Lompat ke isi

Konsep:Ayat 33 Surah Az-Zukhruf

Dari wikishia

Templat:Kotak info Ayat

Ayat 33 Surah Az-Zukhruf menyatakan bahwa jika orang-orang Kafir tidak menyebabkan kesesatan orang-orang,[1] niscaya Allah akan membuatkan bagi mereka rumah-rumah dengan atap dan tangga dari perak.[2] Menurut para mufasir, ayat ini menunjukkan ketidakberhargaan kehidupan dunia[3] dan remehnya keindahan dunia di pandangan Allah,[4] serta merupakan bukti bahwa segala sesuatu yang Allah lakukan atau tinggalkan adalah berdasarkan kemaslahatan dan hikmah.[5]

Templat:Quran baruTemplat:SakhTemplat:Quran baru

Penulis tafsir Anwar-e Dirakhshan meyakini bahwa manusia berdasarkan tabiatnya memiliki kecenderungan pada perhiasan dunia, dan jika semua kekayaan berada di tangan orang kafir, niscaya semua orang akan cenderung pada kekufuran. Dan jika bukan karena kecenderungan tersebut, niscaya Allah akan menjadikan atap rumah-rumah orang kafir dari perak.[6] Diriwayatkan dari Imam Shadiq as mengenai ayat ini bahwa jika Allah memberikan nikmat tersebut kepada orang-orang kafir, niscaya tidak ada lagi orang yang akan beriman. Oleh karena itu, di antara kedua kelompok orang-orang mukmin dan kafir terdapat orang-orang kaya dan orang-orang yang membutuhkan.[7]

Ungkapan "lau la an yakuna al-nas ummatan wahidah; dan sekiranya bukan karena manusia akan menjadi umat yang satu" di awal ayat ditafsirkan bahwa jika bukan karena orang-orang akan melihat orang kafir lalu terdorong pada kekufuran[8] dan menjadi kafir.[9] Allah dalam ayat 33 dan 34 Surah Az-Zukhruf mengisyaratkan pada nikmat-nikmat duniawi orang-orang kafir. Kemudian dalam ayat 35 menyatakan semua itu sebagai kesenangan hidup duniawi dan mengingatkan bahwa Akhirat adalah bagi orang-orang yang bertakwa: "Dan semua itu tidak lain hanyalah kesenangan hidup dunia, dan akhirat di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa".[10]

Fakhr Razi, mufasir Ahlusunah, mengajukan keberatan bahwa jika nikmat-nikmat menyebabkan keimanan orang-orang, mengapa Allah tidak memberikannya kepada ahli iman agar semua orang beriman. Jawabannya adalah jika semua nikmat diberikan untuk menarik keimanan, maka iman manusia hanyalah demi dunia dan tidak bernilai, melainkan iman haruslah karena dalil dan mencari keridaan Allah.[11]

Catatan Kaki

  1. Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 10, hlm. 27.
  2. Burujirdi, Tafsir Jami', 1366 HS, jld. 6, hlm. 247.
  3. Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 10, hlm. 27.
  4. Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 27, hlm. 631.
  5. Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 27, hlm. 632.
  6. Huseini Hamadani, Anwar-e Dirakhshan, 1404 H, jld. 15, hlm. 126.
  7. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 284.
  8. Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1415 H, jld. 4, hlm. 390.
  9. Syaikh Thusi, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, jld. 9, hlm. 196.
  10. Surah Az-Zukhruf, ayat 35.
  11. Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 27, hlm. 632.

Daftar Pustaka

  • Burujirdi, Sayyid Muhammad Ibrahim. Tafsir Jami'. Teheran, Penerbit Sadr, Cetakan Keenam, 1366 HS.
  • Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan Ketiga, 1420 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Safi. Riset: Husain A'lami. Teheran, Penerbit Al-Sadr, Cetakan Kedua, 1415 H.
  • Huseini Hamadani, Sayyid Muhammad Husain. Anwar-e Dirakhshan. Riset: Muhammad Baqir Behbudi. Teheran, Kitabforushi Lutfi, Cetakan Pertama, 1404 H.
  • Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Muhaqqiq dan Musahhih: Sayyid Thayyib Musawi Jaza'iri. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan Ketiga, 1404 H.
  • Qurasyi, Sayyid Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Teheran, Bonyad-e Be'tsat, Cetakan Ketiga, 1377 HS.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Mukadimah: Syaikh Agha Buzurg Tehrani. Riset: Ahmad Qashir Amili. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Tanpa Tahun.