Lompat ke isi

Konsep:KAFALAH

Dari wikishia

Templat:Artikel Deskriptif Fikih KAFALAH (bahasa Arab: كَفَالَة) adalah salah satu dari akad-akad Islam yang digunakan dalam urusan ekonomi dan perkara hukum. Berdasarkan akad ini, salah satu pihak dalam kontrak berkomitmen kepada pihak lainnya untuk menghadirkan pihak ketiga yang memiliki kewajiban hak terhadapnya. Dalam kontrak ini, pihak yang berkomitmen disebut "kafil" (penjamin), pihak ketiga disebut "makful" (orang yang dijamin), dan pihak lainnya dalam akad disebut "makfulun lahu" (penerima jaminan). Perbedaan antara dhaman (jaminan utang) dan kafalah adalah bahwa dalam dhaman, sejak awal utang berpindah dari debitur ke penjamin, namun dalam kafalah, utang tetap menjadi tanggung jawab debitur dan kafil hanya bertanggung jawab untuk menghadirkan debitur tersebut.

Para fakih menganggap pengucapan sighat akad, Akal, Balig, adanya kehendak bebas (ikhtiar) pada pihak-pihak yang berakad, kemungkinan penyerahan makful oleh kafil, dan kejelasan identitas makful sebagai syarat sahnya akad kafalah. Selain itu, faktor-faktor seperti penyerahan makful oleh kafil, meninggalnya kafil atau makful, dan sampainya hak kepada makfulun lahu (pemilik hak) dianggap sebagai penyebab berakhirnya akad kafalah.

Kedudukan

Kafalah adalah salah satu akad-akad Islam yang diterapkan dalam urusan ekonomi dan tuntutan hukum.[1] Dalam kitab-kitab fikih, terdapat bab dengan judul Kafalah yang memuat masalah-masalah terkait akad ini.[2]
Dikatakan bahwa kreditor atau pemilik hak menggunakan akad ini dan mengambil penjamin untuk melindungi haknya agar saat mengajukan tuntutan di pengadilan, ia dapat dengan mudah menghadirkan debitur atau orang yang dituntutnya, dan hal ini memiliki peran efektif dalam mencegah pelarian para terdakwa.[3]

Definisi Kafalah

Kafalah dianggap sebagai kontrak di mana salah satu pihak berkomitmen kepada pihak lainnya untuk menghadirkan pihak ketiga yang memiliki kewajiban hak terhadapnya.[4] Dalam kontrak ini, pihak yang berkomitmen disebut "kafil", pihak ketiga disebut "makful", dan pihak lainnya disebut "makfulun lahu".[5]
Kata kafalah merupakan masdar yang berarti penggabungan dan penyertaan;[6] oleh karena itu, dalam istilah fikih dimaknai sebagai menjadi penjamin[7] dan menggabungkan tanggung jawab (dzimmah) seseorang ke orang lain.[8]
Akad kafalah dianggap sebagai lazim bagi kafil dan jaiz bagi makfulun lahu (penggugat); artinya setelah kontrak disepakati, kafil tidak dapat membatalkannya, namun makfulun lahu dapat melepaskan haknya dan tidak mewajibkan kafil untuk menghadirkan pihak ketiga (makful).[9]

Perbedaan Kafalah dengan Dhaman

Perbedaan antara akad dhaman dan akad kafalah adalah bahwa dalam dhaman, utang berpindah dari debitur ke penjamin dan debitur tidak lagi memiliki kewajiban terhadap kreditor, sedangkan dalam kafalah, utang tetap menjadi tanggung jawab debitur dan kafil hanya bertanggung jawab untuk menghadirkan debitur tersebut.[10] Tentu saja menurut hukum Iran, jika kafil melanggar komitmennya, ia harus mengganti kerugian yang timbul karenanya.[11] Menurut Allamah Hilli, seorang fakih Syiah, jika kafil berkomitmen untuk membayar biaya tertentu jika tidak menghadirkan makful, maka ia harus bertindak sesuai dengan komitmennya.[12] Sebagian fakih mensyaratkan pembayaran biaya tersebut pada izin makful.[13] Imam Khomeini dalam Tahrir al-Wasilah berpandangan bahwa kafil dapat menggunakan sarana syar'i apa pun untuk menghadirkan makful, dan tidak mustahil jika tidak ada kerusakan atau kerugian agama maupun duniawi, ia dapat meminta bantuan dari orang yang memiliki kekuatan (otoritas) untuk melakukan hal tersebut (menghadirkan makful).[14]

Syarat Sah Kafalah

Para fakih dan pakar hukum menyebutkan syarat-syarat untuk sahnya akad kafalah, antara lain:

  • Pengucapan Ijab dan Kabul; misalnya kafil dengan kata-kata apa pun dan dalam bahasa apa pun berkata kepada kreditor: "Saya menjamin untuk menghadirkan debitur kepadamu kapan pun kamu mau," dan kreditor pun menerimanya.[15] Makful (debitur) tidak memiliki peran dalam pembentukan akad kafalah.[16]
  • Kecakapan (ahliyah) pihak-pihak yang berakad; kafil harus balig, berakal, dan tidak dalam keadaan dipaksa,[17] namun bagi makfulun lahu (penggugat), jika ia belum balig atau tidak berakal, maka sah jika walinya menerima kafalah tersebut.[18]
  • Kemungkinan penyerahan makful oleh kafil;[19] jika komitmen kafil untuk menghadirkan makful secara normal tidak memungkinkan dan tidak masuk akal — seperti seorang petani yang berkomitmen menghadirkan tahanan politik dari negara lain — maka akad kafalah tersebut batil.[20]
  • Makful harus jelas (mu'ayyan); maka jika dikatakan "Saya menjamin salah satu dari dua orang ini," akad tersebut tidak sah.[21]

Berakhirnya Kafalah

Menurut para fakih, jika salah satu hal berikut terjadi, maka akad kafalah berakhir:

  1. Kafil menghadirkan makful sesuai komitmennya dan menyerahkannya kepada penggugat (makfulun lahu).[22]
  2. Penggugat menerima haknya[23] atau merelakannya.[24]
  3. Kafil atau makful meninggal dunia.[25] Namun dengan wafatnya penggugat, kafalah tidak gugur, melainkan ahli warisnya akan menjadi penggantinya.[26]
  4. Penggugat membatalkan kafalah dan membebaskan kafil dari jaminannya.[27]
  5. Penggugat (pemilik hak) mengalihkan haknya kepada orang lain melalui hiwalah atau bentuk lainnya.[28]

Catatan Kaki

  1. Lihat: Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 468.
  2. Al-Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 26, hlm. 185; Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Dar al-Ilm, jld. 2, hlm. 34.
  3. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 468.
  4. Lihat: Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 483–484; Bani-Hashemi, Taudhih al-Masail (Muhasysya - Imam Khomeini), 1424 H, jld. 2, hlm. 427, m. 2322.
  5. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 483.
  6. Mahmud, Mu'jam al-Mushthalahat, 1419 H, jld. 3, hlm. 148.
  7. Sa'di, Al-Qamus al-Fiqhi, 1408 H, hlm. 322.
  8. Mahmud, Mu'jam al-Mushthalahat, 1419 H, jld. 3, hlm. 149.
  9. Hilli, Kanz al-'Irfan, 1425 H, jld. 2, hlm. 71.
  10. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 485–486.
  11. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 492.
  12. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 14, hlm. 413, m. 580.
  13. Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Penerbit Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini ra, jld. 2, hlm. 35.
  14. Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Penerbit Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini ra, jld. 2, hlm. 35.
  15. Bani-Hashemi, Taudhih al-Masail (Muhasysya - Imam Khomeini), 1424 H, jld. 2, hlm. 427, m. 2323.
  16. Al-Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 26, hlm. 186.
  17. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 14, hlm. 392, m. 563 dan 564.
  18. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Dar al-Ilm, jld. 2, hlm. 34.
  19. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Dar al-Ilm, jld. 2, hlm. 34.
  20. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 489.
  21. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 14, hlm. 394, m. 565.
  22. Bani-Hashemi, Taudhih al-Masail (Muhasysya - Imam Khomeini), 1424 H, jld. 2, hlm. 429, m. 2325.
  23. Huseini Amili, Miftah al-Karamah, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 5, hlm. 433.
  24. Allamah Hilli, Qawa'id al-Ahkam, 1413 H, jld. 2, hlm. 168.
  25. Al-Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 26, hlm. 204 dan 205.
  26. Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, 1414 H, jld. 14, hlm. 412, m. 579.
  27. Bani-Hashemi, Taudhih al-Masail (Muhasysya - Imam Khomeini), 1424 H, jld. 2, hlm. 429, m. 2325.
  28. Taheri, Huquq-e Madani, 1418 H, jld. 4, hlm. 502.

Daftar Pustaka

  • Abdul Mun'im, Mahmud Abdurrahman. Mu'jam al-Mushthalahat wa al-Alfadz al-Fiqhiyyah. Kairo, Dar al-Fadhilah, 1419 H.
  • Al-Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i' al-Islam. Peneliti: Qouchani, Abbas; Akhoundi, Ali. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan Ketujuh, 1404 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Qawa'id al-Ahkam fi Ma'rifah al-Halal wa al-Haram. Qom, Penerbit Daftar-e Intisyarat-e Eslami, Cetakan Pertama, 1413 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Tadzkirah al-Fuqaha. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, Cetakan Pertama, 1414 H.
  • Bani-Hashemi, Sayyid Muhammad Husain. Taudhih al-Masail (Muhasysya - Imam Khomeini). Qom, Penerbit Daftar-e Intisyarat-e Eslami, Cetakan Kedelapan, 1424 H.
  • Hilli, Miqdad. Kanz al-'Irfan fi Fiqh al-Qur'an. Qom, Penerbit Mortadhawi, Cetakan Pertama, 1425 H.
  • Huseini Amili, Sayyid Javad. Miftah al-Karamah fi Syarh Qawa'id al-'Allamah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan Pertama, Tanpa Tahun.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Jakarta, Penerbit Al-Huda, Tanpa Tahun.
  • Khomeini, Sayyid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Teheran, Penerbit Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini ra, Tanpa Tahun.
  • Sa'di, Abu Jayb. Al-Qamus al-Fiqhi Lughatan wa Isthilahan. Damaskus, Dar al-Fikr, Cetakan Kedua, 1408 H.
  • Taheri, Habibullah. Huquq-e Madani. Qom, Penerbit Daftar-e Intisyarat-e Eslami, Cetakan Kedua, 1418 H.

Templat:Bab Fikih```