Lompat ke isi

Konsep:Ayat Qishash

Dari wikishia
Ayat Qishash
Informasi Ayat
NamaAyat Qishash
SurahAl-Baqarah
Ayat178 - 179
Juz2
Informasi Konten
TentangKebolehan Qishash
Ayat-ayat terkaitSurah Al-Baqarah ayat 194, Surah Al-Ma'idah ayat 45, Ayat 33 Surah Al-Isra'


Ayat Qishash adalah ayat 178 dan 179 dari Surah Al-Baqarah[1] yang menjelaskan tentang hukum Qishash dan hikmah tasyri' (pensyariatan)-nya.[2] Para fakih menggunakan ayat-ayat qishash untuk mengistimbat hukum fikih mengenai kebolehan Qishash.[3] Dalam ayat-ayat ini, hak qishash ditetapkan bagi awliya al-dam (ahli waris korban); namun hak ini disebutkan dapat dimaafkan. Selain itu, pelaksanaan qishash diperkenalkan sebagai penyebab bagi kelangsungan hidup dan keamanan masyarakat. Hukum-hukum yang berkaitan dengan qishash, selain dalam ayat-ayat qishash, juga terdapat dalam Ayat 194 Surah Al-Baqarah, Ayat 33 Surah Al-Isra', dan Ayat 45 Surah Al-Ma'idah.[4]

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kamu menjalankan hukuman "Qisas" (balasan yang seimbang) dalam perkara orang-orang yang mati dibunuh iaitu: orang merdeka dengan orang merdeka, dan hamba dengan hamba, dan perempuan dengan perempuan. Maka sesiapa (pembunuh) yang dapat sebahagian keampunan dari saudaranya (pihak yang terbunuh), maka hendaklah orang yang mengampunkan itu) mengikut cara yang baik (dalam menuntut ganti nyawa), dan (si pembunuh pula) hendaklah menunaikan bayaran ganti nyawa itu) dengan sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu serta suatu rahmat kemudahan. Sesudah itu sesiapa yang melampaui batas (untuk membalas dendam pula) maka baginya azab seksa yang tidak terperi sakitnya.


Dan di dalam hukuman Qisas itu ada jaminan hidup bagi kamu, wahai orang-orang yang berakal fikiran, supaya kamu bertaqwa.


Menurut pernyataan Allamah Thabathabai, dalam ayat 178 Surah Al-Baqarah diisyaratkan pada poin bahwa pengampunan (afwu) lebih dicintai daripada qishash; karena ungkapan "faman 'ufiya lahu min akhīhi syai'" (maka barangsiapa yang mendapatkan suatu pemaafan dari saudaranya) datang untuk membangkitkan rasa kasih sayang dan kelembutan pada wali darah, dan pembunuh diperkenalkan sebagai saudara.[5] Ja'far Subhani, mufasir Syiah kontemporer, menyatakan bahwa qishash meskipun zahirnya adalah mematikan dan membinasakan; namun pada hakikatnya adalah menghidupkan masyarakat. Beliau menganggap ayat ini dari sisi konten jauh lebih fasih, baligh, dan indah daripada peribahasa Arab pra-Islam yang mengatakan "Al-qatlu anfā lil-qatl" (pembunuhan itu lebih meniadakan pembunuhan); karena ayat ini tidak hanya menganggap qishash sebagai hal yang niscaya, melainkan menganggap pelaksanaannya sebagai penyebab kehidupan bagi masyarakat.[6]

Menurut para mufasir, tradisi Arab jahiliah adalah jika seseorang dari kabilah mereka terbunuh, mereka memutuskan untuk membunuh sebanyak mungkin orang dari kabilah pembunuh sesuai kemampuan mereka. Pemikiran ini telah melampaui batas sedemikian rupa sehingga mereka bersedia menghancurkan seluruh marga pembunuh demi terbunuhnya satu orang. Ayat ini turun dan menjelaskan hukum qishash yang adil. Hukum Islam ini pada hakikatnya merupakan jalan tengah antara dua hukum berbeda yang ada pada masa itu: sebagian mewajibkan qishash dan sebagian lainnya hanya mewajibkan diah. Islam menetapkan Qishash dalam kondisi tidak adanya keridaan dari wali korban, dan diah (tebusan) ketika terjadi keridaan dari kedua belah pihak.[7]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hal. 393; Farhang-nameh Ulum-e Qur'an, Penerbit Daftare Tablighate Eslami, hal. 125.
  2. Allamah Thabathabai, Al-Mizan, Mansyurat Isma'iliyan, jld. 1, hal. 433.
  3. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 42, hal. 7-9.
  4. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 2, hal. 318.
  5. Allamah Thabathabai, Al-Mizan, Mansyurat Isma'iliyan, jld. 1, hal. 432.
  6. Subhani, Ahkam al-Qishash fi al-Syari'ah al-Islamiyyah al-Gharra', Muassasah Imam Sadiq as, jld. 1, hal. 12.
  7. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 603; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan, 1408 H, jld. 2, hal. 329.

Daftar Pustaka

  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan. Masyhad, Astan Qods Razavi, 1408 H.
  • Subhani, Ja'far. Ahkam al-Qishash fi al-Syari'ah al-Islamiyyah al-Gharra'. Qom, Muassasah Imam Sadiq as, tanpa tahun.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. at-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Mansyurat Isma'iliyan, tanpa tahun.
  • Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Islam, 1378 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1415 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.