Konsep:Ayat 59 Surah Al-Furqan
Templat:Kotak info Ayat Ayat 59 Surah Al-Furqan menasihati Nabi Muhammad saw agar ber-tawakal kepada Allah dan tidak merasa khawatir terhadap kaum musyrikin.[1] Para mufasir menganggap ayat ini sebagai tanda Tauhid dan kekuasaan Ilahi dalam mengelola dan mengatur alam semesta.[2] Berdasarkan Ayat 54 Surah Al-A'raf, Allah telah menciptakan segala sesuatu dan berkuasa atas Arasy,[3] serta mengelola berbagai kekuatan di alam semesta dengan ilmu, kuasa, dan rububiyah yang sempurna.[4] Oleh karena itu, Allah harus menjadi sumber utama tawakal manusia.[5] Menurut Thabathaba'i, frasa "istawa 'ala al-'arsy" menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang keluar dari pengaturan (tadbir) Allah.[6] Selain itu, kata "Arasy" dalam budaya Islam bermakna pusat komando dan pengaturan penciptaan, yang menunjukkan tanggung jawab mutlak Allah atas seluruh urusan alam semesta.[7]
Templat:Quran baruTemplat:SakhTemplat:Quran baru
Menurut para pakar Al-Qur'an, frasa "fi sittati ayyam" diulang sebanyak tujuh kali dalam Al-Qur'an[8] di mana "yaum" (hari) bermakna periode-periode penciptaan alam semesta[9] yang merupakan tanda dari Kekuasaan Allah.[10] Sebagian mufasir Syiah menyatakan bahwa ilmu geologi juga mengacu pada beberapa periode penciptaan alam semesta yang diisyaratkan dalam ayat 8 hingga 11 Surah Fussilat.[11]
Manajemen yang menguasai alam semesta, berbeda dengan kebanyakan penguasa zalim, memiliki rahmat dan ampunan yang luas.[12] Rahmat umum Allah ini mencakup seluruh makhluk; mulai dari orang yang bertakwa hingga para pendosa,[13] kaum kafir maupun mukmin.[14] Orang-orang yang menginginkan sesuatu harus memohon kepada Allah,[15] karena sifat Rahmaniyah Allah adalah alasan utama di balik penciptaan eksistensi ini.[16]
Catatan Kaki
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1401 HS, jld. 61, hlm. 157.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1401 HS, jld. 61, hlm. 154; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 15, hlm. 135.
- ↑ Ibnu Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, 1420 H, jld. 19, hlm. 59.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1401 HS, jld. 61, hlm. 158.
- ↑ Ibnu Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, 1420 H, jld. 19, hlm. 59.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 8, hlm. 150.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 8, hlm. 150; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 6, hlm. 274.
- ↑ Reza'i Isfahani, Tafsir Qur'an-e Mehr, 1389 HS, jld. 6, hlm. 462.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hlm. 478.
- ↑ Reza'i Isfahani, Tafsir Qur'an-e Mehr, 1389 HS, jld. 6, hlm. 463.
- ↑ Reza'i Isfahani, Tafsir Qur'an-e Mehr, 1389 HS, jld. 6, hlm. 463.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1401 HS, jld. 61, hlm. 159.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 15, hlm. 136.
- ↑ Reza'i Isfahani, Tafsir Qur'an-e Mehr, 1389 HS, jld. 6, hlm. 463.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 15, hlm. 137.
- ↑ Qurasyi Banayi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1375 HS, jld. 7, hlm. 309.
Daftar Pustaka
- Ibnu Asyur, Muhammad Thahir, Al-Tahrir wa al-Tanwir, Beirut, Muassasah al-Tarikh al-Arabi, 1420 H.
- Jawadi Amuli, Abdullah, Tafsir Tasnim, Riset: Ahmad Qudsi dkk, Qom, Nasyr-e Isra, Cetakan Kedua, 1401 HS.
- Reza'i Isfahani, Mohammad Ali, Tafsir Qur'an-e Mehr, Qom, Ashr-e Zhuhur, Cetakan Pertama, 1389 HS.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, Cetakan Kedua, 1390 H.
- Qara'ati, Muhsin, Tafsir Nur, Teheran, Markaz-e Farhangi Dars-ha-ye az Qur'an, 1388 HS.
- Qurasyi Banayi, Ali Akbar, Tafsir Ahsan al-Hadits, Teheran, Bonyad-e Be'tsat, Cetakan Kedua, 1375 HS.
- Makarem Syirazi, Nasir, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Kesepuluh, 1371 HS.
- Mughniyah, Muhammad Javad, Al-Tafsir al-Kasyif, Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.