Lompat ke isi

Konsep:Aal

Dari wikishia

Aal (bahasa Arab: آل), keluarga, famili, kabilah, kerabat, ahl (keluarga), klan, pengikut, dan orang-orang yang memiliki hubungan, semuanya memiliki makna yang sama. Yang dimaksud dengan "Aal-e Muhammad" adalah Ahlulbait as yang maksum dari beliau, sebagaimana yang dimaksud dengan "Aal-e Ibrahim" dalam Ayat 124 Surah Al-Baqarah adalah keturunan maksum Nabi Ibrahim as.

Penggunaan di Masa Jahiliyah

Kata ini tampaknya telah dikenal pada masa Jahiliyah dalam sebagian besar makna leksikal yang disebutkan. Kaum Quraisy, karena bertanggung jawab atas pemeliharaan Kakbah dan hal-hal yang berkaitan dengannya, menyebut diri mereka sebagai "Aalullah" (Keluarga Allah), dan orang lain ketika meminta keadilan kepada mereka berkata: "Ya Aalallah", artinya wahai kaum Quraisy.[1]

Akar Kata

Akar kata ini tidak terlalu jelas dan bentuk serupa tidak ditemukan dalam bahasa-bahasa Semit. Jika kita mempertimbangkan konsep "nisbah (hubungan) kepada seseorang atau tempat" dan "populasi dan kekuatan", maka kata ini sekeluarga dengan lafaz "Awwal" (pertama) dan kemudian bermuara pada konsep kekuatan. Di sisi lain, akar kata "ya"-nya bisa dianggap "ayl" yang berarti "sekutu". Selain itu, justifikasi ahli bahasa muslim yang menganggapnya turunan dari "Ahl" juga tidak berdasar (meskipun sandaran mereka pada bentuk tashghir (pengecilan) kata tersebut tidak dapat dianggap valid), karena lafaz 'ahl (Ibrani Kanaan 'ahel; Aram 'ahl; Nabatea 'hlt) dalam Ugaritik berarti tenda dan dalam Akadian berarti kota. Penyair masa Jahiliyah, Abu Dzu'aib, menggunakannya dalam arti tiang-tiang tenda.[2]

Evolusi Kata

Mungkin evolusi kata ini bermula dari parsial ke universal: keluarga (penghuni satu tenda), kerabat, keluarga besar dan klan, kabilah, pengikut (politik atau agama). Dalam Al-Qur'an, kata "Aal" dapat ditemukan dalam arti pengikut agama-politik-geografis (Aal-e Ibrahim, Aal-e Imran, Aal-e Fir'aun, Aal-e Luth).[3]

Dalam menjelaskan makna "Aal-u Muhammad" atau "Aal-u Nabi", ulama Ahlusunah umumnya mempertimbangkan konsep umum "Bani Hasyim". Ibnu Abi al-Hadid dalam menafsirkan ucapan Amirul Mukminin as "Tidak ada seorang pun dari umat ini yang dapat dikiaskan dengan Aal-e Muhammad saw, dan orang-orang yang mendapatkan nikmat (hidayah) mereka tidak akan pernah setara dengan mereka", menafsirkan Aal-e Muhammad as sebagai orang-orang yang dekat dengan Nabi dari Bani Hasyim, khususnya Imam Ali as, dan dengan tegas menekankan bahwa jika bukan karena Imam Ali as dan ayahnya Abu Thalib, tidak akan ada berita tentang Islam.[4][catatan 1] Dan terkadang mereka menafsirkannya sebagai "Umat Muhammad" (beberapa juga menganggap konsep gabungan itu adalah istri-istri Nabi saw). Raghib Isfahani dalam buku Al-Mufradat menganggap "Aal-u Nabi" sebagai orang-orang khusus dan pengikut beliau saw dari segi ilmu, dan dalam bab ini ia juga merujuk pada sebuah hadis dari Imam Shadiq as.[5]

Kecenderungan umum Syiah adalah menyamakan Aal-e Muhammad dan Aal-e Nabi dengan "Ithrah", yaitu keturunan Imam Ali as dan Hazrat Fatimah sa. Dasar pemahaman ini selain bahasa, adalah ayat

(إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ)  (Terjemahan: Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing)) [ Ali Imran-33 ]

yang sesuai dengannya "Aal-i Ibrahim" dan "Aal-i Imran" yang dipilih dan disucikan oleh Allah bukanlah seluruh keluarga kedua nabi tersebut, dan berdasarkan hukum ayat

(وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ)

 (Terjemahan: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, "Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia." Dia (Ibrahim) berkata, "Dan (juga) dari anak cucuku?" Allah berfirman, "(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.") [ Al Baqarah-124 ] ,

hanya orang-orang yang layak dan maksum dari keluarga dan keturunan mereka yang memiliki kelayakan ini.

Irbili memisahkan konsep Aal, Ahl, dan Ithrah[6] dan Rayyan bin Shalt Qummi menulis sebuah buku di mana ia mengumpulkan ucapan Imam Ridha as tentang "Perbedaan antara Aal dan Ummah".[7]

Penggunaan Leksikal: Perbedaan Aal dan Ahl

Terdapat perbedaan semantik dan cakupan penggunaan yang signifikan antara kata Aal (آل) dan Ahl (أهل) dalam bahasa Arab, sebuah dikotomi yang banyak dibahas dalam kitab-kitab tata bahasa. Penggunaan kata Aal lebih sempit dan terfokus dibandingkan Ahl.

Aal memiliki pembatasan penggunaan yang ketat:

  1. Tidak Terikat Waktu/Tempat/Profesi: Berbeda dengan Ahl yang dapat merujuk pada penduduk suatu tempat (Ahlul Madinah), orang dengan profesi tertentu (Ahlul Kitab), atau orang pada waktu tertentu, kata Aal secara inheren dikhususkan untuk merujuk pada manusia.
  2. Spesifik pada Kedudukan Khusus: Penggunaannya dikhususkan untuk merujuk pada sekelompok manusia yang memiliki kedudukan sosial atau historis yang khas, baik dalam konteks terpuji maupun tercela. Contoh klasik yang sering dijumpai dalam Al-Qur’an adalah: Aal-i Ibrahim (Keluarga Ibrahim), Aal-i Imran (Keluarga Imran), dan Aal-i Fir’aun (Pengikut Firaun).[8]

Seiring berjalannya waktu, terutama sejak abad pertama Hijriyah, makna Aal meluas untuk merujuk pada keluarga dan keturunan secara umum. Penggunaan ini sangat populer hingga masa kini, terutama dalam konteks dinasti penguasa, seperti merujuk pada keluarga raja atau emir.

Pengaruh Aal juga meluas ke dalam bahasa Persia, di mana gabungan kata ini menjadi bagian integral dalam penamaan dinasti bersejarah Iran. Contoh paling menonjol adalah Aal-e Buyeh (Dinasti Buwaihi), yang secara historis sering kali lebih dikenal luas daripada penamaan resminya, Buyahiyan.

Catatan Kaki

  1. Irbili, Kasyf al-Ghummah, Dar al-Kitab al-Islamiyah, jld. 1, hlm. 40.
  2. Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 1414 H, di bawah kata "Awwal".
  3. Irbili, Kasyf al-Ghummah, Dar al-Kitab al-Islamiyah, jld. 1, hlm. 40.
  4. Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah (Li al-Shubhi Shalih), 1414 H, jld. 1, hlm. 140–141.
  5. Raghib Isfahani, Al-Mufradat fi Gharib al-Quran, 1412 H, hlm. 30–31.
  6. Irbili, Kasyf al-Ghummah, Dar al-Kitab al-Islamiyah, jld. 1, hlm. 42.
  7. Thusi, Al-Fihrist, 1351 HS, hlm. 140.
  8. Raghib Isfahani, ‘‘Al-Mufradat fi Gharib al-Quran’’, 1412 H, hlm. 30.

Catatan

  1. Tidak diragukan lagi bahwa pemberi nikmat lebih tinggi dan lebih mulia daripada penerima nikmat, dan tidak diragukan lagi bahwa Muhammad saw dan kerabat dekatnya dari Bani Hasyim, terutama Ali as, telah memberikan nikmat kepada seluruh makhluk dengan nikmat yang tak ternilai harganya, yaitu seruan kepada Islam dan petunjuk kepadanya... kecuali bahwa Ali as juga memiliki peran dalam hidayah, meskipun ia yang kedua bagi yang pertama dan orang yang salat mengikuti orang yang mendahuluinya, hal yang tidak dapat diingkari. Sekalipun tidak ada (jasanya) kecuali jihadnya dengan pedang di awal dan di akhir, serta penyebaran ilmu, penafsiran Al-Qur'an, dan pembimbingan orang Arab kepada apa yang tidak mereka pahami dan bayangkan di antara dua jihad itu, niscaya itu sudah cukup dalam kewajiban (menunaikan) haknya dan kelimpahan nikmatnya as.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Manzhur, Jamaluddin. Lisan al-Arab. Beirut: Dar Shadir, 1414 H.
  • Irbili, Bahauddin Abu al-Hasan. Kasyf al-Ghummah. Beirut: Dar al-Kitab al-Islamiyah, tanpa tahun.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Al-Mufradat fi Gharib al-Quran. Beirut: Dar al-Qalam, 1412 H.
  • Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah (Li al-Shubhi Shalih). Qom: Nasyr-e Hejrat, cetakan pertama, 1414 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Fihrist. Diupayakan oleh Mahmud Ramyar. Masyhad: Universitas Masyhad, 1351 HS.

Pranala Luar