Lompat ke isi

Konsep:Ayat 131 Surah Thaha

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayat

Ayat 131 Surah Thaha menganjurkan agar tidak pernah mementingkan dan menyesali (merasa iri atas) nikmat-nikmat materi orang-orang kafir dan para penentang. Ayat ini menganggap nikmat kepada orang-orang musyrik sebagai ujian bagi mereka.

Imam Baqir as menganjurkan agar menghindari pandangan (keinginan) kepada orang-orang yang memiliki lebih banyak nikmat dibandingkan kita, dan selanjutnya beliau membawakan ayat 131 Surah Thaha sebagai bukti. Allah pada kelanjutan ayat menganggap rezeki yang diberikan kepada Nabi saw lebih baik, sebagian orang mengartikan rezeki ini sebagai nikmat-nikmat akhirat dan sebagian lain memaknainya sebagai hidayah dan kenabian.

Ayat ini turun sebagai khitab (seruan) kepada Nabi saw. Meskipun demikian, sebagian mufasir meyakini bahwa walaupun khitab lahiriah ayat ini kepada Nabi, namun maksud utamanya adalah umumnya kaum muslimin.

Sebab turun yang disebutkan untuk ayat ini adalah bahwa seorang tamu datang kepada Nabi saw. Nabi mengutus pelayannya kepada seorang Yahudi untuk meminjam sejumlah tepung dan mengatakan bahwa Nabi akan mengembalikan pinjamannya pada awal bulan Rajab. Orang Yahudi tersebut tidak menerima dan berkata bahwa ia tidak memberikan pinjaman (nasi'ah). Kabar ini sampai kepada Nabi dan beliau bersabda: "Demi Allah, aku adalah orang yang terpercaya di bumi dan di langit." Ayat 131 Surah Thaha turun untuk menghibur Nabi saw.

Pengenalan dan Teks Ayat

Ayat 131 Surah Thaha datang sebagai kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya, yang menganjurkan pada kesabaran.[1] Ayat ini menganjurkan agar tidak pernah memandang nikmat-nikmat materi yang diberikan kepada kelompok-kelompok orang-orang kafir dan para penentang.[2] Sebagian mufasir dalam tafsir ayat ini menyebutkan bahwa wajib atas manusia mukmin jika nikmat dunia menghampirinya, ia tidak bergantung padanya. Dan jika tidak sampai kepadanya, ia tidak menyesalinya.[3]

Qira'ati, salah seorang mufasir Syiah, menukil bahwa berdasarkan Al-Qur'an, memanfaatkan nikmat-nikmat duniawi diizinkan dan Al-Qur'an menganggap harta dunia sebagai "kebaikan", "karunia" dan "perhiasan". Namun apa yang dicela adalah keterikatan yang kuat pada harta dunia.[4]

Templat:Quran jadid|Templat:Quran jadid

Kemiripan ayat 131 Surah Thaha juga disebutkan di Surah Al-Hijr yang pada bagian awalnya mirip satu sama lain dan pada bagian kedua berbeda satu sama lain: "لا تَمُدَّنَّ عَیْنَیْکَ إِلی ما مَتَّعْنا بِهِ أَزْواجاً مِنْهُمْ وَ لا تَحْزَنْ عَلَیْهِمْ وَ اخْفِضْ جَناحَکَ لِلْمُؤْمِنینَ; Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka [orang-orang kafir], dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka, dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang beriman"[5]

Dinukil dari Imam Baqir as bahwa kita tidak boleh memandang (menginginkan) kepada orang-orang yang berada di atas kita. Imam pada kelanjutannya bersandar pada ayat 131 Surah Thaha.[6] Dari Imam Baqir as juga dinukil riwayat lain bahwa ketika ayat 131 Thaha turun, utusan Allah duduk dan bersabda: "Barang siapa yang tidak tenang dengan hiburan-hiburan (penawar) dari Allah, jiwanya akan terkoyak akibat penyesalan-penyesalan dunia. Dan barang siapa yang matanya mengejar harta yang ada di tangan orang-orang, maka kesedihannya akan berkepanjangan."[7]

Makna Ayat

Ayat 131 Surah Thaha dalam menjelaskan poin ini bahwa kekayaan orang-orang kafir[8] dan nikmat-nikmat yang diberikan kepada orang lain,[9] tidak boleh dipentingkan. Di awal ayat terdapat ungkapan "la tamuddanna 'ainaika" yang melarang dari melihat yang disertai keinginan, mengharapkan[10] dan memuji.[11] Ungkapan "janganlah engkau memanjangkan pandanganmu kepada mereka" ini disebut majas dan bermakna bahwa janganlah engkau memiliki keterikatan batin padanya.[12]

Ungkapan "azwajan minhum" bermakna kelompok-kelompok dari orang-orang kafir; baik mereka musyrik maupun Ahlulkitab.[13] Allah dalam ayat ini mensifatkan apa yang dianugerahkan-Nya kepada orang-orang musyrik sebagai "zahrah al-hayah al-dunya"[14] yang bermakna perhiasan dan keindahan kehidupan dunia. Ungkapan ini mencakup segala sesuatu yang jiwa menginginkannya. Ayat ini memperingatkan agar jangan melihat pada perhiasan dan keindahan dunia yang telah Kami berikan kepada mereka.[15]

Allah pada kelanjutan ayat menganggap nikmat kepada orang-orang musyrik sebagai ujian bagi mereka.[16] Allah pada kelanjutan ayat, menganggap rezeki yang diberikan kepada Nabi lebih baik.[17] Sebagian mufasir menganggap rezeki ini sebagai nikmat-nikmat akhirat yang akan lebih baik dari nikmat-nikmat duniawi.[18] Sebagian lain juga memaknai rezeki ini sebagai hidayah dan kenabian.[19]

Khitab Ayat

Ayat ini turun sebagai khitab (seruan) kepada Nabi Akram saw.[20] Meskipun demikian sebagian mufasir meyakini bahwa walaupun khitab lahiriah ayat ini kepada Nabi, namun maksud utamanya adalah umumnya kaum muslimin.[21] Sebagian orang menganggap alasan masalah ini adalah bahwa dunia di mata Nabi sangat tidak berharga dan tidak masuk akal jika Allah memberikan khitab seperti itu kepada nabi-Nya.[22]

Sebab Turun

Sebab turun yang disebutkan untuk ayat ini adalah bahwa seorang tamu datang kepada Nabi saw. Nabi mengutus Abu Rafi' pelayannya kepada seorang Yahudi untuk meminjam sejumlah tepung dan mengatakan bahwa Nabi akan mengembalikan pinjamannya (nasi'ah) pada awal bulan Rajab. Orang Yahudi tersebut tidak menerima dan berkata bahwa ia tidak memberikan pinjaman. Kabar ini sampai kepada Nabi dan beliau bersabda: "Demi Allah, di bumi dan di langit aku adalah orang yang terpercaya (amin)." Kemudian ayat 131 Surah Thaha turun untuk menghibur Nabi saw.[23]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 341.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 341.
  3. Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 15, hlm. 178.
  4. Qira'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 7, hlm. 413.
  5. Surah Al-Hijr, ayat 88.
  6. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 138.
  7. Kufi Ahwazi, Al-Zuhd, 1402 H, hlm. 46-47.
  8. Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hlm. 254.
  9. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 7, hlm. 257.
  10. Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 333.
  11. Faidh Kasyani, Tafsir al-Syafi, 1415 H, jld. 3, hlm. 327.
  12. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 14, hlm. 238.
  13. Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hlm. 254.
  14. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 14, hlm. 238.
  15. Husaini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 H, jld. 8, hlm. 349.
  16. Husaini Syah Abdul Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1363 H, jld. 8, hlm. 349.
  17. Surah Thaha, ayat 131.
  18. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 59.
  19. Faidh Kasyani, Tafsir al-Syafi, 1415 H, jld. 3, hlm. 327.
  20. Kasyani, Tafsir Manhaj al-Shadiqin, 1336 HS, jld. 6, hlm. 37.
  21. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hlm. 341.
  22. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 9, hlm. 127.
  23. Wahidi Naisyaburi, Asbab al-Nuzul, 1411 H, hlm. 313; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 59.

Daftar Pustaka

  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Malak li al-Thiba'ah wa al-Nasyr, cetakan kedua, 1419 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Syafi. Penelitian: Husain A'lami. Taheran, Penerbit al-Shadr, cetakan kedua, 1415 H.
  • Husaini Syah Abdul Azhimi, Husain bin Ahmad. Tafsir Itsna 'Asyari (Tafsir Dua Belas). Taheran, Penerbit Miqat, cetakan pertama, 1363 HS.
  • Husaini Syirazi, Sayid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-'Ulum, cetakan kedua, 1423 H.
  • Kasyani, Mulla Fathullah. Tafsir Manhaj al-Shadiqin fi Ilzam al-Mukhalifin. Taheran, Toko Buku Muhammad Hasan Ilmi, 1336 HS.
  • Kufi Ahwazi, Husain bin Sa'id. Al-Zuhd. Penelitian dan koreksi: Gholam Ridha Irfaniyan Yazdi. Qom, Al-Mathba'ah al-'Ilmiyyah, cetakan kedua, 1402 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Penelitian dan koreksi: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Taheran, Penerbit Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1424 H.
  • Qira'ati, Muhsin. Tafsir Nur (Tafsir Nur). Taheran, Markaz-e Farhangi-e Dars-hayi az Quran, cetakan kesebelas, 1383 HS.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Entisyarat Eslami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Thayyib, Sayid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Taheran, Penerbit Islam, cetakan kedua, 1378 HS.
  • Wahidi Naisyaburi, Ali bin Ahmad. Asbab al-Nuzul. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1411 H.