Lompat ke isi

Konsep:Ayat 217 Surah Al-Baqarah

Dari wikishia
Ayat 217 Surah Al-Baqarah
Informasi Ayat
SurahSurah Al-Baqarah
Ayat217
Juz2
Informasi Konten
Sebab
Turun
Ada
Tempat
Turun
Madinah
TentangPerang di Bulan-bulan Haram
DeskripsiFikih, Akidah
Ayat-ayat terkaitAyat 218 Surah Al-BaqarahAyat 191 Surah Al-BaqarahAyat 39 Surah Al-AnfalAyat 5 Surah At-Taubah


Ayat 217 Surah Al-Baqarah membahas pertanyaan mengenai hukum berperang di Bulan-bulan Haram dan jawaban Ilahi terhadapnya. Dalam ayat ini, berperang di bulan-bulan haram dianggap sebagai dosa besar; namun perkara seperti menghalangi Ibadah, menodai kehormatan Masjidilharam, dan mengusir Nabi saw serta para muhajir dari Mekkah, di sisi Allah dihitung sebagai dosa yang lebih besar dari itu. Selain itu, melakukan fitnah dan memalingkan orang-orang dari agama Allah diperkenalkan sebagai dosa yang lebih besar daripada pembunuhan.

Menurut para mufasir, ayat ini menunjukkan bahwa motivasi utama kaum musyrik dalam peperangan terus-menerus melawan kaum Muslimin adalah untuk memalingkan mereka dari agamanya dan menghancurkan Islam. Di akhir ayat juga diberikan peringatan kepada kaum Muslimin bahwa artidad akan menyebabkan gugurnya amal dan keabadian di api neraka.

Mayoritas mufasir menganggap sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan terbunuhnya Amru bin Hadhrami di tangan beberapa Muslim pada bulan Rajab.

Menurut keyakinan sejumlah mufasir, ayat ini telah dinasakh oleh beberapa Ayat Jihad. Sebaliknya, kelompok lain berkeyakinan bahwa ayat ini tidak dinasakh.

Keharaman Perang di Bulan-bulan Haram

Ayat 217 Surah Al-Baqarah berbicara mengenai pertanyaan kepada Nabi Muhammad saw tentang hukum berperang di bulan haram (Rajab) dan jawaban Allah terhadap pertanyaan tersebut.[1] Menurut para mufasir, Allah dalam ayat ini menjawab bahwa peperangan di bulan haram adalah dosa besar dan termasuk hal-hal yang diharamkan Ilahi.[2] Namun dosa-dosa seperti menghalangi ibadah, menodai kehormatan Masjidilharam, mengusir kaum Muslimin dari Mekkah, dan melakukan fitnah, dihitung lebih berat darinya.[3] Ayat ini juga memperkenalkan fitnah lebih besar daripada pembunuhan.[4]

Menurut para mufasir, ayat ini menganggap motivasi utama kaum musyrik melakukan perang abadi dengan kaum Muslimin adalah untuk memalingkan mereka dari agamanya dan melenyapkan Islam.[5] Juga di akhir ayat diperingatkan kepada kaum Muslimin bahwa jika ada di antara kalian yang menjadi murtad dan meninggal dunia tanpa bertobat dalam keadaan kafir, maka mereka akan mengalami hathul a'mal di dunia dan Akhirat, serta akan menjadi penghuni api neraka dan kekal di dalamnya.[6]

Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad), mengenai berperang dalam bulan yang dikhormat. Katakanlah: "Peperangan dalam bulan itu adalah berdosa besar, tetapi perbuatan menghalangi (orang-orang Islam) dari jalan Allah, dan perbuatan kufur kepadaNya, dan juga perbuatan menyekat (orang-orang Islam) ke Masjidil Haram, serta mengusir penduduknya dari situ, (semuanya itu) adalah lebih besar lagi dosanya di sisi Allah. Dan (ingatlah), angkara fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan". Dan mereka (orang-orang kafir itu) sentiasa memerangi kamu hingga mereka (dapat) memalingkan kamu dari agama kamu kalau mereka sanggup (melakukan yang demikian); dan sesiapa di antara kamu yang murtad (berpaling) tadah dari agamanya (Agama Islam), lalu ia mati sedang ia tetap kafir, maka orang-orang yang demikian, rosak binasalah amal usahanya (yang baik) di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah ahli neraka, kekal mereka di dalamnya.


Apa Makna Fitnah dalam Ayat Ini?

Beberapa mufasir Syiah menganggap fitnah bermakna kekafiran, kesyirikan, dan penyimpangan dalam agama.[7] Selain itu, menyakiti kaum mukminin, penyiksaan, menebar syubhat, ajakan kepada kekafiran, dan boikot ekonomi terhadap kaum Muslimin dihitung sebagai bagian dari misdaq fitnah.[8] Jawadi Amuli menganggap maksud fitnah adalah berbagai tipu daya dari pihak kaum musyrik dan menghitung boikot ekonomi kaum Muslimin di Syi'ib Abi Thalib sebagai salah satu contoh nyatanya.[9]

Pengecualian Penaklukan Mekkah dari Hukum Keharaman Perang di Bulan-bulan Haram

Berdasarkan laporan Thabarsi, berperang di bulan-bulan haram dan di Masjidilharam tidak diperbolehkan, kecuali dalam kasus Penaklukan Mekkah yang mana sesuai penegasan Nabi saw hanya pada saat itu saja dihalalkan bagi beliau, dan setelah itu hingga hari kiamat tidak diperbolehkan bagi orang lain.[10]

Habthul Amal Akibat Artidad

Para mufasir Syiah dalam menafsirkan ayat 217 Al-Baqarah melakukan kajian terhadap habthul a'mal (gugurnya amal) dan penghapusan dosa.[11] Mufasir Syiah menganggap habthul a'mal sebagai hancurnya pengaruh amal-amal baik akibat kekafiran setelah beriman, dan mereka meyakini bahwa kemurtadan menghancurkan amal-amal baik di masa lalu,[12] namun dengan tobat, pengaruh amal saleh tersebut akan kembali.[13] Banu Amin menganggap habthul amal sebagai tanda nampaknya nifak (kemunafikan) dan kebatilan amal-amal lahiriah.[14]

Sebab Turun

Para mufasir menisbatkan sebab turunnya ayat ini pada misi Abdullah bin Jahsy dan rekan-rekannya ke wilayah Nakhlah (antara Mekkah dan Thaif). Nabi saw sebelum Perang Badar mengutus Abdullah bin Jahsy untuk mencari informasi mengenai kaum Quraisy dan memerintahkannya untuk melanjutkan perjalanan hingga Nakhlah. Di sana kaum Muslimin berhadapan dengan sebuah kafilah Quraisy dan meskipun berada di bulan Rajab, mereka menyerang kafilah tersebut yang berujung pada terbunuhnya Amru bin Hadhrami dan tertawannya dua orang. Nabi saw tidak menyetujui tindakan ini dan bersabda bahwa beliau tidak memerintahkan untuk berperang di bulan haram. Peristiwa ini memicu protes kaum musyrik dan ayat pun turun. Ayat 218 Al-Baqarah juga mengonfirmasi niat jihad kaum Muslimin.[15]

Berdasarkan laporan Thabarsi, Nabi saw membayar diyat (tebusan darah) Amru bin Hadhrami.[16] Allamah Thabathabai juga menganggap pembunuhan ini sebagai kesalahan yang tidak disengaja.[17]

Siapa Saja yang Bertanya Tentang Hukum Perang di Bulan Haram?

Sebagian mufasir menganggap para penanya adalah kaum musyrik yang mengajukan pertanyaan sebagai bentuk protes atas pembunuhan Amru bin Hadhrami di bulan haram.[18] Kelompok lain meyakini bahwa pertanyaan ini diajukan oleh kaum Muslimin yang diutus ke Nakhlah, karena mereka mengalami perselisihan pendapat saat menyerang kafilah Quraisy dikarenakan bertepatan dengan bulan haram.[19]

Penolakan Kemungkinan Nasakh Ayat

Menurut Thabarsi, beberapa mufasir Ahlusunnah berpendapat adanya nasakh (penghapusan) hukum keharaman berperang dengan kaum musyrik di bulan haram oleh Ayat 39 Surah Al-Anfal dan Ayat 5 Surah At-Taubah; karena dalam ayat-ayat tersebut, perintah memerangi kaum musyrik dikeluarkan tanpa batasan waktu dan tempat. Namun banyak mufasir Syiah tidak menerima pandangan ini dan meyakini bahwa hukum keharaman tersebut tetap berlaku, kecuali jika kaum musyrik sendiri yang melanggar kehormatan bulan haram dan Masjidilharam.[20]

Catatan Kaki

  1. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 551-552; Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 567.
  2. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 166; Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 567-568; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 112.
  3. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 167; Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 567-568; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hal. 112.
  4. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 167; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, hal. 111-112.
  5. Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 578; Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 167.
  6. Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 581-582.
  7. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 552; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan, 1408 H, jld. 3, hal. 201.
  8. Jurjani, Jala' al-Adzhan, 1377 HS, jld. 1, 271.
  9. Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 577-578.
  10. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 552.
  11. Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 604.
  12. Syaikh Thusi, Tafsir Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 2, hal. 208; Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 169; Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 607-608.
  13. Syaikh Thusi, Tafsir Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 2, hal. 208; Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 169.
  14. Banu Amin, Makhzan al-'Irfan, 1361 HS, jld. 2, hal. 289-291.
  15. Balaghi, Tafsir Ala' al-Rahman, 1420 H, jld. 1, hal. 192; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, hal. 110-111; Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 655-657; Wahidi, Asbab Nuzul al-Qur'an, 1411 H, hal. 69-72; Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jld. 1, hal. 250.
  16. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 552.
  17. Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 167.
  18. Syaikh Thusi, Tafsir Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 2, hal. 204 dan 206.
  19. Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1387 HS, jld. 10, hal. 571; Syaikh Thusi, Tafsir Tibyan, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, jld. 2, hal. 204.
  20. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 2, hal. 552; Thabathabai, Tafsir al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hal. 167; Banu Amin, Makhzan al-'Irfan, 1361 HS, jld. 2, hal. 287.

Daftar Pustaka

  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Masyhad, Bunyad-e Pazhuhesy-haye Astan Qods Razavi, 1408 H.
  • Banu Amin, Sayidah Nusrat Begum. Makhzan al-'Irfan dar Tafsir-e Qur'an. Teheran, Nahdhat-e Zanan-e Mosalman, 1361 HS.
  • Bahrani, Sayid Hashem. al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Bunyad-e Bi'tsat, Cetakan Pertama, 1416 H.
  • Balaghi, Muhammad Jawad. Ala' al-Rahman fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Bunyad-e Bi'tsat, Cetakan Pertama, 1420 H.
  • Jurjani, Husain bin Ali. Jala' al-Adzhan wa Jala' al-Ahzan. Teheran, Penerbit Universitas Teheran, Cetakan Pertama, 1377 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Penerbit Esra, Cetakan Kedua, 1387 HS.
  • Suyuthi, Jalaluddin. al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma'tsur. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. at-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Beirut, tanpa tahun.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftare Entesyarat-e Eslami, Cetakan Kelima, 1417 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nasir Khosrow, 1372 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
  • Wahidi, Ali bin Ahmad. Asbab Nuzul al-Qur'an. Riset: Kamal Basyuni Zaghlul. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1411 H.