Lompat ke isi

Konsep:Ibnu Syajari

Dari wikishia
Ibnu Syajari
Informasi Pribadi
Informasi ilmiah
Kegiatan Sosial dan Politik


Templat:Infobox ulama Hibatullah bin Ali Alawi Hasani yang dikenal sebagai Ibnu Syajari (450-542 H) adalah seorang sastrawan dan penyair Syiah yang nasabnya sampai kepada Imam Hasan al-Mujtaba as. Ibnu Syajari mempelajari ilmu sastra, nahwu, dan hadis dari guru-guru terkemuka seperti Ibnu Thabathaba, Khatib Tabrizi, dan Abul Hasan Mubarak. Selama 70 tahun mengajar, ia mendidik banyak tokoh terkenal dalam bidang nahwu dan bahasa, seperti Tajuddin Kindi dan Abul Barakat Ibnu Anbari.

Ibnu Syajari juga menulis banyak karya di bidang nahwu dan balaghah, di antaranya Al-Amali, Al-Hamasah, dan Mukhtarat Syu'ara al-Arab. Ia juga menggubah syair, namun syair-syairnya tidak terlalu disukai oleh kalangan sastrawan dan bahkan dicela oleh beberapa penyair. Ibnu Syajari wafat pada 26 Ramadhan 542 H di Baghdad dan dimakamkan di Karkh.

Biografi

Ibnu Syajari lahir pada bulan Ramadhan tahun 450 H.[1] Nasabnya sampai kepada Imam Hasan al-Mujtaba as, dan karena itulah ia disebut Alawi Hasani. Terdapat perbedaan pendapat mengenai julukannya "Ibnu Syajari"; Yaqut Hamawi menisbatkannya ke keluarga Syajari dari pihak ibu,[2] namun Ibnu Khallikan menganggap kemungkinan penisbatan tersebut ke keluarga ini atau ke desa Syajarah yang terletak di dekat Madinah.[3] Ibnu Syajari wafat pada 26 Ramadhan 542 H di Baghdad dan dimakamkan di Karkh, yang merupakan pemukiman Syiah di Baghdad.[4]

Pendidikan dan Pengajaran

Ibnu Syajari mempelajari ilmu sastra, nahwu, dan hadis kepada berbagai guru seperti Ibnu Thabathaba, Khatib Tabrizi, Sa'id bin Ali Sulali, Ibnu Fadhal Mujasyi'i, Abul Hasan Mubarak bin Abdul Jabbar Shairafi, dan Muhammad bin Sa'id bin Nabhan,[5] serta meriwayatkan dari Duristi dan Ibnu Qudamah.[6] Dikatakan bahwa Ibnu Syajari terus belajar hingga usia tua.[7] Ia mengajar nahwu dan sastra selama lebih dari 70 tahun dan dikenal di Baghdad sebagai salah satu ahli nahwu terkemuka.[8] Ia juga menjabat sebagai Naqib (pemimpin) Thalibin di distrik Karkh, Baghdad, mewakili Al-Thahir Abu Abdillah Ahmad bin Abil Hasan Alawi.[9]

Ketokohan Ilmiah

Sepanjang masa pengajarannya, Ibnu Syajari mendidik banyak tokoh terkenal dalam bidang nahwu dan bahasa, seperti Tajuddin Kindi, Abul Barakat Ibnu Anbari,[10] dan Ibnu Khasyab.[11] Selain itu, Syekh Burhanuddin Hamdani Qazwini dan Quthbuddin Rawandi meriwayatkan hadis darinya.[12] Dikatakan bahwa Zamakhsyari juga berdebat dengannya di hadapan orang banyak di Baghdad saat kembali dari haji.[13]

Ibnu Syajari juga menggubah syair, namun dari syair-syairnya hanya tersisa dua potongan pendek yang berjumlah 5 bait, serta 16 bait dari sebuah qasidah yang memuji Menteri Nizamuddin Abu Nashr Muzhaffar. Tampaknya syair-syairnya tidak disukai oleh kalangan sastrawan, sebagaimana Hasan bin Ahmad bin Jakina, seorang penyair Baghdad, mencela syairnya.[14] Ibnu Jakina mengkritiknya dalam syair-syairnya dan dalam satu bait yang ditujukan kepadanya, ia berkata: "Tidak ada bagian bagimu dari kakekmu Nabi saw kecuali dikatakan tentangmu bahwa tidak pantas bagimu untuk bersyair."[15]

Ibnu Syajari memiliki banyak karya di bidang nahwu, puisi, dan balaghah, antara lain Al-Amali, Al-Hamasah, Mukhtarat Syu'ara al-Arab, Manzhumah Ibnu al-Syajari, serta karya lainnya seperti kamus kata-kata homonim (musytarakat lafzhi), Al-Intishar, Syarh al-Tashrif al-Maluki Ibnu Jinni, dan Syarh al-Luma' Ibnu Jinni.[16]

Catatan Kaki

  1. Yaqut Hamawi, Mu'jam al-Udaba, 1414 H, jld. 19, hlm. 282.
  2. Yaqut Hamawi, Mu'jam al-Udaba, 1414 H, jld. 19, hlm. 282.
  3. Ibnu Khallikan, Wafiyat al-A'yan, 1900 M, jld. 6, hlm. 50.
  4. Qafthi, Inbah al-Ruwat, 1406 H, jld. 3, hlm. 356.
  5. Qafthi, Inbah al-Ruwat, 1406 H, jld. 3, hlm. 356; Ibnu Khallikan, Wafiyat al-A'yan, 1900 M, jld. 6, hlm. 46.
  6. Afandi, Riyadh al-Ulama, 1401 H, jld. 5, hlm. 318.
  7. Dzahabi, Al-'Ibar fi Khabar man Ghabar, 1405 H, jld. 2, hlm. 463.
  8. Ibnu Anbari, Nuzhah al-Auliya, 1405 H/1985 M, hlm. 300; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 11, hlm. 223.
  9. Ibnu Anbari, Nuzhah al-Auliya, 1405 H/1985 M, hlm. 300; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 11, hlm. 223.
  10. Yaqut Hamawi, Mu'jam al-Udaba, 1414 H, jld. 19, hlm. 283; Ibnu Anbari, Nuzhah al-Auliya, 1405 H/1985 M, hlm. 286.
  11. Fairuzabadi, Al-Bulghah, 1421 H, hlm. 308.
  12. Afandi, Riyadh al-Ulama, 1401 H, jld. 5, hlm. 318.
  13. Yaqut Hamawi, Mu'jam al-Udaba, 1400 H, jld. 19, hlm. 128; Ibnu Khallikan, Wafiyat al-A'yan, jld. 6, hlm. 46.
  14. Ibnu Khallikan, Wafiyat al-A'yan, 1900 M, jld. 6, hlm. 49; Ibnu Syakir Kutbi, Fawat al-Wafiyat, 1352 Syamsi, jld. 1, hlm. 321.
  15. Ibnu Syakir Kutbi, Fawat al-Wafiyat, 1352 Syamsi, jld. 1, hlm. 321.
  16. Qafthi, Inbah al-Ruwat, 1406 H, jld. 3, hlm. 356.

Daftar Pustaka

  • Afandi, Abdullah bin Isa Beg. Riyadh al-Ulama wa Hiyadh al-Fudhala. Tahqiq: Ahmad Husaini Asykuri, Qom, Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1401 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Al-'Ibar fi Khabar man Ghabar. Diupayakan oleh Muhammad Sa'id bin Basyiuni, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1405 H.
  • Fairuzabadi, Muhammad bin Ya'qub. Al-Bulghah fi Tarajim Aimmah al-Nahwu wa al-Lughah. Diupayakan oleh Muhammad Mishri, Damaskus, Dar Sa'duddin, 1421 H.
  • Ibnu Anbari, Abdurrahman bin Muhammad. Nuzhah al-Alba' fi Thabaqat al-Udaba. Tahqiq: Ibrahim al-Samarra'i, Yordania, Maktabah al-Manar, Zarqa', Cetakan ketiga, 1405 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Khallikan, Ahmad bin Muhammad. Wafiyat al-A'yan wa Anba' Abna' al-Zaman. Peneliti: Ihsan Abbas, Beirut, Nasyr Dar Shadir, 1900 M.
  • Ibnu Syakir Kutbi, Muhammad bin Syakir. Fawat al-Wafiyat wa al-Dzail 'Alaiha. Tahqiq: Ihsan Abbasi, Beirut, Dar Shadir, 1352 Syamsi.
  • Qafthi, Ali bin Yusuf. Inbah al-Ruwat 'ala Anbah al-Nuhat. Tahqiq: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, Kairo, Dar al-Fikr al-Arabi, 1406 H.
  • Yaqut Hamawi, Syihabuddin. Mu'jam al-Udaba. Beirut, Dar al-Fikr, 1400 H.
  • Yaqut Hamawi, Syihabuddin. Mu'jam al-Udaba. Beirut, Dar al-Gharb al-Islami, 1414 H.

Pranala Luar