Lompat ke isi

Konsep:Ayat 67 Surah Yusuf

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayat Ayat 67 Surah Yusuf adalah nasihat dari lisan Nabi Ya'qub as kepada putra-putranya agar ketika memasuki Mesir, mereka tidak masuk melalui satu pintu gerbang yang sama. Dikatakan bahwa putra-putra Ya'qub adalah orang-orang yang tampan dan berperawakan gagah, dan Ya'qub mengkhawatirkan mereka terkena ain (mata jahat). Sebagian juga meyakini bahwa nasihatnya bertujuan untuk mencegah kemungkinan munculnya kecurigaan terhadap mereka; karena masuknya para pemuda tersebut secara berkelompok dan terkoordinasi mungkin dapat menarik perhatian atau menimbulkan kesalahpahaman. Putra-putranya melaksanakan permintaan ayah mereka, namun ayat 68 mengingatkan bahwa tindakan ini tidak bermanfaat dalam menolak perkara yang telah ditetapkan. Ya'qub dengan menyatakan "Aku tidak dapat menolak dari kalian sedikit pun (kejadian) yang telah ditetapkan Allah" menegaskan bahwa nasihat ini tidak menghalangi terwujudnya takdir Ilahi.

Dalam ayat 67, disebutkan dari lisan Ya'qub: "Inil hukmu illa lillah; Keputusan itu hanyalah milik Allah". Ungkapan ini menunjukkan bahwa keputusan yang pasti dan final adalah dari sisi Allah dan tidak ada jalan untuk lari darinya.

Templat:Quran jadid|Templat:Quran jadid

Hajat dalam Jiwa Ya'qub

Saudara-saudara Yusuf untuk perjalanan kedua ke Mesir, berhasil mendapatkan persetujuan ayah mereka, Ya'qub as, untuk menyertakan Bunyamin bersama mereka.[1] Al-Qur'an dalam ayat 67 Yusuf menukil sebuah nasihat dari lisan Ya'qub[2] sebelum perjalanan ini.[3] Beliau berpesan kepada putra-putranya agar jangan semuanya masuk dari satu pintu gerbang kota, melainkan masuklah dari pintu-pintu yang berbeda-beda.[4] Putra-putra Ya'qub melaksanakan keinginan ayah mereka.[5] Namun pelaksanaannya tidak memberikan manfaat bagi mereka.[6] Al-Qur'an dalam ayat 68 menyebutnya dengan ungkapan "hajatan fi nafsi ya'quba qadhaha; suatu keinginan pada diri Ya'qub yang telah dilaksanakannya".[7] Mengenai mengapa Ya'qub mengajukan permintaan seperti itu, beberapa pendapat telah disebutkan:[8]

  • Takut akan ain (mata jahat); putra-putra Ya'qub digambarkan sebagai orang-orang yang tampan dan berbadan besar.[9] Menurut Allamah Thabathaba'i, Ya'qub pada saat berpisah merasa bahwa kelompok dengan wibawa yang baik ini akan terpencar-pencar dan jumlah mereka akan berkurang.[10] Beliau takut mereka terkena ain[11] terutama karena di Mesir mereka dikenal karena kedekatan dan penghormatan oleh penguasa Mesir.[12]
  • Alasan nasihat Ya'qub adalah karena masuknya mereka secara bersama-sama mungkin dapat menimbulkan keraguan di hati orang-orang, menyebabkan munculnya suuzan terhadap mereka[13] dan berujung pada konsekuensi yang tidak menyenangkan.[14]
  • Ada kemungkinan bahwa masuk melalui beberapa pintu bertujuan untuk mengetahui berita-berita di kota tersebut.[15]
    Ya'qub selanjutnya dengan ungkapan "Aku tidak dapat menolak dari kalian sedikit pun (kejadian) yang telah ditetapkan Allah" mengakui bahwa dengan pesan ini ia tidak dapat menjauhkan apa pun dari ketentuan Allah dari mereka[16] dan kendali urusan bukan di tangannya.[17] Jika Allah telah menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan bagi mereka, pesan Ya'qub tidak dapat menjauhkan mereka dari kehendak Allah tersebut.[18]

Inil Hukmu illa lillah

Dalam ayat 67 Yusuf dikatakan dari lisan Ya'qub: "Inil hukmu illa lillah; Keputusan itu hanyalah milik Allah". Maksudnya dipahami bahwa tidak ada jalan lari dari keputusan pasti Allah.[19] Ungkapan ini selain dalam ayat ini, juga disebutkan dalam Surah Al-An'am di mana Allah memerintahkan Nabi untuk mengatakannya demikian.[20] Dalam Ayat 40 Surah Yusuf juga, ungkapan ini disebutkan dari lisan Nabi Yusuf as.[21] Kaum Khawarij juga menggunakan slogan "La hukma illa lillah" untuk menentang dan menghadapi Imam Ali as.[22] Makna hukum dalam slogan ini dipahami sebagai "tahkim"; artinya tidak ada yang boleh dijadikan hakim selain Allah.[23]


Tawakal

Perkataan Nabi Ya'qub; "kepada-Nya aku bertawakal", di akhir ayat 67 Yusuf, ditafsirkan bahwa Allah dapat menjaga kalian dari ain dan hasad serta mengembalikan kalian dengan selamat. Juga ungkapan (wa 'alaihi falyatawakkalil mutawakkilun) "dan kepada-Nya jugalah hendaknya orang-orang yang bertawakal berserah diri" menunjukkan bahwa Ya'qub meminta putra-putranya untuk bertawakal kepada Allah dan menyerahkan urusan mereka kepada-Nya.[24] Dari bagian ayat ini diambil pelajaran bahwa manusia harus menjauhkan dirinya dari tipu daya musuh, namun tetap harus bertawakal kepada Allah.[25]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 10, hlm. 28.
  2. Husaini Syirazi, Tabyin al-Quran, 1423 H, jld. 1, hlm. 255.
  3. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 6, hlm. 167.
  4. Samarqandi, Bahr al-Ulum, 1416 H, jld. 2, hlm. 201.
  5. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 338.
  6. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 4, hlm. 249.
  7. Surah Yusuf, ayat 68.
  8. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 6, hlm. 167.
  9. Tsa'labi Naisyaburi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 5, hlm. 237.
  10. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 11, hlm. 218.
  11. Tsa'labi Naisyaburi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 5, hlm. 237.
  12. Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1415 H, jld. 3, hlm. 32.
  13. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 6, hlm. 121.
  14. Fadhlullah, Min Wahyi al-Quran, 1419 H, jld. 12, hlm. 241.
  15. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 337.
  16. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 4, hlm. 247.
  17. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 6, hlm. 167.
  18. Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1415 H, jld. 3, hlm. 32.
  19. Quthb, Fi Zhilal al-Quran, 1412 H, jld. 4, hlm. 2017.
  20. Surah Al-An'am, ayat 57.
  21. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 9, hlm. 411.
  22. Asy'ari Qumi, Al-Maqalat wa al-Firaq, 1360 HS, hlm. 5.
  23. Farahidi, Kitab al-Ain, Qom, jld. 3, hlm. 67.
  24. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 381.
  25. Mudarrisi, Min Huda al-Quran, 1419 H, jld. 5, hlm. 234.

Daftar Pustaka

  • Asy'ari Qumi, Sa'ad bin Abdullah, Al-Maqalat wa al-Firaq, Teheran, Markaz-e Entisyarat-e Elmi Farhangi, 1360 HS.
  • Tsa'labi Naisyaburi, Ahmad bin Ibrahim, Al-Kasyf wa al-Bayan 'an Tafsir al-Quran, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, cetakan pertama, 1422 H.
  • Husaini Syirazi, Sayid Muhammad, Tabyin al-Quran, Beirut, Darul Ulum, 1423 H.
  • Samarqandi, Nashr bin Muhammad bin Ahmad, Bahr al-Ulum, riset dan anotasi Muhibuddin Umar bin Gharamah al-Amrawi, Beirut, Dar al-Fikr, 1416 H.
  • Sayid Quthb, Ibrahim Husain Syadzili, Fi Zhilal al-Quran, Beirut, Kairo, Dar al-Syuruq, cetakan ketujuh belas, 1412 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Tibyan fi Tafsir al-Quran, dengan pengantar: Syekh Agha Buzurg Teherani, riset: Ahmad Qashir Amili, Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, Qom, Daftare Entisyarate Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Quran, pengantar: Muhammad Jawad Balaghi, Teheran, Nasir Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Farahidi, Khalil bin Ahmad, Kitab al-Ain, Qom, Nasyr-e Hejrat, cetakan kedua, tanpa tahun.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain, Tafsir Min Wahyi al-Quran, Beirut, Dar al-Malak lil Thiba'ah wa al-Nasyr, cetakan kedua, 1419 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin, Tafsir al-Safi, riset: Husain A'lami, Teheran, Teheran, Entisyarat-e al-Sadr, cetakan kedua, 1415 H.
  • Qara'ati, Mohsen, Tafsir Nur, Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Darshayi az Quran, cetakan kesebelas, 1383 HS.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi, Min Huda al-Quran, Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad, Tafsir al-Kasyif, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1424 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.

```