi-sengaja.[22]

Catatan Kaki

  1. Quthbuddin Rawandi, Fiqh al-Qur'an, 1405 H, jil. 2, hlm. 414.
  2. Sebagai contoh lihat: Al-Muhaqqiq al-Hilli, Syarayi' al-Islam, 1408 H, jil. 4, hlm. 228; Al-Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 H, jil. 42, hlm. 7; Sabzawari, Muhadzdzab al-Ahkam, 1413 H, jil. 29, hlm. 62.
  3. Al-Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jil. 7, hlm. 278; Al-Hurr al-'Amili, Wasail al-Syi'ah, 1409 H, jil. 29, hlm. 35.
  4. Sebagai contoh lihat: Thabari, Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1412 H, jil. 5, hlm. 136; Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jil. 10, hlm. 176-177; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jil. 4, hlm. 71.
  5. Gerji, Ayat al-Ahkam al-Huquqi wa al-Jaza'i, 1385 HS, hlm. 45.
  6. Al-Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 H, jil. 43, hlm. 46-47; Al-Muntazhiri, Ahkam-e Pezeshki, 1427 H, hlm. 51; Al-Fadhil al-Lankarani, Ahkam-e Pezeshkan va Bimarân, 1427 H, hlm. 187.
  7. Gerji, Ayat al-Ahkam al-Huquqi wa al-Jaza'i, 1385 HS, hlm. 45.
  8. Quthbuddin al-Rawandi, Fiqh al-Qur'an, 1405 H, jil. 2, hlm. 414; "Pasal 289 Hukum Pidana Islam", Pusat Penelitian Majelis Syura Islami; Ahmadi Nezhad, "Bunuhlah Pembunuhan Sengaja dalam Hukum Iran dan Fikih Imamiah", hlm. 101 dan 102.
  9. Al-Muhaqqiq al-Hilli, Syarayi' al-Islam, 1408 H, jil. 4, hlm. 228.
  10. Al-Muhaqqiq al-Hilli, Syarayi' al-Islam, 1408 H, jil. 4, hlm. 228.
  11. Hatami dan lainnya, "Diagnosis Pembunuhan Semi Sengaja dalam Fikih Imamiah dan Sistem Hukum Iran dan Prancis", hlm. 115.
  12. Malmir dan lainnya, "Kriteria Pembunuhan Semi Sengaja dalam Fikih Imamiah dan Hukum Positif Iran", hlm. 56.
  13. Muassah Dairatul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jil. 6, hlm. 492.
  14. Al-Hilli, Tahrir al-Ahkam asy-Syar'iyyah, 1420 H, jil. 5, hlm. 527; Quthbuddin ar-Rawandi, Fiqh al-Qur'an, 1405 H, jil. 2, hlm. 415.
  15. Al-Muhaqqiq al-Hilli, Syarayi' al-Islam, 1408 H, jil. 4, hlm. 229; Asy-Syahid ats-Tsani, Ar-Raudhah al-Bahiyyah, Majma' al-Fikr al-Islami, jil. 4, hlm. 488; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Dar al-'Ilm, jil. 2, hlm. 556-557.
  16. An-Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 H, jil. 43, hlm. 46-47; Al-Muntazhiri, Ahkam-e Pezeshki, 1427 H, hlm. 51; Al-Fadhil al-Lankarani, Ahkam-e Pezeshkan va Bimarân, 1427 H, hlm. 187.
  17. Quthbuddin ar-Rawandi, Fiqh al-Qur'an, 1405 H, jil. 2, hlm. 415; An-Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 H, jil. 43, hlm. 407; Al-Muntazhiri, Al-Ahkam asy-Syar'iyyah, 1413 H, hlm. 564.
  18. Muassah Dairatul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1387 HS, jil. 4, hlm. 495.
  19. Quthbuddin ar-Rawandi, Fiqh al-Qur'an, 1405 H, jil. 2, hlm. 415; An-Najafi, Jawahir al-Kalam, 1362 H, jil. 43, hlm. 407.
  20. Hatami dan lainnya, "Diagnosis Pembunuhan Semi Sengaja dalam Fikih Imamiah dan Sistem Hukum Iran dan Prancis", hlm. 124.
  21. "Undang-Undang Hukum Pidana Islam", Pusat Penelitian Majelis Syura Islami.
  22. Hatami dan lainnya, "Diagnosis Pembunuhan Semi Sengaja dalam Fikih Imamiah dan Sistem Hukum Iran dan Prancis", hlm. 130.

Daftar Pustaka

  • Ahmadi Nezhad, Nima, "Bazah qatl-e 'amd dar huquq-e Iran va fiqh-e Imamiyah", Pazhuhesy-e Melal, no. 58, Aban 1399 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah, Tahrir al-Wasilah, Hum, Mu'assasah Matbu'at Dar al-'Ilm, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Jaziri, Abdurrahman, Ghuravi, Sayid Muhammad, Mazih, Yasir, Al-Fiqh 'ala al-Madhahib al-Arba'ah va Madhhab Ahl al-Bait bi Vujuh bi Madhhab Ahl al-Bait ( Alayhim al-Salam ), Beirut, Dar al-Thaqalayn, cetakan pertama, 1419 H.
  • Hatami, Mahmud va digaran, "Tashkhis-e qatl-e shibh-e 'amdi dar fiqh-e Imamiyah va nizam hay-e huquqi-e Iran va Faransah", Dar Faslnameh-ye Pazhuhesh-e Tatbiqi-ye Huquq-e Islam va Gharb, no. 2, Tabestan 1401 HS.
  • Husaini Syirazi, Sayid Muhammad, Fiqh al-Aulamah, Beirut, Mu'assasah al-Fikr al-Islami, Awal, 1423 H.
  • Hilli, Hasan ibn Yusuf, Tahrir al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madzhab al-Imamiyah, Hum, Mu'assasah Imam Sadiq as, cetakan pertama, 1420 H.
  • Sabzewari, Sayid AbdulnA'la, Muhadzdzab al-Ahkam fi Bayan al-Halal va al-Haram, Hum, Mu'assasah al-Manar, Chap-e Chaharum, 1413 H.
  • Syahid al-Tsani, Zainuddin ibn Ali, Al-Rawdah al-Bahiyyah fi Sharh al-Lum'ah al-Dimashqiyyah, Hum, Majma' al-Fikr al-Islami, tanpa tahun.
  • Syekh Hurr al-Amili, Wasail al-Shi'ah, Hum, Mu'assasah Al al-Bayt (AS), cetakan pertama, 1409 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Hur'an, Beirut, Dar al-Ma'rifah, cetakan pertama, 1412 H.
  • Fadhil Lankarani, Muhammad, Ahkam-e Pezeshkan va Bimarân, Hum, Markaz-e Fiqhi-ye A'immah Athar (AS), cetakan pertama, 1427 H.
  • Fakhr al-Din Razi, Abu Abdullah Muhammad ibn 'Umar, Mafatih al-Ghayb, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, cetakan ke-3, 1420 H.
  • "Hanun-e Majazat-e Islami", Markaz-e Pazhuhesh hay-e Majlis-e Shura-ye Islami, Tarikh-e Nashr: 1 Urdibehesht 1392 HS, Tarikh-e Bazdid: 25 Azar 1403 HS.
  • Quthubuddin Rawandi, Sa'id ibn Abd Allah, Fiqh al-Hur'an, Tahqiq: Sayid Ahmad Husaini, Hum, Intisharat-e Kitabkhanah Ayatullah Mar'ashi Najafi, Chap-e Duvvum, 1405 H.
  • Kulaini, Muhammad ibn Ya'qub, Al-Kafi, Tashih: Ali Akbar Ghaffari va Muhammad Akhundi, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Gurji, Abulqasim, Ayat al-Ahkam-e Huquqi va Jaza'i, Tehran, Nashr-e Mizan, cetakan ke-3, 1385 HS.
  • Mu'assasah Dairat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, Hum, Mu'assasah Dairat al-Ma'arif Fiqh Islami, 1387 HS.
  • Malmir, Mahmud dan yang lainnya. "Ma'yar hay-e qatl-e shibh-e 'amd dar fiqh-e Imamiyah va huquq-e mawzu'eh Iran", Dar Majallah-ye 'Ilmi-ye Fiqh, Huquq va 'Ulum-e Jaza, no. 10, Zemestan 1397 HS.
  • Muhaqqiq Hilli, Najm al-Din Ja'far ibn Hasan, Sharayi' al-Islam fi Masa'il al-Halal wa al-Haram, Tahqiq va Tashih: Abdul Husain Muhammad Ali Baqqal, Hum, Mu'assasah Isma'iliyan, cetakan kedua, 1408 H.
  • Misbah Yazdi, Muhammad Taqi, Nazariyah-ye Huquqi-ye Islam, Tahqiq va Nigarish: Muhammad Mahdi Naderi Humi va Muhammad Mahdi Karimi Nia, Hum, Intisharat-e Mu'assasah Amuzeshi va Pazhuheshi Imam Khomeini, 1391 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir-e Nemuneh, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Muntazheri, Husain Ali, Ahkam-e Pezesyki, Hum, Nashr-e Sayeh, cetakan ke-3, 1427 H.
  • Muntazheri, Husain Ali, Al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madhhab Ahl al-Bayt (AS), Hum, Nashr-e Tafakkur, cetakan pertama, 1413 H.
  • Muvahhidi Saji, Muhammad Hasan, "Barrasi-ye Tathbiqi-ye haqq-e hayat az didgah-e Hur'an Karim va asnad-e huquq-e bashar", Din va Donya-ye Mu'asir, no. 10, 1398 HS.
  • Najafi Jawahiri, Muhammad Hasan, Jawahir al-Kalam fi Sharh Sharayi' al-Islam, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, 1362 H.