Lompat ke isi

Konsep:Ayat 268 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia
Ayat 268 Surah Al-Baqarah
Informasi Ayat
SurahAl-Baqarah
Ayat268
Juz3
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangJanji Setan akan kemiskinan dalam hal Infaq dan janji Allah dalam pertambahan harta dalam hal infaq


Ayat 268 Surah Al-Baqarah memberikan janji Allah untuk berinfaq[1] berupa maghfirah, pengampunan dosa-dosa, dan pertambahan rezeki,[2] sebagai lawan dari janji Setan yang menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan dan kekurangan saat berinfaq maupun bersedekah.[3] Al-Qur'an melalui ayat ini memberikan perhatian bahwa infaq meskipun secara lahiriah mengurangi sesuatu dari manusia, namun pada hakikatnya menambah hal-hal dari sisi spiritual maupun materiil bagi manusia.[4]

Syaitan itu menjanjikan (menakut-nakutkan) kamu dengan kemiskinan dan kepapaan (jika kamu bersedekah atau menderma), dan ia menyuruh kamu melakukan perbuatan yang keji (bersifat bakhil kedekut); sedang Allah menjanjikan kamu (dengan) keampunan daripadaNya serta kelebihan kurniaNya. Dan (ingatlah), Allah Maha Luas limpah rahmatNya, lagi sentiasa Meliputi PengetahuanNya.


Ayat 268 Surah Al-Baqarah dianggap bersambung dengan Ayat 267 dari surah yang sama[5] yang berbicara mengenai infaq dari harta yang baik dan suci.[6] Berdasarkan hal ini, makna ayat 268 menjadi demikian bahwa Allah menjanjikan pengampunan dosa dan kelimpahan nikmat kepada manusia yang berinfaq dari harta yang suci.[7] Beberapa ulama menafsirkan ayat ini secara mutlak yang mencakup ruang lingkup lebih luas, di mana setan menjanjikan kemiskinan untuk mencegah setiap amal baik.[8] Di akhir ayat, Allah disebut sebagai "Wasi'" (Maha Luas/Maha Pemberi) yang merupakan bagian dari asma Allah.[9] Sifat Wasi' selalu digunakan bersama dengan sifat ilmu atau sifat hikmah dalam konteks mengenai Allah.[10]

Dalam ayat 268, fahsya' dimaknai sebagai setiap perbuatan buruk dan keji.[11] Beberapa pihak menukil bahwa dalam bahasa Arab, terkadang "kikir" (bukhl) juga disebut sebagai fahsya[12] dan menurut pernyataan mufasir, ungkapan fahsya dalam ayat ini pun sesuai dengan keselarasan subjek ayat dan ayat-ayat sebelumnya, bermakna kikir dan meninggalkan infaq.[13] Dikatakan bahwa perintah setan merujuk pada bisikan-bisikannya.[14] Setan menjanjikan bahwa infaq menyebabkan kemiskinan dan kekurangan.[15] Penakut-nakutan dengan kemiskinan oleh setan menyebabkan munculnya kerakusan dan kekikiran di dalam diri manusia.[16] Setan dalam ayat ini dianggap berasal dari Jin dan manusia atau Nafsu Amarah.[17]

Berdasarkan tafsir para mufasir, maksud dari kata "maghfirah" dalam ayat 268 adalah pengampunan dosa-dosa dan maksud dari "fadhl" adalah pertambahan modal (kekayaan).[18] Oleh karena itu, Allah memberikan dua balasan sebagai imbalan infaq; mengampuni dosa-dosa dan menyampaikan rezeki sebagai ganti dari apa yang telah diinfaqkan kepada pemberi infaq.[19] Dalam ayat ini, maghfirah didahulukan atas fadhl; karena fadhl lebih tinggi dan lebih banyak daripada maghfirah.[20]

Catatan Kaki

  1. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 3, hal. 50.
  2. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 658; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 3, hal. 50.
  3. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 336.
  4. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 337.
  5. Qurthubi, al-Jami' li-Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 3, hal. 328.
  6. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 657.
  7. Musawi Sabzwari, Mawahib al-Rahman, 1409 H, jld. 4, hal. 370.
  8. "Khodsazi Ayatullah Zia Abadi", Situs Aparat.
  9. Musawi Sabzwari, Mawahib al-Rahman, 1409 H, jld. 4, hal. 370.
  10. Musawi Sabzwari, Mawahib al-Rahman, 1409 H, jld. 4, hal. 370.
  11. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 336.
  12. Kasyani, Tafsir al-Mu'in, 1410 H, jld. 1, hal. 134.
  13. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 336.
  14. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 337.
  15. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 336.
  16. Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 1, hal. 312.
  17. Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 7, hal. 55.
  18. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 338.
  19. Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 5, hal. 107.
  20. Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 1, hal. 312.

Daftar Pustaka

  • "Khodsazi Ayatullah Zia Abadi", Situs Aparat, Tanggal kunjungan: 12 Azar 1402 HS.
  • Sayyid Quthb, Ibrahim Husain Syadzili. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut, Kairo: Dar al-Syuruq, Cetakan ke-17, 1412 H.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kelima, 1417 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Mukadimah: Mohammad Javad Balaghi. Teheran: Nasir Khosrow, Cetakan Ketiga, 1372 HS.
  • Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Penerbit Islam, Cetakan Kedua, 1378 HS.
  • Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Cetakan Ketiga, 1420 H.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir Min Wahy al-Qur'an. Beirut: Dar al-Malak lil-Thiba'ah wa al-Nasyr, Cetakan Kedua, 1419 H.
  • Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. al-Jami' li-Ahkam al-Qur'an. Teheran: Entesyarat-e Nasir Khosrow, Cetakan Pertama, 1364 HS.
  • Kasyani, Muhammad bin Murtadha. Tafsir al-Mu'in. Riset: Hossein Dargahi. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, Cetakan Pertama, 1410 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
  • Musawi Sabzwari, Sayid Abdul A'la. Mawahib al-Rahman fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah Ahlulbait as, Cetakan Kedua, 1409 H.