Lompat ke isi

Konsep:Ayat 11 Surah Ar-Ra'd

Dari wikishia

Templat:Kotak info Ayat

Ayat 11 Surah Ar-Ra'd membahas tentang nasib masyarakat manusia serta bagaimana pengaruh ikhtiar manusia dan kehendak Ilahi di dalamnya. Bagian tengah ayat ini membahas subjek bahwa Allah tidak mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka; namun di bagian selanjutnya disebutkan bahwa jika Allah menghendaki siksaan bagi suatu kaum, maka tidak ada jalan lari bagi mereka. Para mufasir Syiah menggunakan ayat ini untuk menolak determinisme (jabariyah) atau kebebasan kehendak (ikhtiyariyah) yang ekstrem. Menurut mereka, perkataan ini bukan berarti penafian atas ikhtiar manusia, tetapi menunjukkan bahwa jika manusia melakukan perubahan negatif dalam kondisi spiritualnya, ia akan terhalang dari Rahmat Ilahi.

Pada awal ayat disebutkan tentang "Mu'aqqibat" yang menjaga manusia dari depan dan belakang. Sebagian mufasir memaknai istilah ini sebagai para malaikat penjaga manusia, sebagian memaknainya sebagai malaikat pencatat amal, dan sebagian lagi memaknainya sebagai seluruh sebab penjagaan manusia atau segala urusan yang meliputi dirinya sepanjang hidupnya.

Kedudukan dan Teks Ayat

Ayat 11 Surah Ar-Ra'd termasuk di antara ayat-ayat yang mengisyaratkan pada masalah Ikhtiar Manusia dan kekuatannya dalam mengubah nasibnya. Berdasarkan bagian dari ayat ini, dikatakan bahwa jika manusia melakukan perubahan positif pada dirinya, Allah pun akan mendatangkan nasib yang positif baginya.[1] Namun para pemikir Syiah menganggap bagian akhir ayat ini sebagai indikasi penolakan terhadap paham kebebasan kehendak yang ekstrem.[2] Berdasarkan pertentangan makna ini, muncul diskusi-diskusi teologi di antara para mufasir dan pemikir Muslim.

Selain itu, di awal ayat 11 Surah Ar-Ra'd disebutkan tentang Mu'aqqibat (para pengikut/penjaga) yang menjaga manusia dari depan dan belakang. Diskusi yang luas juga terjadi di antara para mufasir mengenai makna kata ini.[3]

Templat:Quran baruTemplat:SakhTemplat:Quran baru

Bahasan Teologi

Ayat 11 Surah Ar-Ra'd menjadi sumber diskusi teologi. Sebagian tafsir Mu'tazili menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk menolak klaim bahwa Allah tidak bisa menyesatkan seseorang sejak awal.[4] Diriwayatkan dari Imam Ridha as bahwa pemahaman kaum Qadariyah (pendukung kebebasan kehendak ekstrem) atas ayat ini disebabkan oleh fokus pada bagian tengah ayat (Innallaha la yughayyiru...) dan mengabaikan lanjutannya (wa idza aradallahu bi qoumin su'an...). Akibatnya, pendapat yang benar adalah bahwa segala urusan berada di tangan Allah Swt dan Dia memberi petunjuk kepada siapa pun yang Dia kehendaki.[5] Meskipun demikian, diriwayatkan juga dari Imam Shadiq as bahwa Allah melalui ketetapan pasti-Nya telah menetapkan bahwa jika Dia memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia tidak akan mencabut nikmat itu sebelum hamba tersebut melakukan perbuatan dosa yang menyebabkannya terhalang dari nikmat tersebut.[6] Dalam sebuah riwayat dari Imam Sajjad as, terputusnya nikmat-nikmat Ilahi dianggap sebagai akibat dari dosa-dosa seperti menzalimi orang lain, tidak bersyukur kepada Allah, dan meninggalkan amal kebajikan.[7]

Menurut pandangan Allamah Thabathaba'i, ayat-ayat sebelum ayat 11 Surah Ar-Ra'd menunjukkan bahwa segala sesuatu di sisi Allah memiliki batasan yang tetap dan tidak berubah.[8] Ayat ini sebagai pelengkap bagi ayat-ayat sebelumnya, menjelaskan bahwa Allah juga telah menetapkan bagi manusia urusan material dan spiritual untuk menjaga mereka dari kehancuran dan kepunahan sepanjang hidup mereka;[9] namun hal ini terus berlanjut selama kondisi jiwa manusia sesuai dengan fitrah Ilahi-nya, dan setiap kali manusia mengubah kondisinya, Allah pun akan menghalangi dia dari nikmat-nikmat-Nya.[10] Menurut pandangan Nasir Makarem Syirazi, Allah membawakan frasa "Innallaha la yughayyiru..." agar pembaca ayat tidak salah mengira bahwa ia bisa menjerumuskan diri ke dalam kehancuran namun tetap mengharapkan Allah dan para petugas-Nya menjaganya.[11] Menurutnya, "wa idza aradallahu bi qoumin su'an..." juga datang untuk menunjukkan bahwa jika suatu kaum dan populasi menutup jalan nikmat bagi diri mereka sendiri, maka mereka akan terkena kehendak buruk Allah dan tidak akan memiliki jalan pembelaan apa pun di hadapannya.[12]

Sifat Individu atau Kolektif dari Hukum Ayat

Menurut pandangan Mohsen Qara'ati, hukum ini berlaku bagi masyarakat manusia, bukan individu per individu. Ini berarti bahwa masyarakat yang saleh akan mendapatkan rahmat Allah dan selama tetap saleh maka akan menikmati Rahmat Ilahi; namun kaidah ini tidak berlaku bagi individu; karena terkadang orang saleh diuji dengan penderitaan, dan sebaliknya, Allah memberikan kesempatan kepada individu yang tidak saleh untuk kembali.[13]

Maksud dari "Mu'aqqibat"

Para mufasir berbeda pendapat mengenai penafsiran kata "Mu'aqqibat"; karena mengikuti segala sesuatu "dari depan" adalah hal yang mustahil.[14] Berbagai pendapat mufasir dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori:

  • Maksud ayat adalah para malaikat yang datang silih berganti dan menjaga manusia dari tempat-tempat yang membinasakan.[15] Sebuah riwayat dari Imam Shadiq as mendukung pendapat ini.[16] Dikatakan bahwa penamaan malaikat ini dengan "Mu'aqqibat" adalah karena malaikat malam datang mengikuti malaikat siang dan malaikat siang datang mengikuti malaikat malam.[17]
  • Maksud ayat adalah para malaikat yang menjaga dan mencatat amal masa lalu dan masa depan manusia hingga waktu kematian.[18]
  • Maksud ayat adalah setiap sebab yang melaluinya Allah menjaga manusia dari bahaya dan bencana.[19] Mungkin karena alasan inilah sebagian mufasir memaknai mu'aqqibat sebagai para raja dan penguasa yang menjaga rakyat dari kejahatan para agresor dan penzalim melalui kekuatan militer dan kepolisian mereka.[20]
  • Maksud ayat adalah setiap urusan material atau spiritual yang menyertai manusia sepanjang hidupnya dan meliputi jasmani serta ruhaninya, sedemikian rupa sehingga sebagian berada di depannya dan sebagian berada di belakangnya.[21]

Asbabun Nuzul

Menurut sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, ayat 10 dan 11 Surah Ar-Ra'd diturunkan mengenai "Arbad bin Qais" dan "Amir bin Thufail". Menurut riwayat ini, kedua orang tersebut berniat membunuh Nabi saw dalam sebuah serangan mendadak; namun saat menjalankan rencana tersebut, setiap kali Arbad mencoba menghunus pedang, ia tidak berhasil dan pedangnya tetap berada di sarungnya. Ketika Nabi saw menyadarinya, beliau memohon kepada Allah agar mengembalikan makar orang-orang ini kepada mereka sendiri. Kemudian petir menyambar kepala Arbad dan membakarnya. Amir melarikan diri dan saat melarikan diri ia mengancam Nabi bahwa ia akan datang menemuinya dengan banyak penunggang kuda dan pejuang. Nabi menjawab bahwa Allah akan menghalanginya dari tindakan tersebut, dan beberapa lama kemudian Amir terjangkit wabah pes dan mati.[22]

Catatan Kaki

  1. Khamenei, "Ayat 11 Surah Ar-Ra'd", Situs Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Ayatullah Khamenei.
  2. Torabi, Quran Karim az Manzar-e Ahlulbait, 1389 HS, hlm. 352.
  3. Thabathaba'i, Al-Mizan, jld. 11, 1352 HS, hlm. 308-309.
  4. Qadhi Abdul Jabbar, Tafsir al-Qadhi 'Abd al-Jabbar al-Mu'tazili, 2009 M, hlm. 243.
  5. Himyari, Qurb al-Isnad, 1371 HS, hlm. 358.
  6. Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 HS, jld. 2, hlm. 206.
  7. Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 4, hlm. 325.
  8. Thabathaba'i, Al-Mizan, jld. 11, 1352 HS, hlm. 312.
  9. Thabathaba'i, Al-Mizan, jld. 11, 1352 HS, hlm. 309-310.
  10. Thabathaba'i, Al-Mizan, jld. 11, 1352 HS, hlm. 310.
  11. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jilid 10, halaman 141.
  12. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jilid 10, halaman 141-142.
  13. Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 4, hlm. 325.
  14. Thabathaba'i, Al-Mizan, jld. 11, 1352 HS, hlm. 308-309.
  15. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 6, hlm. 431.
  16. Ali bin Ibrahim, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hlm. 360.
  17. Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 19, hlm. 16-17.
  18. Kasyani, Tafsir Kabir, 1336 HS, jld. 5, hlm. 94.
  19. Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 19, hlm. 19.
  20. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 6, hlm. 431.
  21. Thabathaba'i, Al-Mizan, jld. 11, 1352 HS, hlm. 309.
  22. Syarafa, Daf' al-Irtiyab fi Nuzul Ayat al-Kitab, 1426 H, hlm. 236.

Daftar Pustaka

  • Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Qom, Penerbit Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Teheran, Maktabah al-Ilmiyah al-Islamiyah, 1380 HS.
  • Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
  • Himyari, Abdullah bin Ja'far. Qurb al-Isnad. Qom, Muassasah Alulbait li Ihya al-Turats, 1371 HS.
  • Khamenei, Sayyid Ali. "Ayat 11 Surah Ar-Ra'd", Situs Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Ayatullah Khamenei.
  • Kasyani, Fathullah bin Syukrullah. Tafsir Kabir Manhaj al-Shadiqin fi Ilzam al-Mukhalifin. Teheran, Kitabforushi wa Chapkhaneh Muhammad Hasan Ilmi, 1336 HS.
  • Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad. Tafsir al-Qadhi 'Abd al-Jabbar al-Mu'tazili. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2009 M.
  • Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Darshaye az Quran, 1388 HS.
  • Syarafa, Fakhri. Daf' al-Irtiyab fi Nuzul Ayat al-Kitab. Dar al-Qari, 1426 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
  • Thabathaba'i, Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Matbu'at, 1352 HS.

Templat:Ayat Akidah Al-Qur'an