Lompat ke isi

Konsep:Ayat 34 Surah Fathir

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayat

Ayat 34 Surah Fathir mengutip perkataan penghuni surga yang menyatakan syukur kepada Allah karena telah menghilangkan duka dan kesedihan dari hati mereka.[1] Menurut perkataan para mufasir, Ayat 33 Surah Fathir mengisyaratkan pada nikmat-nikmat materi penghuni surga dan kemudian pada ayat 34, menyebutkan nikmat-nikmat maknawi dan rohani, di antaranya adalah bahwa duka dan kesedihan telah diangkat dari penghuni surga.[2]

Templat:Quran jadid|Templat:Quran jadid

Makna huzn (kesedihan), dikarenakan berbeda-bedanya penyebab hal tersebut, dianggap bermacam-macam. Dalam Al-Qur'an kesedihan terkadang digunakan bermakna keresahan, seperti sapaan kepada Ibu Musa,[3] terkadang bermakna kekhawatiran dari kekalahan seperti sapaan pada Ayat 139 Surah Ali 'Imran[4] dan terkadang bermakna ketakutan seperti ketakutan dari keguncangan yang besar (faza' akbar)[5].[6] Dinukil dari Nabi Akram saw bahwa beliau berkata kepada Abudzar al-Ghifari bahwa dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan seorang mukmin di dunia bersedih.[7]

Mengenai kesedihan pada ayat 34 Surah Fathir terdapat beberapa nukilan.[8] Sebagian mufasir menganggap kesedihan ini sebagai isyarat pada duka duniawi, sebagian menganggapnya sebagai isyarat pada kesedihan di mahsyar seputar amal perbuatan manusia.[9] Makarim Syirazi seorang ulama dan mufasir Syiah menganggap benar kedua tafsir dari ayat tersebut dan meyakini ayat ini dapat mencakup kedua kasus tersebut.[10] Para mufasir lain juga menganggap kesedihan dunia dan akhirat,[11] hilangnya segala sesuatu yang menyebabkan kesedihan dan diraihnya segala sesuatu yang keberadaannya, menghilangkan kesedihan[12] sebagai maksud ayat.

Thabarsi seorang mufasir Syiah mengingatkan poin ini bahwa rasa syukur ini adalah atas hilangnya duka dan kesedihan yang mana orang-orang berhak atasnya dan Allah dengan karunia-Nya telah mengangkatnya dari mereka.[13]

Catatan Kaki

  1. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 639.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 269.
  3. Surah Al-Qashash, ayat 7.
  4. Surah Ali 'Imran, ayat 139.
  5. Surah Al-Anbiya, ayat 103.
  6. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 11, hlm. 63.
  7. Syekh Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 529.
  8. Fakhrurrazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 26, hlm. 241.
  9. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 269.
  10. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 269.
  11. Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 450.
  12. Fakhrurrazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 26, hlm. 241.
  13. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 639.

Daftar Pustaka

  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
  • Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-'Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Taheran, Penerbit Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Qom, Penerbit Dar al-Tsaqafah, cetakan pertama, 1414 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi. Taheran, Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.