Konsep:Ayat 7 Surah Al-Mumtahanah
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Al-Mumtahanah |
| Ayat | 7 |
| Juz | 28 |
| Informasi Konten | |
| Tentang | Janji penetapan perdamaian dan persahabatan antara Muslim dan musuh-musuh mereka |
Ayat 7 Surah Al-Mumtahanah memberikan janji kepada Muslim bahwa Allah swt akan menetapkan mawaddah (kasih sayang) dan persahabatan di antara mereka dan musuh-musuh mereka.
Sebagian mufasir meyakini bahwa penetapan mawaddah dalam ayat 7 Surah Al-Mumtahanah bermakna persahabatan. Allah swt akan mengubah musuh dari keadaan permusuhan dan perang menjadi keadaan damai dan persahabatan. Namun, sebagian lainnya meyakini bahwa penetapan mawaddah dan persahabatan dalam ayat ini bermakna musuh-musuh tersebut menjadi Muslim. Ayat ini turun pada tahun 8 Hijriah dan janji dalam ayat ini terwujud dengan Penaklukan Makkah serta masuk Islam-nya kaum musyrik Makkah pada tahun yang sama.
Allah swt di awal Surah Al-Mumtahanah telah memerintahkan untuk memusuhi orang-orang kafir. Sebagian peneliti meyakini bahwa ketika musuh memberikan kerugian dan bahaya kepada kita, seseorang tidak boleh meminta persahabatan dari orang-orang ini. Namun, jika orang-orang mukmin bertindak benar dan tetap pada prinsip-prinsip keyakinan mereka, dan musuh menghentikan pemberian bahaya kepada kita, maka pada akhirnya perdamaian akan mengalir.
Templat:قرآن جدید|Templat:قرآن جدید
Penetapan Mawaddah antara Muslim dan Kafir
Allah swt di awal Surah Al-Mumtahanah telah memerintahkan Muslim untuk memusuhi orang-orang kafir.[1] Ayat-ayat ini menyebabkan kesedihan dan kekhawatiran bagi kaum Muslim yang memiliki teman dan kerabat di antara orang-orang kafir. Akhirnya, dengan turunnya ayat ketujuh Surah Al-Mumtahanah, Allah swt menghilangkan kekhawatiran mereka. Allah swt berjanji akan menetapkan cinta dan mawaddah di antara kedua kelompok tersebut.[2] Mufasir meyakini bahwa berdasarkan ayat ini, Allah swt berkuasa untuk menetapkan persahabatan antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir.[3] Ayat ini mengingatkan bahwa permusuhan tidak akan berlanjut selamanya. Jika orang-orang mukmin bertindak benar dan tetap pada prinsip-prinsip keyakinan mereka, maka pada akhirnya perdamaian akan mengalir.[4]
Sebagian peneliti meyakini bahwa dari kumpulan ayat-ayat Surah Al-Mumtahanah, termasuk ayat ketujuh, dapat disimpulkan bahwa ketika musuh memberikan kerugian dan bahaya kepada kita, seseorang tidak boleh meminta persahabatan dari orang-orang ini.[5] Harus dilakukan pemutusan hubungan terhadap kaum kafir yang keras kepala.[6] Namun ketika mereka berhenti memberikan kerugian kepada kita, dapat diharapkan bahwa Allah swt akan menetapkan mawaddah.[7] Ayat 7 Surah Al-Mumtahanah memberikan harapan kepada orang-orang mukmin sehingga mereka tidak membangun hubungan rahasia dan tersembunyi.[8] Ungkapan "alladzina 'adaitum minhum; orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka" dianggap mencakup kaum kafir dan musyrik.[9] Ungkapan "Wallahu Qadir; dan Allah Maha Kuasa" menegaskan bahwa Allah swt memiliki kekuatan atas perkara tersebut.[10]
Ungkapan dari "Asallahu; Mudah-mudahan Allah"; Kemungkinan atau Kepastian?
Ungkapan "asa" digunakan untuk menyatakan harapan. Dalam ayat 7 Al-Mumtahanah di mana "asa" digunakan mengenai Allah swt, hal itu dianggap bermakna kepastian bahwa perkara ini pasti akan terjadi dan kaum Muslim harus yakin akan kejadiannya.[11] Namun, sebagian mufasir menganggap ungkapan dalam ayat ini bermakna kemungkinan.[12] Makarem Shirazi, mufasir dan ulama Syiah, meyakini bahwa "asa" dalam ayat ini juga bermakna kemungkinan dan tidak memiliki kepastian; karena untuk mencapai sebuah tujuan diperlukan syarat-syarat, dan setiap kali sebagian syarat tidak terpenuhi maka ungkapan ini digunakan.[13]
Maksud dari Mawaddah
Para mufasir telah menjelaskan dua jenis penjelasan untuk menyatakan maksud dari mawaddah: mawaddah dalam arti penetapan kecintaan[14] dan mawaddah dalam arti menerima Islam[15].
Masuk Islam
Sebagian mufasir meyakini bahwa permusuhan dan kejauhan antara Muslim dan orang kafir adalah dikarenakan kekafiran orang-orang kafir tersebut, dan dengan hilangnya kekafiran mereka, hubungan ini akan berubah menjadi persahabatan.[16] Oleh karena itu, maksud dari penetapan mawaddah dan persahabatan dalam ayat ini adalah bahwa Allah swt akan memberikan taufik kepada orang-orang kafir untuk menerima Islam dan mereka menjadi Muslim.[17] Dengan demikian, perintah ini tidak membatalkan atau me-nasakh hukum membenci dan tabarri dari orang-orang kafir yang disebutkan dalam ayat-ayat awal Surah Al-Mumtahanah.[18]
Menurut keyakinan sebagian mufasir, ayat 7 Surah Al-Mumtahanah menyatakan bahwa sebagai akibat dari masuk Islam-nya orang-orang kafir, mawaddah dan persahabatan akan terbentuk.[19] Ayat-ayat ini turun pada tahun kedelapan Hijriah[20] di mana pada tahun yang sama dengan Penaklukan Makkah dan masuk Islam-nya kaum musyrik Makkah, janji mengenai masuk Islam-nya musuh terwujud dan dengan demikian mawaddah serta persahabatan terjalin di antara kedua kelompok.[21] Sebagian mufasir meyakini bahwa ayat ini merupakan perkara luar biasa dan memberikan kabar tentang masa depan;[22] karena secara implisit merujuk pada Penaklukan Makkah yang mengubah permusuhan dan kebencian menjadi persahabatan dan terjadi beberapa waktu setelah turunnya ayat.[23]
Penetapan Kecintaan di Antara Hati
Sebagian mufasir Syiah[24] dan Ahlusunnah[25] menganggap penetapan mawaddah dalam ayat 7 Surah Al-Mumtahanah bermakna persahabatan yang akan ditetapkan oleh Allah swt di antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir Makkah, yang merupakan kerabat kaum Muslim. Sebagian mufasir menganggap makna ini sebagai salah satu makna yang mungkin dalam ayat tersebut.[26] Sayyid Muhammad Taqi al-Mudarrisi, mufasir Syiah, mengenai ayat ini mengingatkan bahwa Allah swt memalingkan musuh dari keadaan permusuhan dan perang menuju keadaan damai dan persahabatan, dan dalam kondisi ini Islam tidak lagi memerintahkan untuk berperang melawan orang-orang kafir tersebut.[27]
Catatan Kaki
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1372 HS, jld. 9, hlm. 408.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jld. 12, hlm. 496.
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1372 HS, jld. 9, hlm. 408.
- ↑ "Surah Al-Mumtahanah, Ayat 1 sampai 13", Partovi az Noor.
- ↑ "Tadabbor dar Sure-ye Momtahane (7)", Al-Aparat.
- ↑ "Tafsir-e Ayeye 7 Sure-ye Momtahane - Tabdil Shodan-e 'Adavat-e Koffar be Mohabbat ba Lotf-e Khoda", Al-Aparat.
- ↑ "Tadabbor dar Sure-ye Momtahane (7)", Al-Aparat.
- ↑ "Tafsir-e Ayeye 7 Sure-ye Momtahane - Tabdil Shodan-e 'Adavat-e Koffar be Mohabbat ba Lotf-e Khoda", Al-Aparat.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jld. 12, hlm. 496.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jld. 12, hlm. 496.
- ↑ Sayyid Quthb, Fi Zilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 6, hlm. 3544.
- ↑ Husaini Shirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 564.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hlm. 30.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 15, hlm. 315.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 19, hlm. 233.
- ↑ "Tafsir-e Ayeye 7 Sure-ye Momtahane - Tabdil Shodan-e 'Adavat-e Koffar be Mohabbat ba Lotf-e Khoda", Al-Aparat.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 19, hlm. 233.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 19, hlm. 233.
- ↑ Sayyid Karimi Husaini, Tafsir-e 'Illiyyin, 1382 HS, hlm. 550.
- ↑ "Surah Al-Mumtahanah, Ayat 1 sampai 13", Partovi az Noor.
- ↑ Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 302.
- ↑ Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhshan, 1404 H, jld. 16, hlm. 298.
- ↑ Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhshan, 1404 H, jld. 16, hlm. 298.
- ↑ Syarif Lahiji, Tafsir-e Syarif-e Lahiji, 1373 HS, jld. 4, hlm. 451-452.
- ↑ Mullah Huwaish al-Ghazi, Bayan al-Ma'ani, 1382 H, jld. 5, hlm. 503.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jld. 12, hlm. 496.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 15, hlm. 315.
Daftar Pustaka
- Al-Aparat. Tafsir-e Ayeye 7 Sure-ye Momtahane - Tabdil Shodan-e 'Adavat-e Koffar be Mohabbat ba Lotf-e Khoda (Tafsir Ayat 7 Surah Al-Mumtahanah - Perubahan Permusuhan Kafir Menjadi Kecintaan dengan Karunia Allah).
- Al-Aparat. Tadabbor dar Sure-ye Momtahane (7) (Tadabur dalam Surah Al-Mumtahanah [7]).
- Husaini Shirazi, Sayyid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Dar al-'Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
- Husaini Hamadani, Sayyid Muhammad Husain. Anwar-e Derakhshan. Penelitian: Muhammad Baqir Behbudi. Tehran, Ketabforushi-ye Lotfi, cetakan pertama, 1404 H.
- Partovi az Noor. Sure-ye Momtahane, Ayat 1 ela 13 (Surah Al-Mumtahanah, Ayat 1 hingga 13).
- Quthb, Sayyid. Fi Zilal al-Qur'an. Beirut, Kairo, Dar al-Syuruq, cetakan ketujuh belas, 1412 H.
- Sayyid Karimi Husaini, Sayyid Abbas. Tafsir-e 'Illiyyin. Qom, Entesharat-e Oswah, cetakan pertama, 1382 HS.
- Syarif Lahiji, Muhammad bin Ali. Tafsir-e Syarif-e Lahiji. Penelitian: Mir Jalaluddin Husaini Urmawi (Muhaddits). Tehran, Daftare Nashre Dad, cetakan pertama, 1373 HS.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftare Entesharate Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
- Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Javad Balaghi. Tehran, Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thayyib, Sayyid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tehran, Entesharat-e Eslam, cetakan kedua, 1378 HS.
- Mudarrisi, Sayyid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Tehran, Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
- Mughniyah, Muhammad Javad. Al-Tafsir al-Kasyif. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1424 H.
- Makarem Shirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
- Mullah Huwaish al-Ghazi, Abdul Qadir. Bayan al-Ma'ani 'ala Hasba Tartib al-Nuzul. Damaskus, Mathba'ah al-Taraqqi, cetakan pertama, 1382 H.