Lompat ke isi

A'raf (pada hari kiamat): Perbedaan antara revisi

Dari wikishia
imported>Esmail
Tidak ada ringkasan suntingan
imported>Maitsam
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
'''A’râf''' (Bahasa Arab: اَعْراف ) merupakan diantara konsepsi-konsepsi [[Al-Qur’an]] tentang ''Ma’âd'' (Kiamat) dimana ia adalah sebuah tempat yang terletak diantara penghuni [[Surga]] dan [[Neraka]]. Kata ini disebutkan dua kali dalam [[Al-Qur’an]] ([[Surah Al-A'raf|surah al-A’râf]] ayat 46 dan 48). Dari ayat-ayat yang disebutkan diatas dapat dipahami bahwa di puncak ''A’râf'' terdapat manusia-manusia  ''Muqarrabin'' (manusia yang dekat dengan [[Allah Swt]]) yang akan memberi syafaat tentunya dengan izin dan kehendak-Nya. Terkait dengan ekstensi-ekstensi dari A’râf, terdapat perbedaan di kalangan [[Syiah]] dan [[Ahlusunnah]]. Menurut [[Ahlusunnah]], ''A’râf'' adalah orang-orang yang dosa dan kebaikannya sama serta seimbang sementara mayoritas Syiah yang tentunya dengan bersandar dan berlandas pada ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, meyakini kalau pemilik A’râf adalah para Nabi dan Imam Ma’shum as.
'''A’râf''' (Bahasa Arab: اَعْراف ) merupakan diantara konsepsi-konsepsi [[Al-Qur’an]] tentang ''Ma’âd'' (Kiamat). َA'raf adalah sebuah tempat yang terletak diantara penghuni [[Surga]] dan [[Neraka]]. Kata ini disebutkan dua kali dalam [[Al-Qur’an]] ([[Surah Al-A'raf|surah al-A’râf]] ayat 46 dan 48). Dari ayat-ayat yang disebutkan tersebut dapat dipahami bahwa di puncak ''A’râf'' terdapat manusia-manusia  ''Muqarrabin'' (manusia yang dekat dengan [[Allah Swt]]) yang akan memberi syafaat dengan izin dan kehendak-Nya. Terkait dengan ekstensi-ekstensi dari A’râf, terdapat perbedaan di kalangan [[Syiah]] dan [[Ahlusunnah]]. Menurut [[Ahlusunnah]], ''A’râf'' adalah orang-orang yang dosa dan kebaikannya sama serta seimbang sementara mayoritas Syiah dengan bersandar dan berlandas pada ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, meyakini kalau pemilik A’râf adalah para Nabi dan Imam Ma’shum as.


==Arti A’râf ==
==Arti A’râf ==
Baris 40: Baris 40:


===Perspektif Syiah===
===Perspektif Syiah===
Kebanyakan ulama dan cendekiawan Syiah, ketika menyinggung beberapa pandangan terkait pemilik A’râf dan dengan berdasarkan riwayat-riwayat dari jalur Ahlulbait as yang menjelaskan tentang hal ini, menyatakan bahwa yang dimaksud pemilik A’râf adalah para Nabi dan Imam Ma’shum as. <ref>Al-I’tiqâdât, Saduq, hal. 70; Asfâr al-Arba’ah, Sadruddin Syirazi, jilid 9, hal. 318. </ref> Mullah Sadra dalam kitab Asfâr<ref>Asfâr al-Arba’ah, Sadruddin Syirazi, jilid 9, hal. 318. </ref> setelah menyebutkan pandangan Ibnu Arabi, memilih pandangan dan pendapat yang populer di kalangan Syiah.
Kebanyakan ulama dan cendekiawan Syiah, ketika menyinggung beberapa pandangan terkait pemilik A’râf dan dengan berdasarkan riwayat-riwayat dari jalur Ahlulbait as yang menjelaskan tentang hal ini, menyatakan bahwa yang dimaksud pemilik A’râf adalah para Nabi dan Imam Ma’shum as. <ref>Al-I’tiqâdât, Saduq, hal. 70; Asfâr al-Arba’ah, Sadruddin Syirazi, jilid 9, hal. 318. </ref> Mulla Sadra dalam kitab Asfâr<ref>Asfâr al-Arba’ah, Sadruddin Syirazi, jilid 9, hal. 318. </ref> setelah menyebutkan pandangan Ibnu Arabi, memilih pandangan dan pendapat yang populer di kalangan Syiah.


Dalam kitab-kitab hadits Syiah seperti Bashâ’ir al-Darajât karya Shaffar, <ref>Asfâr al-Arba’ah, Sadruddin Syirazi, jilid 9, hal. 318. </ref> al-Kâfî karya Kulaini, <ref>Ushûl al-Kâfî, Muhammad bin Ya’qub Kulaini, jilid 1, hal. 184. </ref> Ma’ânî al-Akhbâr karya Saduq, <ref>Ma’ânî al-Akhbâr, Syaikh Saduq, jilid 1, hal. 590. </ref> dan Masâr al-Syî’ah karya Syaikh Mufid, <ref>Masâr al-Syiah, Muhammad bin Nu’man Mufid, hal. 31. </ref> terdapat riwayat-riwayat yang kandungan serta isinya berkaitan dengan masalah ini.
Dalam kitab-kitab hadits Syiah seperti Bashâ’ir al-Darajât karya Shaffar, <ref>Asfâr al-Arba’ah, Sadruddin Syirazi, jilid 9, hal. 318. </ref> al-Kâfî karya Kulaini, <ref>Ushûl al-Kâfî, Muhammad bin Ya’qub Kulaini, jilid 1, hal. 184. </ref> Ma’ânî al-Akhbâr karya Saduq, <ref>Ma’ânî al-Akhbâr, Syaikh Saduq, jilid 1, hal. 590. </ref> dan Masâr al-Syî’ah karya Syaikh Mufid, <ref>Masâr al-Syiah, Muhammad bin Nu’man Mufid, hal. 31. </ref> terdapat riwayat-riwayat yang kandungan serta isinya berkaitan dengan masalah ini.

Revisi per 16 Februari 2016 17.51

A’râf (Bahasa Arab: اَعْراف ) merupakan diantara konsepsi-konsepsi Al-Qur’an tentang Ma’âd (Kiamat). َA'raf adalah sebuah tempat yang terletak diantara penghuni Surga dan Neraka. Kata ini disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an (surah al-A’râf ayat 46 dan 48). Dari ayat-ayat yang disebutkan tersebut dapat dipahami bahwa di puncak A’râf terdapat manusia-manusia Muqarrabin (manusia yang dekat dengan Allah Swt) yang akan memberi syafaat dengan izin dan kehendak-Nya. Terkait dengan ekstensi-ekstensi dari A’râf, terdapat perbedaan di kalangan Syiah dan Ahlusunnah. Menurut Ahlusunnah, A’râf adalah orang-orang yang dosa dan kebaikannya sama serta seimbang sementara mayoritas Syiah dengan bersandar dan berlandas pada ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, meyakini kalau pemilik A’râf adalah para Nabi dan Imam Ma’shum as.

Arti A’râf

Secara leksikal, A’râf adalah bentuk plural (jamak) dari kata ‘Urf yang berarti bagian-bagian tinggi dari gunung dan bukit serta garis rambut yang ada di tengkuk. [1]

Terkait maksud dari A’râf dalam Al-Qur’an, di kalangan ulama dan pakar Islam terdapat Perspektif yang cukup beragam [2]dan yang pasti mayoritas maksudnya adalah sebuah tembok yang ada antara penghuni Surga dan Neraka. [3] Menurut Allamah Thabathabai, A’râf adalah bagian-bagian tinggi dari sebuah hijab yang menjadi perisai antara penghuni Neraka dan Surga, dimana kelompok A’râf yang ada disana selain menyaksikan penduduk Neraka juga menyaksikan penghuni Surga. [4] Dan karena pada hari Kiamat tanahnya bersifat mendatar maka yang maksud tinggi disini adalah kedudukan dan maqam tinggi seseorang dan hal tersebut adalah maqam Syafa’at.

Mujahid, salah satu mufassir dari kalangan tabi’in, berkata bahwa penghalang disitu maksudnya adalah Sûr (dinding atau pagar yang mengitari kota-kota lama) yang memiliki sebuah pintu. Beranjak dari penafsiran ini, sebagian ulama yang datang kemudian menganggap bahwa A’râf tidak lain adalah dinding atau penghalang yang –sebagaimana yang disebutkan dalam surah al-Hadîd[5] Allah Swt akan letakkan antara kaum Mukminin dan Munafikin pada hari Kiamat dan dinding atau penghalang itu memiliki sebuah pintu yang isi dan batinnya berupa jalur menuju Surga dan lahiriahnya menghadap ke Neraka.

Dinukil dari Hasan Basri dan Zujaj bahwa A’râf berasal dari Ma’rifat yang berarti ilmu; yakni pada hari Kiamat terdapat manusia-manusia yang mengetahui tentang kondisi orang-orang dan mereka mengenal penghuni surga dan neraka dari raut wajahnya. [6] Mulla Sadra juga menerima dan memilih pandangan ini dan menganggap bahwa ayat “Ya’rifûna Kullan Bisîmâhum” [7] adalah bukti akan hal itu. [8]

A’râf dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an hanya mengisyaratkan A’râf sebanyak dua kali:

بَینَهُما حِجابٌ وَ عَلَی الْأَعْرافِ رِجالٌ یعْرِفُونَ کلاًّ بِسِیماهُمْ وَ نادَوْا أَصْحابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلامٌ عَلَیکمْ لَمْ یدْخُلُوها وَ هُمْ یطْمَعُونَ

Artinya: “Dan di antara kedua golongan itu terdapat tirai penghalang; dan di atas al-A'râf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga –dimana mereka belum masuk surga tetapi sudah berharap–, "Salam kesejahteraan atasmu.”. (Qs. Al-A’râf: 46).

وَ إِذا صُرِفَتْ أَبْصارُهُمْ تِلْقاءَ أَصْحابِ النَّارِ قالُوا رَبَّنا لا تَجْعَلْنا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِینَ

Artinya: “Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim itu.”.(Qs. Al-A’râf: 47).

وَ نادی‏ أَصْحابُ الْأَعْرافِ رِجالاً یعْرِفُونَهُمْ بِسِیماهُمْ قالُوا ما أَغْنی‏ عَنْکمْ جَمْعُکمْ وَ ما کنْتُمْ تَسْتَکبِرُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang berada di atas al-A'raf memanggil beberapa orang (dari penghuni neraka) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya seraya mengatakan, "Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu tidaklah memberi manfaat kepadamu.”.(Qs. Al-A’râf: 48).

أَ هؤُلاءِ الَّذِینَ أَقْسَمْتُمْ لا ینالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لا خَوْفٌ عَلَیکمْ وَ لا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ Artinya: “Mereka itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah? (Sekarang diserukan kepada mereka), "Masuklah ke dalam surga, kamu tidak memiliki kekhawatiran sedikit pun dan tidak (pula) kamu bersedih hati.”.(Qs. Al-A’râf: 49).

Siapa manusia-manusia A’râf tersebut?

Berkenaan dengan siapa sebenarnya manusia-manusia A’râf tersebut, di kalangan mufasir terjadi perbedaan pandangan dan Perspektif yang jumlahnya mencapai 14 pandangan. Mayoritas mereka yang membincang masalah A’râf, mengisyarat dan menyinggung pandangan-pandangan serta perbedaan tersebut. [9]

Secara umum pandangan dan Perspektif diatas dibagi menjadi tiga bagian:

  • Mereka adalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah Swt seperti para Nabi, Imam Ma’shum dan orang-orang yang menyaksikan amal perbuatan;
  • Mereka adalah orang-orang yang dosa dan kebaikannya seimbang dan setara;
  • Pemilik A’râf adalah sekelompok malaikat yang memantau dan menyaksikan orang-orang dari atas A’râf dan mereka mengenal setiap orang dari raut dan pancaran mukanya. [10]

Perspektif Ahlusunnah

Mayoritas mufasir dan ulama Ahlusunnah memilih pandangan kedua. [11] Tentang pemilik A’râf, Ibnu Arabi menyebutkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya sama dan seimbang, sebagian pandangan mengarah ke surga dan pandangan lain menghadap dan terpikat oleh neraka padahal tak satupun dari keduanya (surga dan neraka) yang ia akan tempati, namun ketika mereka diperintah sujud maka semuanya akan sujud lalu kemudian masuk surga. [12] Di kalangan Syiah, Mulla Sadra termasuk orang yang memilih pandangan ini. [13]

Perspektif Syiah

Kebanyakan ulama dan cendekiawan Syiah, ketika menyinggung beberapa pandangan terkait pemilik A’râf dan dengan berdasarkan riwayat-riwayat dari jalur Ahlulbait as yang menjelaskan tentang hal ini, menyatakan bahwa yang dimaksud pemilik A’râf adalah para Nabi dan Imam Ma’shum as. [14] Mulla Sadra dalam kitab Asfâr[15] setelah menyebutkan pandangan Ibnu Arabi, memilih pandangan dan pendapat yang populer di kalangan Syiah.

Dalam kitab-kitab hadits Syiah seperti Bashâ’ir al-Darajât karya Shaffar, [16] al-Kâfî karya Kulaini, [17] Ma’ânî al-Akhbâr karya Saduq, [18] dan Masâr al-Syî’ah karya Syaikh Mufid, [19] terdapat riwayat-riwayat yang kandungan serta isinya berkaitan dengan masalah ini.

Kombinasi Kedua Perspektif

Selain ketiga pandangan dan Perspektif diatas, terdapat pandangan lain yang coba mengkombinasikan antara riwayat-riwayat diatas dan riwayat-riwayat yang menjadi sandaran ulama Ahlusunnah dan juga yang ada dalam referensi-referensi hadits Syiah[20] seperti berikut bahwa kedua kelompok riwayat-riwayat ini menghikayatkan kondisi kedua kelompok yang hadir di A’râf, dalam artian pada A’râf disamping terdapat orang-orang yang amalnya baik dan buruk yang memang tidak punya kelaikan untuk menempati Surga atau Neraka, juga disana (di A’râf) hadir para Nabi dan Imam Ma’shum as guna memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka.

Seiring dengan pandangan ini, telah disebutkan pada keempat ayat-ayat diatas dua bentuk sifat-sifat yang berbeda dan kontra untuk orang-orang ini:

Pada ayat pertama dan kedua, orang-orang yang berada dan hadir di A’râf didiskripsikan seperti ini bahwa mereka berharap bisa masuk surga namun tidak punya daya untuk itu. Mereka ketika memandang ke penghuni Surga mengucapkan selamat dan menginginkan bisa bersama mereka dan saat mengalihkan pandangan ke arah penghuni Neraka, mereka demikian merasa takut dan memohon perlindungan Allah Swt. Sedangkan dari ayat yang ketiga dan keempat dapat ditangkap pesan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang punya peran dan kekuatan, mereka mencaci dan mencerca para penduduk Neraka dan menyalurkan bantuan kepada mereka yang berada di A’râf supaya bisa melewatinya lalu melangkah menuju rumah kebahagiaan.

Beberapa Riwayat

Riwayat-riwayat yang menyinggung tentang A’râf dan penghuni atau pemiliknya, mendiskripsikan kedua kelompok itu. Pada sebagian riwayat disebutkan, “Kami adalah A’râf,” atau “Keluarga Muhammad adalah A’râf.” “Mereka adalah semulia-mulianya manusia di sisi Allah Swt.” “Mereka adalah saksi-saksi bagi manusia dan para Nabi adalah saksi-saksi mereka.” Juga terdapat riwayat-riwayat lain yang menyebutkan bahwa mereka adalah para Nabi, Para Imam Ma’shum as, Orang-orang Saleh dan orang-orang mulia. Sedangkan riwayat-riwayat lain menyebutkan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya sama dan seimbang atau para pendosa yang juga memiliki amal kebaikan, seperti hadits dari Imam Shadiq as dimana beliau bersabda, “Mereka adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya sama dan seimbang, jika mereka digiring ke Neraka maka itu karena dosa-dosanya dan jika dipersilahkan masuk Surga maka itu berkat Rahmat Allah Swt.” Riwayat-riwayat lain yang cukup banyak yang kandungannya seperti ini, juga disebutkan dalam tafsir-tafsir Ahlusunnah yang dinukil dari Huzaifah bin Yaman, Abdullah bin Abbas dan Sa’id bin Jabir dan semisalnya. Pada tafsir-tafsir ini juga terlihat bahwa pemilik atau penghuni A’râf terdiri dari orang-orang saleh, Fuqaha, Ulama atau para Malaikat. [21] Kombinasi seperti ini juga bisa dilihat dari ungkapan dan pernyataan Syaikh Saduq. [22]

Catatan Kaki

  1. Mu’jam al-Tahzîb al-Lughah, Muhammad bin Ahmad Zuhri, jilid 3, hal. 2404; Lisân al-‘Arab, Ibnu Manzur, jilid 9, hal. 241, Dâr al-Shâdir, Beirut, Tanpa Tahun.
  2. Al-Mîzân, Muhammad Husain Thabathabai, jilid 8, hal. 126.
  3. Tash-hîh al-I’tiqâdât Mundarij dar Mushannifât Syaikh Mufid, hal. 223; al-A’râf, Mufradât Raghib Ishfahânî, hal. 332.
  4. Al-Mîzân, jilid 8, hal. 121.
  5. Qs. Al-Hadîd: 13. ((Yaitu) pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu." Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kamu ke belakang (dunia) dan carilah sendiri cahaya (untukmu)." Tiba-tiba diletakkan antara mereka dinding yang berpintu. Di sebelah dalam dinding itu (dimana orang-orang Mukmin ada di dalamnya) ada rahmat dan di sebelah luarnya (yang ada di hadapan kaum munafik) ada siksa.”).
  6. Qs. Al-Hadîd: 13. ((Yaitu) pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu." Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kamu ke belakang (dunia) dan carilah sendiri cahaya (untukmu)." Tiba-tiba diletakkan antara mereka dinding yang berpintu. Di sebelah dalam dinding itu (dimana orang-orang Mukmin ada di dalamnya) ada rahmat dan di sebelah luarnya (yang ada di hadapan kaum munafik) ada siksa.”).
  7. Qs. Al-A’râf (Surah 7): 46.
  8. ‘Arsyiyah, Sadruddin Syirazi, jilid 1, hal. 90.
  9. Al-Mîzân, Muhammad Husain Thabathabai, jilid 8, hal. 126; Tafsir Kabîr, Fakhrurazi, jilid 14, hal. 90; Raudhul Jinân wa Rûhul Jinân, Abul Futuh Razi, jilid 8, hal. 204.
  10. Al-Mîzân, Muhammad Husain Thabathabai, jilid 8, hal. 126; Tafsir Kabîr, Fakhrurazi, jilid 14, hal. 90; Raudhul Jinân wa Rûhul Jinân, Abul Futuh Razi, jilid 8, hal. 204.
  11. Al-Mîzân, Muhammad Husain Thabathabai, jilid 8, hal. 126; Tafsir Kabîr, Fakhrurazi, jilid 14, hal. 90; Raudhul Jinân wa Rûhul Jinân, Abul Futuh Razi, jilid 8, hal. 204.
  12. Futûhât Makkiyah, Muhyiddin Arabi, jilid 4, hal. 475.
  13. Syawâhid al-Rubûbiyah, Sadruddin Syirazi, jilid 1, hal. 384.
  14. Al-I’tiqâdât, Saduq, hal. 70; Asfâr al-Arba’ah, Sadruddin Syirazi, jilid 9, hal. 318.
  15. Asfâr al-Arba’ah, Sadruddin Syirazi, jilid 9, hal. 318.
  16. Asfâr al-Arba’ah, Sadruddin Syirazi, jilid 9, hal. 318.
  17. Ushûl al-Kâfî, Muhammad bin Ya’qub Kulaini, jilid 1, hal. 184.
  18. Ma’ânî al-Akhbâr, Syaikh Saduq, jilid 1, hal. 590.
  19. Masâr al-Syiah, Muhammad bin Nu’man Mufid, hal. 31.
  20. Masâr al-Syiah, Muhammad bin Nu’man Mufid, hal. 31.
  21. Masâr al-Syiah, Muhammad bin Nu’man Mufid, hal. 31.
  22. Al-I’tiqâdât, Saduq, hal. 70.

Daftar Pustaka

  • Asfâr al-Arba’ah, Sadruddin Muhammad bin Ibrahim Syirazi, Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabî, Beirut.
  • Ushûl al-Kâfî, Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Dâr al-Sha’b, Beirut, Tanpa Tahun.
  • Al-I’tiqâdât, Ali bin Babawaih Saduq, Mundarij dar Mushannifât Syaikh Mufid, Al-Mu’tamar Al-‘Alamî Lialfiyah Al-Syaikh Al-Mufid, 1413 H.
  • Bashâ’ir al-Darajât, Muhammad bin Hasan Shaffar, Mansyûrât A’lamî, Tehran, 1404 H.
  • Al-Budûr al-Sâfirah fî Ahwâl al-Âkhirah, Jalaluddin Suyuti, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Tanpa Tahun.
  • Al-Ba’ts wa al-Nusyûr, Abu Bakar Ahmad bin al-Husain Baihaqi, Markaz al-Khadamât wa al-Abhâts al-Tsaqafiyah, Beirut, 1406 H.
  • Tash-hîh al-I’tiqâdât Mundarij dar Mushannifât Syaikh Mufid, Muhammad bin Nu’man Mufid, Al-Mu’tamar Al-‘Alamî Lialfiyah Al-Syaikh Al-Mufid, 1413 H.
  • Tafsir Kabîr, Fakhrurazi, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, Tehran, tanpa tahun.
  • Tafsir Nemuneh, Makarim Syirazi, Dâr al-Kutub al-Islâmiyah, 1367 Syamsi.
  • Jâmi’ al-Ahkâm Al-Qur’an, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Qurtubi, Dâr al-Fikr, Beirut, tanpa tahun.
  • Jâmi’ al-Bayân, Muhammad bin Harir Tabari, Dâr Ibn Hazm, Beirut, 1423 H.
  • Rûh al-Ma’ânî, Alusi, Dâr Ihya’ al-Turâts al-‘Arabî, Beirut, tanpa tahun.
  • Raudhul Jinân wa Rûhul Jinân, Abul Futuh Razi, Bun-yad Pezuhesy-hay-e Islâmî, Mashad, 1376 Syamsi.
  • Syawâhid al-Rubûbiyah, Sadruddin Muhammad bin Ibrahim Syirazi, Bustan-e Kitab, Qom, 1382 Syamsi.
  • ‘Arsyiyah, Sadruddin Muhammad bin Ibrahim Syirazi, Muassasah al-Târîkh al-‘Arabî, Beirut, 1420 H.
  • Futûhât Makkiyah, Muhyiddin Arabi, Maktabah al-‘Arabî, Mesir, 1395.
  • Lisân al-‘Arab, Jamaluddin Muhammad bin Manzur, Dâr al-Shâdir, Beirut, tanpa tahun.
  • Masâr al-Syiah, Muhammad bin Nu’man Mufid, tanpa tempat dan tahun.
  • Ma’ânî al-Akhbâr, Syaikh Saduq, Maktabah al-Shadûq, 1379 Syamsi.
  • Mu’jam al-Tahzîb al-Lugah, Abu Mansur Muhammad bin Ahmad Zuhri, Dâr al-Ma’rifah, Beirut, 1422 H.
  • Mufradât, Raghib Isfahani, Al-Maktabah Al-Murtadhawiyah, Mashad, 1362 Syamsi.
  • Mansyûr Jâwîd, Ja’far Subhani, Muassasah Imam Shadiq as, Qom, 1383 Syamsi.
  • Al-Mîzân fî tafsîr Al-Qur’an, Muhammad Husain Thabathabai, Muassasah A’lamî Lil Mathbû’ât, Beirut, tanpa tahun.
  • Dâ’rah al-Ma’ârif Buzurg-e Islâmî, Musawi Bujnurdi, Madkhal A’râf.