Konsep:Ayat 11 Surah Al-Mujadilah
Templat:Kotak info ayat Ayat 11 Surah Al-Mujadilah memerintahkan kepada kaum muslimin agar melapangkan tempat duduk bagi para pendatang baru di majelis-majelis dan mempersilakan mereka duduk di sampingnya.[1] Sebagai balasannya, Allah juga akan memberikan kelapangan bagi mereka di dunia dan akhirat, meluaskan rezeki mereka dan memudahkan perhitungan amal-amal mereka.[2] Tafsir Nemuneh mengisyaratkan bahwa sebagian orang melaksanakan perintah ini dengan enggan, sebagian dengan riya, dan sebagian dengan senang hati, dan Allah di akhir ayat menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui amal perbuatan mereka.[3] Sebagian mufasir menafsirkan perintah untuk berdiri sebagai mendirikan salat, amar makruf dan nahi mungkar, atau bangkit untuk berperang melawan musuh.[4]
Templat:Quran jadidTemplat:SakhTemplat:Quran jadid
Menurut pandangan Allamah Thabathaba'i, bagian dari ayat ini «يَرْفَعِ اللَه الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ» bermakna bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang mukmin satu derajat dan derajat orang-orang alim (berilmu) yang mukmin beberapa derajat.[5] Syekh Thusi juga meyakini bahwa pahala amal perbuatan orang yang berilmu lebih banyak dari pahala amal yang sama oleh orang yang tidak berilmu.[6] Sebagian mufasir menganggap ayat ini sebagai dalil untuk menghormati para perintis ilmu, iman dan takwa[7] dan menganggap sifat-sifat ini sebagai tolok ukur keunggulan umat manusia.[8] Imam Hadi as juga berdasarkan ayat ini, mendahulukan salah seorang ulama Syiah atas Bani Hasyim dan mempersilakannya duduk di tempat terbaik di majelis.[9] Mufasir Syiah, Shadiqi Tehrani, juga meyakini bahwa masyarakat harus menyediakan kondisi sedemikian rupa sehingga orang-orang dengan ilmu dan iman yang lebih banyak diutamakan di atas orang lain dan perlombaan harus dalam meraih keutamaan-keutamaan ilmiah dan keimanan.[10]
Sebagian mufasir Al-Qur'an menganggap sebab turunnya ayat 11 Surah Al-Mujadilah karena keengganan sahabat Nabi saw untuk memberikan tempat kepada orang lain agar hadir di majelis Nabi saw.[11] Menurut perkataan para mufasir ini, sekelompok sahabat yang berada di Perang Badar, karena kekurangan tempat, hadir di majelis Nabi saw dalam keadaan berdiri. Nabi saw dengan menyebut nama, meminta dari sahabat lain untuk berdiri dan memberikan tempat mereka kepada orang-orang yang baru datang.[12] Orang-orang ini merasa kesal dengan perilaku Nabi saw.[13] Orang-orang munafik menganggap tindakan Nabi saw ini bertentangan dengan keadilan. Menyusul peristiwa-peristiwa ini, ayat 11 Surah Al-Mujadilah turun dan menjelaskan adab-adab sosial dalam menghadiri majelis.[14] Sebagian lain mengatakan bahwa kaum muslimin sangat senang duduk di dekat Nabi saw agar mendengar perkataannya dengan lebih baik. Hal ini menyebabkan terjadinya kerumunan besar.[15] Para mufasir Al-Qur'an, tidak menganggap perintah-perintah ayat ini terbatas hanya pada majelis Nabi saw.[16]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1379 HS, jld. 23, hlm. 439.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jld. 28, hlm. 206.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 23, hlm. 442.
- ↑ Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jld. 9, hlm. 551; Haqqi Burusawi, Ruh al-Bayan, Dar al-Fikr, jld. 9, hlm. 403.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 19, hlm. 188.
- ↑ Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jld. 9, hlm. 551.
- ↑ Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 22, hlm. 73; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 23, hlm. 442.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jld. 28, hlm. 206.
- ↑ Thabarsi, Al-Ihtijaj, 1403 H, jld. 2, hlm. 454-455.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jld. 28, hlm. 206.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 23, hlm. 439.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1373 HS, jld. 9, hlm. 378.
- ↑ Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 17, hlm. 297.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 23, hlm. 439.
- ↑ Thabarsi, Jawami' al-Jami', 1378 HS, jld. 4, hlm. 260; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 492.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 19, hlm. 188; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 22, hlm. 73.
Daftar Pustaka
- Fadhlullah, Muhammad Husain. Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Malak, cetakan pertama, 1419 H.
- Haqqi Burusawi, Ismail. Ruh al-Bayan. Beirut, Penerbit Dar al-Fikr, cetakan pertama, t.t.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
- Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan pertama, 1364 HS.
- Shadiqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah. Qom, Farhang-e Islami, cetakan kedua, 1406 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Al-Ihtijaj 'ala Ahl al-Lijaj. Penelitian: Muhammad Baqir Kharsan. Masyhad, Nasyr-e Murtadha, cetakan pertama, 1403 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Jawami' al-Jami'. Qom, Markaz-e Mudiriyat-e Hauzeh Ilmiyah Qom, 1378 HS.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Penelitian: Hasyim Rasuli. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabathaba'i, Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Pengoreksi: Ahmad Habib Amili. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan pertama, t.t.
- Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-'Arabi, cetakan ketiga, 1407 H.