Lompat ke isi

Konsep:Ayat 115 Surah An-Nahl

Dari wikishia
Ayat 115 Surah An-Nahl
Informasi Ayat
SurahAn-Nahl
Ayat115
Juz14
Informasi Konten
Tempat
Turun
Mekkah
TentangPengharaman makanan yang tidak suci
Ayat-ayat terkaitAyat 3 Surah Al-Ma'idahAyat 173 Surah Al-BaqarahAyat 145 Surah Al-An'am


Ayat 115 Surah An-Nahl memperkenalkan empat jenis makanan sebagai sesuatu yang tidak suci dan Haram dikarenakan dampak buruknya bagi jasmani dan rohani; makanan-makanan tersebut adalah: mayitah (bangkai), darah, daging babi, dan daging hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.[1] Ayat ini merupakan kelanjutan dari Ayat 114 Surah An-Nahl yang menganggap semua makanan yang baik (thayyibat) sebagai Halal. Menurut apa yang tertulis dalam Tafsir Nemuneh, ayat ini bukan bertujuan untuk menjelaskan seluruh hal yang diharamkan, melainkan tujuannya adalah untuk menolak bid'ah-bid'ah kaum musyrik dalam mengubah hukum Allah dan pengharaman-pengharaman yang mereka buat sendiri.[2]

Kandungan ayat ini dengan sedikit perbedaan juga terdapat dalam beberapa surah Makkiyah dan Madaniyah; yaitu Ayat 145 Surah Al-An'am, Ayat 173 Surah Al-Baqarah, dan Ayat 3 Surah Al-Ma'idah.[3] Turunnya kandungan ayat ini secara berulang dan penekanan atas keharaman makanan-makanan yang diumumkan tersebut dianggap sebagai tanda pentingnya masalah ini dan bahaya yang ada di dalamnya.[4] Hal ini juga menunjukkan meluasnya penggunaan makanan-makanan tersebut di tengah masyarakat musyrik.[5]

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan kepada kamu memakan bangkai, dan darah, dan daging babi, dan binatang yang disembelih tidak kerana Allah maka sesiapa yang terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang ia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu, maka tidaklah ia berdosa), sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.


Para fakih berdasarkan Ayat 115 Surah An-Nahl dan ayat-ayat yang serupa, menganggap memakan setiap butir dari hal-hal yang disebutkan dalam ayat ini sebagai tindakan Haram.[6] Syahid Awwal dengan mengklaim adanya ijmak para fakih dalam hukum ini, menegaskan bahwa siapa pun yang menganggap hal-hal yang diharamkan tersebut sebagai Halal, maka harus dihukum mati dengan tuduhan murtad;[7] karena mengingkari hukum-hukum yang telah dijelaskan secara eksplisit dalam Al-Qur'an dianggap setara dengan mengingkari Al-Qur'an itu sendiri.[8]

Berdasarkan ayat ini dan sejumlah riwayat, para fakih melarang penggunaan pakaian yang terbuat dari kulit bangkai bagi orang yang mendirikan salat[9] dan menganggapnya sebagai penyebab batalnya salat.[10] Selain itu, dengan bersandar pada ayat ini, penjualan daging bangkai dan darah yang najis juga telah dinyatakan haram.[11] Lebih jauh lagi, para fakih dengan memperhatikan bagian akhir ayat (famanidhthurra ghaira baghin ...) berargumen bahwa dalam kondisi darurat (idhthirar), mengonsumsi hal-hal yang dianggap haram dalam ayat ini tidak memiliki larangan secara syar'i.[12]

Dalam sumber-sumber hadis[13] dan tafsir,[14] mengenai Hikmah dan filosofi pengharaman masing-masing makanan yang disebutkan dalam Ayat 115 Surah An-Nahl, telah diisyaratkan pada kerusakan fisik, mental, dan spiritual akibat mengonsumsinya. Sebagai contoh, mengonsumsi daging bangkai dianggap sebagai penyebab kelemahan fisik dan gangguan pada kekuatan seksual[15] serta mengonsumsi darah dianggap menyebabkan sifat pemarah dan kekerasan hati.[16] Begitu juga dalam beberapa penelitian, telah diisyaratkan adanya hubungan antara konsumsi daging babi dengan perilaku seksual menyimpang dan berkurangnya rasa ghirah (kecemburuan moral).[17]

Catatan Kaki

  1. Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 3, hal. 187.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 582-583.
  3. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 6, hal. 467.
  4. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 588.
  5. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 588.
  6. Thaheri Khorramabadi, "al-Dzibahah wa Ahkamuha", jld. 13, hal. 113.
  7. Syahid Awwal, al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, 1410 H, hal. 260.
  8. Syustari, al-Naj'ah, 1406 H, jld. 11, hal. 144.
  9. Syustari, al-Naj'ah, 1406 H, jld. 10, hal. 262-263.
  10. Khoei, Mausu'ah al-Imam al-Khoei, 1418 H, jld. 12, hal. 151.
  11. Thabathabai, Manahil, Muassasah Alu al-Bait as, hal. 274.
  12. Hilli, Idhah al-Fawaid, 1387 H, jld. 4, hal. 153.
  13. Barqi, al-Mahasin, 1371 H, jld. 2, hal. 334, hadis 104; Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 6, hal. 242, hadis 1; Syaikh Mufid, al-Ikhtishash, 1413 H, hal. 103; Syaikh Hurr al-Amili, Wasail al-Syiah, 1409 H, jld. 24, hal. 100, hadis 1.
  14. Mughniyah, al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 1, hal. 264; Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1425 H, jld. 1, hal. 156-157; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 3, hal. 190; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 584-588.
  15. Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 3, hal. 189.
  16. Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 3, hal. 190.
  17. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 587.

Daftar Pustaka

  • Barqi, Abu Ja'far Ahmad bin Muhammad bin Khalid. al-Mahasin. Riset dan koreksi: Muhaddits, Jalaluddin. Qom, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Kedua, 1371 H.
  • Fadhlullah, Muhammad Husain. Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Dar al-Malak, Cetakan Pertama, 1419 H.
  • Hilli (Fakhr al-Muhaqqiqin), Muhammad bin Hasan. Idhah al-Fawaid fi Syarh Musykilat al-Qawa'id. Riset dan koreksi: Musawi Kermani, Seyed Hossein; Esytehardi, Ali Panah; Borujerdi, Abdurrahim. Qom, Muassasah Isma'iliyan, Cetakan Pertama, 1387 H.
  • Khoei, Sayid Abul Qasim. Mausu'ah al-Imam al-Khoei. Qom, Muassasah Ihya' Atsar al-Imam al-Khoei, 1418 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. al-Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Pertama, 1424 H.
  • Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran, Markaze Farhangi Dars-ha-i az Qur'an, Cetakan Kesebelas, 1383 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Riset dan koreksi: Ghaffari, Ali Akbar; Akhundi, Muhammad. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Keempat, 1407 H.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an. Riset: Dawudi, Safwan Adnan. Beirut, Dar al-Qalam, Cetakan Pertama, 1412 H.
  • Sayyid Quthb, Ibrahim Husain Syadzali. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut, Dar al-Syuruq, Cetakan Ketujuh Belas, 1425 H.
  • Syahid Awwal, Muhammad bin Makki. al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah fi Feqh al-Imamiyyah. Riset dan koreksi: Morvarid, Muhammad Taqi; Morvarid, Ali Ashghar. Dar al-Turats, Beirut, al-Dar al-Islamiyyah, Cetakan Pertama, 1410 H.
  • Syaikh Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syiah ila Tahshil Masa'il al-Syari'ah. Qom, Muassasah Alu al-Bait as li-Ihya al-Turats, 1409 H.
  • Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad. al-Ikhtishash. Riset: Ali Akbar Ghaffari dan Mahmoud Muharrami Zarandi. Kongres Syaikh Mufid, Qom, 1413 H.
  • Syustari, Muhammad Taqi. al-Naj'ah fi Syarh al-Lum'ah. Teheran, Toko Buku Sadhuq, Cetakan Pertama, 1406 H.
  • Thabathabai Mujahid, Sayid Muhammad. Kitab al-Manahil. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, Cetakan Pertama, t.t.
  • Thaheri Khorramabadi, Sayid Hasan. "al-Dzibahah wa Ahkamuha". Dalam majalah Feqh-e Ahlulbait as. Qom, Muassasah Dairah al-Ma'arif-e Feqh-e Eslami, Cetakan Pertama, t.t.

Templat:Ayat-ayat Fikih dalam Al-Qur'an