Konsep:AHAD
AHAD adalah salah satu nama Allah yang bermakna Esa, tak tertandingi, dan unik. Kata ini secara filosofis berarti kesederhanaan (basith) Zat Tuhan dan penafian segala bentuk komposisi (tarkib) dari-Nya. Dalam Al-Qur'an, kata "Ahad" disebutkan sebanyak 74 kali, namun hanya sekali digunakan sebagai sifat bagi Allah, yaitu dalam Surah Al-Ikhlas. Menurut para ahli bahasa, "Ahad" ditujukan kepada sesuatu yang tidak menerima pluralitas dan tidak dapat dihitung, sementara "Wahid" dapat dihitung dan lebih banyak digunakan dalam kalimat negatif. Sebagian pakar tidak membedakan antara kedua istilah ini.
Menurut para arif, "Ahadiyat" merujuk pada tingkatan tajali Zat Tuhan di mana Allah menyaksikan diri-Nya secara mutlak (basith) tanpa rincian (tafshil). Tingkatan ini berada sebelum tajali dan "Wahdat Haqiqiyah" yang menunjukkan kemunculan Asma dan Sifat Allah. Dalam "Ahadiyat", tidak ada pluralitas sama sekali dan seluruh batasan (ta'ayyunat) dinafikan dari Allah. Konsep ini menunjukkan keesaan Allah dalam Zat, Sifat, dan Perbuatan (Af'al) serta penafian segala bentuk sekutu bagi-Nya.
Terminologi Ahad dan Perbedaannya dengan Wahid
Ahad bermakna tunggal, esa, dan tak tertandingi[1] yang secara adjektif dan substantif hanya digunakan untuk mensifati Allah[2] dan merujuk pada makna bahwa Allah selamanya Esa dan tidak akan ada yang serupa atau sebanding dengan-Nya.[3] Para Filsuf dan Teolog menganggap Ahad merujuk pada kesederhanaan Zat Tuhan dan penafian segala bentuk komposisi dari-Nya.[4]
Kata Ahad disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 74 kali dan hanya satu kali digunakan sebagai sifat Allah, yaitu dalam ayat pertama Surah Al-Ikhlas.[5]
Meskipun Ahad dan Wahid secara bahasa dikenal memiliki satu makna,[6] namun dalam menjelaskan perbedaannya disebutkan bahwa Ahad ditujukan kepada sesuatu yang secara eksternal maupun mental tidak menerima pluralitas dan tidak dapat dihitung, sedangkan Wahid dapat dihitung. Wahid biasanya digunakan dalam kalimat afirmatif (itsbat) dan Ahad dalam kalimat negatif (nafi). Dalam kalimat negatif, kedua kata tersebut digunakan sebagai sifat untuk berbagai hal, namun Ahad dalam kalimat afirmatif hanya digunakan sebagai sifat bagi Allah.[7]
Sebaliknya, sebagian orang dengan bersandar pada riwayat-riwayat[8] dan penggunaan kedua kata tersebut dalam Al-Qur'an, tidak membedakan antara keduanya.[9]
Perbedaan Ahadiyat dengan Wahidiyat
Menurut para arif, eksistensi hanya terbatas pada Zat Tuhan yang Mahatinggi, dan makhluk-makhluk lainnya adalah penampakan dan tajali-Nya. Hal yang paling dicintai Allah adalah melihat Zat-Nya melalui penyaksian urusan-urusan (syu'unat) zat-Nya sendiri yang disebut dengan "Istijla'". Para arif meyakini bahwa tingkatan Zat sebelum tajali adalah Ghaib al-Ghuyub.[10] Tajali pertama adalah tingkatan penentuan (ta'ayyun) atau tajali Zat untuk Zat yang disebut dengan "Wahdat Haqqah Haqiqiyah". Tingkatan ini mencakup segala sesuatu dan memiliki sisi batin serta lahir secara bersamaan. Sisi batinnya disebut "Ahadiyat", di mana dalam keadaan ini Allah menyaksikan Zat-Nya tanpa rincian dan secara mutlak (basith).[11] Namun sisi lahirnya disebut "Wahdat Haqiqiyah" atau "Wahidiyat" yang merupakan maqam kemunculan Asma dan Sifat, yaitu Allah menyaksikan Zat-Nya bersama Asma dan Sifat secara terperinci (tafshili). "Wahidiyat" adalah titik awal kemunculan pluralitas (katsarat), dimulai secara keilmuan (ilmi) dan kemudian secara objektif serta eksternal.[12]
Sifat Allah
Kata "Ahad" dalam karya para mufasir dan arif telah dijelaskan dengan berbagai penafsiran. Pada tingkatan "Ahadiyat", yang juga dikenal sebagai "Ghaib al-Ghuyub", "Al-Huwiyyah al-Ghaibiyyah", dan "Al-Ghaib al-Mutlaq", seluruh batasan (ta'ayyunat) dan konsep dinafikan dari Allah dan tidak ada jejak dari-Nya, sedemikian rupa sehingga makrifat tidak dapat menjangkaunya. Pada tingkatan ini, sifat-sifat dan hukum-hukum ditiadakan dari Allah.[13]
Konsep "Ahad" ditujukan kepada maujud yang tidak menerima pluralitas apa pun (baik secara eksternal maupun mental).[14] "Ahad" merujuk pada keesaan Allah dalam Zat, Sifat, dan Perbuatan serta menafikan segala bentuk sekutu dari-Nya.[15] Selain itu, "Ahad" menghimpun sifat-sifat salbiyah (negatif) Allah, dalam artian Allah dalam Zat-Nya suci dari segala bentuk komposisi.[16] Allah Maha Esa dalam memiliki sifat-sifat Zat, artinya sifat-sifat seperti ilmu, kuasa, dan hayat hanya wajib serta mutlak bagi Allah dan tidak mutlak bagi selain-Nya.[17] Sebagian meyakini bahwa kata "Ahad" dan "Wahid" bersifat ekuivalen dan menafsirkan wahdaniyat Allah sebagai tidak adanya permisalan, keserupaan, dan tandingan bagi-Nya.[18]
Catatan Kaki
- ↑ Dehkhoda, Loghatnameh, di bawah kata "Ahad"; Anwari, Farhang-e Bozorg-e Sokhan, di bawah kata "Ahad".
- ↑ Raghib al-Isfahani, Al-Mufradat, di bawah kata "Ahad".
- ↑ Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, di bawah kata "Ahad".
- ↑ Fakhr Razi, Syarh Asma' al-Husna (Lawami' al-Bayyinat), 1396 H, jld. 1, hlm. 312; Sabzewari, Syarh Asma' al-Husna, Kitabkhonah Feqahat, jld. 1, hlm. 125.
- ↑ Ramadhani dan Nashiri, "Ahad", hlm. 236.
- ↑ Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 1414 H, di bawah kata "Ahad".
- ↑ Wasithi, Taj al-Arus, di bawah kata "Wahid"; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 20, hlm. 387.
- ↑ Shaduq, Al-Tauhid, 1398 H, hlm. 90.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 27, hlm. 435.
- ↑ Apa Perbedaan Ahad dengan Wahid (Ahadiyat dengan Wahidiyat) dalam Ilmu Irfan?, Islam Quest.
- ↑ Apa Perbedaan Ahad dengan Wahid (Ahadiyat dengan Wahidiyat) dalam Ilmu Irfan?, Islam Quest.
- ↑ Apa Perbedaan Ahad dengan Wahid (Ahadiyat dengan Wahidiyat) dalam Ilmu Irfan?, Islam Quest.
- ↑ Sadeqi, "Ahad", hlm. 190.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 HS, jld. 20, hlm. 387; Sultan Ali Syah, Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 4, hlm. 282-283.
- ↑ Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 623.
- ↑ Fakhr Razi, At-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 32, hlm. 361.
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 10, hlm. 859.
- ↑ Maybudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 10, hlm. 662; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 27, hlm. 437.
Daftar Pustaka
- Anwari, Hasan. Farhang-e Bozorg-e Sokhan (Kamus Besar Sokhan). Teheran, Penerbit Sokhan, 1390 HS.
- Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. At-Tafsir al-Kabir (Tafsir Besar). Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
- Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Syarh Asma' al-Husna (Penjelasan Nama-nama Indah). Kairo, Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyah, 1397 H.
- Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-Arab (Lidah Arab). Beirut, Dar Sadir, 1414 H.
- Lughatnameh Dehkhoda, Ali Akbar. Lughatnameh (Kamus Besar). Teheran, Universitas Teheran, 1377 HS.
- Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371 HS.
- Maybudi, Ahmad bin Muhammad. Kasyf al-Asrar va Uddat al-Abrar (Penyingkap Rahasia dan Bekal Orang-orang Berbakti). Teheran, Amirkabir, 1371 HS.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif (Tafsir Penyingkap). Qom, Penerbit Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
- Raghib al-Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat Alfadz al-Qur'an (Kosakata Al-Qur'an). Lebanon - Suriah, Dar al-Ilm - Al-Dar al-Syamiyah, 1412 H.
- Ramadhani, Reza dan Nashiri, Ali. "Ahad" (Esa), dalam Da'irah al-Ma'arif al-Qur'an al-Karim (Ensiklopedia Al-Qur'an al-Karim), Qom, Markaz Farhang va Ma'arif-e Qur'an, 1382 HS.
- Sabzewari, Mulla Hadi. Syarh Asma' al-Husna (Penjelasan Nama-nama Indah). Tanpa tempat, Maktabah Bashirati, tanpa tahun.
- Sadeqi, Hossein. "Ahad" (Esa), dalam Danesynameh Kalam-e Islami (Ensiklopedia Teologi Islam), Qom, Muasseseh Imam Shadiq as, 1387 HS.
- Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Tauhid (Keesaan). Korektor: Hashem Husaini. Qom, Jami'ah al-Mudarrisin, 1398 H.
- Sultan Ali Syah, Sultan Muhammad bin Haidar. Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-Ibadah (Penjelasan Kebahagiaan dalam Tingkatan Ibadah). Beirut, Muasseseh al-A'lami lil Matbu'at, 1408 H.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan (Timbangan). Beirut, Muasseseh al-A'lami lil Matbu'at, 1390 HS.
- Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan (Kumpulan Penjelasan). Teheran, Nashir Khosrow, 1372 HS.
- Wasithi Zubaidi, Sayyid Muhammad Murtadha. Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus (Mahkota Pengantin dari Permata Kamus). Beirut, Dar al-Fikr, 1414 H.