Lompat ke isi

Konsep:Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI)

Dari wikishia
Logo Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI)

Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia atau dikenal dengan singkatan IJABI, adalah lembaga resmi dan legal komunitas Syiah di negara ini yang beraktivitas dengan tujuan menyebarkan ajaran Ahlulbait as, memperkuat persatuan Islam, serta memberikan layanan pendidikan, budaya, dan sosial. Organisasi kemasyarakatan ini didirikan oleh Jalaluddin Rakhmat (W. 2021 M) pada tahun 2000 M.

IJABI, dengan lebih dari 30 cabang aktif di Indonesia, bertanggung jawab atas penyelenggaraan peringatan hari besar keagamaan, pertemuan ilmiah, dan dialog antarmazhab. Dengan menekankan pada akhlak, rasionalitas, dan Kecintaan pada Ahlulbait as, organisasi ini memainkan peran konstruktif dalam memantapkan identitas Syiah dan berinteraksi dengan lembaga-lembaga Islam lainnya.

IJABI; Di Jalur Promosi Ajaran Ahlulbait as) dan Persatuan Islam

Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) adalah lembaga kemasyarakatan dan keagamaan yang beraktivitas dengan tujuan menyebarluaskan ajaran Ahlulbait as dan memperkuat persatuan Islam di Indonesia dan Asia Tenggara.[1] As'ad Said Ali, salah satu tokoh politik Indonesia, menyebut kelompok IJABI sebagai motor gerakan sosial Syiah di Indonesia.[2]

Dasar dan tujuan pemikiran IJABI bertumpu pada dua prinsip fundamental Islam, yaitu Al-Qur'an dan Kecintaan pada Ahlulbait as; serta mencakup aspek-aspek seperti memperkenalkan Ahlulbait sebagai model masyarakat madani yang ideal, mempromosikan ilmu dan pemikiran rasional, irfan, dan akhlak mereka, memberikan pencerahan tentang masalah dunia Islam, membela kaum tertindas (mustadh'afin) dan pengikut Ahlulbait, memenuhi kebutuhan spiritual dan material kaum mukmin, serta memperkuat pendekatan antar mazhab Islam.[3]

Pusat ini bertanggung jawab atas pelaksanaan peringatan keagamaan Syiah di Indonesia, di antaranya penyelenggaraan Idul Ghadir, Dekade Muharram dan Safar, Haul Imam Khomeini, peringatan Maulid Nabi saw, kelahiran para Imam Syiah, dan peringatan pernikahan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah sa.[4]

Pendirian dan Status Hukum

Organisasi Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia didirikan pada tanggal 2 Juli 2000 oleh Jalaluddin Rakhmat, cendekiawan dan politisi Syiah asal Indonesia, di kota Bandung.[5] Dengan sekitar 30 cabang di seluruh negeri, organisasi ini merupakan salah satu lembaga Syiah yang terorganisir dan legal di Indonesia yang beraktivitas di bidang keagamaan.[6]

Berdasarkan laporan, dengan jatuhnya Soeharto, presiden kedua Indonesia pada tahun 1998 M dan naiknya Abdurrahman Wahid, tercipta keterbukaan politik di Indonesia dan kaum Syiah memperluas aktivitas politik mereka. Para pemimpin Syiah dari berbagai kecenderungan sepakat untuk membentuk sebuah organisasi Syiah dan tujuan awal mereka adalah membuktikan identitas Syiah secara resmi. Nama organisasi ini atas usulan Jalaluddin Rakhmat diberi nama "IJABI" yang merupakan singkatan dari "Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia".[7]

Struktur Organisasi

Struktur organisasi IJABI meliputi Dewan Syura (Dewan Penasihat Tinggi yang terdiri dari 7 cendekiawan Syiah), Sekretaris Jenderal, dan deputi eksekutif, pendidikan, tablig, ekonomi, internasional, urusan perempuan (Fathimiyah), hukum, dan media.[8]

Cabang dan Pusat Afiliasi

Jalaluddin Rakhmat; Pendiri Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI)

Cabang-cabang penting IJABI di kota-kota Indonesia antara lain:

  • SMA Plus Muthahhari dan Yayasan Al-Jawad (Bandung)
  • Yayasan Al-Hujjah dan Sekolah Ahlulbait (Jember)
  • Sekolah Ahlulbait (Lumajang)
  • Yayasan Wahdat (Solo)
  • Yayasan Tazkiyah dan Az-Zahra (Jakarta)
  • Yayasan Fathimiyah (Jawa Tengah).[9]

Bidang Aktivitas

Beberapa fokus aktivitas Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) di berbagai bidang adalah sebagai berikut:

  • Pendidikan dan Pencerahan: Meliputi pendirian sekolah gratis di berbagai daerah, mengenalkan masyarakat khususnya Syiah dengan ajaran Ahlulbait as, menyelenggarakan pertemuan ilmiah di universitas, pengajaran ilmu Al-Qur'an, Ilmu Hadis, filsafat, irfan, fikih, sosiologi, dan psikologi agama.[10]
  • Layanan Sosial dan Kemanusiaan: Mendukung kaum mustadh'afin, memberikan bantuan kesehatan dan pengobatan, serta memperkuat basis ekonomi kaum mukmin dan mereka yang membutuhkan.[11]
  • Kerja Sama Antarlembaga: Berinteraksi dengan organisasi lain dan lembaga pemerintah serta Islam, dan berpartisipasi dalam dialog antarmazhab dan antarbudaya.[12]
  • Aktivitas Pendekatan Mazhab (Taqrib): Bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU), menyelenggarakan konferensi bersama Syiah dan Sunni, perjalanan regional untuk mempromosikan hasil dialog keagamaan, menekankan pada Kecintaan pada Ahlulbait as sebagai poros persatuan Islam.[13]
  • Pertemuan Ilmiah dan Khusus: Mencakup pertemuan ilmiah dengan tujuan membuktikan identitas Syiah, mengkaji masalah-masalah perbedaan antara Syiah dan Ahlusunah di tingkat elit, serta menjelaskan keyakinan Syiah di universitas dan pusat-pusat ilmiah.[14]

Catatan Kaki

  1. Husaini Kuhsari, Naqsy-e Syi'ah dar Gostaresy-e Farhang va Ulum-e Eslami dar Endonezi va Tayland (Peran Syiah dalam Pengembangan Budaya dan Ilmu-ilmu Islam di Indonesia dan Thailand), 1397 HS, hlm. 225.
  2. Nazari dkk, "Sazman-e Ahl-e Beyt as Endonezi (IJABI) Talasy baraye Hoviyat-yabi va Entebaq-sazi-ye Syi'ah dar Endonezi" (Organisasi Ahlulbait as Indonesia (IJABI): Upaya Pencarian Identitas dan Adaptasi Syiah di Indonesia), hlm. 224.
  3. Husaini Kuhsari, Naqsy-e Syi'ah dar Gostaresy-e Farhang va Ulum-e Eslami dar Endonezi va Tayland (Peran Syiah dalam Pengembangan Budaya dan Ilmu-ilmu Islam di Indonesia dan Thailand), 1397 HS, hlm. 226 dan 227; "Asynayi ba Sazman-ha va Tasyakkol-haye Eslami-Syi'i Endonezi" (Mengenal Organisasi dan Kelompok Islam-Syiah Indonesia), Kantor Berita ABNA; "Asynayi ba Syi'ayan-e Endonezi" (Mengenal Syiah Indonesia), Majalah Akhbar-e Shian.
  4. Nazari dkk, "Sazman-e Ahl-e Beyt as Endonezi (IJABI) Talasy baraye Hoviyat-yabi va Entebaq-sazi-ye Syi'ah dar Endonezi" (Organisasi Ahlulbait as Indonesia (IJABI): Upaya Pencarian Identitas dan Adaptasi Syiah di Indonesia), hlm. 241.
  5. "Asynayi ba Syi'ayan-e Endonezi" (Mengenal Syiah Indonesia), Majalah Akhbar-e Shian.
  6. "Asynayi ba Sazman-ha va Tasyakkol-haye Eslami-Syi'i Endonezi" (Mengenal Organisasi dan Kelompok Islam-Syiah Indonesia), Kantor Berita ABNA; "Asynayi ba Syi'ayan-e Endonezi" (Mengenal Syiah Indonesia), Majalah Akhbar-e Shian.
  7. Nazari dkk, "Sazman-e Ahl-e Beyt as Endonezi (IJABI) Talasy baraye Hoviyat-yabi va Entebaq-sazi-ye Syi'ah dar Endonezi" (Organisasi Ahlulbait as Indonesia (IJABI): Upaya Pencarian Identitas dan Adaptasi Syiah di Indonesia), hlm. 230 dan 231.
  8. "Asynayi ba Sazman-ha va Tasyakkol-haye Eslami-Syi'i Endonezi" (Mengenal Organisasi dan Kelompok Islam-Syiah Indonesia), Kantor Berita ABNA.
  9. "Asynayi ba Sazman-ha va Tasyakkol-haye Eslami-Syi'i Endonezi" (Mengenal Organisasi dan Kelompok Islam-Syiah Indonesia), Kantor Berita ABNA.
  10. Husaini Kuhsari, Naqsy-e Syi'ah dar Gostaresy-e Farhang va Ulum-e Eslami dar Endonezi va Tayland (Peran Syiah dalam Pengembangan Budaya dan Ilmu-ilmu Islam di Indonesia dan Thailand), 1397 HS, hlm. 227; Nazari dkk, "Sazman-e Ahl-e Beyt as Endonezi (IJABI) Talasy baraye Hoviyat-yabi va Entebaq-sazi-ye Syi'ah dar Endonezi" (Organisasi Ahlulbait as Indonesia (IJABI): Upaya Pencarian Identitas dan Adaptasi Syiah di Indonesia), hlm. 233.
  11. Nazari dkk, "Sazman-e Ahl-e Beyt as Endonezi (IJABI) Talasy baraye Hoviyat-yabi va Entebaq-sazi-ye Syi'ah dar Endonezi" (Organisasi Ahlulbait as Indonesia (IJABI): Upaya Pencarian Identitas dan Adaptasi Syiah di Indonesia), hlm. 233 dan 234.
  12. Nazari dkk, "Sazman-e Ahl-e Beyt as Endonezi (IJABI) Talasy baraye Hoviyat-yabi va Entebaq-sazi-ye Syi'ah dar Endonezi" (Organisasi Ahlulbait as Indonesia (IJABI): Upaya Pencarian Identitas dan Adaptasi Syiah di Indonesia), hlm. 233 dan 234.
  13. Nazari dkk, "Sazman-e Ahl-e Beyt as Endonezi (IJABI) Talasy baraye Hoviyat-yabi va Entebaq-sazi-ye Syi'ah dar Endonezi" (Organisasi Ahlulbait as Indonesia (IJABI): Upaya Pencarian Identitas dan Adaptasi Syiah di Indonesia), hlm. 241; Husaini Kuhsari, Naqsy-e Syi'ah dar Gostaresy-e Farhang va Ulum-e Eslami dar Endonezi va Tayland (Peran Syiah dalam Pengembangan Budaya dan Ilmu-ilmu Islam di Indonesia dan Thailand), 1397 HS, hlm. 227.
  14. Nazari dkk, "Sazman-e Ahl-e Beyt as Endonezi (IJABI) Talasy baraye Hoviyat-yabi va Entebaq-sazi-ye Syi'ah dar Endonezi" (Organisasi Ahlulbait as Indonesia (IJABI): Upaya Pencarian Identitas dan Adaptasi Syiah di Indonesia), hlm. 240.

Daftar Pustaka

  • "Asynayi ba Sazman-ha va Tasyakkol-haye Eslami-Syi'i Endonezi" (Mengenal Organisasi dan Kelompok Islam-Syiah Indonesia). Kantor Berita ABNA, Tanggal publikasi: 5 Farvardin 1402 HS.
  • "Asynayi ba Syi'ayan-e Endonezi" (Mengenal Syiah Indonesia). Majalah Akhbar-e Shian. Farvardin dan Ordibehesht tahun 1390 HS, No. 65-66.
  • Husaini Kuhsari, Mufid. Naqsy-e Syi'ah dar Gostaresy-e Farhang va Ulum-e Eslami dar Endonezi va Tayland (Peran Syiah dalam Pengembangan Budaya dan Ilmu-ilmu Islam di Indonesia dan Thailand). Qom, Penerbit Imam Ali bin Abi Thalib, 1397 HS.
  • Nazari, Muhammad Ali (Penulis Penanggung Jawab), Yahya Fauzi, Abbas Keshavarz, dan Shadruddin Musavi. "Sazman-e Ahl-e Beyt as Endonezi (IJABI) Talasy baraye Hoviyat-yabi va Entebaq-sazi-ye Syi'ah dar Endonezi" (Organisasi Ahlulbait as Indonesia (IJABI): Upaya Pencarian Identitas dan Adaptasi Syiah di Indonesia). Mutala'at-e Tarikhi-ye Jahan-e Eslam. Tahun ke-8, No. 16, Musim Gugur dan Dingin 1399 HS.