Lompat ke isi

Konsep:Dinasti Kakuyid

Dari wikishia
Dinasti Kakuyid
Mausoleum Dua Belas Imam, salah satu peninggalan Dinasti Kakuyid di Yazd
Mausoleum Dua Belas Imam, salah satu peninggalan Dinasti Kakuyid di Yazd
Nama LainBanu Kakuyah
PendiriMuhammad bin Rustam Dusymanziyar
Tahun Berdiri398 H
Wilayah GeografisBagian dari Iran, Isfahan, Hamadan, Yazd, dan Kurdistan
MazhabSyiah
Tindakan PentingPerkembangan ilmu pengetahuan
Tahun Runtuh718 H
SesudahDinasti Ghaznawiyah
Penguasa TerkenalGarshasp II(Ala'uddin), Abu Harb, dan Zhahiruddin Faramarz


Dinasti Kakuyid atau Banu Kakuyah adalah sebuah keluarga penguasa Syiah dari rumpun Dailamiyah yang bangkit di saat melemahnya Dinasti Buwaihi. Mereka memerintah wilayah-wilayah seperti Isfahan, Yazd, Kurdistan, Hamadan, dan Nahawand.

Berdasarkan catatan sejarah, pendiri dinasti ini adalah Muhammad bin Rustam Dusymanziyar, yang bergelar Ala'uddaulah. Ia digambarkan sebagai seorang penguasa Syiah yang berilmu, adil, dan cakap dalam politik. Qadhi Nurullah Syusytari (W. 1019 H) meyakini bahwa filsuf ternama Abu Ali Sina (Ibnu Sina) bergabung dengan istana Ala'uddaulah karena kesamaan mazhab dan keutamaan sang penguasa. Atas permintaan Ala'uddaulah, Ibnu Sina menulis karya-karya seperti Danishnameh-ye Alai (Ensiklopedia Alai) dan Ma'rifat al-Nabdh (Pengetahuan tentang Denyut Nadi), serta menyelesaikan kitab monumentalnya Al-Syifa pada masa pemerintahan dinasti ini.

Salah satu peninggalan bersejarah Dinasti Kakuyid adalah sebuah prasasti yang terdapat di area Masjid Imam Ridha as di Masyhad.

Pengenalan

Dinasti Kakuyid atau Banu Kakuyah adalah sebuah keluarga penguasa Syiah[1] dari rumpun Dailamiyah yang berkuasa saat melemahnya Dinasti Buwaihi.[2] Wilayah kekuasaan mereka meliputi Isfahan, Yazd, Kurdistan, Hamadan, dan Nahawand.[3]

Pemerintahan dinasti ini dapat dibagi menjadi tiga periode:

  1. Periode Konsolidasi (398-420 H)
  2. Periode Bertahan (421-443 H)
  3. Periode Pembatasan di Yazd dan Pembubaran (443-536 H).[4]

Kemerdekaan Dinasti Kakuyid mulai memudar seiring dengan menguatnya Dinasti Seljuk di Iran, dan mereka akhirnya menjadi salah satu wasal (bawahan) Seljuk.[5]

Cabang pertama Dinasti Kakuyid bertahan hingga dihancurkan oleh Sultan Tughril dari Seljuk pada tahun 443 H (1051 M).[6] Pada tahun yang sama, pemerintahan cabang kedua dinasti ini dimulai di Yazd, yang kemudian dikenal sebagai Negara Atabeg Yazd (nama sebuah dinasti lokal).[7]

Pendiri

Pendiri dinasti ini adalah Abu Ja'far Adhududdin Muhammad bin Rustam Dusymanziyar,[8] yang bergelar Ala'uddaulah[9] dan dikenal dengan nama Ibnu Kakuyah.[10]

Sejarawan Ibnu Atsir (W. 630 H) menjelaskan bahwa julukan "Ibnu Kakuyah" berasal dari kata "Kakuyah" dalam dialek Dailami, yang berarti paman (dari pihak ibu). Beberapa sumber menyebut Dusymanziyar sebagai paman[11], sementara yang lain menyebutnya sepupu (anak paman)[12] dari Sayyidah Khatun, ibu dari Majduddaulah Dailami (penguasa Rey saat itu).[13]

Ala'uddaulah digambarkan sebagai seorang penguasa Syiah[14] yang berilmu,[15] adil, dan cakap dalam politik.[16] Ia juga dikenal memiliki hubungan erat dengan para cendekiawan.[17] Menurut Nurullah Syusytari, filsuf besar Abu Ali Sina (Ibnu Sina) bergabung dengan istana Ala'uddaulah karena kesamaan mazhab dan keutamaan sang penguasa.[18]

Ala'uddaulah diangkat menjadi gubernur Isfahan pada tahun 398 H oleh sepupunya, Sayyidah Khatun.[19] Ketika Mas'ud putra Sultan Mahmud Ghaznawi menyerang Isfahan dan Hamadan pada tahun 420 H, Ala'uddaulah sempat melarikan diri. Namun, setelah Mas'ud meninggalkan wilayah itu untuk menuju Khurasan, Ala'uddaulah berhasil merebut kembali kekuasaannya atas Isfahan, dan kemudian meluaskannya ke Hamadan, Ray,[20] serta Kurdistan.[21]

Penguasa Terkenal

Muhaddits Urmawi (W. 1358 HS) melaporkan bahwa setelah wafatnya Ala'uddaulah, terjadi konflik di antara ketiga putranya: Abu Kalijar Ala'uddin Garshasp, Abu Harb, dan Zhahiruddin Abu Manshur Faramarz.[22]

  • Abu Kalijar sempat memerintah Hamadan dan sekitarnya pada masa ayahnya masih hidup.[23] Namun, setelah serangan Dinasti Seljuk pada tahun 437 H, ia meninggalkan Kurdistan[24] dan mencari perlindungan kepada Fuladstun, penguasa Syiraz, yang kemudian mengangkatnya sebagai gubernur Ahwaz. Pada tahun 436 H, ia berhasil mengusir pejabat-pejabat Sultan Tughril dari Hamadan dan menjadi penguasa di sana. Ia wafat pada tahun 443 H.[25]
  • Abu Harb meminta bantuan Sultan Tughril I Seljuk dan penguasa Dailamiyah untuk mengalahkan saudaranya, Zhahiruddin. Tughril kemudian merebut Isfahan dari tangan Zhahiruddin pada tahun 442 H. Sebagai kompensasi, Tughril memberikan kota Yazd dan Abarkuh kepada Zhahiruddin untuk diperintah, yang kemudian dikenal sebagai Atabeg Yazd (cikal bakal sebuah dinasti lokal).[26]

Muhaddits Urmawi selanjutnya mencatat daftar penguasa Atabeg Yazd setelah Zhahiruddin, yaitu:

  • Amir Ala'uddaulah Ali[27]
  • Amir Faramarz[28]
  • Dua putri Amir Faramarz[29]
  • Ala'uddaulah putra Atabeg Sam[30]
  • Quthbuddin Mahmud putra Atabeg Izzuddin[31]
  • Syah Ala'uddin[32]
  • Yusuf Syah Atabeg[33]
Petilasan Farashah

Muhaddits Urmawi meyakini bahwa penguasa Atabeg Yazd terakhir adalah Haji Syah bin Yusuf Syah. Ia dikalahkan pada tahun 718 H oleh Amir Mubarizuddin Muhammad bin Muzaffar, pendiri Dinasti Muzaffarid. Kekalahan ini menandai berakhirnya Dinasti Atabeg Yazd setelah sekitar tiga ratus tahun berkuasa.[34]

Karya Ilmiah dan Peninggalan Sejarah

Batu Mihrab di Petilasan Farashah

Berdasarkan catatan sejarah, Ibnu Sina menjabat sebagai wazir (perdana menteri) di bawah pemerintahan Ala'uddaulah[35] dan aktif dalam majelis-majelis ilmiah sang penguasa.[36] Ibnu Sina juga mengajar di sebuah madrasah besar, yang kini hanya tersisa sebuah kubah bata yang dikenal sebagai "Kubah Madrasah Ibnu Sina".[37]

Atas permintaan Ala'uddaulah, Ibnu Sina menulis beberapa karya penting:

  • Ma'rifat al-Nabdh (Pengetahuan tentang Denyut Nadi), yang juga disebut Al-Nabdhiyyah, Rag-syenasi, atau Danesy-e Rag.[39][40]
  • Kitab monumentalnya, Al-Syifa, juga diselesaikan pada masa pemerintahan Ala'uddaulah Kakuyah.[41]
  • Selain itu, Syah-Mardan Razi menulis kitab Nuzhat-nameh-ye Alai atas nama Abu Kalijar Ala'uddaulah, salah seorang penerus dinasti.[42]

Menurut laporan Rasul Jafariyan, seorang peneliti sejarah Islam, terdapat sebuah prasasti bersejarah di Petilasan Imam Ridha as di desa Dehshir, wilayah Farashah. Prasasti itu menunjukkan bahwa Garshasp bin Ali, salah seorang amir dari Dinasti Kakuyid, membangun tempat tersebut pada tahun 512 H. Tempat ini kemudian dikenal sebagai Masjid Masyhad Ali bin Musa al-Ridha as.[43] [catatan 1]

Peninggalan arsitektur lain dari dinasti ini antara lain:

  • Masjid Jami' Lama di Yazd[44]
  • Madrasah Dua Menara (Madrasah-ye Do Manareh)[45]

Catatan Kaki

  1. Jafariyan, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1387 HS, hlm. 346.
  2. Bosworth, The New Islamic Dynasties, terjemahan Faridun Badrai, 1381 HS, hlm. 311.
  3. Qadyani, Farhang-e Jami'-e Tarikh-e Iran, 1387 HS, jld. 1, hlm. 193.
  4. Jafariyan, Atlas-e Syiah, 1391 HS, hlm. 237.
  5. Bosworth, The New Islamic Dynasties, terjemahan Faridun Badrai, 1381 HS, hlm. 312.
  6. Qadyani, Farhang-e Jami'-e Tarikh-e Iran, 1387 HS, jld. 1, hlm. 193.
  7. Sadiq Sajjadi, Sayid Ali Al-Dawud, Danesynameh-ye Buzurg-e Islami, jld. 2, hlm. 454, no. artikel 454.
  8. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 647.
  9. Ibnu al-Atsir Jazari, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 9, hlm. 495.
  10. Ibnu al-Atsir Jazari, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 9, hlm. 495.
  11. Arjah, "Khandan-e Gumnam-e Tarikh-e Iran; Al-e Kakuyeh", Koran Shargh, 23 Isfand 1384 HS, hlm. 19.
  12. Ibnu al-Atsir Jazari, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 9, hlm. 495.
  13. Ibnu al-Atsir Jazari, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 9, hlm. 371.
  14. Muwahhid Abthahi, Risyeh-ha wa Jelweh-haye Tasyayyu' wa Hauzeh-ye Ilmiyeh-ye Isfahan dar Tul-e Tarikh, 1418 H, jld. 2, hlm. 47.
  15. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 647.
  16. Syusytari, Majalis al-Mukminin, 1377 HS, jld. 2, hlm. 334.
  17. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 647.
  18. Syusytari, Majalis al-Mukminin, 1377 HS, jld. 2, hlm. 334.
  19. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 647.
  20. Qadyani, Farhang-e Jami'-e Tarikh-e Iran, 1387 HS, jld. 2, hlm. 592.
  21. Bosworth, The New Islamic Dynasties, terjemahan Faridun Badrai, 1381 HS, hlm. 312.
  22. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 647.
  23. Shahib Jawahir, Atsar al-Syi'ah al-Imamiyyah, terjemahan Ali Jawahir Kalam, 1307 HS, jld. 4, hlm. 190-191.
  24. Bosworth, The New Islamic Dynasties, terjemahan Faridun Badrai, 1381 HS, hlm. 312.
  25. Shahib Jawahir, Atsar al-Syi'ah al-Imamiyyah, terjemahan Ali Jawahir Kalam, 1307 HS, jld. 4, hlm. 191.
  26. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 647.
  27. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 647.
  28. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 648.
  29. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 648.
  30. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 648.
  31. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 648.
  32. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 648.
  33. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 648.
  34. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 649.
  35. Bosworth, The New Islamic Dynasties, terjemahan Faridun Badrai, 1381 HS, hlm. 312; Muwahhid Abthahi, Risyeh-ha wa Jelweh-haye Tasyayyu' wa Hauzeh-ye Ilmiyeh-ye Isfahan dar Tul-e Tarikh, 1418 H, jld. 2, hlm. 47.
  36. Bosworth, The New Islamic Dynasties, terjemahan Faridun Badrai, 1381 HS, hlm. 312.
  37. Muwahhid Abthahi, Risyeh-ha wa Jelweh-haye Tasyayyu' wa Hauzeh-ye Ilmiyeh-ye Isfahan dar Tul-e Tarikh, 1418 H, jld. 2, hlm. 47.
  38. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syi'ah, 1408 H, jld. 7, hlm. 58.
  39. Agha Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syi'ah, 1408 H, jld. 21, hlm. 262.
  40. Muhaddits Urmawi, Ta'liqat Naqdh, 1358 HS, jld. 4, hlm. 647.
  41. Qafthi, Tarikh al-Hukama, 1371 HS, hlm. 565.
  42. Qadyani, Farhang-e Jami'-e Tarikh-e Iran, 1387 HS, jld. 2, hlm. 591.
  43. Jafariyan, Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran, 1387 HS, hlm. 225.
  44. Jafari, Tarikh-e Yazd, Tanpa Tempat, hlm. 121.
  45. Jafari, Tarikh-e Yazd, Tanpa Tempat, hlm. 40.

Catatan

  1. Teks prasasti tersebut sebagian berbunyi: "Amar bi 'imarah hadza al-masjid al-ma'ruf bi Masyhad Ali bin Musa al-Ridha as al-abd al-mudznib al-faqir ila rahmatillahi ta'ala Karsyasp bin Ali bin Faramarz ibni Ala'iddaulah taqabbalallahu minhu fi syuhur sanah itsnai asyrah wa khamsi miah" (Hamba yang berdosa dan membutuhkan rahmat Allah Ta'ala, Garshasp bin Ali bin Faramarz putra Ala'uddaulah, memerintahkan pembangunan masjid ini yang dikenal sebagai Masyhad Ali bin Musa al-Ridha as, semoga Allah menerimanya darinya pada bulan-bulan tahun lima ratus dua belas).

Daftar Pustaka

  • Agha Buzurg Tehrani, Muhammad Muhsin. Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syi'ah. Qom: Ismailiyan, 1408 H.
  • Amin Amili, Sayid Muhsin. A'yan al-Syi'ah. Beirut: Dar al-Ta'aruf lil Mathbu'at, cetakan pertama, 1403 H.
  • Arjah, Maryam. "Khandan-e Gumnam-e Tarikh-e Iran; Al-e Kakuyeh". Koran Syarq, 23 Isfand 1384 HS.
  • Bosworth, Clifford Edmund. The New Islamic Dynasties (Rahnama-ye Gahesymari wa Tabar-syenasi), terjemahan: Faridun Badrai. Teheran: Markaz-e Baz-syenasi-ye Islam wa Iran, 1381 HS.
  • Ibnu al-Atsir Jazari, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut: Dar Shadir, 1385 H.
  • Jafari, Ja'far bin Muhammad. Tarikh-e Yazd. Tanpa Tempat, Tanpa Tahun.
  • Jafariyan, Rasul. Atlas-e Syiah. Teheran: Intisyarat-e Sazman-e Jughrafiyayi-ye Niruha-ye Musallah, cetakan kelima, 1391 HS.
  • Jafariyan, Rasul. Tarikh-e Tasyayyu' dar Iran. Teheran: Nashr-e Ilm, 1387 HS.
  • Muhaddits Urmawi, Jalaluddin. Ta'liqat Naqdh. Teheran: Intisyarat-e Anjuman-e Asar-e Melli, 1358 HS.
  • Muwahhid Abthahi, Hujjat. Risyeh-ha wa Jelweh-haye Tasyayyu' wa Hauzeh-ye Ilmiyeh-ye Isfahan dar Tul-e Tarikh. Isfahan: Daftar-e Tablighat-e Al-Mahdi (aj), 1418 H.
  • Qadyani, Abbas. Farhang-e Jami'-e Tarikh-e Iran. Pengantar: Ghulamreza Watandust. Teheran: Aron, 1387 HS.
  • Qafthi, Jamaluddin Ali. Tarikh al-Hukama. Disunting oleh Bahin Darayi. Teheran: Universitas Teheran, 1371 HS.
  • Shadiq Sajjadi, Sayid Ali Al-Dawud. Danesynameh-ye Buzurg-e Islami. Nomor artikel 454.
  • Shahib Jawahir, Abdul Aziz. Atsar al-Syi'ah al-Imamiyyah. Terjemahan Ali Jawahir Kalam. Teheran: Chapkhaneh-ye Majles, 1307 HS.
  • Syusytari, Nurullah bin Syarifuddin. Majalis al-Mukminin. Disunting oleh Ahmad Abdumanafi. Teheran: Islamiyah, 1377 HS.

Pranala Luar