Lompat ke isi

Konsep:Ayat 28 Surah An-Nisa

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayat Ayat 28 Surah An-Nisa mengisyaratkan pada hukum-hukum yang berkaitan dengan perempuan, khususnya izin untuk menikah dengan budak-budak perempuan (sahaya).[1] Syekh Thusi dalam tafsir Al-Tibyan, meyakini bahwa manusia lemah dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan perempuan dan izin untuk menikah dengan budak perempuan akan mengurangi kesulitan-kesulitan ini.[2]

Templat:Quran jadid|Templat:Quran jadid

Sebagian mufasir Syiah seperti Thabarsi[3] dan Syubbar[4] serta sebagian mufasir Ahlusunah di antaranya Zamakhsyari[5] dan Tsa'labi[6] meskipun mereka menganggap keringanan dalam ayat ini bermakna secara umum, namun mereka menekankan pada dalil ayat tersebut mengenai diberikannya keringanan dalam masalah pernikahan dengan budak perempuan.

Nashir Makarim Syirazi salah seorang mufasir Syiah meyakini bahwa hukum diperbolehkannya menikah dengan budak perempuan di bawah syarat-syarat tertentu, pada hakikatnya dianggap sebagai suatu bentuk keringanan dan kemudahan; karena manusia adalah makhluk yang lemah dan kekuatan insting memberikannya tekanan yang sangat besar kepadanya.[7] Allamah Thabathaba'i seorang mufasir Syiah meyakini; Allah telah menempatkan kekuatan syahwat dalam diri manusia yang selalu berselisih dengannya. Oleh karena itu, manusia dibantu agar melalui pernikahan sebagian syahwat menjadi halal baginya.[8]

Sebagian mufasir menganggap ayat ini bersifat umum dan berkaitan dengan seluruh hukum syariat serta meyakini bahwa semua hukum yang telah dipermudah bagi kita adalah kebaikan dari Allah.[9] Terdapat kemungkinan juga bahwa maksud dari pengurangan dan peringanan dalam ayat ini adalah diterimanya tobat dan diberikannya taufik untuk melakukan tobat.[10]

Pernyataan di akhir ayat 28 Surah An-Nisa, "manusia diciptakan dalam keadaan lemah", dipertimbangkan sebagai alasan pemberian keringanan dari Allah bagi manusia.[11] Ketidakberdayaan ini bermakna kelemahan di hadapan godaan-godaan syahwat[12] dan kecenderungan untuk mengikuti hawa nafsu (nafsu amarah), bukan kelemahan dalam penciptaan.[13] Sebagian mufasir Syiah[14] dan Ahlusunah[15] menganggap kelemahan manusia terletak pada saat menanggung kesulitan-kesulitan penghambaan dan ketiadaan kesabaran dalam menghadapi syahwat. Mughniyah meyakini bahwa manusia lemah dalam menahan kesenangan-kesenangan, khususnya kesenangan seksual.[16] Thabarsi berpendapat bahwa kemungkinan besar kelemahan manusia terutama terletak pada masalah-masalah yang berkaitan dengan perempuan.[17]

Muhammad Husain Fadhlullah meyakini bahwa sebagian penafsiran dari ayat ini menyebabkan semakin kuatnya perasaan lemah di dalam diri manusia, padahal manusia memiliki bakat dan kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan-tantangan ini. Ia menganggap syariat sebagai sebuah program yang mengantarkan manusia pada hidayah dan kekuatan, sementara kelemahan manusia berkaitan dengan penyediaan jalan-jalan yang sesuai dengan kemampuan dan potensinya.[18]

Catatan Kaki

  1. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 58.
  2. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 3, hlm. 177.
  3. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 58.
  4. Syubbar, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1412 H, hlm. 113.
  5. Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 501.
  6. Tsa'labi Naisyaburi, Al-Kasyaf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 3, hlm. 291.
  7. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hlm. 354.
  8. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 4, hlm. 282.
  9. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 58; Fakhrurrazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 10, hlm. 55.
  10. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 58.
  11. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 4, hlm. 60.
  12. Fakhrurrazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 10, hlm. 55.
  13. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 3, hlm. 177.
  14. Faidh Kasyani, Tafsir al-Syafi, 1415 H, jld. 1, hlm. 442.
  15. Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 501.
  16. Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 2, hlm. 302.
  17. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 58.
  18. Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 7, hlm. 198.

Daftar Pustaka

  • Tsa'labi Naisyaburi, Ahmad bin Ibrahim. Al-Kasyaf wa al-Bayan 'an Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan pertama, 1422 H.
  • Zamakhsyari, Mahmud. Al-Kasysyaf 'an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil. Beirut, Penerbit Dar al-Kitab al-'Arabi, cetakan ketiga, 1407 H.
  • Syubbar, Sayid Abdullah. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Beirut, Penerbit Dar al-Balaghah li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, cetakan pertama, 1412 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar Syekh Agha Buzurg Tehrani, penelitian Ahmad Qashir Amili. Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, Beirut, t.t.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Entisyarat Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar Muhammad Jawad Balaghi. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Taheran, Penerbit Islam, cetakan kedua, 1378 HS.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Malak li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, cetakan kedua, 1419 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Syafi. Penelitian Husain A'lami. Taheran, Penerbit al-Shadr, cetakan kedua, 1415 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1424 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.