Konsep:Imkan Asyraf
Imkan Asyraf (Kemungkinan yang Lebih Mulia) merupakan salah satu prinsip filosofis penting dalam Filsafat Islam, khususnya dalam Mazhab Isyraq, yang merujuk pada urutan dan hierarki eksistensi para maujud.[1] Berdasarkan kaidah ini, para maujud mungkin secara eksistensial berada dalam urutan tertentu dalam sebuah hierarki, sedemikian rupa sehingga keberadaan maujud yang lebih lemah di tingkat yang lebih rendah menunjukkan keberadaan maujud yang lebih mulia di tingkat yang lebih tinggi.[2]
Kaidah Imkan Asyraf menyatakan bahwa para maujud dalam hierarki eksistensi disusun berdasarkan kekuatan dan kesempurnaan, sehingga setiap maujud yang secara eksistensial lebih kuat harus berada di tingkat yang lebih tinggi sebelum adanya maujud yang lebih lemah.[3]
Menurut para peneliti, Kaidah Imkan Asyraf dalam filsafat Islam pertama kali dikemukakan oleh Ibnu Sina, kemudian dikembangkan oleh Syihabuddin Suhrawardi sebagai salah satu prinsip hikmah Isyraq, dan akhirnya dijelaskan secara lebih lengkap oleh Mulla Sadra dalam Hikmah Muta'aliyah.[4]
- Dalam Hikmah Masyya' (Peripatetik): Ibnu Sina mengemukakan konsep Imkan Asyraf, meskipun tidak menjadikannya sebagai kaidah independen. Ia merujuk pada kaidah ini berdasarkan teori-teori Aristoteles dan menyatakan bahwa maujud mungkin dalam hierarki eksistensi disusun berdasarkan kesempurnaan, dan setiap maujud yang lebih tinggi darinya harus bereksistensi sebelum itu.[5]
- Dalam Hikmah Isyraq: Suhrawardi mengemukakan Kaidah Imkan Asyraf secara resmi.[6] Ia menisbatkan kaidah ini kepada Aristoteles dan menyelaraskannya dengan hukum fitrah manusia mengenai urutan hierarki eksistensi para mungkinat.[7] Suhrawardi menggunakan kaidah ini untuk membuktikan adanya maujud cahaya dan "spesies cahaya" (anwa' nuriyyah), yang dalam pandangannya, maujud cahaya dan mujarrad (non-materi) harus berada di tingkat yang lebih tinggi daripada maujud lainnya.[8]
- Dalam Hikmah Muta'aliyah: Menurut para peneliti, Sadruddin Syirazi membahas Kaidah Imkan Asyraf secara mendalam setelah Suhrawardi.[9] Ia mengkaji kaidah ini secara demonstratif (burhani) dan dengan analisis epistemologis.[10] Mulla Sadra dalam karya-karyanya, khususnya dalam kitab Asfar Arba'ah, membandingkan Kaidah Imkan Asyraf dengan Kaidah Imkan Akhas (keberadaan yang lebih rendah) serta mengkaji dan membuktikan keduanya.[11] Menurutnya, dalam hierarki eksistensi, setiap tingkat kesempurnaan harus berdampingan dengan tingkat yang lebih rendah darinya.[12]
Menurut para peneliti filsafat, Kaidah Imkan Asyraf memiliki kegunaan untuk membuktikan prinsip Mahdawiyat dan urgensi keberadaan Imam. Kaidah akal ini menunjukkan bahwa harus ada seorang Imam di alam semesta, namun tidak membuktikan pribadi Imam secara khusus. Akal tidak dapat secara langsung menentukan mushadaq (contoh nyata) Imam, tetapi dapat membuktikan karakteristik esensial Imam seperti maksum dan afdhaliyah (keunggulan). Kemudian dengan menggunakan argumen sabr wa taqsim (eliminasi), seseorang yang tepat dapat diidentifikasi.[13]
Catatan Kaki
- ↑ Syahrazuri, Syarh Hikmat al-Isyraq, 1372 HS, hlm. 385; Sadruddin Syirazi, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 7, hlm. 244; Thabathaba'i, Bidayah al-Hikmah, Muassasah al-Nasyr al-Islami, jld. 1, hlm. 176.
- ↑ Lathifi, "Dala'il-e Aqli va Naqli-ye Imamat va Mahdawiyat", hlm. 47.
- ↑ Sajjadi, Farhang-e Ma'arif-e Islami, 1373 HS, jld. 1, hlm. 302 dan jld. 3, hlm. 1455.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Suhrawardi, Hikmat al-Isyraq, 1392 HS, hlm. 154.
- ↑ Ibnu Sina, Al-Ta'liqat, 1404 H, hlm. 21, lihat juga: Ibnu Sina, "Al-'Arsyiyah", hlm. 15-16
- ↑ Sebagai contoh lihat: Suhrawardi, Hikmat al-Isyraq, 1392 HS, hlm. 154.
- ↑ Suhrawardi, Al-Masyaari' wa al-Mutharahat, 1385 HS, hlm. 434.
- ↑ Suhrawardi, Hikmat al-Isyraq, 1392 HS, hlm. 143.
- ↑ Sadruddin Syirazi, Asfar, 1383 H, jld. 7, hlm. 254-255.
- ↑ Sadruddin Syirazi, Asfar, 1383 H, jld. 7, hlm. 255
- ↑ Sadruddin Syirazi, Asfar, 1981 M, jld. 7, hlm. 244-245
- ↑ Sadruddin Syirazi, Asfar, 1383 H, jld. 5, hlm. 342 dan jld. 2, hlm. 307.
- ↑ Sekelompok penulis, Berresi-ye Didgah-ha-ye Imamiyah, Mu'tazilah va Asya'irah, 1381 HS, hlm. 142.
Daftar Pustaka
- Ibnu Sina. Al-Ta'liqat. Qom, Maktab al-I'lam al-Islami, 1404 H.
- Lathifi, Rahim. "Borhan-e Imkan-e Asyraf va Itsbat-e Imamat" (Argumen Imkan Asyraf dan Pembuktian Imamah). Jurnal Triwulanan Entezhare Mou'oud, tahun ketiga, nomor 7, 1382 HS.
- Sajjadi, Sayid Ja'far. Farhang-e Ma'arif-e Islami (Kamus Pengetahuan Islam). Teheran, Penerbit Kumesh, 1373 HS.
- Sadruddin Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyah al-Arba'ah. Teheran, tanpa penerbit, 1383 H.
- Sadruddin Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1981 M.
- Sekelompok penulis. Imamat-pazhouhi (Berresi-ye Didgah-ha-ye Imamiyah, Mu'tazilah va Asya'irah) (Studi Imama: Tinjauan Pandangan Imamiyah, Mu'tazilah dan Asya'irah). Masyhad, Penerbit Universitas Ilmu Islam Razavi, 1381 HS.
- Syahrazuri, Syamsuddin. Syarh Hikmat al-Isyraq. Teheran, Lembaga Studi dan Penelitian Budaya, 1372 HS.
- Suhrawardi, Yahya bin Habasy. Al-Masyaari' wa al-Mutharahat. Koreksi: Maqsoud Mohammadi. Teheran, Penerbit Haq-yavaran, 1385 HS.
- Suhrawardi, Yahya bin Habasy. Hikmat al-Isyraq. Koreksi: Najafgholi Habibi. Teheran, Bonyad-e Hikmat-e Islami Sadra, 1392 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Bidayah al-Hikmah. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.