Lompat ke isi

Konsep:Ayat 200 Surah Ali 'Imran

Dari wikishia
Ayat 200 Surah Ali 'Imran
Informasi Ayat
NamaAyat 200 Surah Ali 'Imran
SurahAli 'Imran
Ayat200
Juz4
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
Ayat-ayat terkaitSeluruh ayat Surah Ali 'Imran


Ayat 200 Surah Ali 'Imran mengajak orang-orang beriman kepada kesabaran, keteguhan, menjaga masyarakat Islam, dan takwa Ilahi demi mencapai keberuntungan.[1] Abdullah Javadi Amoli, mufasir Syiah, menganggap ayat ini berkaitan dengan keseluruhan Surah Ali 'Imran. Dalam surah ini dibahas mengenai prinsip dasar (ushul) dan cabang praktis (furu') agama yang mana untuk merealisasikannya dibutuhkan kesabaran dan keteguhan. Oleh karena itu, empat perintah ini diperkenalkan sebagai solusi untuk mencapai tujuan-tujuan surah tersebut.[2]

Para mufasir berdasarkan ayat ini meyakini bahwa orang-orang mukmin harus mengungguli pihak lain, khususnya musuh, dalam hal kesabaran dan keteguhan serta membuat mereka kewalahan.[3] Juga dianjurkan agar orang-orang mukmin saling mendorong satu sama lain kepada kesabaran dan keteguhan serta saling memberikan dukungan dalam jalur ini.[4]

Mufasir menafsirkan kata "rābiṭū" dengan makna kesiapan dan penjagaan untuk memelihara masyarakat Islam dalam menghadapi agresi musuh baik di dimensi militer, pemikiran, maupun budaya.[5] Sayid Muhammad Husain Tabataba'i dalam tafsir ayat ini dengan bersandar pada Al-Qur'an serta analisis sejarah dan rasional, mengisyaratkan pada keniscayaan bermasyarakat dalam Islam dan karakteristik masyarakat Islam yang berasaskan tauhid dan poros kebenaran, serta menjelaskan perbedaannya dengan masyarakat Barat.[6] Ia menekankan pada dinamika dan komprehensivitas Islam dalam menjamin kebahagiaan manusia dan menganggap murabathah bukan hanya menjaga perbatasan, melainkan ikatan pemikiran, sosial, dan spiritual untuk menjaga prinsip-prinsip dan bergerak menuju kesempurnaan.[7]

Perintah keempat dan terakhir dalam ayat ini adalah menjaga "takwa Ilahi" yang diketengahkan sebagai penjamin pelaksanaan yang benar dari tiga perintah sebelumnya (sabar, mushabarah, dan murabathah) serta tolok ukur nilai dari amal perbuatan. Tanpa takwa, amal-amal ini mungkin akan terseret pada penyimpangan atau kehilangan nilai spiritual yang diperlukan.[8]

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan).


Di akhir ayat, hasil dari mengamalkan perintah-perintah ini disebutkan sebagai pencapaian falah (keberuntungan). Falah adalah sebuah konsep komprehensif yang mencakup kesuksesan dan kemenangan di dunia serta kebahagiaan dan nasib baik di akhirat.[9] Tafsir Nemuneh juga menyatakan bahwa kata "la'alla" (agar) di sini digunakan untuk mengisyaratkan keberadaan syarat-syarat lain bagi keselamatan.[10]

Dalam riwayat-riwayat Islam, "murabathah" diaplikasikan pada berbagai contoh: menjaga perbatasan geografis Islam dalam menghadapi agresi musuh,[11] menunggu untuk mendirikan salat berikutnya yang dianggap sebagai sejenis murabathah dan jihad melawan nafsu,[12] ikatan pemikiran dan praktis dengan Imam Maksum as dan menanti kemunculan (intizhar al-faraj) Imam Zaman as,[13] serta menjaga perbatasan pemikiran dan budaya dengan tujuan melindungi keyakinan Islam dari syubhat dan penyimpangan.[14]

Catatan Kaki

  1. Javadi Amoli, Tasnim: Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1388 HS, jld. 16, hlm. 769-771.
  2. Javadi Amoli, Tasnim: Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1388 HS, jld. 16, hlm. 771.
  3. Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 460.
  4. Tabataba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 4, hlm. 91.
  5. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hlm. 224; Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 2, hlm. 233.
  6. Tabataba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 4, hlm. 92-133.
  7. Tabataba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 4, hlm. 92-133.
  8. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hlm. 235.
  9. Tabataba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 4, hlm. 92.
  10. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 3, hlm. 236.
  11. Javadi Amoli, Tasnim: Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1388 HS, jld. 16, hlm. 792; sebagai contoh lihat: Syu'airi, Jami' al-Akhbar, Mathba'ah Haidariyah, hlm. 83.
  12. Javadi Amoli, Tasnim: Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1388 HS, jld. 16, hlm. 791-792.
  13. Sebagai contoh lihat: Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 81; Nu'mani, Al-Ghaibah, 1397 H, hlm. 27.
  14. Sebagai contoh lihat: Imam Askari as, Al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari as, 1409 H, hlm. 343.

Daftar Pustaka

  • Imam Askari as, Hasan bin Ali. Al-Tafsir al-Mansub ila al-Imam al-Hasan al-Askari as. Qom: Madrasah al-Imam al-Mahdi as, 1409 H.
  • Javadi Amoli, Abdullah. Tasnim: Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom: Markaz-e Nasyr-e Isra, 1388 HS.
  • Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H.
  • Syu'airi, Muhammad bin Muhammad. Jami' al-Akhbar. Najaf: Mathba'ah Haidariyah, tanpa tahun.
  • Tabataba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil-Matbu'at, 1390 H.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Al-A'lami fi al-Matbu'at, 1415 H.
  • Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Tehran: Markaz-e Farhangi-ye Dars-ha-i az Qur'an, 1383 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Makarem Shirazi, Nashir dkk. Tafsir Nemuneh. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Nu'mani, Muhammad bin Ibrahim. Al-Ghaibah. Tehran: Nasyr-e Shaduq, 1397 H.